Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 44


__ADS_3

Sementara Bian pergi menjemput Alif, seusai memandikan Biandra, Amara mulai merasakan perutnya melilit.


Memang, akhir-akhir ini nafsu makan Amara memang tak baik. Namun, bukan berarti dia sama sekali tidak bisa memasukkan apa pun ke dalam mulut.


Semenjak dia melahirkan, biasanya saat sarapan Bian selalu menyiapkan segelas susu dan biskuit, telur rebus, roti tawar dengan selai strawberry, atau nasi goreng dengan telur mata sapi yang terkadang hanya dimakan satu atau dua suap saja.


Kali ini, mereka bangun lebih siang, itupun karena Mirna menghubunginya agar Bian menjemput Alif. Jadi, tak heran jika tidak ada sarapan yang biasa disiapkan suaminya. Tak heran pula jika saat ini Amara benar-benar merasa kelaparan.


Setelah memakaikan popok dan serangkaian pakaian Biandra yang baru selesai dimandikan, dia lebih dulu membuatkan 30 ml susu dan menidurkan Biandra di boks bayi.


Lalu, kemudian bergegas turun ke dapur, berniat menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Bian yang tadi langsung pergi ke sekolahan Alif. Hanya saja, tak ada stok makanan di meja makan— meski hanya sekedar roti tawar.


Ketika dia membuka lemari es, dia sana pun hanya terdapat buah-buahan dan sederet telur di kabinet pintu. Bukan makanan padat untuk mengisi perutnya yang luar biasa keroncongan. Namun, tetap saja dia menyambar sebuah apel puji dan mencucinya.


Sambil menggigit apel tersebut, Amara kembali ke kamar dan mencari ponsel untuk menghubungi Bian. Beruntung panggilan tersebut langsung dijawab tanpa harus menunggu berlama-lama.


"Hallo, Ra? Kenapa?" Suara Bian dari seberang panggilan terdengar bersahutan dengan riuh anak-anak. Tak lama kemudian terdengar suara pintu mobil yang ditutup, lalu suara kebisingan itu lenyap saat Bian kembali bertanya, "Ada apa?"


"Aku lapar," kata Amara sambil mengunyah gigitan apel dan berderap ke arah boks, memastikan Biandra sudah tertidur lagi. "Si Alif udah keluar?"


"Ini baru bubar … mm, mau sarapan apa? Biar sekalian aku bawain sebelum pulang."


"Aku mau masak, pengen makan masakan rumahan aja," kata Amara sebelum kembali menggigit apelnya. "Kamu masih di sekolahan 'kan itu?"


"Iya, ini baru masuk mobil. Nggak usah masak-masak segala, Ra. Kamu masih belum sembuh gitu. Aku bawain makanan aja, ya?" Suara Bian terdengar lembut. "Mau apa? Nasi uduk, bubur, ayam goreng, soto, atau—"


"Aku pengen sayur asem sama tahu tempe bacem, Om," tukas Amara buru-buru. "Pokoknya aku pengen masak sendiri. Kamu beliin dulu bahan masakannya, sekalian sama bumbu— pada nggak ada tadi aku liat di kulkas."


"Di mana belinya?" Suara Bian terdengar ragu.


"Kamu biasa bikin masakan di mana beli bahannya?"


"Mana ada aku masak sendiri sambil ngurus Biandra sama kamu?" protes Bian blak-blakan. "Itu mah beli jadi semua, nyuruh orang beli makanan. Makanya aku bilang beli yang mateng aja, ya?"


"Nggak, ah!" Amara berkeras. "Udah deh, kamu mumpung masih di sekolahan, biasanya suka ada tukang sayur kan tuh yang dikerumuni ibu-ibu. Beli aja bahannya di sana. Jangan lupa juga bumbunya, cabe, bawang merah, bawang putih, kemiri, gula merah …"


Amara menjeda kalimatnya ketika teringat bahwa Bian memiliki basic seorang koki, yang sudah dapat dipastikan mengetahui apa saja yang dibutuhkan. Jadi, dia kembali berkata, "Kamu beli aja masing-masing tiga ribu—"

__ADS_1


"Ra, eh … yang bener aja aku harus ke tukang sayur beli bumbu tiga ribuan. Mending nyuruh aku uji nyali deh, Ra, dari pada beli-beli kayak gituan."


