Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 71


__ADS_3

Bian kembali ke ruang rapat dengan pikiran tak keruan. Dia sama sekali tidak bisa fokus sewaktu temannya mempertanyakan apa yang membuat Bian keluar sewaktu mereka baru saja memulai rapat.


Bahkan, dia juga tak menyadari bagaimana tatapan wanita yang tadi datang bersama teman SMA-nya yang bernama Bahtiar.


Meski Amara mengatakan tidak terjadi sesuatu, tetapi tetap saja Bian merasa janggal sewaktu Amara mendesak jawaban apakah dia akan membela wanita itu jika terjadi sesuatu menimpanya.


"Ente ada masalah, Bung?" bisik Bahtiar yang duduk di samping Bian sambil mencondongkan punggung ke arahnya. "Resah bener keliatannya."


"Mudah-mudahan nggak ada," gumam Bian ragu, lalu mengembuskan napas pendek sambil mengantongi ponsel di saku jeans yang dipakai.


Berbeda dengan orang yang hadir berpakaian rapi dengan mengenakan kemeja dan celana kain formal, Bian memilih berpenampilan apa adanya. Lagi pula, tak ada yang berhak mengomentari penampilan Bian yang memadukan jeans dan kaus putih tangan panjang. Bahkan, Bian menanggalkan jaket kulit hitam semi formal dan menyampirkan di sandaran kursi. Peduli setan dengan penilaian para pemegang saham hotel lainnya, yang mungkin menduga dia bersikap tak sopan karena tak berpakaian seperti mereka.


Yang Bian tahu, dia duduk di sana juga sebagai pemegang saham, bukan preman yang sedang mencari masalah. Jadi, abaikan penilaian orang.


"Kalau rapat ini selesai," bisik Bahtiar lagi dengan sikap bermalas-malasan saat pemimpin rapat masih berbicara tentang pembagian profit Ayudi's Hotel. "Ana sama dia mampir ke kafe ente, yah?"


Bian memberengut samar, dia menyandarkan punggung dengan kedua tangan disilangkan di depan dada. "Jam sepuluh kafenya tutup, mending nanti—"


"Ya elah, Bian, ente kayak nggak seneng liat ana jalan sama dia," komentar Bahtiar jahil. "Kan ente yang punya kafe, bisa kali tutupnya agak maleman dikit."


"Nggak bisa, Kunyuk," Bian mengimbangi dengan enteng. "Kasian kalau harim gue harus tidur kemaleman gara-gara kalian nggak bisa diusir dari kafe."


"Kan kita bisa nginep di tempat ente—"


"Nyari mati lu bawa-bawa Tiara nginep di tempat gue," desis Bian dari balik gigi yang tekatup rapat. "Nggak ada nginep-nginepan. Tempat gue sempit. Nggak ada tempat buat kalian."


Bian melemparkan lirikan galak hingga Bahtiar menyeringai usil dan bergumam, "Ciee, bilang aja susis— suami sieun istri ..."


"Susis sama ngejaga perasaan harim gue beda jauh, Nyuk."


Bian mengulurkan tangan ke dalam saku ketika ponselnya kembali bergetar singkat yang menandakan notifikasi pesan. Karena pikirannya saat ini hanya tertuju pada Amara, awalnya Bian menduga pesan itu dari istrinya.


Namun, dia sedikit terheran ketika membuka ponsel di bawah meja dan mendapati sang pengirim pesan adalah salah satu staf kafe yang bertugas di bagian operator.


From: OPR: [Pak, barusan si ibu ke sini, kayaknya ada masalah. Ada mantan istri bapak di kafe. Bang Dika lagi nggak ada, saya takut ada apa-apa.]

__ADS_1


Tanpa peduli rapat baru saja berlangsung beberapa menit, Bian buru-buru berdiri dan mengumumkan bahwa dia harus undur diri.


"Ente serius mau cabut, Bung?" tanya Bahtiar ketika Bian buru-buru menyambar jaketnya dari sandaran kursi. "Ada apaan—"


"Harim gue," jawab Bian singkat sebelum akhirnya keluar ruangan dengan langkah cepat, dan tak peduli bagaimana kekasih Bahtiar menatapnya hingga sosok Bian hilang di balik pintu.


