
"Bahkan di hari pernikahan kamu, aku masih berusaha dateng. Aku masih nggak bisa nerima fakta kalau kamu jadi milik orang lain," lanjut Bian dengan tersendat. "Tapi, orang tua kamu tau bener gimana dia harus waspada. Orang bilang aku mabuk karena kehilangan kamu. Aku nggak ngelak, aku memang minum, tapi aku nggak mabuk. Aku inget semuanya ..."
Napas Bian berubah berat saat melanjutkan, "Tapi, ternyata Benny disuruh orang tua kamu buat nahan aku supaya nggak datang ke pernikahan kamu, supaya nggak ngerusuh atau bikin onar dan bawa kamu pergi. Yang sialannya, si Benny nekat nabrak motorku. Untung cuma jari kakiku yang putus, bukan nyawaku ... Tiara, setelah kejadian itu, wajar nggak kalau orang tuaku nahan aku supaya nggak merjuangin kamu lagi? Wajar nggak kalau dia takut anaknya mati cuma gara-gara cinta mati sama gadis yang ditakdirkan bukan buat dirinya?"
Tiara terperangah dan terbelalak saat mendongak menatap Bian. "Bi, kamu ... Benny ...."
"Iya, bukan cuma kamu aja yang menderita, aku juga sama." Bian mengembuskan napas panjang, sekaligus lega seolah-olah sebuah bongkahan besar telah terangkat dari hatinya. "Jadi, Tiara ... bukankah konyol banget kalau waktu itu aku tetep mau merjuangin kamu yang udah jadi istri orang, yang konyolnya aku sampe nggak peduli kondisiku, lalu aku sadar orang tuaku bakalan ancur banget kalau aku mati gara-gara kehilangan kamu?"
"Bi, aku nggak tau apa yang kamu lewati setelah—"
"Itu masa lalu, yang aku bilang nggak patut buat dikenang," tukas Bian sambil tersenyum pahit, dan kemudian dengan lembut menyeka pipi Tiara yang basah oleh air mata. "Jangan nangis lagi, ya? Belajar lebih dewasa, dan pahami kalau nggak semua yang kita inginkan pasti akan kita dapetin. Ada anak-anak kamu, yang aku yakini bakalan jadi sumber kebahagiaan kamu sekarang. Kita jalani hidup kita masing-masing —"
"Tapi aku butuh kamu, Bi," tukas Tiara penuh harap sambil melingkarkan kedua tangan di leher Bian.
"Aku tau, tapi istri dan anakku sekarang jauh lebih butuh aku dibanding kamu," kata Bian, masih berupaya mengendalikan tubuhnya yang semakin tegang.
"Tapi dia cuma anak adopsi—"
"Tiara, banyak hal yang nggak kamu tau tentang aku, yang mungkin kamu cuma denger rumah tanggaku dengan istri pertamaku." Bian berupaya melepaskan tangan Tiara dari lehernya. Sekali lagi dia menghela napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan saat melangkah mundur, mengikis jarak antara mereka berdua— meski dia melihat wanita itu semakin terluka.
__ADS_1
"Tapi susah dapetin pengganti kamu, Bi."
"Belum, Tiara, bukan susah." Bian tersenyum lembut sambil mengacak-acak rambut Tiara. "Ada saatnya nanti kamu ketemu sama orang itu. Meski nggak tau kapan, tapi itu pasti. Perjalanan baru kamu juga belum dimulai 'kan? Kamu belum resmi bercerai sama suamimu 'kan?"
____
Bian berhasil tiba di rumah ketika waktu menunjukkan pukul lima subuh, persis seperti yang Amara ingatkan.
Beruntung saat itu Julie muncul dan mengabari Tiara bahwa anak lelakinya masih tak bisa tidur— sejak sang ibu digiring ke kantor polisi.
Tentu saja hal tersebut berhasil membebaskan Bian dari upaya Tiara yang lagi-lagi menahannya pulang.
Dulu, Bian jarang kesulitan untuk pulang saat sedang bertemu Tiara, tetapi itu dulu. Sepanjang perjalanan, Bian memikirkan apa yang membuat dia tak tega saat melihat sorot mata Tiara. Seolah-olah wanita itu baru saja meluapkan seluruh penderitaan yang tidak Bian ketahui.