"Ih, pokoknya aku nggak mau tau. Ntar pas pulang kamu harus bawa apa yang aku—"


"Ra, eh … malu tau aku harus …."


"Kamu mah nggak sayang sama aku, Om! Masa aku cuma mau makan kayak gitu juga nggak kesampean. Gimana kalau aku minta yang lain?"


Setelah mengatakan itu, Amara langsung mengakhiri panggilan sebelah pihak, tak ingin mendengar komentar apa pun dari Bian. Entah mengapa, jantung Amara sedikit berdegup kencang, sedikit kesal mendengar Bian menolak permintaannya.


Namun, kekesalan Amara tak berlangsung lama karena tak lama kemudian pria itu datang membawa berkantong-kantong plastik besar. Tentu saja bersama Alif yang mengenakan seragam merah putih, lengkap dengan topi dan ransel Transformer hitam di punggungnya.


Saat itu, Amara tengah berada di dapur dan mengupas telur rebus yang baru matang. Jadi, ketika Bian langsung ke dapur dan meletakkan belanjaan di atas meja, tentu saja Amara terkejut melihat banyaknya sayuran yang dibeli Bian.


Sebelum Amara bisa berkata, Bian lebih dulu menggerutu dengan murung, "Lain kali jangan ngancem-ngancem bilang aku nggak sayang cuma karena aku nggak mau ke tukang sayur."


Amara tersenyum geli melihat ekspresi Bian yang penuh rajukan. Sambil menggigit telur rebus yang baru dia kupas, Amara mengeluarkan belanjaan dan tertawa melihat berbagai sayuran dan bumbu yang dibeli Bian.


"Ini mah bumbunya sekilo-sekilo, banyak amat?" tanya Amara sambil terkekeh setelah menelan telur yang dia kunyah.


"Malu tau beli tiga ribu doang gitu," keluh Bian sambil mendekati Amara, lalu memegang tangan istrinya dan melahap sisa telur rebus bekas Amara sambil bergumam dengan mulut penuh makanan, "Aku lapar."


Ucapan Amara terputus ketika Bian tiba-tiba mencium bibir istrinya dan memegang tengkuk wanita itu. Dia sedikit terbelalak saat pria itu bahkan tak hanya mencium, tetapi juga mengulum bibirnya untuk beberapa detik— hingga napas Amara tertahan di tenggorokan.


Menyadari keterkejutan di mata Amara yang langsung menepuk dada Bian, barulah Bian melepas tautan bibir mereka.


Jemari Bian menyeka bibir Amara, sementara dia menyeringai licik sambil berkata, "Jangankan bekas gigitan kamu, bibir kamu aja aku cium. Masih mau bilang aku jorok?"


"Bukan masalah ciumannya," desis Amara sambil melemparkan lirikan tajam ke pintu dapur. "Tapi di sana ada si Alif, gimana kalau tiba-tiba anak itu masuk? Nyari perkara aja deh kerjaannya."


"Nggak mungkin, dia lagi lepas sepatu—"


Belum selesai Bian berbicara, Alif tiba-tiba muncul sambil berseru, "Bun, Biandra mana?"


"Nah, kan … ini yang aku khawatirkan. Kebiasaan, kalau nyosor suka nggak kenal tempat."


"Suka-suka aku, sama istri sendiri. Halal," gumam Bian pelan sembari tersenyum, menggoda Amara.

__ADS_1


Amara mengatupkan bibir, berupaya tak menanggapi godaan Bian. Kemudian menoleh dan menunduk pada Alif sambil tersenyum. "Biandra tidur lagi kayaknya, coba aja kamu liat di atas."


"Nggak apa-apa Alif masuk kamar Bunda?" tanya Alif polos.


