
Demi membuat Amara tenang, Bian melipat dan mengesampingkan kegelisahannya tentang Alif.
Malam itu menjadi malam yang panjang dan melelahkan bagi Amara, tak terkecuali Bian sendiri.
Berulang kali Bian mendapati Amara terperanjat dalam tidurnya, seolah-olah memastikan bahwa dia tetap berada di samping Amara.
Pengalaman hari-hari yang suram dan berbagai hal mengerikan yang pernah dialami Amara, mungkin hal itulah yang menjadi rentetan kegelisahan istrinya.
Berdasarkan apa yang pernah dia dengar dari Amara, banyaknya hal-hal buruk yang pernah menerpa wanita itu, tak heran jika dalam tidurnya saja Amara sedemikian gelisah.
Bian bisa merasakan betapa gelisah dan ketakutannya wanita itu, bahkan hingga dalam tidur pun Amara terus gundah gulana.
Yang lebih menyakitkan bagi Bian adalah ketika menemukan istrinya sedemikian pasrah— seolah-olah wanita itu begitu lelah menghadapi ketakutannya yang diliputi keputusasaan.
Dalam sekejap mata, Bian menyadari jiwa Amara kembali terganggu. Wanita itu bagaikan baru saja mendapatkan teror yang benar-benar mengancam jiwanya.
Hari berikutnya menjadi lebih mengerikan lagi bagi Bian. Bukan karena Amara semakin ketakutan memikirkan ancaman Yuanita. Akan tetapi, Amara justru tidak mengeluhkan apa-apa pada Bian.
Namun, gelagatnya jelas menunjukkan bahwa wanita itu semakin memburuk. Terbukti dari bagaimana cara Amara membawa Biandra ke kamar mandi, duduk menggendong anaknya di atas closet duduk— tepat ketika Bian mandi malam harinya.
Sungguh mengejutkan bagaimana sebuah kata ancaman yang diucapkan seseorang mampu merusak orang lain. Mungkin terdengar ringan saat melontarkan kata 'santet' itu, tetapi efek yang diterima oleh orang yang memiliki trauma tersendiri, hal itu seolah-olah menimbulkan kerusakan pada susunan saraf dalam kepala Amara.
Jika saja Amara bisa ditinggalkan, ingin sekali rasanya Bian pergi dan mencekik Yuanita hingga mati karena sudah berani-berani menggangu ketenangan istrinya.
Amara memang tak lagi mengeluh di malam kedua. Bahkan, Bian mendengar nada penghiburan yang keluar dari mulut Amara ketika berbicara dengan Biandra.
"Huu, Ayah kamu lama banget, ya? Dingin, ya, kamu ikut-ikut Bunda ke sini?"
Bian tersenyum sambil membilas busa sabun di bawah kucuran shower. Setidaknya, sekacau apa pun Amara, wanita itu masih terdengar berusaha memberikan kenyamanan untuk putrinya.
Amara berdiri dan mondar-mandir di depan cermin. Lalu, dia melihat pantulan wajahnya yang begitu mengerikan.
'Liat mata kamu, Amara!' kata Amara pada diri sendiri dalam hati. 'Masa harus jadi tolol cuma gara-gara ancaman Yuanita yang nggak masuk akal sih?!'
__ADS_1
Amara menatap pantulan Bian di cermin yang kini sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk putih, lalu melilitkan di pinggang sambil berjalan keluar dari shower room.
"Jangan dicium Biandra- nya," kata Amara ketika Bian baru saja mendekati mereka. "Bibir kamu pasti dingin banget."
"Cium Bunda- nya boleh?" Bian meraih handuk kecil dari rak gantung untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Nggak." Amara membetulkan posisi Biandra, menangkupkan tubuh anak itu di dadanya— sementara jemarinya bergerak di punggung Biandra.
"Om," kata Amara dengan suara rendah, kemudian melihat Bian meliriknya dari cermin. "Kamu mau makan pake apa?"
Alis Bian terangkat, masih menggosokkan handuk di rambutnya. "Nanti kita masak bareng kalau aku udah ganti baju."
"Kamu pegang aja Biandra, biar aku yang masak." Amara menoleh dan mendapati Bian tampak terheran, mengingat saat ini saja wanita itu selalu menguntilnya. "Bikin capcay aja yang agak cepet, ya?"
"Aku temenin," sahut Bian sambil menggantung kembali handuk kecil di tangannya.
"Aku bisa sendiri. Cepetan pake baju, terus pegang Biandra."
Dia mengamati Amara berjalan keluar dari kamar mandi, dan Bian bertanya-tanya kenapa Amara begitu cepat berubah-ubah?
Amara tak menjawab, dengan sebelah tangannya menarik satu set pakaian tidur Bian dari lemari gantung. "Pake piyama aja yang simple, ya?"
"Ra, kamu beneran—"
"Udah cepetan pakai bajunya, udah mau jam delapan lho ini. Kita belum makan malem," tukas Amara sambil berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan Biandra. "Ntar aku panggil kalau udah selesai."
Setelah mengatakan itu Amara langsung berjalan cepat keluar kamar, meninggalkan Bian yang mengenakan pakaian dengan ekspresi terheran-heran.
