Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 72


__ADS_3

Amara sebenarnya tak benar-benar berencana untuk memutar video panas Yuanita bersama selingkuhannya. Awalnya, dia hanya akan menemui Yuanita yang awalnya berani menyiram salah satu karyawan kafe dan mencari gara-gara di sana.


Dia menyiapkan bukti-bukti perselingkuhan Yuanita ke ruang operator tadinya hanya untuk menggertak bila mana mantan istri Bian itu berani berbuat macam-macam padanya.


Mengingat Yuanita tak berani menampakkan wujudnya semenjak mendapat ancaman Mirna yang akan melapor polisi sebagai kasus penculikan— jika berani mengambil Alif seperti dulu, dari sana Amara dengan cepat menyimpulkan bahwa Yuanita takut berurusan dengan hukum.


Jadi, rencana awal Amara adalah untuk mengancam akan menyebarkan video tersebut di sosial media. Bahkan, Amara yakin gertakan itu akan membuat Yuanita tersulut emosi, karena Yuanita pasti tak akan menduga Amara memiliki video panas perselingkuhannya.


Setelah menerima laporan Eka, dengan cepat Amara berpikir keras untuk membuat Yuanita jera, bahkan dia sendiri siap jika harus menerima tamparan dengan menggertak wanita itu.


Namun, melihat Yuanita bahkan memiliki foto-foto Amara di masa lalu, juga membawa serangkaian bukti foto Yuanita bersama Bian hingga surat nikah mereka, Amara yakin betul bahwa Yuanita memang berencana untuk menghancurkan Amara hingga menjadi abu.


Setelah dengan berani Yuanita mengumbar aib Amara di hadapan puluhan pengunjung kafe sekaligus karyawannya, tak heran jika sekarang Amara begitu murka.


Amara marah. Sangat marah. Matanya memerah, rahangnya mengeras. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku kulitnya memucat. Tubuhnya bergetar karena amarah mengambil alih kontrol emosi Amara. Bahkan dia tak sadar beberapa menit lalu ponsel dalam sakunya bergetar karena ketika Bian mencoba menelpon Amara.


Jadi, rekaman suara yang tertangkap oleh ponselnya hanya berisi tentang separuh pengumuman Yuanita yang menggabungkan tudingannya pada Amara. Selebihnya, ponsel itu berhenti merekam dengan sendirinya.


Sekarang, setelah Amara dengan marah mengumumkan bahwa mereka akan menyaksikan video panas Yuanita bersama-sama, terdengar suara operator yang meminta para pengunjung untuk memusatkan perhatiannya ke dalam kafe.


Detik berikutnya, screen projector motorized berukuran 120 inci yang digunakan para tamu untuk berkaraoke, tiba-tiba mulai menampilkan sepasang pria dan wanita bertelanjang dada di sebuah kamar hotel.


Seperti yang sudah diinstruksikan Amara pada bagian operator, gambar itu menampilkan adegan di mana Yuanita tengah dalam posisi WOT— woman on top. Tubuhnya meliuk-liuk di atas tubuh seorang pria yang sangat jelas bukan sosok Bian seperti foto yang ditunjukkan Yuanita di atas panggung.


Selain menampilkan eksperi wajah sensual Yuanita ketika keduanya bersetubuh, dalam video itu terdengar jelas bagaimana Yuanita mendesau diiringi erangan yang menyebutkan nama 'Ardi'.


Detik-detik selanjutnya, dalam video itu Yuanita menundukkan wajah hingga video semakin jelas menampilkan wajah Yuanita dan Ardi.

__ADS_1


Tak sampai tiga puluh detik, Amara meminta operator segera mengakhiri video tersebut. Walau bagaimana pun, Amara tahu betul bahwa itu bukanlah sesuatu yang layak dipertontonkan.


Para pengunjung bersorak riuh ketika video tiba-tiba berakhir, terutama kaum pria yang jelas tampak penasaran ingin melihat video itu hingga tuntas.


Jika sebelumnya Yuanita meminta dukungan dari para pengunjung kafe, kini sekarang Amara berkata dengan lantang, "Nah, kalian para lelaki, kalau punya istri kayak gitu, masih mau dipertahankan? Udah tau istrinya disetubuhi sama laki-laki lain, kalian masih mau sama modelan lont* kayak gitu? Nggak heran kan kenapa suaminya ninggalin—"


"Huu, kalau saya yang jadi lakinya, udah bukan ditinggalin doang, saya gorok lehernya sekalian sama itu laki!" Seorang pria berseru dengan geram.


"Bener, Pak!" Tamu pria lain menimpali. "Saya biar kata miskin, tapi kalau punya bini kayak gitu, saya juga bakal nikah lagi dan ninggalin dia."


