
Ketika Bian mengulum telunjuk dan jari tengah istrinya yang terluka, Amara mendongak sambil memberingis kesakitan, "Kena pisau, kan aku—"
"Kan aku bilang nggak usah masak," tukas Bian, kesal sekaligus khawatir. "Kamu bandel amat sih kalau dibilangin, bisa nurut nggak sih kali-kali? Udah tau kondisi kamu masih nggak stabil, masih aja—"
"Tapi masaknya udah beres," sahut Amara murung. "Itu kena pisau pas lagi nyuci perabotan bekas masak. Kamu nggak usah bentak-bentak aku kayak gitu."
Bian mengeluarkan dua jemari Amara dari mulutnya, lalu mengamati luka gores tersebut dan melihat hanya telunjuk Amara saja yang terluka, juga tidak begitu panjang dan dalam. Jadi, dia mengembuskan napas lega yang bercampur penyesalan karena menyadari sudah membentak istrinya.
"Maaf, aku nggak niat bentak kamu," kata Bian sambil membimbing jemari Amara ke bawah kran wastafel, membersihkan luka tersebut di bawah air mengalir. "Cuma khawatir kamu kenapa-kenapa."
Amara tak memerhatikan tangan Bian yang membasuh jemarinya dengan gerakan hati-hati. Fokusnya sudah tersita oleh wajah Bian yang memerah, sementara suara pria itu terdengar sengau. Bahkan, dia bisa merasakan sengatan hawa panas dari tubuh Bian, dan tak perlu diragukan lagi bahwa suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu sakit, Om?" tanya Amara ketika Bian mencabut lembaran tisu dan mengeringkan tangan Amara.
"Nggak, " kata Bian sambil menggiring Amara keluar dari dapur, lalu berbelok ke ruangan menuju kotak penyimpanan obat yang menempel di dinding.
"Tapi badan kamu panas," timpal Amara, perhatiannya tertuju pada wajah Bian yang menunduk dan fokus membalut jemari Amara dengan plester. "Muka kamu juga pucet banget. Kamu demam, Om."
Sebenarnya, sejak bangun tidur tadi Bian memang merasakan seluruh tubuhnya terasa lesu, bahkan tulang-tulangnya terasa remuk. Untuk itulah dia enggan bangun dan ingin bermalas-malasan di tempat tidur.
Hanya saja, dia juga tak mungkin mengabaikan Alif— mengingat jarak sekolahan Alif ke rumah Mirna cukup jauh, dan tak mungkin dia membiarkan anak yang masih kelas satu SD itu pulang sendiri. Terlebih lagi, sudah lebih dari dua minggu ini Bian tak pernah mengantar jemput Alif, yang biasanya menjadi rutinitas Bian setiap hari pasca bercerai dengan Yunita.
"Mungkin karena semalem kedinginan, jadinya pilek kayak gini," kata Bian kemudian, tak bisa memungkiri bahwa dia memang kepalanya pun terasa berdenyut-denyut.
"Bukannya dulu kamu udah biasa keluyuran malam sampai pagi?" tanya Amara heran.
"Semenjak kita cerai, aku jarang keluyuran malem-malem dan begadang di luar," Bian menjelaskan sebelum membersit hidung dengan lembaran tisu. "Kalau pun keluar, cuma buat ngontrol kerjaan. Itu pun cuma sampe jam sembilan atau sepuluh malem. Biasanya nenek lampir udah ribet banget nelponin aku nyuruh pulang."
__ADS_1
"Nenek lampir?" Amara mengerutkan kening. "Mantan istri kamu maksudnya?"
"Bukan, tapi Mirna," sahut Bian terkekeh-kekeh kecil. "Kan udah aku bilang kalau aku tinggal sama dia waktu aku sakit. Jadi dia bawel banget kalau aku nggak ada di rumah. Belum lagi si Alif nggak bisa tidur kalau nggak ada aku. Jadi mau nggak mau aku pulang cepet."
Amara mengembuskan napas panjang. Lalu, meraih tangan Bian dan menuntunnya ke ruang makan. Kemudian menarik salah satu kursi yang mengitari meja makan panjang, dan mengarahkan Bian agar duduk di sana.
"Kamu makan dulu, abis itu minum obat, terus istirahat lagi."
Amara tak menunggu Bian menjawab, dia segera pergi untuk menyiapkan makanan yang baru selesai dia buat.
Sementara Bian, dia duduk dengan patuh menunggu Amara. Tanpa sadar, bibirnya membentuk senyum samar sambil mengamati punggung Amara yang kemudian hilang di balik pintu dapur.
Tak dapat Bian pungkiri, sikap Amara yang seperti itu membuat hati dan jantungnya berdentam-dentam di balik rusuk. Terlepas dari sifat dan tingkahnya yang terkadang berubah-ubah, tetapi perhatian Amara yang sehangat dan selembut madu, terasa manis bagi Bian. Tak heran jika sekarang Bian merasakan hatinya semakin lunak dan tak bertulang seperti marshmallow.
