Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 49


__ADS_3

Sentuhan itu terasa nyata, menggelitik dan membangkitkan sensasi liar di sekujur tubuh keduanya. Cumbuan penuh erangan menyeruak memenuhi isi kamar.


Tiara mengalungkan kedua tangan di leher Bian dengan mesra, membalas permainan bibir pria itu dengan penuh hasrat. Sensasi-sensasi bergelora terus merongrong dalam jiwa keduanya, sementara pagutan bibir mereka semakin panas dan liar.


Di tengah-tengah gejolak membara, Bian berhenti sejenak dan melepas pagutan bibir mereka. Lalu menciumi kening Tiara dengan penuh pertimbangan, kemudian beralih menyusuri pipinya yang selembut sutra, rahangnya— dan berakhir di telinga wanita itu.


"Kita nggak harus lanjutin," bisik Bian serak. "Semua pasti baik-baik aja. Percayalah."


"Bi, cuma ini satu-satunya cara biar papa mamaku restuin kita," Tiara bahkan bisa mendengar getaran dalam suaranya saat menciumi pipi Bian. "Aku percaya kamu nggak mungkin nyakitin aku, please ... aku nggak mau pisah sama kamu."


"Tapi, Sayang, kita sama-sama belum —"


"Aku percaya kalau kamu pasti nggak mungkin nyakitin aku," tukas Tiara sambil menarik Bian berbaring di ranjang. Tak berbeda dengan Bian, Tiara juga sama-sama gugup saat melanjutkan, "Aku siap. Percaya sama aku, kalau usaha kita pasti berhasil. Mereka pasti restuin kita kalau aku hamil."


Sambil menatap wajah cantik Tiara, Bian mengulurkan tangan dan mulai melucuti kancing-kancing pada blouse wanitanya.


Tak lama setelah keduanya tak mengenakan sehelai pun kain di tubuhnya, Bian menahan napas ketika mencoba menyatu dengan Tiara— memasuki perlahan sesuatu paling berharga yang Tiara berikan untuknya— demi rencana konyol ketika keduanya dimabuk cinta.


Bian berhenti sejenak ketika Tiara merintih kesakitan, tak berbeda dengan miliknya yang juga terasa nyaris remuk.


"Sakit, Sayang?" Bian menunduk dan menghujani wajah Tiara dengan kecupan intens. "Aku udah pelan—"


"Nggak apa-apa, lanjutin aja, Bi," kata Tiara. "Tadi cuma kaget."


Bian menciumi telinga Tiara sambil berbisik sendu, "Mutiara- ku, kamu cuma miliku. Apa pun yang terjadi ke depannya, kita hadapi semua bareng-bareng, ya?"


"Aku nggak mau kehilangan kamu, Bi."


"Iya, aku juga. Berjanjilah kalau kamu bakal sabar selama aku berjuang?"


"Bukan cuma kamu, tapi kita berdua yang berjuang."


"Be my soulmate, Mutiara- ku."


"I love you more than you know, Fabian Khadafi."


___


Bian terlonjak terkejut ketika mendengar ponselnya berdering-dering, menyeretnya kembali dari mimpi basah di siang bolong.


Padahal, dia tak berencana tidur, terutama dalam posisi duduk bersandar seperti itu, dan terjadi dalam beberapa menit saja. Dia hanya menenangkan diri dan berupaya meredam hasrat. Terlebih lagi, dia tak pernah berharap wanita itu bahkan hadir di mimpinya.


"Sialan!" Bian menggeram kesal, sadar bahwa kehadiran singkat Tiara benar-benar mengacaukan susunan sarafnya.


Padahal, Bian sudah berupaya keras tidak memikirkan wanita itu— mengalihkan setiap iklan masa lalu singkat yang melintas dalam benaknya. Namun, siapa sangka, jauh di alam bawah sadar Bian— rupanya file dan jejak-jejak mereka masih tersimpan.


Bian mengembuskan napas panjang, merasa frustrasi pada diri sendiri, seolah-olah terganggu dengan sosok Tiara.


Dia berdiri dan memastikan Biandra masih terlelap. Kemudian memilih keluar kamar dan mengambil sebungkus rokok serta pemantik api, dia butuh banyak oksigen— merasa kacau dengan kecamuk dalam otaknya.


