Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 28


__ADS_3

Bian memilih membisu ketika melihat dokter mengangguk, mengisyaratkan agar Bian tak menyahut lagi ucapan Amara, cukup hanya mendengar dan menampung luapan emosi Amara.


Jadi, kedua pria itu membiarkan Amara menangis hingga lelah. Setelah Amara cukup lega, cengkramannya di punggung Bian sedikit longgar. Kemudian suaminya itu menyeka air mata Amara dengan beberapa lembar tisu.


"Maaf," kata Amara pada sang dokter setelah menarik napas berkali-kali. "Aku kebawa emosi."


"Tidak apa-apa, Bu," kata sang dokter dengan bijak. "Nggak semua orang bisa nangis. Bersyukur kalau ibu bisa meluapkan semuanya dalam tangisan."


"Saya punya satu pertanyaan," lanjut Amara pada sang dokter setelah berpikir keras selama dia menangis. "Bagaimana … apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan atau mengurangi rasa takut saya sebagai orang tua masa depan anak saya?"


Sang dokter tersenyum dan mengangkat alis pada Bian sekilas.


"Dia istrimu, Pak Fabian?"


"Ya." Bian tersenyum sambil merangkul bahu Amara. "Istri saya."


"Bagus." Sang dokter tersenyum puas, seolah akan lebih leluasa memberikan kiat-kiat yang akan dia jelaskan pada pasangan suami istri di hadapannya.


Sang dokter memindai dan memastikan kondisi Amara sedikit lebih tenang, lalu bergumam, "Jawaban yang ingin saya berikan atas pertanyaan istri Pak Fabian, mungkin juga berlaku untuk kalian berdua. Tak peduli Anda memiliki pengalaman berumah tangga selama sepuluh tahun bersama istri Anda sebelumnya, tapi kalian berdua saat ini adalah pasangan orang tua baru. Memang, seberapa lama dan seberapa banyak pengalaman dalam berumah tangga tak bisa menjadi tolok ukur untuk bisa legowo dalam merawat anak-anak kita …."


Dokter lelaki tua itu mencondongkan tubuh dan melepas kacamata, lalu menyimpan di atas meja. Merasa butuh lebih rileks saat bercakap-cakap dengan pasangan di hadapannya.


"Begini, jawaban saya," lanjut sang dokter dengan langgam santai, berharap Bian dan Amara pun bisa setenang dirinya dalam mengemukakan jawaban atas pertanyaan Amara.


"Selama ini, kita ini dititipi Allah sekedar numpang lewat," sang dokter mulai bercerita. "Kasarnya Allah bilang begini, Bu Amara … 'Titip, ya, aku ingin menciptakan makhluk-Ku melewati perutmu, supaya anak itu dipelihara oleh ibunya', maka Allah menciptakan kasih sayang dititipkan ke dalam hatinya ibu Amara, dan ini tidak setiap Ibu dititipin kasih sayang oleh Allah."


"Bukannya setiap Ibu yang melahirkan sudah pasti memiliki kasih sayang buat anaknya?" tanya Amara kesungguhan yang terpatri tentang seberapa besar kasih sayang yang dia miliki untuk Biandra.


"Hmm, begini … ada nggak seorang ibu melahirkan anaknya terus dibuang ke tempat sampah? Ada nggak?" Ketika Amara mengangguk, sang dokter menambahkan, "Nah, itu satu bukti kecil bahwa Allah menitipkan lewat tapi Allah tidak mendukung dengan kasih sayang yang ditempelkan ke hatinya Ibu. Bahkan mereka yang ngelahirin di WC sekalian diguyur, diinjek ke WC. Ada kan? Dibungkus pakai koran, dikerumuni lalat, atau dibuang di sungai … itu gagal. Berarti Allah tidak menitipkannya."


"Nah, ketika Allah itu menghendaki anaknya sampai besar dan dewasa, maka Ibu ini dititipi kasih sayang oleh Allah. Mungkin seorang ibu tidak merasa karena Allah tidak berbicara 'tolong, ya, Bu .. ini titip makhluk saya nih, dan ini kasih sayangnya juga tolong dikasihkan buat si anak'. Nah, itulah makanya orang tua ini, yah .. diberi kasih sayang, sebetulnya sang ibu atau bapak sendiri tidak punya niat ingin bikin anak 'kan?"


Sang dokter tersenyum tipis, berupaya menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi kedua orang itu sebelum melanjutkan, "Jujur aja nih, Ibu pernah nggak sang suami mengajak, 'Bu, bikin anak, yuk?' Nggak kan?"


Amara tersenyum malu-malu, kemudian berpegangan pada tangan Bian yang sejak tadi menggenggamnya.

