Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 75


__ADS_3

"Nggak salah dong kalau aku mau ngembaliin dia ke tempat sampah?"


"Tapi lapor polisi aja bukanya udah cukup, Ay?" Amara berkomentar. "Kenapa sampe harus abisin villa-villanya juga?"


"Masalahnya, kalau dia masih punya villa yang aku kasih, dia bisa aja jual salah satu villa dan bayar denda untuk tiap gugatan yang aku ajukan semalam," Bian menjelaskan dengan tenang. "Kalau kasus penganiayaan yang terancam hukuman lima tahun enam bulan penjara aja bisa diganti dengan denda sebesar tujuh ratus lima puluh juta, dua tindak pidana lain yang aku ajukan pasti lebih ringan dendanya. Apalagi hukum pidana lainnya cuma terancam hukuman penjara sembilan bulan doang. Dia jual satu villa aja udah bisa bebas dari jerat hukum."


Alis Amara saling bertautan mengingat Bian pun menyeret kasus perselingkuhan Yuanita sekaligus. Semalam, ketika karyawan membereskan kafe, mereka menemukan buku nikah Bian dan Yuanita, foto-foto pernikahan mereka, juga foto Amara di masa lalu.


Dan berdasarkan hasil rekaman ponsel Amara di mana Yuanita menyebutkan bahwa dirinya masih berstatus sebagai istri sah dari Bian, hal itu justru membuat Bian tertawa geli. Karena secara tidak langsung Yuanita mengingatkan Bian bahwa dia berhak melaporkan kasus perselingkuhan tersebut.


Terlebih lagi, Bian memang belum mengurus perceraian, juga tidak memiliki surat keterangan menjatuhkan talak pada Yuanita.


Setelah semalam berbicara panjang lebar dengan pihak kepolisian yang sudah melihat seluruh bukti berupa rekaman CCTV, rekaman suara, dan detail lainnya, akhirnya Bian menuntut Yuanita dengan tiga kasus pidana sekaligus.


Namun, Bian juga mencari tahu hukuman dan denda-denda yang mungkin bisa dibayar oleh Yuanita. Untuk itulah dia lebih dulu mengeluarkan anggaran dana puluhan juta hanya untuk membuat Yuanita tidak bisa membayar seluruh denda tersebut.


Amara melirik Alif yang duduk di karpet sambil menepuk-nepuk pantat Biandra. Meskipun anak lelaki itu seolah tidak menyimak apa yang mereka bicarakan, tetapi Amara tahu betul bahwa Alif mendengarkan obrolan mereka.


Walau bagaimana pun, Amara khawatir Alif akan membenci dia atau pun Bian jika mereka sampai menyeret Yuanita ke penjara.


"Ay," kata Amara dengan suara pelan sambil kembali menatap Bian. "Nanti gimana sama Alif kalau tau Yuanita dipenjara? Dia bakalan benci kita nggak? Kata kamu, Alif itu Deket banget sama Yuanita, aku takut dianya nanti mikir kalau kita jahat."


Bian terdiam sejenak, lalu menatap Alif untuk waktu yang lama. Dia tak pernah memperhitungkan apa yang dibicarakan Amara mengenai Alif.


Meski Alif sudah mengetahui bahwa Yuanita bukanlah ibu kandungnya, dan anak itu kini dekat dengan Amara, tetapi tetap saja Bian tahu benar bahwa wanita yang bersama Alif selama lebih dari enam tahun itu pasti memiliki tempat tersendiri di hati Alif.


"Sayang," kata Bian pada Amara dengan tenggorokan tersendat. "Laporan dan pengaduan udah dibuat. Mereka bilang hari ini bakal langsung ke rumah Yuanita ..."


Bian menjeda kalimatnya sebentar, lalu menelan ludah dengan susah payah. Dia tak bisa membayangkan bagaimana Alif akan membencinya karena masalah yang belum tentu Alif mengerti.


"Nanti aku coba kasih pengertian ke Alif," lanjut Bian skeptis. "Mudah-mudahan dia paham kalau kita nggak akan serta merta nyeret mamanya ke polisi kalau aja Yuanita nggak bikin masalah duluan."

__ADS_1


Sebelum Amara berkomentar, ponsel dalam genggaman Bian kembali berdering dan muncul sederet nomor tak dikenal. Mengingat Mirna baru saja meminta izin untuk memberikan nomor pada Yuanita, Bian sudah bisa menduga siapa penelepon itu.


"Aku jawab telpon di luar, ya?" kata Bian sambil mencoba mengangkat kepala Amara yang masih berbaring di pahanya.


"Siapa yang nelpon?" selidik Amara dengan posesif. "Kenapa aku—"


"Kayaknya Yuanita," gumam Bian pelan.


"Di sini aja jawabnya," pinta Amara curiga. "Kenapa aku nggak boleh tau?"


"Bukan nggak boleh tau, tapi ada Alif," bisik Bian sambil melempar lirikan pada anak itu.


Amara langsung beranjak duduk dan tersenyum tanpa dosa sambil berkata, "Tapi aku ikut ke luar. Awas aja kalau kamu malah nostalgila sama mantan istri kamu."


