
Yuanita terbangun dari tidurnya oleh seseorang yang menggedor-gedor pintu rumah dengan tak sabaran. Kepala Yuanita begitu pengar karena dia baru bisa tertidur pukul tiga pagi.
Semua itu karena Yuanita tak kunjung berhasil menemukan paranormal yang sanggup menyantet hingga mati, meski sudah mencari ke pelosok desa.
Mengingat bagaimana dirinya dipermalukan oleh Amara dengan mempertontonkan video panasnya di depan umum, Yuanita benar-benar bertekad untuk melenyapkan Amara— apa pun caranya.
Memang, semalam Yuanita berkeliaran dan menemukan beberapa dukun yang hanya sanggup mengirim guna-guna, bukan menghabisi nyawa Amara. Namun, Yuanita hanya ingin kematian bagi wanita itu, bukan sekedar guna-guna.
Akhirnya dia memutuskan untuk pulang saat pukul dua malam. Lalu hari ini Yuanita berencana untuk pergi ke pedalaman Baduy, yang konon katanya masih bisa menemukan santet hitam.
Dia tahu, perjalanan dari Sukabumi ke Banten akan memakan waktu berjam-jam. Namun, Yuanita tak peduli selama apa yang dia inginkan bisa tercapai.
Yuanita menggeram jengkel saat turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar untuk membuka pintu depan. Sambil melangkah dengan mata yang masih lengket, dia menoleh ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul delapan pagi.
Sudah terlalu lama dia tak bangun sepagi ini, tetapi tak ada salahnya karena Yuanita memang berencana pergi hari ini.
Sebelum membuka pintu, Yuanita menyibak tirai dan mengintip siapa orang yang mengetuk-ngetuk pintu dengan tak sabaran.
Ketika mendapati sosok kakak lelakinya yang berdiri di sana, wajah Yuanita langsung berubah tak senang karena tahu tujuan kakaknya hanya untuk meminta uang.
Namun, tetap saja dia membuka pintu sambil menggerutu, "Ngapain sih bangunin orang pagi-pagi gini. Mana berisik banget ngetuk—"
"Heh, villa lu tuh dibongkar. Buruan bangun pergi ke sana—"
"Dibongkar?" Yuanita terbelalak terkejut, rasa kantuk yang masih melanda seketika hilang begitu saja. "Kok bisa sih? Villa yang mana?"
"Semua villa yang dikasih Bian," bentak Agung kesal. "Buruan deh lu siap-siap pergi ke sana, gue nggak tau kenapa tiba-tiba itu villa dibongkar, makanya lu temuin tuh ormas sama anggota PP dan tanyain ke mereka kenapa main bongkar aja. Tadi gue nanya malah dicuekin, mentang-mentang bukan gue yang—"
"Berisik, ah! Kita berangkat ke sana sekarang, lu temenin gue!" Yuanita langsung berbalik dan cepat-cepat berganti pakaian tanpa memedulikan dia bahkan belum mandi atau sekedar mencuci muka.
Yuanita tahu sekarang adalah hari libur dan bisa menebak bawa jalanan pasti macet. Jadi, dia pergi menggunakan motor dengan dibonceng oleh kakak lelakinya.
Ketika dua puluh menit kemudian tiba di kawasan villa, Yuanita berteriak histeris melihat enam belas unit alat kontruksi berat sudah mulai membongkar ke empat villa miliknya.
Masing-masing villa dibongkar oleh dua unit ekskavator dan dua unit bulldoser. Bagaimana mungkin semua asetnya yang berharga bisa dibongkar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?
Tanpa memedulikan kerumunan warga yang menonton pembongkaran empat villa mewah tersebut, Yuanita berlari tergesa-gesa menuju barisan polisi pamong praja yang mengondusipkan jalannya pembongkaran.
__ADS_1
Dengan amarah menggebu-gebu, Yuanita melontarkan segelintir pertanyaan mengapa villanya tiba-tiba dibongkar.
