Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 53


__ADS_3

Suasana hati Amara pagi itu luar biasa acak-acakan ketika tak kunjung menemukan tasnya. Dia menjadi semakin kesal ketika tubuhnya berkeringat karena pontang-panting ke sana ke mari dengan mengenakan jaket tebal.


Sialnya, semalam dia hanya mengenakan tank top hitam dan jeans. Jadi, tak mungkin dia melepas jaketnya— meski di dalam villa itu hanya ada dia dan Biandra.


Kejengkelannya semakin bertambah ketika dia harus mengganti diapers Biandra— sementara dia bahkan memasukkan diapers tersebut ke dalam tas. Mana rela dia membiarkan pantat Biandra mengalami ruam karena diapers yang terlambat diganti?


Jadi, mau tak mau dia langsung mengambil ponsel dan menghubungi Bian. Hanya saja, Amara baru sadar bahwa dia tidak menyimpan nomor Bian yang baru. Lagi pula, dia sudah menghapus kontak lama Bian setelah mereka bercerai saat itu.


Beruntung dia belum menghapus history panggilan, dan mencoba mengingat-ingat yang mana nomor Bian. Lalu mendapati log panggilan keluar, dan dia ingat itu adalah terakhir kali Amara menghubunginya— tepat ketika dia meminta Bian membelikan bumbu dan sayuran beberapa hari lalu.


Dia lebih dulu menyimpan kontak tersebut dan mengirim pesan singkat.


To: Kang Jagal: (Tas Biandra di mana?)


Pesan terkirim, tetapi tak ada laporan Bian membaca pesan tersebut. Jadi, ketika dalam tiga menit pesan tak kunjung dibalas, Amara langsung menghubungi nomor tersebut.


Beruntung dia tak menunggu lama hingga panggilan itu tersambung, dan terdengar suara Bian yang langsung bertanya, "Kenapa, Ra?"


"Pake nanya kenapa lagi!" gerutu Amara yang mengapit telepon di antara bahu dan telinga, sementara tangannya sibuk membuka popok Biandra, menyeka ************ si bayi dengan tisu basah. "Aku udah kirim SMS, tas Biandra sama tas aku di mana?"


"Jangan dulu pergi bisa nggak sih, Ra?" Suara Bian terdengar kesal. "Aku baru selesai, ini lagi di jalan mau pulang—"


"Aku mau ganti pempes Biandra! Mau bikin susu Biandra! Semuanya ada di tas!" Amara meninggikan suaranya, ingin sekali dia mencekik Bian karena pasti pria itulah pelaku yang menyembunyikan tasnya. Siapa lagi pria yang bisa membuat Amara jengkel jika bukan Bian?


"Kenapa kayak bocah sih? Main umpetin kayak gitu?" lanjut Amara sambil menggumpal tisu basah dengan erat, seolah melampiaskan kejengkelannya, dan langsung melempar ke tempat sampah.


"Ambil aja baju-baju sama kebutuhan Biandra di kamarku," kata Bian dengan tenang, seolah yang dikeluhkan Amara bukan masalah besar. "Semuanya ada di lemari, pintu ketiga dari kiri— nggak dikunci."


Mungkin Amara tak tahu Bian juga sudah memperhitungkan hal tersebut, dan membuat Amara benar-benar bergantung padanya dalam hal sekecil apa pun.


Jadi, Amara langsung turun dari tempat tidur setelah menyelimuti kaki telanjang Biandra dengan kain bedong.


Tanpa mengakhiri panggilan, Amara mengikuti instruksi Bian, masuk ke kamar pria itu dengan buru-buru, dan langsung menunju lemari enam pintu yang menjulang tinggi.


Ketika membuka lemari tersebut, Amara menyadari hanya ada pakaian Biandra saja di sana. Bahkan, Bian sudah mengeluarkan isi tas, sekaligus menyusun rapi sesuai jenis, sehingga dia mudah mengambil apa yang di butuhkan.


"Tas aku di mana?" desak Amara sambil mengambil selembar kain bedong, diapers— juga serangkaian kebutuhan lain. "Kenapa cuma ada baju Biandra doang?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Amara, Bian justru langsung mengakhiri panggilan.


