Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 23


__ADS_3

Ketika Bian keluar dari kamar sambil menuntun Alif menuruni tangga, Amara tak senang melihat hal itu.


Amara sontak membanting pintu kamar hingga tertutup, sambil bertanya-tanya dalam hati, bagaimana mungkin Bian bisa-bisanya memamerkan perhatian dan kasih sayangnya pada Alif di depan dia dan Biandra.


Demi suatu kebijakan yang mungkin akan membuat emosi bundanya semakin tak keruan, akhirnya Biandra memilih tidak bicara saat ayahnya pergi dengan Alif.


Bahkan, Biandra sedikit pun tak menggeliat dari pangkuan hangat sang Bunda— meski dia merasakan emosional bundanya tampak menggelegak dan siap meledak.


Amara berdiri mondar-mandir dalam kamar, dengan emosi asing yang sama sekali tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Marah, cemburu, takut, kesal, sedih, hampa, merasa terasingkan, sendiri, dan berkecil hati— semua terasa berkolaborasi, menjadi komposisi sempurna yang membuat paginya luar biasa kacau.


Bian mengembuskan napas panjang saat mendengar empasan pintu yang begitu kencang, dan membuat Alif terperanjat terkejut saat mereka berjalan menuruni anak tangga.


"Pa, si teteh itu kok marah-marah terus dari tadi pagi?"


Pertanyaan Alif berhasil menyita perhatian Bian dari memikirkan emosional Amara yang memang tampak meletup-letup sejak dia tiba.


Sebelum Bian sempat menjawab, Alif dengan polosnya kembali menambahkan, "Tadi juga waktu Papa belum dateng, ibu dimarahin pas lagi gantiin baju Biandra abis mandi. Terus langsung dibawa ke kamar. Padahal kan Alif masih kangen pengen maen sama Biandra. Kemaren Papa cuma sebentar doang bawa ke rumah Ibu."


Meski Bian tahu bahwa Alif selalu berkata jujur, tetapi tentu saja dia tidak mungkin menampung begitu saja apa yang dikeluhkan Alif tentang sikap Amara.


Walau bagaimana pun, Bian ingat betul bagaimana cara Amara bersikap lembut saat berhadapan dengan anak kecil, sewaktu dulu ketika mereka baru saja menikah.


Dan Bian tak pernah lupa bahwa Amara bahkan membiarkan anak orang lain memanggilnya dengan sebutan 'Bunda'.


Sejak pertama kali dia bertemu lagi dengan Amara saat wanita itu melahirkan, dia tak bisa memungkiri bahwa wanita itu memang sering membabi buta meluapkan amarahnya.


Namun, Bian yakin terlalu banyak faktor yang membuat Amara berubah seperti itu. Meski rumah tangganya hanya berjalan singkat, tetapi bukan hal sulit bagi Bian untuk meyakini bahwa Amara bukan wanita berhati keras.


Jadi, saat mendengar keluhan Alif, Bian hanya bisa menjelaskan dengan lembut pada putranya bahwa Amara tak pernah berniat bersikap kasar pada Mirna.

__ADS_1


Alif mengangguk-angguk mengerti mendengar penjelasan Bian.


Ketika mereka mencapai dasar tangga, Alif kembali berkata, "Alif boleh nginep di sini nggak, Pa? Papa udah lama nggak tidur sama Alif."


Bian tak lantas menjawab, dan sedikit serba salah melihat tatapan Alif yang memelas. Semenjak dia bercerai dengan Yuanita dan membawa Alif tinggal bersama Mirna, Bian tak pernah sekali pun meninggalkan Alif.


Sudah beberapa hari ini dia menghabiskan waktu bersama Amara dan Biandra, tetapi dia masih ingat dengan ucapan Amara yang berkata, 'Emang iya 'kan kamu nggak pernah adil? Dulu kamu cuma ngasih saya sedikit waktu. Sekarang ... anak saya juga mau ngerasain hal yang sama? Harus ngalah karena waktu kamu habis buat Alif!'


Setelah menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan, Bian dengan lembut berkata, "Besok kan Alif sekolah pagi. Jarak dari sini ke sekolahan kejauhan, nanti kamu telat masuk sekolah. Minggu depan kalau libur baru tidur sama Papa, ya?"


Ketika wajah polos Alif tampak sedikit murung, Bian kembali menambahkan, "Di rumah Ibu kan ada teh Thia, ada si mamang, yang bisa nemenin kamu main. Di sana juga kamu lebih ke urus sama Ibu. Biandra di sini nggak ada yang urusin, Bunda nya Biandra masih sakit, takutnya Papa malah nggak bisa anter jemput kamu sekolah."