___
Sebenarnya, Biandra tidak begitu rewel dan tak harus selalu digendong, tentu saja. Bayi itu jarang sekali menangis selama kebutuhan susunya terpenuhi, atau mengganti popok yang basah tepat waktu.
Namun, karena Biandra adalah anak kandung pertama yang dimiliki Bian sepanjang hidupnya, tak heran jika pria itu terkadang terlalu berlebihan dalam memperhatikan segala hal yang menyangkut putrinya.
Saat pukul satu siang Mirna dan anak perempuannya datang untuk menjemput Alif, barulah Bian bisa istirahat. Itupun setelah dia berulang kali memperingatkan Mirna agar mengawasi Alif saat sedang di sisi Biandra.
Mungkin sikap Bian memang berlebihan, tetapi Mirna— sebagai kakak perempuan satu-satunya yang dimiliki dan hapal betul sifat Bian, dia hanya mendengar kicauan Bian dengan telinga kanan, dan keluar di telinga kiri.
Tentu saja Mirna lebih tau bagaimana cara mengurus bayi, terbukti dari dua kakak Alif yang tumbuh sehat meski mereka dibesarkan tanpa ayah. Meski mereka berdua tak seberuntung Alif, yang mendapat sosok pengganti ayah yang menyayanginya seperti Bian.
Amara menekan kecemasannya akan kondisi Bian saat ini, berharap pria itu hanya kurang istirahat— walaupun sebenarnya dia sadar yang dialami Bian jelas-jelas menunjukkan pria itu jatuh sakit.
__ADS_1
Sewaktu masih ada Mirna, Amara bisa mengalihkan konsentrasinya dengan mengobrol bersama sang kakak ipar sembari mengawasi anak-anak. Ketika Mirna pulang pukul lima sore, dia melarang Amara membangunkan Bian, membiarkan pria itu tetap istirahat.
Namun, setelah hanya tinggal Amara dan Biandra yang berada di sana. Amara tak tahan untuk tidak membuka pintu kamar suaminya yang saling berdampingan dengan kamarnya. Dia membuka pintu dengan perlahan, khawatir pria itu tengah terlelap.
Meski dia tak memakai sandal rumahan, Amara berjalan berjinjit- jinjit menuju tempat tidur besar di mana Bian berbaring tengkurap di atasnya.
"Om ..." Amara bahkan nyaris tak bisa mendengar bibirnya mengeluarkan suara ketika melihat wajah Bian kian merah. Jadi, otomatis dia mencondongkan tubuh dan menangkupkan telapak tangan di dahi pria itu.
Entah karena tangan Amara terasa dingin, atau mungkin Bian yang memang tidak begitu pulas, pergerakan Amara membuat bulu mata lentik Bian bergerak-gerak. Lalu, perlahan pria itu membuka mata. Pandangannya sedikit buram karena matanya berair akibat suhu tubuh yang terlalu panas.
"Amara," kata Bian dalam gumaman lirih, suaranya terdengar sengau sekaligus serak. Kemudian pria itu kembali menutup mata. "Sayang, Alif udah pulang?"
"Udah barusan." Amara duduk di tepi ranjang sambil mengulurkan tangan menyibak selimut yang menutupi tubuh Bian yang sedikit menggigil. "Kamu panas banget, jangan terlalu ditutup. Ntar suhu panas tubuhnya makin meningkat. Mau pergi ke dokter—"
"Sayang, malem ini kamu tidur berdua sama Biandra dulu, ya?" tukas Bian sambil memegang tangan Amara.
Amara menatap Bian yang masih menutup mata. Dia menarik tangannya dari genggaman Bian, lalu mengelus pipi pria itu, yang jelas sama panasnya dengan dahi Bian.
"Kenapa?" kata Amara lembut. "Kamu mending tidur di kamarku aja bareng-bareng. Biar aku bisa ngurusin kamu juga."
Bian tersenyum lirih saat kembali membuka mata. Lalu, kemudian dia bangun dan beringsut duduk bersandar di kepala ranjang.
"Aku lagi pilek, takutnya kamu sama Biandra malah ketularan," kata Bian sambil mencondongkan tubuh dan menyambar kotas tisu di atas nakas, meraih beberapa lembar tisu untuk membersit hidung.
"Tapi ntar kalau kamu butuh apa-apa gimana?" Kekhawatiran mewarnai suara Amara. "Kan Biandra tidur di ranjangnya, kamu tidur di kasur—"
"Hey, kalau kamu ikut-ikutan ketularan pilek, ntar kelamaan Biandra takutnya juga ketularan," Bian menjelaskan dengan lembut sambil menatap sorot mata Amara yang tampak gelisah. "Jangan khawatir, ini cuma pilek doang, kok. Aku masih bisa bangun kalau butuh apa-apa. Kamu istirahat—"
__ADS_1
"Tapi kamunya kasian." Amara tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang jelas-jelas menampakkan kekhawatiran akan kondisi Bian. "Pergi ke rumah sakit, ya?"