"Pantesan aja laki lu nikah lagi, lah kelakuan lu itu barusan udah lebih-lebih kayak lont*," ujar salah satu tamu perempuan yang akhirnya tak tahan turut berkomentar. "Gue yang sebagai perempuan aja jijik liat yang kayak gitu. Masih mending lont* lah, ya, mereka ngengkang dibayar. Sekalipun buat nyukupin kebutuhan biologisnya, mereka wajar tuh sampe kayak gitu. Lah, lu punya laki tajir, cakep, malah selingkuh nyari ***** lain. Bego kok dipiara."


"Bener, Bu," ujar salah satu wanita muda yang turut menanggapi. "Kalau gue yang jadi bini pak Bian, udah gue kekepin itu laki. Giliran lakinya nikah lagi, ngerasa jadi wanit paling teraniaya. Dasar stupid!"


Wajah Yuanita merah padam mendengar bagaimana orang saling berkomentar. Sewaktu video panasnya diputar meski hanya berlangsung tak lebih dari satu menit, tetapi saat itu Yuanita seolah terpaku di tempat karena tak menduga bahwa Amara memiliki kartu as-nya.


Kendati demikian, Amara tetap bersiap ketika Yuanita tiba-tiba turun dari panggung dengan langkah cepat.


Bagus! Wanita itu akan segera masuk ranjau yang dibuat Amara. Tindak penganiayaan!


Namun, Amara salah memperhitungkan jika Yuanita mungkin akan menampar atau menyiramnya seperti yang dilakukan pada pelayan kafenya.


Tanpa bisa di duga, dengan penuh emosi Yuanita mendorong Amara hingga jatuh terlentang. Meski Amara jatuh dengan posisi berbaring di atas hamparan rumput sintetis setebal lima senti, tetapi bohong jika dia tak merasakan nyeri, terutama di belakang kepalanya.


Jika sebelum turun menemui Yuanita Amara merasakan kepalanya pusing karena Biandra tak kunjung tidur. Kini dia merasakan pandangannya terasa kabur dan berputar-putar.


Ketika tubuhnya terempas, Yuanita mencakar pipi Amara yang tak siap dengan serangan tersebut.

__ADS_1


"Anj*ng, lu, jal*ng!" Yuanita meraung dan meronta-ronta ketika beberapa orang menariknya dari samping Amara.


Amara berhasil dibantu bangun oleh beberapa orang yang ada di sana. Baik pria maupun wanita— tampaknya mereka jelas berada di pihak Amara. Terbukti dari reaksi para pengunjung kafe yang begitu geram melihat Yuanita yang tiba-tiba menyerang Amara.


Meski dorongan dan amarah begitu kuat untuk menghajar Yuanita, tetapi Amara tak ingin berakhir seperti artis DP dan Juve yang keduanya sama-sama dijatuhi hukuman tiga bulan penjara akibat perkelahian.


Dari awal, tujuan Amara bukan itu, meski memang terdengar konyol karena harus membiarkan diri dilukai.


Amara sudah terbiasa dipukul oleh kakak lelakinya. Jadi, pukulan yang dilakukan Yuanita bukanlah sesuatu yang terasa menyakitkan karena dia memang butuh bukti penyerangan itu untuk menyeret Yuanita ke jalur hukum. Dan meski sekarang kepalanya terasa berdenyut nyeri, tetapi Amara cukup puas karena sudah dapat dipastikan semua adegan penyerangan itu terekam oleh CCTV.


Sekarang, Amara tak perlu bersusah payah untuk meladeni Yuanita. Terutama ketika para pengunjung memaki Yuanita habis-habisanan dan mengutuk perbuatannya.


Meski dicekal oleh beberapa pria, tetapi Yuanita berusah meronta dan meraung murka.


"Lu liat nanti pembalasan gue, Amara!" pekik Yuanita dengan wajah merah padam hingga matanya yang melotot seolah hampir keluar. "Gue santet lu, Amara!"


"Udah salah masih aja berani ngancam!" Salah seorang pria yang mencekal Yuanita menoyorkan kepala wanita itu dengan kesal.


Amara sebenarnya ingin tertawa puas melihat Yuanita diperlukan seperti itu.


Namun, dengan tenang dia menyahut, "Gue tunggu santet kirimannya. Ah, bapak-bapak, ibu-ibu, kalau besok saya tiba-tiba mati mengenaskan, kalian tau kan siapa pelakunya?"


"Anj*ng lu, Amara!" Yuanita meronta-ronta seolah ingin menghabisi Amara sekaligus.


"Pulang sana," kata Amara sambil mengibaskan tangan mengusir Yuanita. "Bobo nyenyak malem ini, siapa tau besok-besok kamu nggak bisa tidur nyenyak."


Nada bicara Amara tak mengandung sebuah ancaman mematikan, tetapi dia akan memastikan bahwa Bian memenuhi permintaan Amara agar menyeret penyerangan Yuanita ke jalur hukum.

__ADS_1


__ADS_2