Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 46


__ADS_3

Bian tak bisa untuk tidak tersenyum mendapati istrinya sebegitu peduli. Dia mengangkat tangan dan membelai lembut rambut Amara sambil berkata, "Kalau emang sakit, aku pasti pergi ke dokter. Ini mah cuma pilek biasa, jangan terlalu—"


"Tapi badannya panas, Om," keluh Amara. "Udah deh, pergi ke rumah sakit aja sama yang jaga villa, ya?"


Tangannya Bian beralih ke ke dagu Amara, mencubitnya dengan gemas sambil terkekeh kecil. "Baik banget Istriku," puji Bian yang kemudian mengerucutkan bibir membentuk sebuah ciuman, menahan diri untuk tidak mendaratkan kecupan di bibir sang istri. "Besok aja ke rumah sakitnya. Kalau istirahat cukup malem ini setelah minum obat lagi, siapa tau besoknya juga sembuh. Iya 'kan?"


Akhirnya Amara mengangguk ragu-ragu. "Jangan lama-lama sakitnya," kata Amara murung. "Kamu mau aku siapin apa buat makan malem? Atau sekarang mau apa? Mau aku kupasin buah? Aku potongin melon atau apel, mau?"


"Sayang, eh ... nggak usah repot-repot, kamu udah capek ngurus Biandra. Aku bisa ambil sendiri kalau pengen apa-apa. Kayak aku anak kecil aja harus dilayanin sampe—"


"Kamunya kasian 'kan," tukas Amara sekali lagi dengan polos. Dia kemudian menolak dan mencari-cari sesuatu, lalu mendapati ponsel Bian di atas nakas.


Sambil menyambar ponsel tersebut dan meletakkan di samping Bian, Amara berpesan dengan kecemasan tak terelakkan, "Kamu istirahat lagi aja. Nanti kalau butuh apa-apa, kamu spam panggilan aja, ya? Takutnya aku nggak denger kalau kamu manggil aku."


Untuk sesaat, Bian hanya bisa menatap Amara lekat-lekat. Lalu, kemudian dia mengembuskan napas panjang dan menyunggingkan senyum, berharap senyumnya tak terlihat lemah— selemah setiap sendi dalam tubuh yang sebenarnya terasa remuk dan tak bertenaga.


"Hey, Istriku," kata Bian lembut. "Enak banget dapet perhatian dari kamu, Ra. I love you, Red Cherry- ku."


Andai saja Amara bisa melihat bagaimana pipinya bersemu saat mendengar kata 'I love you' yang diucapkan suaminya dalam langgam lembut, mungkin dia akan segera menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan rona merah yang terpancar di pipinya.


Kendati Amara tak bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya sekarang, tetapi debaran jantungnya yang saat ini melompat-lompat tak keruan, dan rasa panas yang mulai merambat ke sekitar wajah, dia bisa memastikan bahwa wajahnya saat ini pasti semerah buah Cherry, seperti yang dikatakan Bian.


Jika saja Bian tidak mengatakan dia tak ingin berdekatan dulu karena khawatir Amara tertular flu, mungkin saat ini Amara sudah melompat ke pelukan Bian dan menciumi suaminya. Atau, setidaknya dia bisa mengatakan 'I love you yoo' pada lelakinya.


Namun, entah mengapa otak Amara saat ini terasa kosong, seakan-akan hatinya sedang berkonsentrasi menikmati suka cita karena perkataan sang suami. Sehingga bibirnya terasa terkunci rapat-rapat, tak bisa mengucapkan rangkaian kata untuk membalas ucapan Bian.


Bian terbatuk kecil, sadar istrinya tengah gugup. Bahkan, dia bisa menduga Amara tampak kikuk dan salah tingkah. Dugaan Bian terbukti ketika Amara tiba-tiba beranjak bangun dari tepi ranjang sambil menarik tangannya dalam genggaman sang suami.


