Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 79


__ADS_3

Bian memilih menghindari perdebatan dari Amara dan keluar kamar dengan membawa segelintir pertanyaan dalam kepalanya.


Setelah beberapa bulan bersama, biasanya Amara selalu lebih terbuka dalam hal apapun. Seperti saat mengatakan tentang keinginan untuk mengikut sertakan adik-adiknya bekerja di kafe, keinginan mencukupi kebutuhan keluarga agar orang tuanya tak perlu lelah di masa tua, juga harapannya untuk membiayai ketiga adiknya bersekolah hingga ke jenjang tinggi.


Namun, setelah Bian mendesak agar Amara mengatakan sesuatu, tetap saja istrinya itu tidak membahas tentang kehamilan. Sekarang dalam benak Bian justru timbul pertanyaan, apakah istrinya itu tidak sedang hamil?


Memikirkan hal itu entah mengapa membuat Bian sedikit murung. Mungkin awalnya dia terlalu bersemangat ketika mendengar ucapan Eka, sehingga dia sedikit kecewa saat dirinya tak mendengar hal apapun dari sang istri.


Sambil menggendong Biandra dan disusul Alif yang berjalan di belakangnya, Bian turun dan langsung menghampiri Eka di meja kasir.


"Kamu bohong, Ka," gerutu Bian pada adik iparnya dengan wajah tak sedap dipandang. "Si Teteh kayaknya nggak hamil deh."


Eka menatap kakak iparnya dengan terheran dan tak percaya. Tak mengerti mengapa sang kakak ipar tiba-tiba bermuram durja.


"Dih, kenapa bilang aku pembohong?" protes Eka tak mengerti. "Kan kalian yang proses bikin anak. Lagian, tadi kan aku nanya, emang si Teteh beneran hamil?"


Bian menahan tawa tercekik. Ucapan sang adik ipar seolah membuatnya tertampar dan terseret pada realita, sehingga Bian tersadar mungkin dia terlalu berharap Amara sedang mengandung.


Seolah tak mampu membalas perkataan Eka, Bian berpura-pura idiot dan melengos keluar kafe untuk mengajak Alif dan Biandra berjalan-jalan. Namun, baru saja Bian berjalan dua langkah, ponsel Eka tiba-tiba bergetar dan melirik Bian sambil bergumam, "Si Teteh nelpon."


Bian tak ingin memedulikan Eka, tetapi bisa mendengar sang adik ipar seolah memberitahu Amara bahwa Bian berada di sana.


Setelah Eka tampak mengakhiri panggilan, dia berkata pada Bian, "Kata si Teteh hp-nya ketinggalan. Ada telepon dari Pak Willy katanya."

__ADS_1


Alis tebal Bian saling bersahutan ketika nama itu disebut. Polisi yang bertugas menangani kasus Yuanita.


Akhirnya Bian berbalik dan membiarkan Alif bermain di taman kafe seperti yang biasa anak itu lakukan setiap sore.


Ketika Bian kembali, Amara masih memeluk mangkuk berisi rujak tomat pedas yang belum habis sambil menggerutu, "Makanya kalau mau keluar hpnya dibawa."


Bian tak menyahut, dia langsung meraih ponsel yang diberikan Amara saat polisi itu menghubunginya lagi.


Bian mendengar dengan seksama ketika polisi itu berbicara di seberang panggilan, tetapi matanya sesekali melirik pada Amara. Begitu juga dengan wanita itu yang tampak memerhatikan Bian.


Hingga Amara menghabiskan semangkuk rujaknya dengan keringat yang bercucuran di hidung dan dahi, Bian masih belum selesai menelepon. Lalu, kemudian Amara melambaikan tangan pada suaminya agar memberikan Biandra sementara Bian masih berbicara di telepon.


Namun, saat itu juga panggilan berakhir dan Bian langsung memberitahu Amara apa yang dikatakan si polisi.


"Yuanita minta ketemu kamu katanya," kata Bian saat menghampiri Amara dan menarik beberapa helai tisu dari kotaknya, lalu menyeka keringat di dahi sang istri. "Kebiasaan kamu kalau makan pedes suka nggak tau aturan."


"Sesi interogasi dan penyidikan baru selesai," Bian menjelaskan. "Yuanita nggak bisa ngebela diri dan nggak bisa ngebuktiin dirinya nggak bersalah. Persis seperti yang dijelasin Pak Willy semalem, Yuanita kena 3 pasal berlapis dan terancam hukuman penjara 7 tahun. Barusan Pak Willy bilang katanya Yuanita pengen bicara sama aku dan kamu supaya cabut tuntutan—"


"Cabut tuntutan?" Amara tersedak ludah yang membuat tenggorokannya kini terasa pedas. "Kita bebasin dia gitu maksudnya?"


