Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 63


__ADS_3

Amara dan Bian baru saja akan mulai makan ketika terdengar deru motor yang sudah tak asing lagi. Sudah dapat dipastikan bahwa Dika- lah yang pasti datang di jam seperti ini.


Sewaktu Bian beranjak untuk membukakan pintu yang terkunci, Amara bergegas naik untuk memakai pakaian yang lebih sopan— mengingat saat ini dia hanya mengenakan kaos milik suaminya.


Ketika dia kembali turun ke ruang makan setelah memakai piyama panjang, Dika kali ini menolak saat Amara menawari makan malam bersama. Namun, tetap saja sang adik ipar turut bergabung di ruang makan dan menggendong mengambil Biandra dari pangkuan Bian.


Amara tak tahu apa yang sudah dibicarakan Bian pada adik lelakinya itu, tetapi tiba-tiba Dika menyahut, "Mending besok aja deh A jemput Alif- nya. Dika males ketemu si Yuanita, si teteh sekarang lagi diapelin lakinya. Lagian, kalau besok kan Dika bisa jemput di sekolahan, nggak perlu jauh-jauh ke rumah Yuanita. Kalau dia masih ngeyel nggak mau ngasihin Alif, baru deh bilang kalau semua tempat bakal diambil lagi."


"Gimana, Ra?" Bian menoleh pada Amara. Bukan berarti dia tak bisa mengambil keputusan, tetapi tadi Amara mengatakan ingin menjemput Alif sekarang.


Amara hanya mengangguk sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Tentu saja, apa yang bisa dia lakukan selain mengiyakan?


Amara memang ingin Alif pulang sekarang. Namun, dia juga tak rela jika Bian yang harus pergi ke kediaman Yuanita.


Jadi, jika adik dan kakak perempuan Bian memang tak bisa pergi untuk menjemput Alif, mau tak mau dia harus menunggu hingga mereka sempat.


"Tapi, besok juga tetap kakak kamu kan yang jemput Alif ke sekolah?" Amara menyeringai lebar pada Bian, seolah-olah memberitahu bahwa dia tak akan memberi kesempatan Yuanita dapat bertemu dengan Bian. "Siapa tau kan mantan istri kamu ada di sekolahan."


"Yaelah, Teh ... si Aa juga udah pasti males kali ketemu itu cewek," komentar Dika enteng. "Jangankan si Aa, Dika aja males liat tingkahnya yang makin pecicilan, tebar pesona sana sini ngalahin kelakuan abege, lupa sama umur kayaknya."


Amara tak tertarik untuk bergosip tentang Yuanita. Walau bagaimana pun, dia pernah dua kali menjadi seorang single parent— meski Amara bukan seorang janda pecicilan yang sengaja mencari perhatian kaum adam.

__ADS_1


Jadi, untuk menghindari percakapan tersebut, Amara buru-buru menghabiskan makanannya dan mengambil Biandra dari Dika. Lalu, kemudian dia bergegas naik ke kamarnya untuk menidurkan Biandra, membiarkan Bian dan Dika berdua seperti biasa.


Amara sudah tertidur lelap ketika Bian masuk kamar hampir pukul satu malam. Dika memang sudah pulang dua jam lalu, tetapi selanjutnya Bian ditelepon oleh salah satu teman dan berbicara cukup lama mengenai bisnis.


Bian berdiri di samping tempat tidur, mengamati Amara yang kini tampaknya lebih rileks dari pada malam kemarin— tentu saja hal itu membuat Bian luar biasa senang.


Jadi, tak heran jika sekarang Bian ingin menghadiahi Amara dengan malam penuh gairah.


Dengan gerakan hati-hati, Bian mengangkat tangan Amara untuk mengambil Biandra. Namun, entah seberapa pelan gerakannya, tetap saja Amara langsung terbangun ketika Biandra diambil dari pelukannya.


"Mau ngapain sih?" Suara Amara serak, sementara dia memaksakan matanya yang memerah itu untuk terbuka karena terkejut, tetapi kemudian kembali terpejam saat mengetahui bahwa itu adalah suaminya.


"Udah, Biandra-nya biar tidur di sini aja kayak kemarin," lanjut Amara sambil menahan tangan Bian. "Dia sering kebangun tengah malem sekarang."