Sementara jauh dari Bian, Amara baru saja melangkahkan kaki di atas hamparan rumput sintetis di depan kafe, sementara Yuanita berdiri dari kursinya dan menatap Amara dengan aura penuh permusuhan.


Dari awal Amara memutuskan untuk menemui Yuanita, dia sudah siap tempur— apa pun yang terjadi. Untuk itulah di tangan kanannya dia menggenggam walkie talkie agar bisa memberi instruksi sementara ponsel di saku celana sengaja menyalakan rekaman suaranya.


Meski ada CCTV yang terpasang di beberapa sudut, tetapi dia tahu benar bahwa CCTV itu hanya menangkap gambar tanpa suara.


Bahkan, Amara sengaja menemui operator terlebih dahulu hanya untuk mematikan CCTV di beberapa bagian. Semua itu hanya demi menghilangkan bagian di mana dia akan memprovokasi agar Yuanita tersulut emosi.


Entah dari mana gagasan gila itu muncul dalam benaknya, dan Amara sadar bahwa apa yang dia lakukan sekarang memang sedikit licik. Namun, untuk saat ini, dia tak ingin memikirkan hal itu.


Walau bagaimana pun, Amara sudah memastikan dirinya akan mendapat perlindungan Bian karena karena saat ini Amara akan memberi umpan agar Yuanita masuk ke dalam jebakan— meski dia belum benar-benar tahu apa yang akan wanita itu lakukan.


Awalnya Amara menduga bahwa Yuanita akan menghampirinya untuk memaki, menghina, atau apa pun yang mungkin sudah direncanakan mantan istri Bian itu.


"Semuanya, aku minta perhatiannya dulu ke sini, ya?" Yuanita mulai menarik perhatian para pengunjung kafe baik dari dalam ruangan maupun yang ada di luar. "Kalian semua udah pada tau belum siapa pemilik Faradisa Kafe ini? Mau kenalan nggak? Siapa tau bisa makan gratis di sini. Iya nggak?"


Amara masih berdiri di antara para tamu yang mulai tertarik pada apa yang akan diumumkan Yuanita. Namun, Amara sadar bahwa ini adalah awal yang tak baik.


Sewaktu para tamu kafe saling bersahutan menanggapi Yuanita, Amara mengangkat walkie talkie dan menyuruh para karyawannya untuk membawa pergi tamu kafe yang membawa anak-anak.


Walau bagaimanapun juga, dia tak ingin berspekulasi akan terjadi sesuatu di luar dugaan di depan anak di bawah umur. Sebegai gantinya, Amara menggratiskan tagihan bagi mereka yang harus pulang sebelum menghabisian makanan mereka.


Yuanita yang berdiri di atas panggung berdampingan dengan vokalis mungkin tak menyadari dengan beberapa pengunjung kafe yang tiba-tiba pergi.


"Nah, kalau kalian mau tau sama pemilik kafe ini," lanjut Yuanita dengan seringai licik sambil menatap ke arah Amara di antara kerumunan para tamu. "Itu dia orangnya."


Ketika tatapan para pengunjung kafe terpusat pada telunjuk Yuanita yang diarahkan pada Amara, Amara tersenyum dipaksakan dan bersikap semakin waspada sementara jantungnya berdegup kencang.


"Whoa, keren ... masih muda banget ternyata pemilik kafe ini," seru seseorang yang tidak jauh dari Amara. "Mana cakep pula si neng ini."

__ADS_1


"Udah nikah belum, Neng?"


"Kenalan dong, Neng!" seru pengunjung lain yang pastinya menduga Amara masih lajang.


Pertanyaan para pemuda itu langsung dijawab oleh Yuanita dengan penuh ejekan, "Oh, kalau kalian mau tau, cewek yang dandanannya kayak babu itu udah nikah. Mau tau siapa suaminya?"


Amara tertegun ketika melihat Yuanita membuka tasnya dan mengambil beberapa lembar foto pernikahan Bian dan Yuanita, lalu mengangkat foto itu tinggi-tinggi untuk memperlihatkan pada para pengunjung.


