
Tepat pukul sepuluh malam, Amara dan Bian bersama anak mereka tiba di villa. Amara sudah terlihat sangat lelah, seolah ingin segera melemparkan tubuhnya ke tempat tidur— tak berbeda dengan Bian.
Namun, sayangnya Bian tak bisa langsung beristirahat, terutama karena dia sudah ditunggu Dika sejak tadi.
Selama tinggal di villa, Amara sudah terbiasa melihat kehadiran adik lelaki Bian yang datang setiap malam, dan dia tak pernah mempertanyakan apa yang dilakukan Bian dan adiknya.
Saat itu, dia memilih untuk sama sekali tak peduli dengan apa yang dilakukan Bian, atau pun ke mana pria itu pergi.
Akan tetapi, kali ini mungkin dia harus sedikit peduli dan mencari tahu lebih banyak tentang suaminya. Terutama setelah dia Amara menyadari bahwa rumah tangganya dengan Bian kali ini benar-benar dimulai dari awal, dengan status yang jelas berbeda dari sebelumnya.
"Kamu istirahat duluan, nanti aku nyusul," kata Bian setelah mengantar Amara ke kamar. "Kalau mau mandi jangan lama-lama."
Amara mengangguk sambil melepas pashmina setelah membaringkan Biandra dalam boks. Ketika Bian berbalik dan hendak melangkah ke luar, Amara tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Kamu jadi tidur di sini nggak?"
"Jadi dong," seru Bian mantap. "Tapi kamu jangan nungguin, kalau udah ngantuk tidur duluan aja."
Sebenarnya, Amara memang tak berniat menunggu Bian. Terutama karena merasakan seluruh tubuhnya begitu remuk setelah menghabiskan waktu bersama suaminya, kemudian mengobrol sejenak dengan kakak Bian setelah Alif tertidur.
Hanya saja, setelah Amara mandi air hangat dan berganti pakaian tidur, matanya tak kunjung dapat terpejam meski dia sudah berusaha menutup matanya rapat-rapat.
Amara membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur, mencari posisi ternyaman dan berharap bisa segera terlelap. Namun, rasa kantuk tak kunjung melanda hingga akhirnya dia mendengar deru motor yang menjauh— dan meyakini bahwa adik Bian pasti sudah pulang.
Jadi, Amara menduga Bian akan segera masuk ke kamar. Namun, hingga beberapa saat kemudian, Amara bahkan tak mendengar derap langkah atau suara pintu yang dibuka.
Akhirnya dia menyibak selimut berbulu tebal, lalu melihat jam pada ponsel yang berada di atas nakas. Waktu menunjukkan hampir pukul satu dini hari, dan dia tahu malam ini pasti kesulitan tidur seperti malam-malam sebelumnya.
Dia beranjak bangun dan meraih selimut kecil. Setelah menyelimuti punggungnya, Amara berjalan menggapai pintu dan keluar dari kamar— mencari keberadaan Bian.
Pria itu tak ada di ruang tamu. Kemudian dia melongok ke lantai bawah, dan Bian juga tak ada di sana. Sambil bertanya-tanya apakah suaminya pergi bersama Dika, Amara berderap menuruni anak tangga dengan hati-hati.
__ADS_1
Pintu depan terbuka, lalu samar-samar terdengar gemericik air yang dituang pada gelas, diiringi suara pemantik rokok. Jadi, Amara mengikuti sumber tersebut. Dia mendapati Bian tengah duduk bersandar di kursi dengan sebatang rokok yang diapit jemari kirinya.
Tatapan pria itu tertuju pada layar laptop yang menampilkan MOAE— Microsoft Office Accounting Express, tampak tabel dan angka-angka yang sebenarnya tidak ingin dilihat Amara.
Bian mengulurkan tangan dan meraih lembaran-lembaran kertas yang juga berisi angka-angka dan tulisan.
"Om ..."
Suara Amara tampaknya berhasil mengejutkan Bian, pria itu menoleh sambil meletakkan kembali kertas tersebut.
"Belum tidur, Sayang?" Bian mendesakkan rokok yang baru dibakar pada asbak yang sudah dipenuhi abu dan puntung rokok.
"Nggak bisa tidur," sahut Amara sambil berderap menghampiri, mengangkat sebelah tangan Bian sebelum akhirnya dia duduk di pangkuan pria itu.
Hati Bian melunak ketika istrinya tiba-tiba bergelung manja di pangkuannya, seolah tengah mencari kehangatan karena dinginnya embusan angin malam.
