Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 33


__ADS_3

Bian bermuram durja ketika Amara memaksa dia masuk ke ruang pas untuk mencoba pakaian itu satu persatu. Ketika Bian mencoba kaus biru muda dengan celana cargo selutut, Amara mendapati pria itu terlihat lebih santai dan tampak muda— meski wajah Bian ditekuk sedemikian jengkel.


Akhirnya Amara memutuskan untuk mengambil tiga buah jeans dan cargo pendek, juga beberapa potong kaus rumahan yang jelas-jelas membuat aura Bian terlihat lebih cerah.


Setelah selesai, mereka berjalan ke kasir dan Amara berkata, "Bayarin."


"Nggak!" tolak Bian sambil mengangkat bahu dengan malas. "Bayar sendiri!"


"Pelit amat," cibir Amara sambil menahan tawa.


"Kalau kamu belinya buat kamu, Biandra, aku, atau keluarga kamu— aku bayarin semua yang kamu beli," gerutu Bian kesal. "Ini mah buat cowok lain. Emang kamu pikir aku cowok apaan sampe ditodong harus bayarin hadiah buat cowok lain!"


"Tapi ini kan hampir tiga juta," keluh Amara dengan wajah tanpa dosa. "Kalau aku bayar pake uang sendiri, ntar uang belanja yang kamu kasih minggu lalu abis."


"Emang uang belanjanya udah kamu pake?"


"Masih utuh."


"Yaudah bayar sendiri!"


Setelah mengatakan itu, Bian tak menunggu komentar Amara. Dia buru-buru pergi dari kasir dan membiarkan Amara membayar pakaian tersebut.


Amara menahan tawa menggelegak melihat reaksi Bian. Namun, hal itu tak membuat Amara menghentikan kejahilannya menggoda sang suami. Bahkan, tingkat keusilan Amara semakin meningkat karena baru pertama kali melihat Bian tampak sebegitu terbakar cemburu.


Amara tertawa jahat dalam hati saat meminta penjaga kasir agar membungkus pakaian tersebut dengan kertas kado.


____


"Kamu mah bener-bener keterlaluan. Udah mah ngasih hadiah ke cowok lain, ngerepotin sampe harus nemenin kamu nyari kantor pos buat kirim barang. Terbuka sih terbuka sama suami, nggak mau nyembunyiin hal apa pun, tapi kalau sampe perhatiannya kayak gitu, aku juga bisa sakit hati, Ra."


Amara memiringkan kepala melihat bagaimana wajah Bian begitu kusut, sementara bibir Bian terus menggerutu selagi pria itu melaju dengan kecepatan tinggi.


Bahkan, manuver-manuver yang dilakukan Bian sedikit kasar. Dan Amara hanya bisa kasihan sekaligus berbunga-bunga melihat kecemburuan Bian yang begitu besar.


Sebelumnya, Amara tak pernah merasa dicemburui sebegitu terang-terangan oleh pria. Jadi, ketika Bian bersikap demikian, bukan salah Amara jika dia ingin berlama-lama melihat suaminya terbakar cemburu. Entah mengapa, ada kebanggaan tersendiri bagi Amara dicemburui oleh pria yang dia cintai, suaminya.

__ADS_1


"Ya udah ntar mah nggak usah bilang-bilang kamu kalau aku mau kasih hadiah buat—"


"Nggak boleh kasih hadiah ke cowok lain lagi!" pungkas Bian dengan nada sedikit tinggi. "Awas aja kalau kamu sampe kayak gitu di belakangku."


Alih-alih marah mendengar ancaman Bian, Amara justru mencondongkan punggung dan menggigit bahu Bian dengan gemas.


Bian refleks mengedikkan bahu sambil memberingis, "Apaan sih, Ra? Aku lagi nyetir. Kebiasaan suka tiba-tiba gigit aku kayak gitu. Sakit, tau? Udah banyak banget bekas gigitan kamu."


"Atuh kan akunya gemes. Salah sendiri kenapa kamu ganteng. Om-om tampanku," sahut Amara dengan ceria.


"Am om am om aja terus," Bian mendengkus jengkel.


Kekesalan Bian semakin besar saat melihat Amara justru tertawa hingga terpingkal-pingkal sambil memegangi perut. Lalu, tanpa sadar sudut bibir Bian membentuk senyum simpul.


Tak bisa dia pungkiri, melihat tawa Amara yang lepas berhasil membuat hatinya melunak. Meski demikian, tetap saja Bian tak bisa menekan kecemburuannya.


"Sebenarnya kamu ngirim barang itu ke mana sih, Ra?" Akhirnya rasa penasaran tetap mengalahkan logika Bian.


Amara menyeringai nakal mendengar pertanyaan tersebut. Mana mungkin dia memberitahu paket tersebut justru dikirim ke alamat villa yang mereka tinggali, dengan menuliskan nama Bian sebagai orang penerima barang.


Air wajah Bian semakin tak mengenakan mendengar hal tersebut. Jadi, tak heran jika dia berkomentar dengan nada ketus, "Jangan bilang kamu kirim ke Zack ... atau ke mantan suami kamu?"


Amara tak menjawab, tak mengangguk atau pun menggelengkan kepala. Biarkan saja Bian bersikap seperti begitu hingga mengetahui sendiri pada siapa Amara mengirim hadiah.


Sementara jauh dari Amara dan Bian yang dalam perjalanan pulang, Mirna terlalu bersemangat karena diberi kesempatan untuk mengurus Biandra. Keponakan pertama yang dia miliki dari Bian— yang dia duga adiknya itu tak akan pernah memiliki keturunan.


