Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 73


__ADS_3

Amara bisa bernapas lega ketika kerumunan para pengunjung kafe menyeret Yuanita dan teman perempuannya keluar dari kafe mereka.


Kendati demikian, tetap saja Amara merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit karena terempas jatuh cukup keras.


Setelah Swift merah yang dikendarai Yuanita keluar dari pelataran parkir, dengan dibopong dua orang karyawan perempuannya Amara berniat kembali ke lantai atas.


"Neng, mau bantu digendong nggak?" Salah satu pengunjung laki-laki menawarkan dengan kasihan.


"Nggak perlu, Bang, makasih. Nggak " tolak Amara sambil menggelengkan kepala. "Makasih udah bantu ngusir mereka."


"Itu jalannya sempoyongan kayak gitu," seru tamu lain. "Perlu ke rumah sakit nggak, Neng?"


"Nggak, nggak perlu," sahut Amara cepat-cepat. "Ini cuma pusing aja kok. Lagian jatohnya juga nggak kena aspal, untung aja rumput sintetisnya tebel."


"Bener, Neng? Nggak apa-apa?" Salah satu tamu perempuan paruh baya meyakinkan. "Itu tadi pas cewek itu ngedorongnya keras banget loh, Neng."


Belum sempat Amara menyahut, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti tak jauh dari mereka. Kafe Amara memang terletak di pinggir jalan, siapapun bisa berhenti sejenak di depan kafe Amara.


Namun, deru mesin Triumph Bonneville yang berkapasitas 1200 cc itu cukup menarik para perhatian semua orang. Sebab, si pengendara yang mengenakan helm full face itu menghentikan motornya di antara deretan kursi panjang— bukan di tempat parkir yang tersedia.


Melihat hal itu, Amara ingin marah karena si pengendara bahkan melajukan motornya di atas hamparan rumput sintetis. Akan tetapi, sewaktu pengendara motor itu membuka helm yang menutupi kepalanya, Amara tercengang saat melihat bahwa orang itu adalah Bian.


Beberapa jam lalu suaminya itu pergi bekerja mengendarai mobil, tetapi kenapa sekarang pulang dengan menunggangi motor? Jadi, tak heran jika Amara menatap suaminya itu dengan tatapan aneh.


Belum sempat Amara bereaksi, Bian berjalan cepat ke arah Amara— tanpa memedulikan tatapan-tatapan para pengunjung kafe.


Dua orang karyawan perempuan yang sebelumnya membopong Amara, tentu saja langsung menyingkir ketika Bian dengan cemas memeluk istrinya.


Untuk sesaat, mematung dalam dekapan Bian. Tak menduga suaminya itu tiba-tiba pulang, terutama karena saat ini waktu masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam— sementara sebelumnya Bian mengatakan dirinya akan pulang pukul sebelas.


"Kenapa udah pulang?" Akhirnya Amara berhasil menemukan kembali suaranya yang teredam oleh pelukan Bian. "Bukannya rapatnya baru mulai?"


"Kenapa nggak bilang-bilang kalau kamu ada masalah?" Bian menahan diri agar suaranya tak terdengar marah.


Ketika Bian baru saja tiba di depan kafe, dia sudah khawatir terjadi sesuatu pada istrinya. Terutama karena wanita itu tak kunjung menjawab telepon. Lalu, kekhawatirannya kian bertambah ketika melihat orang-orang berkerumun dari pada duduk di kursi. Sudah dapat dipastikan baru saja terjadi kekacauan di kafe itu.


Dari balik kaca helmnya yang gelap, dia mendapati Amara berjalan dibopong oleh dua orang karyawannya. Tentu saja hal itu membuat Bian refleks mengehentikan motornya tanpa memedulikan bahwa itu bukan parkiran.

__ADS_1


Ketika Amara tercengang saat dia berjalan ke arahnya, Bian lebih marah melihat pipi kiri Amara yang sehalus sutra kini tampak merah.


Jadi, tak heran jika Bian langsung memeluk Amara— tanpa memedulikan tatapan pengunjung wanita yang salah tingkah melihat perhatiannya pada sang istri.


