
Ketika Amara sibuk bersama Biandra di kamarnya, Bian memeriksa ponsel yang sudah beberapa hari sengaja di- nonaktifkan. Sekarang, mendapati Tiara berada di depan villanya, tentu saja Bian panik bukan kepalang.
Dia mengambil ponsel hanya untuk menghubungi penjaga villa, dan memastikan agar tak mengizinkan siapa pun tamu masuk. Sebenarnya, bisa saja Bian langsung turun dan mengatakan pada mereka secara langsung.
Akan tetapi, tentu saja dia tak ingin berspekulasi akan bertemu Tiara, sekaligus menimbulkan kecurigaan pada Amara. Bukan, Bian bukan bermaksud membohongi atau merahasiakan sesuatu dari Amara.
Terutama tentang pertemuannya dengan Tiara sebelum Bian jatuh sakit. Dia hanya belum bisa berkata jujur untuk saat ini, itu saja.
Ketika Bian baru saja menyalakan ponsel, muncul beberapa notifikasi dari operator yang memberitahukan bahwa nomor asing sudah berkali-kali menghubungi nomor Bian.
Notifikasi-notifikasi tersebut semakin berhamburan seiring waktu yang berdetik. Untuk beberapa saat, Bian menahan napas ketika deretan pesan masuk tersebut dikirim oleh nomor asing selama tiga hari berturut-turut, yang mengaku sebagai Tiara dan menunggu Bian di depan villa.
Bian langsung menandai seluruh pesan tersebut dan menghapusnya, dan saat itulah muncul pesan terbaru yang membuat Bian terdiam sejenak saat membacanya.
From: +62817xxx : [Tadinya aku mau nungguin kamu kayak tiga hari kemarin, nunggu sampe kamu keluar karena aku nggak mau masuk kalau nggak ada izin dari kamu. Aku cuma pengen ketemu kamu sekali lagi sebelum pulang ke Jakarta. Tapi, setelah aku barusan liat kamu sama anak istri kamu di atas, aku milih pulang sekarang. Aku berbahagia untukmu, Bi.]
From: +62817xxx : [Oh, yah, selama nunggu proses perceraian, aku sama anak-anak tinggal di rumah lama di Menteng. Kamu masih inget 'kan? Rumahku selalu terbuka buat kamu. Kapan pun kamu bisa datang kalau berubah pikiran tentang tawaranku, Bi, kita bisa mulai semua dari awal lagi. By: Wanita yang mencintaimu— Tiara.]
Alih-alih membalas pesan tersebut, Bian langsung memasukkan nomor Tiara ke dalam daftar hitam. Bohong jika Bian tak tersentuh mendengar penderitaan yang Tiara alami sewaktu mereka bertemu.
Namun, akan berapa banyak kekacauan yang timbul jika Bian memberi kesempatan kedua pada kisah mereka, yang bahkan belum tentu akan semulus yang dibayangkan?
Sepanjang dia menjalani kehidupan, bukan sekali dua kali Bian menjalani kehidupan yang tak pernah sesuai ekspektasi — tak peduli seberapa matang dia mengatur masa depan bersama orang-orang terkasih.
Pengkhianatan, kebohongan, ketidakpuasan, keputusasaan, kekecewaan, dan perselingkuhan— faktanya semua itu adalah komposisi yang tak pernah lepas dari realita.
Sekarang, Bian baru saja memiliki kehidupan baru. Kehidupan berumah tangga bersama Amara, yang dia dapatkan dengan cara paksa. Memang, Bian tak bisa menjamin kehidupannya kali ini bersama Amara dan Biandra akan bahagia.
Dia juga tak bisa menjamin apakah akan mengalami pengkhianatan seperti yang pernah dia alami, atau kemungkinan dia sendiri yang melakukan pengkhianatan. Faktanya, Bian tak pernah tahu apa yang akan terjadi satu detik di depannya.
Yang Bian tahu, sekarang dia bertekad tak akan memberikan sela untuk sebuah kata perselingkuhan. Baik dari dirinya, atau pun dari Amara. Seberapa sakit sebuah pengkhianatan, Bian sudah cukup kenyang menelan hal tersebut.
"Om ..." Suara Amara yang tiba-tiba muncul di pintu kamar berhasil membuat Bian mengerjap terkejut. "Bisa bantu jaga Biandra dulu, nggak? Orang salon yang dipanggil buat facial udah dateng."
Bian menghela napas panjang, mengendalikan kegugupan. Lalu, mengantongi ponsel ke dalam saku celana sambil berjalan menghampiri Amara.
"Kamu kenapa?" tanya Amara ketika mendapati Bian berdiri di depannya sambil tersenyum, tanpa kata. "Bisa nggak temenin Biandra dulu?"