Sungguh, dia merasa terlalu tua untuk terjebak lagi dalam bayang-bayang semu. Bian bukan remaja kasmaran yang baru merasakan patah hati, terutama ketika statusnya sekarang memiliki anak dan istri.


Ketika Bian berjalan ke halaman depan dan menyalakan sebatang rokok di sela bibirnya, tiba-tiba penjaga villa menghampiri sambil berkata, "Pak, tadi ada tamu, namanya neng Tiara, dia titip—"


"Nggak usah bahas-bahas nama dia! Mau bikin saya mati digantung sama Bundanya anak saya? Hah?!" bentak Bian dengan gigi bergemeretak, semakin frustrasi ketika sang penjaga villa justru membuat otaknya semakin stres. "Atau mau kamu yang saya gantung?"

__ADS_1


Sang penjaga villa menelan ludah sambil memegangi leher, ngeri dengan pelototan Bian yang tampaknya ingin menelan dia bulat-bulat. Jadi, dia mengurungkan niat untuk memberikan kartu nama milik Tiara yang sempat dititipkan.


"Oh, iya ... Pak," lanjut sang penjaga dengan hati-hati. "Tadi juga ada tukang pos, ada paket kiriman buat Pak Fabian Khadafi—"


"Siapa pengirimnya?"


"Bentar, Pak, saya ambil dulu di pos."


Tak lama kemudian, sang penjaga villa kembali dan membawa bungkusan tersebut sambil membaca, "Nama pengirimnya 'wanita yang mencintaimu'. Tapi nggak ada—"


"Kasihin paketnya ke si Dika. Sekarang!" tukas Bian ketika berpikir pengirim paket tersebut adalah Tiara, persis seperti yang wanita itu tulis dalam pesannya.


"Tapi, Pak, saya lagi jaga—"


"Kirim paket itu ke si Dika sekarang, Kusnadi!" Bian menggeram dengan urat-urat leher yang mengeras. "Jangan sampe istri saya tau, atau kamu saya pecat!"


Sewaktu Bian sakit, Amara menemukan dirinya bisa menekan dan mengalihkan berbagai pikiran negatif, terutama pemikiran-pemikiran dan kekhawatirannya yang berlebih mengenai Biandra— putrinya.


Jika sebelumnya Bian selalu melayani Amara, beberapa hari lalu kebiasaan itu justru berbalik. Tentu saja semua itu karena Bian terkapar di tempat tidur, sehingga tak ada yang melarang Amara melakukan apa pun.


Akhirnya Amara sadar, semakin dirinya menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas kecil di villa itu, semakin berkurang pula ketakutan dan kecemasan yang akhir-akhir dialami Amara.


Setidaknya, Amara lebih memilih dirinya kelelahan fisik, dari pada membiarkan otaknya tak bisa beristirahat karena mengkhawatirkan hal yang tidak pasti.


Seperti malam ini, Amara menolak bantuan Bian berkecimpung di dapur. Dia justru meminta pria itu menjaga Biandra selagi Amara memasak setelah Bian shalat maghrib.


Tepat pukul tujuh malam, Amara selesai memasak dan menyiapkan dua hidangan sederhana di meja makan. Ketika dia baru saja akan memanggil Bian ke lantai atas, samar-samar terdengar deru motor yang berhenti di depan villa.


Tak lama kemudian, pintu depan terbuka dan terdengar anak kecil yang berseru, "Assalamualaikum, Pa ... Bunda ..."


"Ke sini sama siapa, Al?" tanya Amara sambil mengernyit sewaktu Alif mengulurkan tangan untuk menyalami Amara. Bukan tak senang, tetapi karena suhu tubuh anak itu sedikit hangat.


"Sama si mamang," kata Alif sambil melongok ke berbagai arah. "Kata mamang si Papa sakit, Bun? Pantesan nggak nelpon-nelpon. Alif kangen Papa sama Biandra."