"Orang gila!" desis Amara kesal sambil menutup pintu lemari setelah menemukan apa yang dibutuhkan Biandra.

__ADS_1


Dia luar biasa jengkel dengan ulah Bian. Napasnya memburu, dan hal itu berhasil membuat punggungnya berkeringat hingga Amara semakin kegerahan.


Seolah tak ingin dipusingkan karena tak ada baju yang bisa dia pakai, sementara sebentar lagi dia harus berhadapan dengan kompor— merebus botol susu Biandra dan menyiapkan sarapan untuk diri sendiri.


Akhirnya Amara membuka pintu lemari lain, mencari-cari pakaian Bian. Persetan dengan penilaian Bian yang mungkin menuding dia lancang karena telah mengambil satu buah kaus putih pria itu tanpa izin.


Sambil melepas jaket dan buru-buru meloloskan kaus tersebut dari atas kepala, Amara berpikir— jika Bian marah karena memakai bajunya, dia bisa membela diri dengan menyebutkan salah Bian sendiri kenapa menyembunyikan pakaiannya?


Lagi pula, salah Bian sendiri kenapa langsung mengakhiri panggilan sebelah pihak?


Amara kembali pada tiga prinsip yang tertanam dalam otaknya. Pertama, dia selalu benar. Kedua, Bian selalu salah. Ketiga, jika Amara membuat kesalahan— maka kembali lagi pada prinsip pertama dan kedua.


Amara tak peduli dengan ukuran baju tersebut yang terlalu longgar di tubuhnya. Namun, kain katun bertekstur lembut tersebut cukup nyaman dan membuat dia tak begitu kegerahan.


Dia buru-buru kembali ke kamar dan berpikir untuk langsung memandikan Biandra— tak peduli meski waktu baru menunjukkan pukul tujuh.


Akhirnya Amara menyiapkan air hangat di kamar mandi untuk Biandra. Lalu melepas celana jeans yang dipakai— berpikir dirinya juga akan langsung mandi setelah mengurus Biandra.


Bian baru saja tiba ketika Amara masuk ke kamar mandi membawa Biandra. Sambil menggendong Alif menjajaki anak tangga setelah mengunci pintu depan, Bian menyadari keheningan dari kamar Amara yang tertutup.


Kecemasan menyelimuti Bian, khawatir wanita itu nekat pergi— meski sang penjaga villa menegaskan bahwa tak ada tanda-tanda Amara melarikan diri lewat jendela. Lagi pula, seharusnya Bian sadar bahwa wanita itu tak mungkin bisa membobol tralis besi yang terpasang di tiap-tiap jendela yang bisa dibuka.


"Terus kamu mau sarapan apa? Bubur nggak mau, roti nggak mau, telur nggak mau. Maunya apa?" tanya Bian dengan lembut sewaktu membaringkan Alif di tempat tidur dan menyelimuti anak itu.


"Tapi mulut Alif sakit, Pa," kata Alif pelan. "Tadi juga pas minum nelennya sakit."


"Tapi kamu harus makan dulu sebelum minum obat." Bian berupaya membujuk, meski dia tak yakin Alif bisa mengunyah makanan— mengingat radang di tenggorokannya cukup parah, hingga membuat anak itu demam tinggi. "Makan sedikit, ya?"


Alif tampak ragu, tetapi dia mengangguk perlahan-lahan sambil menelan ludah— membasahi tenggorokannya yang terasa sakit.


"Alif maunya makan ayam goreng," kata Alif akhirnya.


Bian memberengut samar. "Kata dokter nggak boleh makan dulu gorengan, nanti tenggorokannya tambah sakit," Bian menjelaskan. "Ayamnya dibikin sayur dipotong kecil-kecil aja, ya? Pake jagung sama sosis. Mau?"


Ketika Alif menjawab dengan anggukan, akhirnya Bian mengembuskan napas lega dan meminta Alif menunggu sementara dia menyiapkan sarapan.