__ADS_1


"Jadi, Bu, Pak, kita itu tadinya bukan niat bikin anak 'kan? Tapi bersenang-senang sendiri. Karena kita ingin mengejar satu kelezatan, kelezatan hubungan seksual … hubungan sanggama. Bisa merasakan ejakulasi, dan istri kita merasakan orgasme. Kenapa Allah menitipkan anak yang nantinya resikonya banyak, biaya melahirkan bedongangnnya, nyebokin, biaya segitu besar, maka supaya kamu itu ada urup-urupnya, Allah kasihkan kenikmatan yang luar biasa, sehingga tidak pernah ada orang perempuan yang merasa kapok melahirkan …"


"Ada nggak yang kapok melahirkan?" lanjut sang dokter sambil tertawa kecil, dan Amara serta Bian pun turut terkekeh. "Uh, capek, sakit, … keurup lah, ya, rasa sakitnya melahirkan dengan orgasme yang sangat nyaman itu. Nah, karena dititipi kasih sayang, maka otomatis sang ibu itu merasakan cintanya yang sangat besar kepada anaknya, dan perhatiannya …"


"Jadi, khusus Ibu Amara," sambung sang dokter dengan langgam serius yang tenang. "Seorang ibu, sejak awal kita harus menyadari bahwa ini bukan milik kita. Ini adalah titipan Allah. Ini keluar adalah akibat dari. Jadi, tugas kita sebatas nyebokin, nyusuin, ngebedongin, ngedidik, ngebiayai, nyunatin sampai kita kawinkan, sudah. Lalu kita sampaikan, 'Ya Allah, tugasku selesai.' Jadi, kita mulai merasa khawatir, mulai gamang, dan takut itu, karena kita merasa memiliki …"


"Rasa kekecewaan orang tua saya mengerti," sang dokter tersenyum saat menambahkan, "Betapa orang tua kecewa kepada anaknya ketika anak itu tidak sesuai dengan harapan kita. Betul nggak? Apalagi mengingkari kebaikan orang tua yang tadi saya ceritakan. Jadi, apa saja ketika kita merasa memiliki, dan cinta kita pada yang kita miliki itu terlalu berlebihan, maka rasa ketakutan kita semakin berlebihan. Itu saja persoalannya. Betul nggak?"


"Ya." Amara mengangguk, mulai memahami.


"Jadi, Ibu Amara, kita ambil kesimpulannya. Kiatnya bagaimana?" Dokter itu memastikan sejauh apa pemahaman Amara. Ketika Amara tampak ragu untuk menjawab, sang dokter menambahkan, "Sekarang coba kita berpikir ulang lagi, 'ini anak bukan bikinan saya. Ini adalah bikinannya Allah, perut saya hanya dipake numpang lewat, sebagai imbalan akibat dari."


"Kemudian juga kita orang tua harus kita sadari," sambung sang dokter. "Bahwa jerih payah kita ini satu, tolong … supaya ke depannya jangan kecewa, coba diniati dari awal, kita membesarkan anak itu hanya sekedar melaksanakan amanah dari Allah subhanahu wa ta'ala. Dan jangan berharap mendapatkan imbalan apa pun dari anak-anak kita. Ketika kita mengharapkan imbalan, kita pasti akan kecewa …"


"... Kekecewaan orang tua terhadap anaknya, ini sangat luar biasa. Kenapa? Karena merasa berbuat baik." Sang dokter mengembuskan napas pelan. "Oleh karena itu, aku pernah mendengar kaliamat 'waspadai kejahatan dari orang yang pernah engkau baiki'. Kenapa harus diwaspadai? Karena sakitnya akan luar biasa. Ketika anak kita menjahati diri kita, sakit nggak?"


"Sakit."


"Kenapa?" Ketika Amara dan Bian tak bisa menjawab, sang dokter kembali bertanya, "Kalau yang menjahati kita anaknya orang lain, sakit nggak? Sakit juga, tapi sakitnya nggak akan seberapa. Bisa kita abaikan dengan berkata 'yaudahlah, nggak ada urusan, selesai.' Tapi kalau yang menyakitinya anak kita …"


"Andai kata begini," Sang dokter mulai mengibaratkan. "Anak perempuan kita yang sholehah datang membawa pacarnya yang memakai anting, pake celana sobek-sobek, rambut udah kayak gulali macem-macem warna, lalu dia memperkenalkan, 'Ma, ini pacarku'. Apa kira-kira komentarmu?"


"Nah, saat anaknya bersikukuh, tidak mustahil juga seorang ibu akan melontarkan kalimat ini, 'kalau kamu memaksa, silakan pilih cowok jalanan itu, atau pilih ibu'." Sang dokter tersenyum lagi. "Rupanya sudah kadung cinta, jadi anak si ibu berkata, 'Maaf ibu, saya lebih memilih dia, saya pergi'. Kira-kira, jika itu terjadi pada ibu, bagaimana reaksi pertama ibu?"


"Pingsan, mungkin," kata Amara skeptis. "Nggak sanggup bayangin kalau tiba-tiba bukan jadi orang yang diutamakan anakku."


"Kecewa, Bu?"


"Tentu, pasti semua Ibu bakal kecewa."


"Nah, makanya, ketika engkau berbuat baik, bersiap-siaplah engkau akan dikecewakan. Supaya jangan kecewa, cobalah kita belajar sejak awal, ketika engkau berbuat baik, tanamkan hal ini dalam hati, hanya satu, 'Hanya untuk menyenangkan Alloh saja'. Jadi, ketika orang itu memberikan luka atau lupa berterima kasih, kamu nggak ada urusan, karena dari awal semua yang kamu upayakan hanya untuk Tuhanmu."