"Aku mau mandi, sekalian siapin makan buat malem," kata Amara, yang tak seharusnya dia merasa gugup oleh ucapan sang suami.


Namun, tetap saja dia sedikit tak bisa menahan letupan sensasi membahagiakan yang membuat hatinya berbunga-bunga.


Jadi, ketika dia melesat pergi dari kamar Bian dan menutup pintu, tak heran jika Amara refleks melompat-lompat kegirangan sambil menahan diri untuk tidak berteriak, 'I love you too, Oom Tampanku!'


____


.


.


.


"HP- ku matiin aja, Ra. Kan aku bilang aku bisa sendiri kalau ada apa-apa."


Sekali lagi Bian menyahut ketika Amara untuk kesekian kalinya berpesan agar dia menelepon jika membutuhkan sesuatu di malam hari.


"Nanti kalau ada yang nelpon kamu gimana?" tanya Amara setelah meletakkan segelas air minum untuk Bian sebelum dia pergi tidur, mengingat sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam.


"Justru itu kenapa aku pengen HP- nya dimatiin aja, aku nggak mau ada yang ganggu. Pengen istirahat total biar besok segeran lagi—"

__ADS_1


"Gimana mau segeran kalau kamunya nggak mau ke rumah sakit?" gerutu Amara murung. "Masa cuma ngandelin obat pereda flu doang?"


Sudut bibir Bian berkedut menyunggingkan senyum kecil. "Tidur, gih, Sayang. Kasian Biandra sendirian di kamar." Bian mengerucutkan bibir membentuk sebuah ciuman pada Amara yang berdiri di dekat pintu. "Titip peluk cium buat dia."


"Nggak!" tolak Amara cemberut. "Peluk cium aja sendiri. Makanya jangan lama-lama sakitnya."


"Belum juga sehari, Sayang."


"Nggak boleh lebih dari sehari."


Bian terkekeh-kekeh sambil menggelengkan kepala. "Siapa yang mau sakit lama-lama? Udah, tidur sana ... kamu dari tadi nggak mau diem, mondar mandir ke sini kaya setrikaan nggak kelar-kelar. Kangen dipeluk, ya?"


"Pede!" Amara memutar bola mata, enggan mengakui bahwa dia memang masih ingin bersama suaminya. "Pokoknya, kalau kamu butuh apa-apa, kamu teriak aja kalau HP- nya dimatiin. Aku nggak nutup pintu kamar."


Amara tak memberikan kesempatan pada Bian untuk menyahut ucapannya. Dia segera melesat pergi ke kamarnya, membiarkan Bian beristirahat sendiri— meski sebenarnya dia ingin sekali menemani pria itu.


Ketika waktu menunjukkan hampir pukul dua dini hari, Bian terbangun karena kerongkongan yang terasa kering— sementara suhu tubuhnya semakin panas, dan disertai kepalanya yang berdenyut-denyut semakin intens.


Dia beringsut duduk dan meraih segelas air minum yang disediakan Amara. Namun, tampaknya air itu tak cukup untuk membasahi kerongkongannya yang benar-benar kering.


Bian mengatupkan rahang dan duduk di tepi ranjang dengan kaki yang sudah menjuntai di lantai yang dingin. Lalu, ketika dia menoleh ke sofa one seater untuk mencari sweater di pojok tempat tidur, dia mendapati Amara tidur meringkuk di atas sofa tersebut.


Lampu utama memang sengaja dipadamkan, tetapi lampu tidur yang terletak pada kedua nakas di sisi tempat tidur dibiarkan menyala. Cahaya yang temaram mampu membuat mata Bian untuk memandangi Amara beberapa saat.


Wanita yang membalut tubuhnya dengan selimut bayi itu tidur bergelung seperti bola. Meringkuk sambil memeluk kedua lutut, sementara wajahnya tertutup sebagaian rambutnya yang dibiarkan tergerai begitu saja.