"Nah, suami dia itu adalah suami saya, namanya Fabian Khadafi, atau yang akrab dipanggil Bian. Mungkin beberapa dari kalian udah nggak asing sama cowok di foto ini, pemilik 'Hertage Villa Private' yang terkenal itu loh," lanjut Yuanita dengan nada penuh penekanan, dan mau tak mau pernyataan itu berhasil membuat para pengunjung semakin penasaran. "


"Jadi, nih, yah .... aku kasih tau kalian semua." Yuanita meletakan foto tersebut di atas kursi tinggi, lalu mengeluarkan dua buah buku nikah berwarna merah dan hijau dan menunjukkan pada mereka. "Saya dan Bian ini masih berstatus suami istri hingga detik ini. Dan dia, cewek bernama Amara ini ngerebut suami saya. Asal kalian tau, dia ini dulunya biduan dangdut miskin yang kayaknya ngelonte dan ngerayu suami saya ..."


Para pengunjung mulai memberikan tatapan tak percaya pada Amara. Tatapan yang semula kagum karena pemilik kafe itu masih muda, kini seolah berubah menjadi tatapan merendahkan.


"Nah, kalau kalian nggak percaya. Ini buktinya." Entah dari mana Yuanita memiliki foto Amara yang mengenakan gaun mini berwarna hitam dan tengah bernyanyi di antara kerumunan banyak pria.


Amara tahu foto itu adalah koleksi dari pemilik Bug's Entertainment, group orgen tunggal yang dulunya tempat Amara bekerja. Jadi, apakah Yuanita juga seorang biduan?


"Dia itu *****, bahkan kayaknya naik ke ranjang sama suami saya sampe mereka punya anak. Terus sekarang suami saya lupa pulang karena lont* ini dan anak haram mereka." Yuanita tertawa melihat reaksi para pengunjung yang tampaknya kesal mengetahui siapa Amara. "Jadi, saya nanya nih sama ibu-ibu di sini, lont* perebut suami orang kayak gitu pantesnya diapain?


Napas Amara berubah memburu, sementara wajahnya memerah menahan amarah. Belum pernah dia merasa dipermalukan hingga seperti ini di depan kerumunan orang. Yuanita benar-benar menelanjangi Amara tanpa perasaan hingga membuat orang-orang seolah menatap jijik kepadanya.


Salah satu pengunjung wanita tampaknya terprovokasi oleh penguraian Yuanita, sehingga dengan kesal wanita itu berani berteriak, "Huu, kepala aja ditutupin pake kerudung, paha lu diumbar ke suami orang. Nggak laku nyari cowok yang—"


"Nggak usah bawa-bawa kerudung gue, Sialan!" Amara meraung, tak bisa lagi menahan amarah yang mulai memuncak. Lalu, dia menatap Yuanita dengan sadis dan berkata, "Tadinya gue pernah ngerasa bersalah karena laki lu tiba-tiba dateng dan minta gue jadi istrinya. Sekarang, gue nyesel kenapa gue pernah ngerasa bersalah. Lu, Yuanita, ******* teriak j*lang! Kalau dulu gue heran kenapa Bian ngekhiantin lu, sekarang gue ngerti kalau sampah itu emang harusnya dibuang ..."


Amara menghela napas panjang, mengendalikan lututnya yang gemetar karena terbakar amarah.


"Karena lu yang mulai beberin aib gue di depan banyak orang," kata Amara dengan mata memerah. "Jangan salahin gue kalau semua orang juga perlu tau kayak apa busuknya lu!"


Dengan tangan mencengkram walkie talkie, Amara mendesis kesal, "Operator, siap sekarang langsung diputer aja ke video di durasi menit ke dua, nggak usah tampilin foto-foto chatting yang sebelumnya aku minta tampilkan."


Dan setelah mengatakan itu, Amara meninggikan suaranya saat berkata pada Yuanita, "Gue saranin mikir ribuan kali sebelum lu nyoba beberin aib orang, bego!"


Amara meninggikan dagu saat membalas tatapan orang-orang yang memandangnya masih dengan tatapan merendahkan.

__ADS_1


"Kita siap-siap nonton bok*p berjamaah. Dan perlu kalian tahu, pemain bok*pnya adalah cewek itu," kata Amara sambil menunjuk Yuanita. "Cewek yang katanya adalah perempuan yang masih memiliki suami!"


__ADS_2