"Tapi itu nggak mudah," kata Amara dalam gumaman lirih.


"Pertama, coba kita lepaskan dari rasa atau sikap terlalu merasa 'memiliki itu'. Jika kita berbuat baik, cobalah tanamkan bahwa kita hanya berbuat untuk Allah'. Dan nanti pada akhirnya, kadang-kadang yang mendoakan kita juga bukan anak kita, kok. Orang lain," sang dokter menjelaskan. "Saya juga sama, kok, Bu. Mungkin yang doakan saya bukan delapan anak yang sudah saya dan istri saya besarkan. Bahkan, mungkin anak-anak saya nggak pernah doakan saya. Bisa saja justru Ibu yang doakan saya, tak menutup kemungkinan 'kan?"

__ADS_1


Amara mengangguk ketika logika kusutnya perlahan sedikit terurai.


"Ada yang lebih parah dari itu, kok, Bu. Bahkan, tak sedikit saat orang tuanya mati, alih-alih menyiapkan kafan, menggali liang lahat, memandikan jasad yang terbujur kaku, memimpin talqin, si anak justru pontang-panting saling melempar pada anak yang lain, siapa yang akan bertanggung jawab untuk pembiayaan orang tuanya? Pernah ngeliat pemandangan seperti itu, Bu?"


Amara merasa terpukul ketika terpikirkan ketiga kakaknya, yang justru pergi meninggalkan bapaknya di usia yang seharusnya sang bapak justru menikmati hari tuanya.


Mengingat bagaimana besarnya kasih sayang bapak Amara padanya, dia yakin bapaknya pun juga memperlakukan ketiga kakaknya seperti itu.


Lalu, apa yang sekarang didapat bapak Amara? Hati Amara nyeri mengingat dia sendiri pun tak henti mengecewakan orang tuanya. Meluaplah kegetiran, kekhawatiran, ketakutan, dan segala kekalutan Amara tentang masa depan Biandra.


Pada akhirnya, Amara sadar, dia bukanlah penentu takdir putrinya, tak peduli seberapa keras dia berupaya ingin menjadi yang terbaik bagi anak yang baru dilahirkannya.


"Bahkan sebelum mati pun tak sedikit anak yang lupa pada orangtuanya," gumam Amara pahit, menyadari dia pun salah satu penabuh bibit luka-luka pada orang tuanya.


"Benar." Sang dokter tersenyum lebar. "Jadi, mulai hari ini, tanamkan ini dalam hati, 'Ya Allah, ini adalah makhlukMu. Kau titipkan padaku, akan kurawat sebaik-baiknya. Dan aku tak pernah meminta imbalan dari siapa pun. Hanya kepada-Mu— Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in."


"Jadi, kamu juga pasien dokter Cheppy?" tanya Amara ketika mereka baru saja masuk mobil. "Pantesan kalian kaya udah sering banget ketemu."


"Ya, beberapa bulan belakangan. Makannya aku langsung maksa kamu supaya konsultasi ke dia."


"Oh, pantesan aja kamu juga suruh aku bawa hasil tes Medical—"


Ucapan Amara terputus dan dia menahan napas ketika Bian tiba-tiba mencondongkan tubuh untuk memakaikan sabuk pengaman, kemudian pria itu kembali duduk tegak di balik setir dan mulai menyalakan mobil.


"Jangan gugup gitu, Ra," goda Bian sambil tersenyum kecil sambil fokus ke spion saat memundurkan mobil keluar dari parkiran. "Sama suami sendiri udah kaya sama siapa aja."


"Bukan gugup," gerutu Amara. "Tapi kaget, kirain kamu mau ngapain."


"Emang kamu mau diapain?" Lagi-lagi Bian terkekeh-kekeh ketika memanuver persneling dan mobil melesat pergi dari rumah sakit. "Mau dipeluk? Dicium? Disayang-sayang? Atau dikelon—"


"Ngomong apaan sih? Orang baru aja ngelahirin udah bahas-bahas kayak gitu?!" tukas Amara dengan pipi merona. "Ngomong-ngomong, Om … dulu kenapa sampe harus konsultasi ke dokter itu? Sama kayak aku juga?"


Embusan napas Bian sedikit berat, seolah-olah enggan memberitahu Amara— mengingat semua hal itu berhubungan dengan masa lalu mereka, dan Bian khawatir hal tersebut akan semakin menambah daftar panjang pemikiran Amara.


"Om?" tanya Amara ketika Bian masih tak kunjung menjawab.

__ADS_1


"Ya, kenapa?" Bian berupaya mengalihkan topik pembicaraan. "Kamu mau mampir dulu buat beli—"


"Jawab dulu pertanyaan aku," desak Amara sedikit memaksamu. "Kamu maksa-maksa aku buat nyeritain semua tentang aku. Kamunya sendiri nggak mau cerita tentang kamu kenapa sampe pergi berobat ke dokter jiwa?"


__ADS_2