"Setelah kami periksa, keempat villa ini nggak ada IMB— izin mendirikan bangunan," salah satu petugas itu menjawab dengan lugas. "Dan dua puluh hari sebelumnya kami sudah memberikan surat edaran tentang pembongkaran ini pada pemilik villa—"
"Saya nggak pernah nerima surat pemberitahuan apapun!" pekik Yuanita dengan napas bergemuruh. "Kalian nggak bisa ngebongkar villa ini sembarangan tanpa ngasih tau pemiliknya, nggak ada konfirmasi—"
"Maaf, Ibu," tukas si petugas dengan tegas. "Berdasarkan hasil penelusuran kami tentang siapa pemilik villa ini, kami sudah mengirimkan surat pembongkaran itu pada yang bersangkutan, atas nama pak Fabian Khadafi."
"Fabian?" Yuanita terbelalak, merasa terkejut mendengar orang itu menyebut nama mantan suaminya. "Tapi villa ini punya saya!"
Petugas itu mengabaikan ucapan Yuanita, lalu kembali berkata, "Mohon maaf, Bu, talau jangan menghalau tugas kami. Kami bekerja sesuai prosedur pemerintah daerah."
Dengan marah, Yuanita menjauh dari kerumunan orang dan mencoba menelpon Mirna.
Sementara jauh dari Yuanita yang menyambut paginya dengan kekacauan pembongkaran villa, Amara berbaring menyamping di sofa dengan berbantalkan paha Bian— mengawasi Biandra dan Alif.
Seperti biasa di hari Sabtu dan Minggu, Alif libur dari kegiatan sekolah. Jadi, Amara dan Bian sudah terbiasa dengan pemandangan berantakan di ruang tamu, asalkan Biandra dan Alif senang.
Bermacam-macam mainan dibiarkan berserakan di atas karpet berbulu tebal. Mulai dari puzzle aneka warna, mobil-mobilan, bola-bola kecil, beragam boneka, hingga mainan bayi yang bisa digigit oleh Biandra yang baru bisa berguling dan tengkurap di usia empat bulan lebih.
"Istirahat di kamar lagi, ya?" tanya Bian sambil menunduk dan mengusap-usap pinggang Amara. "Badan kamu masih anget. Di sini mana bisa istirahat denger anak-anak berisik."
Lalu, Amara berbalik menghadap Bian dan memeluk perut pria itu. "Usapin lagi punggungnya," pinta Amara dalam gumaman lirih.
Bian memindahkan sebelah tangannya, bergerak lembut di punggung Amara dari balik selimut kecil. Sementara sebelah tangannya membelai rambut Amara yang tergerai di atas pahanya.
"Kepalanya masih pusing nggak, Sayang?" tanya Bian dengan suara lembut memanjakan. "Pergi ke rumah sakit aja, ya?"
Amara hanya meninggikan sebelah bahu sebagai upaya menolak tawaran Bian.
"Apa mau panggil tukang pijit?" Bian menawarkan pilihan lain.
Setelah semalam melihat rekaman CCTV bagaimana Amara didorong jatuh hingga terlentang oleh Yuanita, tak heran jika sekarang istrinya mengeluh seluruh tubuhnya terasa sakit. Bahkan, tubuh Amara sedikit panas ketika menjelang subuh.
Namun, istrinya itu terlalu keras kepala dan menolak untuk diajak ke rumah sakit. Jadi, Amara hanya meminum obat pereda nyeri dan parasetamol untuk mengurangi kepalanya yang masih terasa berputar-putar.
"Nggak mau, ih," gerutu Amara sambil membenamkan wajah di perut suaminya. "Maksa-maksa terus nyuruh ke rumah sakit, nyuruh pijit. Udah dibilang aku nggak apa-apa."
__ADS_1
Bian hanya mengembuskan napas panjang seraya menyandarkan punggung di sandaran sofa, sementara tangannya masih mengusap-usap punggung sang istri.
"Terus maunya gimana atuh, Sayang?" tanya Bian lagi dengan gemas.