Bian meninggikan bahu dan menyeringai lebar. "Takut kali dia mendekam di penjara selama itu."


Amara terdiam sejenak. "Terus kamu nyetujuin kita nyabut tuntutan?"

__ADS_1


"Seperti yang aku bilang semalam ke Pak Willy, sebenarnya tuntutanku atas kasus perselingkuhan itu cuma buat dapetin sertifikat villa-villaku kembali dari Yuanita. Walau gimanapun, empat bidang tanah yang sekarang bangunannya udah porak-poranda itu ke depannya masih bisa aku kembangin," Bian mengingatkan dengan blak-blakan. "Tapi kan Pak Willy nyerahin lagi semuanya ke kita. Kalaupun aku nyabut tuntutanku dengan syarat si Yuanita mau balikin semua sertifikat ku, masih ada dua tuntutan atas nama kamu, dan selebihnya terserah kamu mau buat keputusan kayak gimana."


Amara terdiam sejenak dan berpikir keras tentang berbagai resiko ke depannya. Di satu sisi, dia khawatir Yuanita akan membuat onar lagi dan mengganggu rumah tangganya. Akan tetapi, di sisi lain Amara juga berpikir takut Yuanita akan memiliki dendam di masa depan setelah wanita itu keluar dari penjara.


Setelah berpikir keras, Amara menatap Bian dengan senyum lebar dan alis terangkat. "Kamu ngijinin mereka datang ke sini?"


"Kalau kamu bersedia ketemu dia, aku kasih kabar ke Pak Willy kalau kalian emang bisa ketemu."


Akhirnya Amara memutuskan untuk menyetujui agar Yuanita dan pihak kepolisian datang ke kafe mereka. Saat satu jam kemudian mereka tiba di kafe, Amara dibuat terkejut ketika Yuanita menangis sesenggukan di hadapan Amara dan Bian.


Dengan didampingi dua orang polisi dan kakak lelakinya, Yuanita terlihat kacau balau dan entah sudah berapa banyak air mata yang ditumpahkan wanita itu.


Bahkan, Yuanita terlihat tak memiliki banyak tenaga untuk sekedar berbicara. Sebagai gantinya, Agung-lah yang pertama kali membuka mulut setelah polisi menguraikan penjelasan singkat pada Bian dan Amara.


"Sepuluh tahun adik saya rumah tangga sama kamu, Bian," kata Agung yang sama kacaunya setelah mengetahui ancaman hukuman yang menjerat sang adik. "Seenggaknya, masa kamu nggak mandang perjuangan Yuanita sama sekali yang nemenin kamu dari nol, tetap bertahan saat kamu nganggur, dan ngurus kamu saat kamu sakit. Cobalah timbang rasa sedikit sama adik saya. Apa kamu tega sampai ngajuin tiga tuntutan kayak gitu?"


Sudut bibir Bian bergerak, seolah-olah tak ingin menghiraukan apa yang dikatakan Agung.


"Adik kamu ada timbang rasanya nggak saat nyelingkuhin saya?" Bian menanggapi dengan malas. "Terakhir kali, lebih dari tiga tahun lalu saat Yuanita selingkuh yang kedua kali dari saya, bukannya kamu sendiri yang nampar adik kamu dan hampir nyekik dia sampe mati karena selingkuh dari saya? Bukannya saat itu kamu pengen adik kamu mati karena bikin kamu malu? Apa bedanya sama sekarang kalau dia dipenjara?"


"Itu beda lagi, Bian," keluh Agung dengan tatapan memelas. "Sekarang saya sadar kalau saya dan Yuanita cuma hidup berdua. Tolonglah, Bian, cabut tuntutan itu dan maafin adik saya. Saya janji bakalan pantau dia supaya nggak ganggu kalian lagi, apalagi sampai datang dan nyakitin keluarga kamu."


Bian tersenyum miring, tetapi dengan tenang dia berkata, "Mungkin saya bisa nyabut tuntutan perselingkuhan itu kalau adik kamu bersedia kembaliin apa yang aku kasih ke dia—"

__ADS_1


"Beneran?" Yuanita menyahut dengan tatapan penuh harap pada Bian. "Aku bakal ngembaliin semua yang pernah kamu kasih ke aku asal kamu beneran nyabut—"


"Hanya mencabut tuntutan atas kasus perselingkuhan." Bian menyeringai lebar hingga Yuanita kembali bersandar lemas. "Kasus pencemaran nama baik dan tindak penganiayaan itu berhadapan langsung dengan istri saya. Keputusannya ada sama Amara."


__ADS_2