Sebelum Amara sempat menjawab, Dika berjalan masuk sambil menurunkan resleting jaket parka, menyampirkan di sandaran sofa dan bertanya, "Si Aa udah sembuh belum, Teh? Si Alif maksa banget tadi pengen ikut, jadi diajak ke sini. Padahal Teh Mirna udah ngelarang supaya jangan ikut, agak demam dari pagi. Tapi dari pada nangis-nangis, ya udah Dika ajak dia. Pengen ketemu si papa katanya."


Amara tak lantas menjawab pertanyaan Dika. Dia membeku sejenak ketika melihat pakaian yang dikenakan sang adik ipar. Pria berambut Cepol dan berperawakan nyaris sama dengan Bian itu mengenakan kaus biru muda, yang dipadu jeans pendek di bawah lutut.


Dari warnanya yang masih begitu pekat, juga garis-garis tegas seperti baru saja disetrika, Amara menebak pakaian Dika tampak baru.


Awalnya, dia ingin berpikir bahwa pakaian yang dikenakan Dika kemungkinan sama dengan yang Amara belikan untuk Bian beberapa hari lalu. Pakaian itu bukan edisi terbatas, dan bukan barang mahal.


Namun, Amara ingat betul warna dan ukuran pakaian yang dia beli untuk Bian benar-benar sama seperti yang dipakai Dika sekarang.


"Bunda .... Bun, si Papa mana?"


Suara Alif berhasil membuat Amara mengedip-ngedipkan mata, menyadari dia sedang berpikir terlalu jauh— tentang kemungkinan baju yang dia belikan untuk Bian justru diberikan pada adiknya.


"Udah ... eh, maksudnya, ada. Bentar Bunda panggilin dulu," kata Amara, sedikit gelagapan dan segera mengalihkan perhatian. "Alif, udah makan belum? Bunda baru aja masak cumi asam manis sama perkedel jagung ... Dika, makan—"


"Alhamdulillah, rezeki anak sholeh!" Dika berseru antusias sebelum Amara selesai mengajaknya makan. "Emang kebetulan laper banget, tadi mau makan di rumah Teh Mirna si Alif malah ngajak berangkat."


"Ya udah, kita makan sekalian." Amara mengulurkan tangan pada Alif dan menggandeng anak itu ke ruang makan. "Tunggu di sini, Bunda panggilin Papa kamu dulu, oke?"


Ketika Dika menyusul dan menarik kursi makan di samping Alif, sekilas Amara bisa mencium aroma pakaian baru— dan hal itu berhasil membuat rasa penasaran Amara semakin meningkat.

__ADS_1


Beruntung ini bukan pertama kali bagi Amara bertegur sapa dengan Dika. Jadi, Amara pun tak tahan untuk berkata pada sang adik ipar dengan nada humor, "Uhh, mentang-mentang baru gajian beberapa hari lalu, langsung beli baju baru, ya?"


"Bukan beli tapi tadi dikasih si A ..." Dika tak menyelesaikan kata-katanya saat khawatir dia mungkin salah berbicara— mengingat baju yang diberikan Bian tadi siang pasti kiriman dari Tiara.


"Dikasih Bian maksudnya?" Amara menyelesaikan kalimat Dika dengan tenggorokan yang terasa mengganjal, sakit hati jika memang Bian sengaja memberikan pakaian itu pada adiknya.


Dika tak tahu bagaimana dia harus menjelaskan hal tersebut pada Amara. Jika dia memberitahu bahwa Bian mendapat kiriman dari Tiara, artinya semua itu akan menjadi petaka bagi rumah tangga sang kakak, dan Dika tentu saja tak ingin hal itu terjadi.


"Teh, aku boleh makan duluan nggak? Udah laper banget ini." Dika berupaya mengalihkan topik pembicaraan dengan meraih piring dan menyendok nasi. "Uh, makananya masih anget lho, Al. Mau mamang ambilin nggak?"


"Si Alif boleh duluan, tapi kamu nggak boleh makan kalau belum jawab," kata Amara sambil terkekeh garing, menyembunyikan gumpalan rasa sakit dengan tawanya. "Kakak kamu ngasih baju berapa banyak?"