Pemikiran-pemikiran tersebut terus bergelayut dalam benak Bian ketika dia menjajaki anak tangga menuju lantai dua. Lalu, pemikiran tentang Tiara menguap begitu saja saat Bian membuka pintu kamar dan mendapati Amara tengah tidur meringkuk sambil memeluk Biandra.
Selimut tebal berbulu lembut menggulung di atas betis Amara, dan Bian memperkirakan wanita itu tampaknya berulang kali terbangun. Lalu, keadaan kembali menyeret Bian pada realita tentang Amara. Menyadarkan dirinya tentang apa yang sudah dia lakukan pada wanita itu.
Wanita yang sekali lagi Bian paksa untuk masuk ke kehidupan dirinya dengan sisa-sisa kebahagiaan yang mungkin masih dia miliki. Jika Bian berpikir masa lalunya begitu mengerikan, lalu bagaimana dengan Amara yang tadi siang histeris di rumah sakit?
__ADS_1
Bian berjalan mengendap-endap ke arah tempat tidur, menarik selimut dan menutupi tubuh Amara. Meski gerakan Bian begitu hati-hati, tetapi tetap saja hal itu membuat Amara terperanjat dengan mata terbelalak sekaligus. Untuk beberapa saat, keterkejutan jelas mewarnai Amara.
Lalu, kemudian wanita itu mengembuskan napas lega— meskipun wajahnya cemberut dengan mata yang tampak lengket.
"Udah pulang?" tanya Amara dengan suara serak. Saat melihat Bian hanya mengangguk, dia kembali memejamkan mata. "Aku udah siapin air panas di bak. Kamu dari kemarin sore belum mandi, belum tidur juga. Mandi dulu biar enakan tidurnya."
Ada kehangatan sekaligus rasa bersalah yang menghantam relung hati Bian. Bagaimana mungkin wanita itu masih menyempatkan diri untuk memperhatikan Bian, sementara kondisi Amara sendiri lebih butuh perhatian?
"Makasih, Ra." Bian mencondongkan tubuh dan mendaratkan kecupan singkat di dahi Amara sebelum akhirnya melesat pergi ke kamar mandi.
Dulu, biasanya Bian tak pernah mandi ketika dia pulang menjelang pagi. Dia memilih langsung tidur, tak peduli selengket apa pun keringat membalut tubuhnya.
Sekarang, saat segala sesuatunya disiapkan Amara— hal yang tidak dilakukan Yunita selama mereka menjalani kehidupan rumah tangga, rasanya tak ada alasan bagi Bian untuk tidur dalam kondisi tubuh seperti itu.
Setelah mandi dan shalat subuh, Bian siap bergabung di tempat tidur bersama istri dan anaknya. Ketika dia menggeserkan Biandra ke sisi lain tempat tidur, tatapan Bian tertuju pada dua botol susu berukuran kecil yang sudah kosong, di atas nakas— termos kecil, kaleng susu Biandra, setengah gelas air minum yang tersisa, juga strip Diazepam— obat yang diresepkan dokter untuk membantu Amara beristirahat.
Gumpalan-gumpalan tisu di bawah meja seolah membenarkan dugaan Bian bahwa Amara lagi-lagi menangis. Mungkin wanita itu terlalu frustrasi karena ASI-nya yang tak kunjung keluar, terbukti dari pompa asi yang tergeletak di antara gumpalan-gumpalan tisu tersebut.
Bian berbaring tengkurap di antara Amara dan Biandra, diapit oleh dua wanita yang kini menjadi bagian dalam hidupnya.
__ADS_1
"Gadisku," kata Bian ketika menyentuhkan hidungnya di pipi kecil Biandra yang tertidur pulas. "Bangun bentaran dong, temenin dulu Ayah—"
Ucapan Bian terputus ketika satu tepukan mendarat di bahunya diiringi suara Amara yang menggerutu, "Aku baru tidur. Jangan bangunin Biandra, ih!"