"Dari kemarin juga bisa meluk meski kita tidur bertiga," gumam Amara tanpa membuka mata. "Kejauhan kalau harus ke tempat tidurnya cuma buat ngasih susu."


Bian tak menanggapi, dia meletakkan Biandra di tempat tidurnya dengan hati-hati. Lalu, membungkuk dan mendaratkan kecupan di pipinya setelah menutupi tubuh si kecil dengan selimut pink berbulu lembut. "Bidadari kecilku," gumam Bian bangga. "Tidur nyenyak, Sweetie."


Selanjutnya, Bian langsung bergabung dengan bidadari lain yang kini bergelung malas dengan posisi memunggunginya. Bian menyibak selimut dan menarik pinggang Amara ke dalam pelukan, terlalu rapat ke tubuhnya hingga Amara sedikit menggeliat maju.


"Sayang," bisik Bian sambil menarik selimut menutupi tubuh mereka, lalu kembali memeluk Amara.

__ADS_1


Tak benar-benar hanya memeluk. Karena kini sebelah tangannya mulai menyelusup ke dalam piyama Amara, menyentuh kulit perut Amara yang hangat— lalu berbisik serak sewaktu tangang itu bergerilya sedikit lebih atas, "Kamu kebiasaan kalau tidur selalu pake bra, nggak sesak napas apa? Aku buka, ya?"


"Modus!" gerutu Amara sambil menepuk tangan Bian yang mulai meremas pay*daranya. "Aku ngantuk, Om. Nggak usah macem-macem deh."


"Nggak macem-macem, Sayang," bisik Bian di bahu Amara, dan tanpa persetujuan istrinya, Bian tetap menggerakkan tangan ke punggung wanita itu dari dalam piyama— menarik lepas pengait bra agar tangannya bisa mengakses lebih leluasa di pay*dara sang istri. "Cuma mau kasih hadiah karena kamu udah berubah pikiran dan minta jemput Alif."


Amara menggeliatkan kepala. Bulu kuduknya meremang ketika Bian menyibak rambutnya, lalu menciumi tengkuk Amara hingga perut wanita itu menegang.


Kendati demikian, tanpa menghentikan tangan Bian yang mulai semakin nakal di pay*daranya, Amara bertanya dengan suara yang semakin mengantuk, "Hadiah apaan sih? Besok lagi aja kasih hadiahnya, aku udah ngantuk banget mau liatnya."


Bian tertawa terkekeh-kekeh dan langsung membalik tubuh Amara agar menghadapnya. "Nggak perlu diliat, kamu masih tetep bisa merem kok buat nikmatin hadiah yang mau aku kasih."


Namun, ucapan itu justru membuat Amara semakin penasaran dan terpaksa membuka mata. Sebelum pandangan Amara berhasil terbuka sepenuhnya, Bian sudah lebih dulu mendekatkan wajah untuk mencium bibir Amara.


Amara memberingis sambil menepuk bahu Bian, berusaha menjauhkan kepala dan melepas pagutan Bian.


Akan tetapi, pria itu tak memberi Amara kesempatan untuk menolak. Bian menarik tengkuk Amara dan memperdalam ciuman di bibirnya, sementara kaki panjang pria itu mengunci paha Amara agar tak bisa berontak.


Mata Amara terbelalak, hampir tersedak ketika Bian memagut bibirnya dengan rakus. Lidah pria itu mengetuk-ngetuk bibir Amara agar terbuka dan meminta akses lebih banyak.


Amara baru benar-benar sadar hadiah yang dimaksud Bian ketika pria itu menyentak lepas celananya. Dari dalam selimut, tangan Bian bergerak semakin berani sewaktu menemukan sesuatu yang lebih menyenangkan dari sekedar pay*dara.

__ADS_1


Selanjutnya, tanpa menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, tanpa perlu bersusah payah menanggalkan sisa pakaian mereka— Bian menunjukkan hadiah apa yang bisa dia berikan untuk istrinya karena sudah berani menekan rasa takut atas ancaman dari sang mantan.


Amara tenggelam dalam suka cita tak berkesudahan ketika Bian mendayu-dayu dalam irama syahdu. Selanjutnya, Bian mengajak Amara terbang menuju megahnya nirwana dalam letupan-letupan penuh kebahagiaan. Keduanya asyik memagma syahwat dalam gelora hasrat yang penuh cinta.


__ADS_2