"Nggak apa-apa, mau liat Biandra 'kan?" sahut Amara lembut.


"Ya, Alif gemes sama Biandra, kayak boneka pengen—"


"Jangan dicubit, inget," ujar Bian, mengingatkan dengan serius. "Kamu kan kebiasaan kalau gemes suka main nyubit-nyubit. Teh Thia pada merah-merah tangannya kamu cubitin terus."


Amara mengedikkan kepala pada Bian sambil berkata dengan cemas, "Kamu temenin. Aku masak dulu."


"Kamu aja deh yang temenin anak-anak, biar aku …" Ucapan Bian terputus ketika dia bersin keras-keras hingga membuat Amara dan Alif terperanjat terkejut. "Biar aku aja yang masak—"


"Nggak! Aku udah lama nggak masak." Amara melambaikan tangan, menyuruh Bian dan Alif segera beranjak dari dapur. "Udah sana, kalian sibuk aja nemenin Biandra. Nanti aku panggil kalau udah selesai masak."


Bian hanya mengerucutkan bibir membentuk sebuah ciuman sebelum berbalik dan pergi dari dapur.


Jadi, Amara bisa berkonsentrasi memasak makanan yang ada dalam bayangannya. Sudah lebih dari dua minggu dia sendiri tak menikmati hidangan hasil tangannya, yang dia pikir rasanya jauh lebih memuaskan daripada makanan cepat saji.


Lagi pula, meski pun Amara tak memiliki pengetahuan khusus di bidang kuliner, tetapi dia lebih puas karena tahu bahan apa saja yang dia masak.


Bukan berarti Amara terlalu menjaga kesehatannya mulai dari cara menjaga apa yang dia makan, tetapi berbekal pengalamannya bekerja pada orang lain, berbekal suaminya terdahulu yang selalu menuntut tentang cita rasa makanan, mau tak mau lidah Amara terlatih dan bisa membedakan mana rasa makanan biasa, mana yang istimewa.


Sambil menekuni apa yang dia masak, Amara mengernyit ketika samar-samar mendengar Bian bersin-bersin lagi. Lalu, dia mengingat raut wajah Bian yang sedikit lesu ketika pulang menjemput Alif, sementara suhu tubuh pria itu bahkan terasa sedikit panas dari biasanya.


Hal itu berhasil membuat Amara cemas dan bertanya-tanya dalam hati, apakah suaminya sakit?


Pemikiran-pemikiran itu membuat Amara teringat bahwa semenjak dia melahirkan, Bian juga sering terjaga di malam hari untuk merawat Biandra. Terlebih lagi, selama Amara tinggal di villa, dia sadar betul bahwa pria itu memang benar-benar total mengurus Biandra dan juga dirinya.


Memang, terkadang Amara berpikir sudah keharusan Bian membantunya mengurus Biandra, terlebih lagi karena pria itu tak ada di sisinya kala dia mengandung anak mereka.


Namun, memikirkan kemungkinan Bian sakit karena kelelahan, tentu saja Amara juga khawatir dan merasa tak tega. Berbagai pemikiran itu membuat Amara semakin mempercepat apa yang sedang dia kerjakan. Hanya saja, setelah dia selesai dan tengah mencuci peralatan bekas memasak, jemari Amara tergores pisau tajam yang baru dia bilas.


Pekikan terkejut Amara tampaknya terdengar hingga ke lantai atas, karena tak lama kemudian Bian muncul terburu-buru dan mendapati istrinya mengaduh kesakitan sambil meremas jemari di depan perutnya.


"Ada apa jerit-jerit …." Bian tak menyelesaikan ucapannya ketika melihat jemari Amara berdarah. Dengan panik, dia buru-buru menghampiri wanita itu dan menyambar tangan kiri Amara.

__ADS_1


Bian tak sadar bahwa kepanikan telah membuat intonasi suaranya berubah sedikit tinggi saat bertanya, "Kenapa bisa kayak gini sih?"


__ADS_2