Bian masih tak menjawab, tetapi tangannya menangkap pinggang Amara dan menarik wanita itu ke dalam pelukan. Untuk beberapa saat, Bian hanya menciumi aroma tubuh Amara, menghidu wangi rambutnya yang masih lembab.
__ADS_1
"Maafin, ya ... gara-gara aku sakit, kamu jadi ketunda mau perawatannya," bisik Bian sambil menciumi leher Amara.
Amara tak tahu apa yang membuat Bian bertingkah mesra seperti itu. Terlebih lagi, suara Bian terdengar sedikit memanjakan, dan sialnya hal itu membuat jantung Amara melompat-lompat tak keruan.
Bahkan, dia refleks melingkarkan kedua tangan di leher Bian selagi dia menciumi dahi pria itu.
"Kamu jadi manja amat semenjak sakit," bisik Amara, menggoda Bian. "Aku jadi kayak punya dua bayi."
"Salah kamu sendiri yang manjain aku." Bian merapatkan tubuh Amara hingga melekat di tubuhnya.
Dia mengangkat wajah dari ceruk leher Amara, lalu memiringkan kepala untuk dengan lembut ******* bibir ranum sang istri.
Mendapati ciuman lembut Bian yang memabukkan, Amara mau tak mau membuka sedikit bibirnya, memberikan akses bagi Bian agar terus memagutnya. Bahkan, untuk beberapa saat, Amara nyaris melayang ketika sensasi panas yang tak asing mulai membuat darah di sekujur tubuhnya terasa berdesir.
Amara sadar, bukan hanya dirinya yang terbakar g@ir@h yang sialnya pasti tak bisa dituntaskan. Ketika Bian semakin mendesakkan tubuh, Amara merasakan sesuatu di balik celana Bian mulai mengeras— seolah-olah menunjukkan bahwa pria itu benar-benar terbakar g@ir@h.
Amara mendengar Bian mengerang frustrasi ketika pria itu semakin memperdalam tautan bibir mereka. Tangan Bian terus menjelajah punggung dan pinggang Amara di balik blouse. Tepat ketika tangan Bian meremas bumper belakang Amara, wanita itu refleks menepuk bahu Bian dan melepas pagutan mereka.
"Belum waktunya," kata Amara dengan napas tersengal-sengal, tak berbeda dengan Bian yang sudah tampak terbakar g@ir@h membabi buta.
"Kamu bikin aku gila, Ra," gerutu Bian dengan parau. Sekali lagi dia mengecup pipi Amara, seolah-olah ciuman barusan belum membuatnya puas. "Berapa lama lagi nunggunya? Aku nggak tahan pengen kamu."
Amara sama kacaunya seperti Bian. Bohong jika dia tak ingin disentuh lebih banyak oleh suaminya. Walau bagaimana pun, sudah terlalu lama Amara tak mendapat sentuhan untuk memenuhi kebutuhan seksualnya.
"Tunggu tiga minggu lagi, ya?" kata Amara sambil mengecup pipi Bian dengan penuh kerinduan. "Aku juga sama nggak tahan. Kangen kamu. Tapi masa nggak mau sabar nunggu sampe aku siap?"
Tampaknya Bian harus puas dengan hanya mencium dan menjamah tubuh Amara. Jika memang istrinya belum siap dieksekusi, dia bisa apa?
Ketika Bian hanya cemberut dan mengembuskan napas tak berdaya, Amara mengelus pipi Bian dengan lembut.
"Kuatin imanmu, ya, Om?" kata Amara dengan senyum kaku, berupaya menghibur Bian.
"Imannya kuat, iminnya yang nggak kuat, Cinta ..." Suara Bian terdengar merajuk seperti anak-anak.
"Ntar kalau udah siap, aku langsung kabarin—"
"Tiga ronde," kata Bian sambil mengecup bibir Amara sekali lagi.
"Belum juga aba-aba, udah bahas kayak—"
__ADS_1
"Nggak mau tau," tukas Bian, sedikit memaksa. "Tiga ronde, bervariasi. Ganti-ganti gaya. Masa udah nunggu lama-lama cuma dapet sekali doang?"
___
Selagi menunggui Biandra yang berbaring nyaman di atas baby swing, Bian duduk di sofa sambil memangku laptop— memeriksa laporan penjualan villa dan penginapan beberapa hari terakhir.
Amara baru saja akan menjalani serangkaian perawatan. Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk kimono biru muda, dan mau tak mau mata Bian mengikuti setiap pergerakan yang dilakukan Amara.
"Bunda tinggalin kamu sama Ayah dulu, ya, Sayang," kata Amara sambil membungkuk dan mengecup pipi mungil Biandra. "Jangan rewel, oke?"