Bian tak tahu kapan wanita itu pindah ke sana. Namun, hatinya tak bisa untuk tidak meleleh mendapati sikap dan perhatian Amara yang tampaknya berusaha untuk siaga di sisinya.


Bian bukan anak kecil yang butuh perhatian dan pengawasan seperti itu. Akan tetapi, lelaki mana yang tidak senang mendapatkan perhatian seperti itu dari istrinya sendiri?


Jadi, tak heran jika Bian semakin mengangumi apa yang ada dalam diri Amara, baik di luar mau pun dari dalam— terlepas dari sikap wanita itu sedikit keras kepala.


Meski tubuhnya terasa panas sekaligus menggigil, Bian memaksakan bangun dan menggusur tubuh untuk mengambil air minum.


Sejenak, dia tergoda untuk melihat apakah Biandra terbangun— mengingat Amara justru memilih menemaninya.


Namun, mengingat kondisinya yang seperti ini, Bian mengurungkan niat dan buru-buru ke dapur. Melihat kesiagaan Amara, Bian yakin wanita itu sudah lebih dulu menyiapkan apa yang dibutuhkan Biandra.


Amara berharap Bian akan lekas pulih dan kembali segar seperti kemarin. Namun, harapan itu pupus ketika dia terbangun pukul empat subuh dan mendapati tubuh Bian semakin panas.


Yang lebih buruk, suaminya itu bahkan tampak kesulitan membuka mata dan terus meracau tak keruan dalam tidurnya.


Tanpa banyak berpikir, Amara bergegas turun dan menemui penjaga villa agar membantunya membawa Bian ke rumah sakit. Namun, sang penjaga villa memberitahu bahwa Bian terbiasa memanggil dokter yang dulu merawatnya.


Itu lebih baik. Dengan begitu, Amara tak akan sedemikian cemas saat suaminya harus mendapat suntikan infus dan perawatan khusus, sementara dia sendiri tak bisa siaga karena keberadaan Biandra.


Akan tetapi, meskipun Bian dirawat di rumah selama dua hari berikutnya, tetap saja Amara menemukan dirinya merasa hampa. Bian memang ada bersama mereka, tetapi melihat lelaki bertubuh tegap itu kini terbaring lemah, hati Amara merasakan nyeri luar biasa.


Terlebih lagi, Amara sadar bahwa lebih dari dua minggu ini Bian merawat dirinya dan Biandra tanpa mengeluh. Yang lebih buruk, mungkin Amara lupa bahwa Bian juga manusia biasa, bukan sosok sempurna yang tak memiliki rasa lelah.

__ADS_1


Bagaimana mungkin dia akan bisa mengingkari kepedulian dan perhatian Bian terhadapnya dan Biandra? Rasa bersalah perlahan-lahan merayapi ulu hati Amara. Tak seharusnya dia mengabaikan Bian, hingga pria itu bahkan lupa pada kesehatannya sendiri.


Selama bersama Bian hampir tiga minggu ini, yang Amara tahu pria itu selalu mengurus dia dan Biandra, sementara Amara sendiri tak tahu kapan Bian istirahat, kapan pria itu makan, apa yang pria itu makan? Atau, apakah dia pernah sekali saja mendengar Bian mengeluh?


Sekarang, sudah dua hari Bian terbaring dengan jarum infus yang tersemat di punggung tangannya. Lalu, Amara dilanda ketakutan berlebih, tentang kemungkinan Bian yang tak akan bangun.


Dulu, dia pernah berpikir mungkin hidupnya akan tenang jika Bian tak muncul lagi dalam kehidupannya. Berpikir dia akan bisa menjalani kehidupan baru dengan Biandra. Namun, beberapa hari bersama Bian, dia menemukan bahwa tak ada sosok ayah yang lebih baik bagi Biandra selain Bian.