Amara membalas tatapan Bian yang meneduhkan. "Kan kata dokter obat penenang itu bisa bikin asi berkurang," keluh Amara murung. "Nanti ASI- ku makin kering."
Bian menyibak anak rambut Amara sambil bergumam, "Nggak apa-apa, Ra, yang penting kamu bisa istirahat dulu. Bukan berarti Biandra nggak minum susu 'kan? Dia pasti sehat kok walaupun cuma minum susu formula."
"Tapi kan tadinya aku pengen ngasih ASI sampe—"
"Kalau ASI- nya nggak keluar, mau gimana lagi?" tukas Bian sambil mendaratkan kecupan di kening Amara. "Nanti kamunya malah stres sendiri. Mending sekarang fokus ke kamunya dulu, baru Biandra."
Ketika Amara hanya mengerucutkan bibir, Bian mendaratkan kecupan di bibir istrinya sambil berbisik, "Lekas sembuh, Semestaku. Jangan bikin aku harus nahan kangen lebih lama, Oke?"
Amara memberingis geli. "Huu ... uda ketemu tiap hari masih aja bilang kangen. Dasar cowok gombal."
"Bukan gombal, Sayang." Bian terkekeh kecil dan menggigit hidung Amara sebelum akhirnya kembali berkata, "Beneran kangen. Kangen pengen ini ..."
__ADS_1
Tubuh Amara menegang saat Bian membelai pahanya hingga Amara refleks menangkis tangan suaminya. "Apaan sih? Nggak sabaran amat!" seru Amara tegang sekaligus malu.
Namun, dia tak bisa memungkiri bahwa sentuhan Bian di balik celana satin yang dia pakai berhasil membuat tubuhnya memanas. Desiran darah di tubuhnya seakan mengalir lebih cepat, berlomba-lomba mengirim sensasi liar yang kini berkerumun di otaknya.
Dan ketika Bian tertawa-tawa di pipi Amara, pria itu tak tau bahwa embusan napasnya yang hangat berhasil membuat hasrat Amara kian menggelegak.
Saat dia menyadari bahwa Bian berupaya meredam gairah dengan tawanya, Amara berupaya bangun dan mengalihkan topik pembicaraan dengan berkata, "Adek kamu ngapain sih tiap hari ke sini tapi nggak pernah nginep?"
Bian menarik napas panjang, mencoba menetralisir letupan gairah yang membuat sesuatu di balik celananya menggeliat. Setelah merasa rileks, dan merangkul bahu Amara yang kini duduk di sampingnya.
Butuh upaya keras bagi Bian untuk menekan sensasi panas yang menggelitik, mendesak kebutuhan akan inginnya bercinta dengan Amara. Meski Amara menutupi separuh tubuhnya dengan selimut kecil, tetapi tetap saja dia tahu benar apa yang tersembunyi di balik piyama satin yang membalut tubuh istrinya.
Benak Bian kini di penuhi kemolekan tubuh Amara, membayangkan jemarinya menyentuh setiap inci kulit istrinya yang lembut. Dan sekali lagi dia menelan ludah dengan susah payah saat kerongkongannya terasa kering.
Jadi, Bian meraih segelas penuh air mineral dan meneguknya dengan penuh dahaga, berharap rasa panas yang kini menjalari tubuhnya bisa berkurang. Gagasan untuk bercinta dengan Amara benar-benar membuat Bian nyaris gila.
"Bahas kerjaan," kata Bian setelah beberapa saat.
Amara mengernyit saat mengingat bahwa dia bahkan tak tahu banyak hal tentang suaminya. "Om, emang kamu kerja apaan sih?"
Pertanyaan polos Amara sekali lagi membuat Bian tergelitik. "Nganggur," kata Bian enteng.
"Nganggur?" Amara mengulangi sambil mendongak heran. "Masa nganggur sih?"
"Emang kamu pernah liat aku kerja?" Bian menaik turunkan alis, menggoda Amara.
"Aku serius ih!" gerutu Amara, lalu melirik tabel berisi angka dan segelintir informasi di layar laptop. Kemudian bibirnya bergerak dan membaca informasi tersebut dengan lantang, "Pemasukan dan pengeluaran bulanan? Gaji karyawan ...
Ketika dia melihat Bian hanya mengamatinya, Amara tiba-tiba berseru, "Om, kamu kenapa nggak ngasih aku gaji?"
__ADS_1