"Udah kayak gini aja," kata Amara sambil mengeratkan pelukan di pinggang suaminya. "Kamu risih, ya, digelendotin kayak gini?"
"Eh, sensitif amat sih kamu akhir-akhir ini, Ra?" komentar Bian serba salah. "Bukannya risih, tapi kamunya gimana mau sembuh kalau nggak pergi ke dokter atau dipijit, minimal badanya nggak terlalu sakit, Istriku, Sayangku, wanitaku yang paling cantik kayak boneka—"
"Boneka barabi 'kan?" Amara mengangkat wajah dan menatap Bian dengan sengit. Lalu mengusap pipinya yang terkena cakaran Yuanita sambil melanjutkan dengan murung, "Sekarang wajahku rusak. Makin jelek kayak boneka santet, ya?"
"Ngomong apaan sih kamu, Ra? Makin ke sini makin ke sana aja pikirannya. Sensitifnya dikurangin dikit bisa nggak?" Bian tertawa mendengar komentar-komentar Amara yang begitu menggelitik.
Melihat Bian tertawa, Amara menjadi kesal dan menggigit perut suaminya hingga Bian memekik terkejut.
"Kebiasaan kamu main gigit-gigit aja dari semalem," ujar Bian sambil menahan kening Amara agar berhenti menggigitnya. "Jangan nantangin. Lagi sakit kayak gini, emang mau dihukum sampe lemes?"
Kini Amara mencubit perut Bian yang kembali tertawa. "Dikit-dikit hukum, dikit-dikit dihukum. Itu mah alesan kamu aja yang pengen kayak gitu terus."
Belum sempat Bian berkomentar, terdengar denting ponsel di atas meja dan muncul pesan dari Mirna. Tanpa mengusik kenyamanan Amara yang bergelung di pahanya, Bian mencondongkan punggung ke samping dan meraih ponsel tersebut.
From: My Sist: [Si Yuanita minta nomormu, kasih nggak? Katanya villanya dibongkar?]
Bian menyeringai lebar sambil mengetik pesan dan mengizinkan sang kakak agar memberikan nomornya pada wanita itu.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Amara menyelidik tajam. "Chatting- an sama siapa?"
Bian menunduk dan mencubit dagu Amara dengan gemas. "Mirna, dia minta izin mau ngasih nomor ke Yuanita. Mau protes kayaknya itu orang."
Amara memberengut samar. Semalam, Amara tidur hampir pukul satu dini hari setelah Bian memanggil polisi dan melaporkan perbuatan Yuanita. Amara tak benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan selanjutnya setelah dia tertidur.
Namun, tadi subuh Bian kembali sibuk dan menghubungi seseorang, lalu Bian menjelaskan bahwa dia meminta pihak kepolisian untuk tak langsung mendatangi Yuanita.
Walau bagaimana pun, Bian tahu terkadang seseorang bisa terlepas dari jerat hukum jika sanggup membayar denda yang diajukan. Dan Bian tahu benar dari mana sumber penghasilan Yuanita setelah mereka bercerai.
"Kenapa harus dibongkar sih villa-villanya?" tanya Amara setelah beberapa saat. "Padahal Kan kata kamu bangun villa itu butuh uang milyaran. Belum lagi kamu sekarang ngabisin uang puluhan juta cuma buat sewa alat-alat berat buat ngancurin villa, ngeluarin uang buat bayar petugas keamanan. Nggak sayang apa itu uang dibuang gitu aja? Katanya kita harus hemat?"
Bian mengerucutkan bibir membentuk ciuman sambil mengacak-acak rambut Amara.
__ADS_1
"Itu nggak ada apa-apanya dibanding rasa sakit hati aku karena dia berani nyakitin kamu," kata Bian enteng. "Siapa suruh dia mainin api? Dia sendiri kan yang akhirnya bakalan kebakar? Lagian, dia itu dulunya dari tempat sampah. Nggak salah dong kalau aku mau ngembaliin dia ke tempat sampah?"