Dalam pelukan Bian, Amara bahkan bisa mendengar debar jantung pria itu menghentak-hentak cepat di balik rusuk.


Amara mendongak hanya untuk mendapati suaminya menggerutu, "Kenapa malah bilang kalau kamu nggak apa-apa? Bukannya ngasih tau kalau ada Yuanita ke sini."


"Takut ganggu kamu kerja," kata Amara kaku. "Kan waktu tadi kita nelpon, kamu baru aja—"


"Tapi kamu lebih penting dari kerjaan. Tau nggak?" desis Bian kesal. "Kebiasaan kalau apa-apa suka bilang takut ganggu. Kamu bisa ganggu aku kapan aja, tanpa terkecuali. Kamu nganggap aku apa sih? Aku ini suami kamu, Ra. Kamu berhak gangguin ini itu, kapan pun, di mana pun. Bukannya malah pura-pura nggak ada masalah. Kalau si Guntur nggak ngabarin, kamu nggak mau ngomong kalau— "


"Nggak usah bentak-bentak kayak gitu," tukas Amara dengan mata memerah, suaranya mencicit pelan karena tahu dia salah dengan tak mengabari suaminya. "Kan udah pergi juga mantan istri kamunya."


Bian menghela napas berat saat menyadari beberapa gurat cakaran panjang di pipi istrinya. Rahangnya terkatup erat ketika dia langsung menggendong Amara dalam satu hentakan.


"Aku sakit hati liat kamu kayak gini, kamu ngerti nggak?" desis Bian sambil berjalan masuk membawa istrinya. Saat ini, dia tak lagi memedulikan apa pun, kecuali ingin mendatangi Yuanita dan mencekik wanita itu karena berani melukai istrinya tercinta.


"Bisa banget kamu bikin aku ngerasa jadi suami yang nggak berguna." Suara Bian terdengar kecewa ketika berjalan menjajaki anak tangga ke lantai dua.


Amara menggigit bibir dengan diliputi rasa bersalah. Dia membenamkan kepala di dada suaminya saat berjalan menuju kamar. "Maafin," gumam Amara pelan. "Jangan marah-marah. Nanti lagi ngabarin kamu kalau ada apa-apa."


Bian berhenti bicara sewaktu melihat Eka ada di kamar sedang menimang-nimang Biandra yang tampaknya kembali terbangun.


Kamar itu memang kedap suara jika pintunya tertutup rapat. Jadi, tak heran jika adik Amara itu tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi di bawah. Melihat Amara masuk digendong suaminya, tentu saja Eka terkejut bukan main.


"Teteh kenapa?" tanya Eka khawatir, lalu terbelalak melihat cakaran di wajah Amara. "Ih, kok bisa gini sih, Teh? Teteh berantem sama tamunya? Bener-bener deh itu orang keterlaluan. Udah si Tari dibentak-bentak sampe disiram, sekarang Teteh malah dicakar sampe baret kayak gitu."


Sekali lagi Bian mengembuskan napas gusar mendengar pernyataan Eka.


"Biandra-nya tidurin aja, Ka," kata Bian sambil berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan Amara dengan hati-hati. "Kamu ke bawah, kasih tau karyawan lain supaya tutup kafe lebih awal, terus nanti kamu—"


"Kok tutup sih?" protes Amara sambil menengadahkan wajah pada Bian. "Ini baru jam berapa, masa udah mau tutup—"


"Kalau aku bilang tutup, ya, tutup," kata Bian tegas. "Udah sakit kayak gitu masih mikirin kafe?"


"Padahal aku nggak apa-apa." Amara sedikit murung dan menoleh pada Eka, "Yaudah, Ka, kamu turun dulu kabarin yang lainnya. Tapi bilang ke Guntur di ruang operator jangan dulu pulang, nanti suruh ke sini. Terus itu tamu-tamu udah nggak usah dikasih bill tagihan, tadi mereka semua bantuin Teteh ngusir cewek rese itu."