Beruntung Alif cukup mengerti penjelasan Bian yang diucapkan perlahan. Bian menarik kursi di meja makan dan membiarkan Alif duduk, lalu menoleh pada Mirna yang baru saja muncul sambil membawa dua piring nasi goreng yang masih mengepul.


"Buat Amara mana, Na?" tanya Bian ketika kakak perempuannya itu meletakkan salah satu piring berisi nasi goreng di hadapan Alif.


Ketika Bian berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi Amara, Mirna tiba-tiba berkata dengan sedikit kesal, seolah meluapkan kekesalannya setelah dibentak Amara. "Kamu kebiasaan, mau-maunya diperbudak sama perempuan. Dibohongin lagi sama perempuan baru tau rasa ntar! Perempuan nggak ada sopan-sopannya kayak gitu, bisa-bisanya masih dilayanin udah kayak ratu aja."


"Hati-hati kalau ngomong!" tegur Bian dingin "Dia baru ngelahirin. Dan yang dia lahirin itu anakku. Kamu sendiri baru meriang dikit aja udah manja banget, nggak usah nyinyir gitu deh jadi orang!"


"Dih, gue mah manja juga sama almarhum mama papa doang. Bukan memperbudak suami kayak gitu," gerutu Mirna sambil menyambar sepiring nasi goreng yang diabaikan Bian, lalu duduk di samping Alif dan mulai melahapnya.


"Itu karena suami kamu nggak ada!" celetuk Bian kesal. "Dia istriku, kamu nggak usah komentar yang kayak gini-gini deh, Na. Gatel dengernya."


Mirna tersedak hingga terbatuk-batuk mendengar ucapan Bian. Setelah beberapa saat, dia baru bisa berkomentar, "Kapan nikah sama dia? Kemari bilang dia bukan istri kamu?"


"Tadi pagi," sahut Bian dari dapur sambil menuang sepiring nasi goreng dari wajan lengkap dengan telur mata sapi.


Lalu menyeduh segelas susu khusus ibu menyusui, dan meletakannya di atas nampan bersama segelas air hangat, juga piring berisi potongan melon dan pepaya.

__ADS_1


Dan Bian tak tahu kenapa dia ingin terburu-buru kembali ke lantai atas, tak sampai hati membiarkan Amara sendirian di sana terlalu lama.


Ketika Bian berjalan dengan langkah cepat sambil membawa nampan berisi sarapan Amara, Mirna kembali berkata, "Kamu nggak sekalian bawa sarapan?"


"Sepiring berdua bareng istri." Bian tertawa jahat sambil menjajaki anak tangga, menertawakan Mirna yang kembali tersedak mendengar ucapannya.


Bian menekan tuas pintu, lalu mengembuskan napas berat ketika menyadari bahwa Amara sekali lagi mengunci pintu kamar.


"Ra, buka pintunya," kata Bian setelah mengetuk pintu. "Jangan dikunci terus atuh, kamu sendiri yang repot harus bolak-balik buka kunci."


Kemudian, pintu terbuka, dan ekspresi wajah Amara semakin buruk dari pada yang dia lihat sebelum turun mengambil sarapan.


"Kirain kamu bakalan sarapan sama anak kamu tercinta dari pada sama saya dan Biandra!" sindir Amara yang langsung berbalik dan kembali menekuni membedong Biandra.


Sebelumnya, Bian mungkin bisa membalas ucapan sinis Amara dengan ketus. Namun, sekarang, setelah mengetahui lebih banyak hal tentang bagaimana Amara diperlukan oleh keluarganya, rasanya untuk berkata dengan nada tinggi pun dia tak tega.


Selain itu, dari kalimat yang diucapkan Amara, Bian bisa menangkap nada kecemburuan dalam suara wanita itu.


Memikirkan tentang Amara yang bahkan cemburu terhadap anak kecil, ada rasa hangat yang merayapi hati Bian. Setidaknya, dia tahu bahwa Amara tak akan cemburu jika tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya.


"Aku emang mau sarapan sama anakku tercinta," kata Bian sambil meletakkan sarapan di meja pendek. "Bareng istri tercinta juga."


Tangan Amara berhenti bergerak dari melingkarkan kain bedong di kaki Biandra, kemudian menoleh dan mendapati Bian mengerucutkan bibir membentuk sebuah ciuman.


"Pagi-pagi udah nggak waras!" komentar Amara yang kembali memalingkan wajah dari Bian.


Bian terkekeh-kekeh ketika duduk di tepi tempat tidur, lalu mencondongkan tubuh pada Biandra, menghalangi apa yang sedang dilakukan istrinya.


"Bunda kamu udah bikin Ayah nggak waras pagi-pagi, ya, kan, Bi?"

__ADS_1


__ADS_2