Dika menggaruk-garuk kepala yang tak gatal sambil kembali meletakkan centong nasi. Merasa serba salah sekaligus bingung, dan ingin sekali rasanya dia berlari sembunyi jika sampai salah bicara. Namun, tiba-tiba terbersit sebuah ide konyol dalam kepala Dika.


"Iya, dikasih si Aa," kata Dika akhirnya setelah menemukan alasan yang tepat, dan mengingat Amara dan Bian belum lama bersama, Dika berpikir mungkin Bian dan Amara belum sepenuhnya terbuka dalam segala hal. "Emang aneh kadang-kadang si Aa. Udah tau biasa pake baju hitam putih sama abu, eh ... malah nyoba-nyoba beli baju berwarna. Kayaknya nggak cocok, jadi dikasiin deh. Sering-sering aja si Aa salah beli baju, biar aku dapet lebih banyak lagi."


Amara tertawa pelan, tetapi wajahnya kini sedikit memerah ketika rasa kecewa dan sakit hati berpadu menjadi seberkas amarah.


Kendati demikian, Amara kembali berkata dengan penuh candaan, "Baik banget, ya, kakak kamu. Emang berapa banyak baju yang dikasih?"


Dika merasa lega ketika berpikir bahwa dirinya sudah bebas dari masalah. Dari nada bicara Amara yang penuh canda, Dika menduga idenya barusan cukup masuk akal.


Jadi, dengan enteng Dika melanjutkan, "Lumayan banyak sih, kaos tiga, kemeja satu, sama celana tiga. Eh, Teh ... aku udah boleh makan sekarang? Udah jawab semuanya lho."


"Oh, boleh dong," kata Amara dengan ceria. "Sekalian si Alif ambilin. Aku ke atas dulu."


Sambil berbalik dan berjalan menuju tangga, Amara menelan gumpalan rasa sakit yang kian menggelegak dalam dada. Dia merasa Bian sama sekali tak menghargai apa yang dia berikan.


Bahkan, pria itu bukan hanya memberikan satu, tetapi semua yang dia belikan untuk pria itu.


Hal itu membuat Amara sedikit sedih dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa Bian tak mau memakai apa yang dia berikan? Apa pria itu tak menyukai pakaian yang dia belikan?


Atau, apa karena pakaian yang dibelikan Amara tak semahal yang biasa dipakai Bian? Lalu, Amara tersadar ketika mengingat pakaian-pakaian Bian ketika dia memisahkan di keranjang cucian.


Meski kebanyakan pakaian pria itu berdesain sederhana, tetapi nyaris semua bermerk Armani Exchange, Tommy Hilfiger, atau Ralph Lauren.


Amara berpikir, mungkin besaran uang tiga juta yang dia keluarkan untuk membeli pakaian Bian, nominal itu hanya cukup untuk membeli satu atau dua potong pakaian branded yang biasa dipakai Bian.


Jadi, apakah Bian memberikan semua pakaian itu karena yang dibelikan Amara hanya barang murahan?


Memikirkan hal tersebut membuat Amara semakin sedih. Seharusnya dia tak perlu memaksakan diri untuk memberikan sesuatu pada pria yang perbedaannya jauh seperti langit dan bumi.


Ketika Amara membuka pintu kamar, Bian tengah duduk bersandar sambil membaca buku bisnis dan manajemen. Pria itu mendongak dan tersenyum lembut pada Amara ketika mendengar suara pintu dibuka.


Sambil menutup pintu di belakangnya, Amara mengamati Bian dengan sedikit terluka.


Bahkan, kekecewaan itu tampak nyata dari sorot matanya, sehingga Bian langsung bertanya, "Ada apa? Butuh bantuan di dapur?"


"Ada Alif sama Dika, mereka udah nunggu di meja makan," kata Amara datar.


"Kapan datang? Kok nggak—"


"Kalau kamu nggak suka sama bajunya, harusnya kamu bilang, bukan langsung dikasihin ke orang. Sakit hati tau nggak liatnya!" Amara tak bisa menahan apa yang ada dalam hatinya. "Seengaknya aku bisa kasih ke bapak aku kalau emang kamu nggak suka!"


"Ra, kamu kenapa?" Bian bertanya dengan heran, sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud istrinya.

__ADS_1


__ADS_2