__ADS_1


Amara menoleh dan tersenyum tanpa dosa pada suaminya. "Nggak apa-apa 'kan, Ay?"


Anggukan singkat Bian memberikan tanda persetujuan. Eka memberikan Biandra pada Bian sebelum akhirnya dia keluar dari kamar.


Setelah melihat pintu tertutup, sambil menggendong Biandra yang kembali terbangun, akhirnya Bian duduk di samping Amara.


"Udahan marahnya?" tanya Amara sambil membalas tatapan Bian yang mengamati wajahnya dengan ekspresi rumit.


Ketika Amara memegang tangan Bian, pria itu bergumam pelan, "Kamu diapain aja sama dia?"


"Didorong sampe jatoh, untungnya nggak di lantai. Terus dia nyakar mukaku sebelum dipisahin sama tamu. Tapi tetep aja sekarang kepalaku pusing." Amara mengadu dan barulah saat itu dia teringat kembali bagaimana Yuanita menghina Amara di depan umum.


Meski dia sudah membalas perbuatan Yuanita dan berhasil membeberkan kebusukan wanita itu. Namun, ada beberapa hal yang membuat Amara benar-benar sakit hati.


"Mantan istri kamu naik ke panggung dan nunjukin foto-foto aku yang pake baju terbuka," kata Amara yang mulai berurai air mata. "Terus dia ngasih liat ke orang-orang foto pernikahan sekaligus buku nikah kalian. Dia bilang kalian masih resmi suami istri. Aku nggak bisa ngomong apa-apa karena aku nggak punya buku nikah. Status di KTP aku masih janda, sedangkan kamu statusnya menikah. Bahkan akte Biandra aja masih belum diurus karena kartu keluarganya belum ada. Kata Yuanita, Biandra anak haram."


Air wajah Bian berubah dingin melihat tangis Amara mulai pecah. Istrinya terisak-isak meluapkan rasa sakit akibat diperlakukan seperti itu oleh Yuanita.


Memang, secara lisan, Bian sudah menceraikan Yuanita sejak kejadian malam itu. Namun, dia terlalu malas untuk mengurus surat perceraian ke kantor urusan agama.


Bian menghela napas dalam-dalam. Ketika dia membungkuk dan mencium dahi Amara, wanita itu bergumam di antara isakannya, "Aku sakit hati."


"Kamu mau aku ngapain sekarang?" bisik Bian sambil membaringkan Biandra di samping Amara. "Mau aku seret Yuanita ke sini biar kamu bisa luapin unek-unek kamu ke dia?"


"Nggak, jangan." Amara membersit hidung dan menyeka air matanya. Lalu menatap Bian dengan serba salah. "Sebenarnya aku udah bales mantan istri kamu—"


"Kalain baku hantam?"


"Nggak. Tapi kamu jangan marah?"


Bian mengangkat alis, mendesak Amara agar melanjutkan ucapannya.


"Aku ngambil hp Yuanita yang kamu simpen itu," kata Amara dengan kaku. "Aku nyebarin video sama selingkuhnya. Makanya dia langsung nyerang aku. Tapi aku emang sengaja nunggu dia mukul aku, biar ada bukti buat laporin dia ke polisi karena nganiaya aku. Kan kamu udah janji mau belain aku."


Bian tak tahu apakah dia harus marah atau tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Amara yang begitu polos. Bagaimana mungkin istrinya itu bisa berpikir untuk sengaja membiarkan diri dipukul Yuanita hanya demi bisa menyeret wanita itu ke polisi?


"Jadi, kamu pengen aku nyeret Yuanita ke polisi?" Bian menahan diri untuk tidak tertawa.

__ADS_1


Amara mengangguk cepat dan berbicara dengan sengau. "Iya, aku kan nggak tau harus ke bagian apa ngelaporinnya. Sama orang bank aja aku takut ngadepin, apalagi sama polisi. Jadi kamu yang laporin dia. Tapi harus sekarang, takut dia keburu nyari dukun dan nyantet aku."


__ADS_2