Sejak kemarin, Amara benar-benar tak bisa jauh sedetik pun dari Bian. Sekarang, perubahan mendadak ini benar-benar membuat Bian sedikit tak percaya.
Jadi, setelah selesai mengancingkan piyama, Bian meraih Biandra dan menyusul Amara ke dapur dengan langkah-langkah cepat.
"Ih, Biandra- nya jangan dibawa ke sini. Kesian kalau nyium aroma masakan, ntar idungnya pedes nggak bisa bersin-bersin," gerutu Amara yang sedang mengiris-iris bumbu.
__ADS_1
"Kamunya kemarin bilang nggak mau jauh-jauh," komentar Bian yang menyurut mundur, sedikit menjauh dari pintu dapur.
"Aku kesiksa sama ketakutanku sendiri," sahut Amara sambil mengupas wortel sebelum mengiris-iris tipis. Lalu bibirnya bersenandung dipaksakan, "Que Sera Sera ... what ever will be, mm ... Will be we lah!"
Bian menahan tawa tercekik. Antara terharu dan lucu mendengar lagu dan motivasi pelesetan Amara.
"Akhirnya Amara- ku kembali," komentar Bian sambil terkekeh geli, lalu berjalan ke ruang makan dan duduk sambil menggendong Biandra. "Berarti aku bisa pergi sebentar, ya, Sayang?"
"Tetep nggak boleh!" pekik Amara dari dapur. "Di rumah udah sepi nggak ada si kakak. Nggak ada yang jingkrak-jingkrak sambil nyanyi-nyanyiin opening film Spongebob di kamar mandi, nggak ada yang ngerengek minta dibeliin krabby patty. Nggak ada yang bawel nanyain kapan Si Upin Ipin lulus dari Tadika Mesra. Nggak ada yang minta ayam goreng sayap sama paha doang. Uh, aku kangen dia."
Bian terdiam, lalu menghela napas berat. Andai dia bisa bicara dan memberitahu Amara, ingin sekali Bian mengatakan bahwa dia tak hanya kangen pada Alif, tetapi jelas khawatir dan cemas pada anak itu.
Namun, tetap saja Bian masih mempertimbangkan untuk menjemput Alif. Khawatir lagi-lagi Amara yang akan menjadi sasaran amukan Yuanita di belakang Bian, seperti kemarin.
Akhirnya Bian hanya bisa menelan semua kata-katanya, mencoba meyakinkan diri bahwa Alif pasti baik-baik saja, berharap tak ada sesuatu yang terjadi pada anak itu selama bersama Yuanita.
"Om ..."
Suara Amara yang sedikit keras kembali menyeret kesadaran Bian yang tengah memikirkan Alif. "Iya, kenapa? Butuh bantuan?"
"Nggak, aku bisa sendiri." Bian bisa mendengar desisan dan aroma bawang yang ditumis, bersahutan dengan suara sodet dan wajan yang beradu. "Kalau misalnya kamu minta tolong ke kakak kamu supaya jemput Alif, gimana, ya?"
"Kamu serius, Ra?" Bian meyakinkan. "Kemarin kamu bilang katanya takut kalau Alif dijemput nanti dia bakal nyalahin—"
"Udahlah, aku udah terlanjur dicap jelek sama si Yuanita," sahut Amara, suaranya terdengar sedikit kesal. "Jadi, aku pikir mending sekalian aja aku tunjukin apa yang dia tuduh ke aku. Kalau dia nuduhnya aku ngehasut kamu, yaudah aku mau tunjukkin ke dia kalau aku bakal nghasut kamu lebih parah. Lagian juga mau sampe kapan aku jadi pengecut? Kalau semalem kamu nggak nunjukin bukti-bukti perselingkuhan Yuanita, mungkin aku masih bisa aja takut. Tapi kalau udah liat kayak gitu, ah, makasih deh kalau aku harus jadi pecundang berkali-kali ..."
Amara melongok dari pintu dapur ke meja makan, lalu mendapati Bian sedang tertawa kecil sambil membiarkan punggung telunjuknya berada di mulut Biandra.
"Ngomong-ngomong, kamu bilang empat villa dan satu rumah kamu dikasih ke Yuanita 'kan?" lanjut Amara dengan senyum jahat. "Berhubung itu dulu kamu kasih demi bisa dapetin Alif, kenapa nggak kamu ancam balik mau ambil lagi aja itu villa kalau Alif nggak dianter? Udah terlanjur aku dicap ngerebut segalanya dari dia kan?"
Tawa Bian semakin menggelegak mendengar ucapan Amara, sedikit tak percaya akhirnya wanita itu mengeluarkan taringnya.
Sebelum Bian sempat berkomentar karena begitu geli mendengar saran Amara, wanita itu kembali menambahkan, "Tapi jangan kamu yang pergi! Aku khawatir kamu nggak bisa balik lagi. Biar kakak kamu sama Dika aja yang jemput Alif."
__ADS_1
"Udah serius ini keputusan kamu?" Bian meyakinkan. "Nggak takut disantet?"
"Nggak!" Amara berseru yakin. "Udah aku bilang, what ever will be ... Will be we lah!"