Tak heran jika sejak tadi Mirna mengurus Biandra dengan suka cita tersendiri. Walau bagaimana pun, dia adalah saudara perempuan Bian satu-satunya. Dan tak heran ketika seluruh saudara lelakinya menjadikan Mirna tempat pulang, tempat peraduan, dan pengganti ibu bagi seluruh saudaranya setelah orang tua mereka meninggal.


Sejak Bian bercerai dengan Yuanita, adiknya itu menjadikan rumahnya sebagai tempat pulang. Bian memang memiliki banyak properti, bisa pulang dan tinggal di mana pun yang dia inginkan.


Namun, bukan tanpa alasan mengapa Bian pulang ke rumah Mirna yang sederhana. Selain karena Alif berada di sana, Mirna juga lah yang merawat Bian ketika pria itu jatuh sakit.


Sebenarnya, Bian juga bisa tinggal berdua saja bersama Alif. Namun, Bian sadar bahwa Alif butuh kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu. Jadi, Bian memutuskan tinggal di sana demi menghindari dari berhadapan langsung dengan Yuanita, ketika mantan istrinya itu datang menemui Alif.


Bukannya Bian tak berani menghadapi Yuanita, tetapi dia terlalu malas dan muak melihat wanita itu. Namun, lagi-lagi dia tak bisa mengambil keputusan tegas, karena hingga saat ini Alif tampaknya masih belum menerima kehilangan wanita pertama yang dia ketahui sebagai mamanya.

__ADS_1


Seperti yang terjadi sekarang, Yuanita datang berkunjung menemui Alif ke kediaman Mirna. Hal yang rutin dia lakukan setiap dua kali dalam seminggu. Sebenarnya, Yuanita selalu berharap bisa bertemu Bian setiap kali dia ke sana.


Bukan Alif yang benar-benar menjadi tujuan Yuanita, tetapi Bian. Namun, sayangnya, Bian tak pernah menampakkan diri meski Yuanita tahu Bian ada di sana. Bahkan, dia sengaja kerap bersolek sedemikian memukau setiap kali akan menjumpai Alif, dan hasilnya lagi-lagi tak pernah sesuai harapan.


Semenjak mereka bercerai. Kehidupan Yuanita luar biasa jauh berbeda. Masalah finansial bukan menjadi hal utama bagi Yuanita, karena Bian memberikan sebagian kecil hartanya sebagai harta gono-gini— meski hingga saat ini perceraian mereka tak pernah diseret ke meja hijau.


Kondisi Bian yang saat itu mengalami anxiety membuatnya sama sekali tidak ingin dirumitkan oleh hal apa pun, terlalu fokus pada pemulihan jiwa dan mental Alif yang masih trauma karena dampak perceraian mereka.


Awalnya, Yuanita tak melihat keberadaan Biandra dia datang dan melihat Alif sedang menonton TV bersama Mirna. Namun, saat mendengar tangisan bayi dari dalam kamar dan Mirna membawanya ke ruangan, tentu saja Yuanita terkejut.


"Anak siapa itu?" tanya Yuanita pada Mirna dengan penasaran.


Penasarannya semakin berlipat ketika melihat Alif pun melompat-lompat kegirangan karena Biandra sudah bangun.


Sebelum Mirna menjawab, Alif lebih dulu berseru dengan nada membanggakan, "Ini adek Alif, Ma."


Yuanita terbelalak mendengar ucapan Alif, sehingga dia menatap Mirna dengan penuh selidik sambil mengulangi, "Teh, itu beneran anak Bian?"


"Ya," sahut Mirna, tak berusaha menyembunyikan sesuatu karena dia tak pernah berpikir buruk tentang Yuanita— terlepas dari apa yang dilakukan perempuan itu pada adik lelakinya.


"Anak adopsi?" tanya Yuanita lagi, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Bian nya kemana sih? Kenapa dia nggak pernah mau ketemu kalau aku datang?"


"Anak kandungnya lah," sahut Mirna penuh penekanan, yang secara tak langsung ingin memberitahu bahwa bukan adiknya yang tak bisa memiliki keturunan, tetapi Yuanita sendiri lah yang memiliki masalah hingga mereka tak kunjung dikaruniai anak.


"Kok bisa punya anak sih?" Yuanita menyelidik dengan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. "Berapa taun umurnya? Kapan dia nikah lagi?"


Sambil mengangsurkan kain gendongan di bahu kanannya, Mirna seolah berpikir dan menghitung berapa usia Biandra saat ini.


"Enam belas apa delapan belas hari, ya," jawab Mirna ragu. Lalu terdiam sejenak saat melihat kalender yang menempel di dinding bercat hijau melon. "Oh, enam belas—"


"Berati Bian punya selingkuhan waktu masih jadi suamiku?" pungkas Yuanita sambil berdiri dari sofa dan menyadari usia perceraian mereka bahkan belum genap menginjak sembilan bulan, menghitung berapa lama waktu seorang wanita mengandung.


"Mana aku tau," Mirna menjawab jujur. "Beberapa hari lalu Bian tiba-tiba dateng bawa anaknya. Aku sebagai kakaknya, yah ... jelas senenglah liat adekku akhirnya punya anak."


Yuanita merasa tersinggung mendengar ucapan Mirna karena dulu mereka tak kunjung dikaruniai anak, sekaligus marah mendengar Bian memiliki anak dari wanita lain.

__ADS_1


Dia merasa kesempatannya untuk merayu Bian agar kembali lagi semakin sulit, tetapi Yuanita tak akan berhenti untuk mencoba. Terutama setelah dia merasakan bahwa Bian pria satu-satunya yang begitu baik dan mencintainya. Mungkin dia lupa bahwa perhatian dan kasih sayang Bian dia dapatkan atas campur tangan orang lain.


__ADS_2