"Itu kamu gayanya nggak usah gitu bisa nggak sih, Ra?" celetuk Bian yang berada di belakang Amara. Matanya memindai betis putih mulus Amara, dan berakhir di bagian bumper montok yang sejak tadi tak lepas dari pandangannya.
Tanpa membalikkan tubuh dan masih sambil membungkuk menciumi Biandra, Amara bergumam, "Gaya apaan sih, Om? Orang aku lagi—"
"Itu kamu sengaja pamerin pantat sama paha kamu kayak gitu di depanku. Maksudnya apa? Minta digoda?" gerutu Bian hingga membuat Amara sontak meloncat dan berbalik sambil tertawa-tawa. "Bikin sakit kepala, tau nggak?"
"Apanya yang sengaja?" goda Amara sambil membekap mulut, menahan tawa terpingkal-pingkal mendapati reaksi Bian yang bermuram durja. "Aku mana niat goda kamu."
Air wajah Bian semakin suram, sementara kerongkongannya terasa kering hingga Bian menelan ludah dengan susah payah. Berupaya menahan gejolak hasrat yang menggelegak, serta meredam desakan untuk melucuti pakaian Amara dan menerkamnya.
"Liat aja nanti kalau udah bisa dijamah," desis Bian sambil menyandarkan punggung pada sofa, sementara matanya lagi-lagi memindai pay*dara Amara yang menyembul di antara lipatan kimononya. "Aku bikin kamu lemes nanti."
Bukan salah Bian jika sejenak otaknya dipenuhi fantasi nakal bersama sang istri, di mana bibirnya bisa bebas bergerilya menikmati setiap inci tubuh Amara, dan dia tahu benar kulit wanita itu selembut madu hangat.
"Nggak usah ngancem-ngancem gitu." Amara meninggikan dagu sambil berjalan ke arah Bian, lalu mencondongkan wajah dan mencium pipi suaminya sambil berbisik sensual, "Aku tau kok kamu emang nakal kalau lagi di ranjang."
Sebelum Bian bisa berkomentar, Amara mengecup bibir suaminya sekilas. Namun, kecupan singkat itu berubah menjadi ciuman panas dan intens saat Bian menarik belakang kepala Amara. Memperdalam pagutan bibirnya dan menarik Amara ke atas pangkuan.
Amara nyaris tersedak ketika Bian meremas bumper belakangnya dengan erat, seolah-olah memberitahu bahwa g@ir@h pria itu sudah di ubun-ubun. Sebenarnya, sedikit pun Amara sama sekali tak berniat menggoda Bian, dia hanya ingin bersikap manja dan mesra pada suaminya— seperti dulu. Walau bagaimana pun, Amara wanita normal yang menyukai hal-hal romantis, dan jelas-jelas butuh kasih sayang dari suaminya, terutama setelah mereka berpisah sekian lama.
Bian tahu, semakin dia memperdalam pagutan bibirnya yang membuat dia terasa semakin mabuk kepayang, maka semakin besar pula derita yang akan dia rasakan.
Jadi, Bian sendiri yang melepas tautan bibir mereka sambil menggeram frustrasi, "Kamu kayaknya seneng banget bikin otakku kram."
Amara tak menjawab, tetapi sekali lagi mendekatkan bibirnya pada bibir Bian, lalu menggigit bibir suaminya dengan gemas hingga Bian mendesis kesakitan.
"Aku nggak niat bikin kamu kram otak, Om," kata Amara yang kemudian beralih menggigit pipi Bian. "Cuma pengen manja-manjaan dan mesra-mesraan sama kamu. Kamunya aja yang dikit-dikit maen sosor."
"Kamunya bikin nafsu terus." Bian mengembuskan napas gusar ketika Amara beranjak bangkit dan melesat keluar kamar sambil terkekeh-kekeh.
__ADS_1
Butuh upaya keras bagi Bian untuk menekan letupan-letupan g@ir@h di tubuhnya yang nyaris meledak. Sejenak, dia mempertimbangkan untuk menuntaskan hasratnya di kamar mandi. Namun, rasanya sungguh memalukan jika dia harus melakukan itu sendiri, sementara dia kini memiliki istri. Setidaknya, mungkin nanti malam dia bisa meminta Amara agar membantunya menuntaskan hasrat tersebut.
Bian menghela napas panjang sambil mencubit tengah alis. Kepalanya disandarkan pada sandaran sofa, dia butuh relaksasi. Belum satu hari bisa bermesraan dengan Amara sudah membuat kepalanya berdenyut-denyut, dan dia bisa gila jika harus menahan desakan tersebut hingga tiga minggu ke depan.