Setelah Bian keluar, dia lebih dulu memastikan bahwa Amara dan Biandra masih ada di kamarnya. Ketika dia membuka pintu kamar, Bian tak menemukan keberadaan mereka. Namun, suara Amara samar-samar terdengar dari kamar mandi yang pintunya dibiarkan terbuka.


Kelegaan membanjiri hati Bian saat dia berjalan masuk, bermaksud menanyakan Amara apa yang wanita itu inginkan untuk sarapan.


Hanya saja, ketika dia berada di ambang pintu kamar mandi, pemandangan di hadapannya membuat darah di tubuh Bian tiba-tiba terasa berdesir.

__ADS_1


Sialan! Seharusnya dia tak masuk jika akhirnya mendapati pemandangan yang membuat dia kegerahan.


Bukan karena Amara terlalu fokus memandikan Biandra hingga tak menyadari kehadirannya. Namun, semua itu karena Amara memakai kaus putih yang Bian yakini itu adalah miliknya.


Bukan, Bian bukan marah karena Amara memakai bajunya, tetapi kenapa wanita itu harus melepas celananya?


Jadi, bukan salah Bian ketika pandangannya kini tertuju pada kain segitiga hitam terkutuk di balik kaus Amara.


Jakun Bian bergerak-gerak saat matanya berlama-lama memandangi betis Amara, memindai pahanya yang mulus, dan lagi-lagi berhenti di bumper sintal Amara— yang dia tahu begitu kenyal dan padat sewaktu meremasnya.


Sialan!


Bisa-bisanya wanita itu justru terlihat semakin seksi dan menggairahkan. Bian bersusah payah menahan napas dan mengendalikan gejolak yang tiba-tiba muncul. Menekan dorongan untuk menggerai rambut Amara yang diikat asal.


Ingin sekali rasanya Bian menyeret wanita itu ke ranjangnya, melepas kerinduan untuk bercinta yang sudah meronta-ronta hingga menggerogoti tulang-tulangnya.


Bian menggelengkan kepala, mencoba menepis fantasi akan kebutuhan seksualnya yang kini berada di ubun-ubun. Berupaya keras menjauhkan pemikiran itu, meski dia tahu sesuatu di balik celananya bahkan menggeliat hanya karena memandangi Amara.


"Amara," kata Bian, tak sadar suaranya begitu berat dan parau.


Amara terlonjak terkejut mendengar suara Bian, lalu menoleh dan mendapati Bian berdiri di ambang pintu.


"Ngapain kamu ke sini?" pekik Amara, kesal sekaligus malu hingga pipinya memerah. "Aku nggak pake celana!"


"Tapi udah terlanjur keliatan, Ra," kata Bian dengan seringai nakal.


"Keluar!" Amara menggeram dengan gigi bergemeretak sambil menarik handuk untuk mengeringkan Biandra yang sudah selesai dia mandikan.


"Nggak," kata Bian sambil melangkah mendekat. "Kamu kenapa pagi-pagi nggak pake celana? Sengaja mau goda aku, ya?"


"Goda apaan?" Amara menyurut mundur ketika Bian semakin mendekat, sementara matanya memancarkan gairah penuh minat. "Orang kamu ngumpetin semua bajuku!"


"Tau gitu aku umpetin dari dulu kalau hasilnya bisa liat kamu seseksi ini," kata Bian yang kemudian mengerucutkan bibir membentuk sebuah ciuman. Tak peduli hal itu membuat Amara memelototinya dengan sadis.


"Kamu ke sana, ih!" Amara mengalihkan tatapannya dari pandangan Bian, dia menunduk dan mencoba mengeringkan tubuh Biandra dengan sebelah tangannya. "Aku malu tau nggak pake celana!"


"Ngapain harus malu?" goda Bian sambil menaikkan sebelah alis. "Sama suami sendiri, yang udah tau bentukan kamu kayak gimana, yang tau kalau kamu lagi telanjang kayak apa. Masih bilang malu?"


"Kita udah mau cerei!" Amara mendongak dengan sikap menantang.


Bian meninggikan bahu dengan enteng. "Kalau aku bilang nggak mau cerei, kamu bisa apa?"

__ADS_1


__ADS_2