Bian hanya menyeringai geli melihat tingkah Amara yang semakin posesif. Terlebih lagi, menit sebelumnya sang istri masih bergelayut manja dan mengeluh pusing. Sedangkan di detik berikutnya Amara tampak tak menghiraukan apa yang dia rasakan.


Jadi, Bian membiarkan wanita itu melompat naik ke punggungnya sementara mereka ke balkon untuk menjawab panggilan.


Ketika Bian baru saja menjawab panggilan dan menempelkan ponsel di telinga kirinya, Amara bisa mendengar suara Yuanita yang memekik, "Kenapa kamu nggak ngasih tau kalau villa mau dibongkar? Kenapa kamu nggak ngasih tau kalau villa ini nggak ada IMB?"


Namun, yang lebih menggelikan adalah, apakah Yuanita sebegitu bodoh dan mempercayai begitu saja bahwa villa-villa Bian tak memiliki IMB?


Ya Tuhan, seberapa lama Bian berumah tangga dengan Yuanita? Bagaimana mungkin dia bisa bertahan selama bertahun-tahun dan hidup dengan wanita bodoh?


"Apa urusanku?" Bian menanggapi dengan penuh enteng. "Mau dibongkar atau dibakar, udah nggak ada urusan lagi sama aku, bukan?"


"Tapi orang yang bongkar bilang villa ini punya kamu!"


"Ya emang faktanya semua sertifikat villa itu atas nama aku 'kan?" kata Bian berupaya tak tertawa terbahak-bahak karena Yuanita hingga saat ini masih tak mengganti nama kepemilikan villa.


"Dasar penipu!" Suara Yuanita terdengar begitu murka. "Lu liat aja, Bian, gue abisin anak bini lu hari ini!"

__ADS_1


"Uh, ngeri." Bian akhirnya tertawa dingin. "Kita liat siapa yang bakalan abis hari ini. Good luck, Yuanita Pusvitasari."


Jauh dari Bian dan Amara, Yuanita yang baru tiba di rumahnya setelah melihat pembongkaran villa kini luar biasa berang. Dia melemparkan ponsel ke sofa dan menjadikan agung sebagai tempat pelampiasan kejengkelannya.


"Liat tuh, sepuluh tahun rumah tangga sama Bian, lu dapet apaan?" Agung akhirnya meledak karena telinganya tak tahan lagi mendengar amukan Yuanita. "Kalau mau protes dan marah-marah, datengin sana mantan laki lu, bukan ngamuk-ngamuk nggak jelas ke gue! Lagian, lu ngapain nyari perkara pake selingkuh dari Bian sih? Gini kan akhirnya?"


"Berisik lu, anj*ng!" pekik Yuanita sambil mengacak-acak rambut, frustrasi karena kini dia hanya memiliki sebuah rumah peninggalan Bian.


Sialnya. Perhiasan-perhiasan yang pernah Bian berikan kini habis karena dijual untuk menopang gaya hidupnya yang kian glamor.


Sekarang, setelah empat villanya tak bisa diselamatkan, Yuanita berpikir keras bagaimana mencari uang untuk pergi ke Baduy. Terlebih lagi, dia tak pernah menyimpan uang yang selama ini dihasilkan dari villa tersebut. Terutama saat dia harus mencukupi brondong simpanan untuk memuaskan gairahnya.


Seolah tak cukup kekacauan yang didapat pagi itu, tampak sebuah mobil berhenti di depan rumah Yuanita. Lalu, dua orang pria turun dari mobil dan menghampiri pintu depan yang terbuka lebar.


Kedua orang pria itu berpakaian biasa, tetapi Yuanita terkejut bukan main ketika mengatakan bahwa mereka dari satuan reserse kriminal untuk menangkap Yuanita Pusvitasari.


"Kenapa saya ditangkap?" Yuanita hampir menangis ketakutan.


"Karena kami diperintahkan untuk menangkap Anda," sahut salah satu pria itu dengan enteng.


"Tapi saya tidak membuat kejahatan!" Yuanita berupaya mengelak dan sulit diajak kerjasama.


"Silakan jelaskan di kantor."


Yuanita menangis histeris dan menarik-narik Agung agar membantunya. "Adik saya tidak bersalah, kenapa harus ikut ke kantor?"


"Mohon maaf, Pak," Salah satu pria itu menjelaskan alasan mengapa mereka harus meringkus Yuanita. "Berdasarkan hasil laporan dan pengaduan yang kami terima dari dua orang pelapor atas nama Bapak Fabian Khadafi dan Ibu Amara Maisara. Ibu Yuanita Pusvitasari diduga melakukan tindak pidana penganiayaan, pencemaran nama baik, dan perselingkuhan."


"Saya nggak bikin kesalahan!" Yuanita memekik ketakutan. "Saya nggak mau dibawa ke kantor polisi—"


"Kalau Ibu tidak berbuat kesalahan dan yakin tidak bersalah," tukas salah satu pria lain dan mengeluarkan jurus andalan agar berhasil membawa wanita itu pergi tanpa harus berdebat. "Ibu seharusnya tidak perlu khawatir dan takut seperti ini. Dan Ibu bisa pulang setelah melewati beberapa pemeriksaan."

__ADS_1


"Beneran saya bisa pulang kalau udah diperiksa?" Yuanita berhenti menangis.


"Ya, kalau terbukti tidak bersalah."


__ADS_2