Sekarang, dia sadar bahwa dirinya sangat membutuhkan Bian. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Bian tak di sisinya, bersama Biandra. Bagaimana mungkin Amara pernah berpikir bahwa dia dan Biandra bisa hidup bahagia tanpa lelaki itu?


Bahu Amara merosot, dia terduduk di lantai di samping tempat tidur Bian yang masih belum pulih di hari ke empat. Dia tak tahu sejak kapan pipinya basah, lalu tenggorokannya mengeluarkan rintihan pilu, sementara dia membekap mulutnya— khawatir Bian akan terbangun dan mendapati dirinya tengah menangisi lelaki itu.


Saat itu, hari masih terlalu pagi. Bahkan, tarhim menjelang subuh pun belum berkumandang. Hanya keheningan sunyi yang menyeruak di dalam kamar.


Jadi, tak heran jika rintihan pilu Amara membuat Bian mengernyit dalam tidurnya. Perlahan Bian mengerjap-ngerjapkan mata, beradaptasi dengan cahaya lampu utama yang tampaknya sengaja Amara nyalakan.


Dari sudut matanya, dia melihat sosok Amara duduk di lantai. Wanita itu bersandar memunggungi tempat tidur, sehingga Bian bisa melihat kepala Amara bergerak, sementara punggungnya tampak bergetar.


Sekarang dia tahu dari mana isakan itu berasal dan membuat dia terbangun.


Bian mengulurkan tangan dan menyentuh kepala Amara sambil bergumam serak, "Istriku."


Amara seketika menoleh dengan pipi yang bercucuran air mata, lalu mendapati Bian mengulas senyum di wajahnya yang masih sedikit pucat.


Tanpa bisa ditahan lagi, Amara merangkak naik ke atas tempat tidur dan memeluk pria itu dengan erat. Persetan dengan aturan Bian yang tak ingin dia tertular flu yang dialami Bian.


Bian terkekeh-kekeh ketika Amara menciumi wajahnya dengan penuh emosional.


"Bangun coba!" bentak Amara dalam isakannya. "Tau nggak kalau aku butuh kamu, Om?!"


Bian mengangkat wajah Amara dan menatapnya sejenak, lalu kembali membenamkan wajah istrinya ke dalam pelukan.


"Segitu butuh sampe kamu jagain tiap malem?" kata Bian lembut sambil mendaratkan kecupan di puncak kepala Amara. Sementara tangannya bergerak di punggung wanita itu, menenangkannya.


"Ya!" sahut Amara sambil memukul dada Bian. "Kamunya sih bandel. Aku bilang jangan lama-lama sakitnya!"


Bian tergelak tawa. "Gimana kalau aku nggak bangun-bangun lagi?"


"Aku pukulin Om sampe bangun!" pekik Amara kesal.


"Gimana kalau aku mati—"


"Nggak boleh mati!" Amara mendongak sambil memeloti Bian dan melesit hidung. "Emang Om rela kalau aku jadi janda lagi? Emang Om mau orang lain ngurus Biandra?"


Bian meringis dan menarik Amara ke dalam pelukan. "Mana mungkin aku rela liat kamu bahagia sama cowok lain?"


"Makanya, buruan sembuh!" kata Amara sengau. "Kemarin aku mimpiin Zack datang mau lamar aku lagi. Aku bilang sama dia kalau aku istri Om. Tapi dia kekeh mau nikahin aku, bilangnya Om bentar lagi juga mati."


"Nanti siang aku datangin dan hajar dia, tega bener mau rebut kamu dariku. Nggak tau apa kalau aku butuh kamu? Padahal waktu itu aku udah ngingetin dia supaya nggak ganggu-ganggu kamu lagi."

__ADS_1


"Kan bukan pengennya aku mimpiin dia, salah Om sendiri kenapa nggak datang di mimpiku tadi."


"Jadi, kamu nangis gara-gara itu?" Bian menahan diri untuk tidak tertawa-tawa menanggapi Amara.


__ADS_2