
Sudah hampir satu jam Bian berada di bawah bersama Bahtiar dan Tiara. Hal itu tentu saja menambah daftar panjang kejengkelan yang bercokol dalam hati Amara.
Bohong jika Amara tidak terbakar cemburu dan curiga mendengar mantan kekasih suaminya itu ada di sana. Namun, Amara mempertimbangkan banyak alasan untuk turun dan bergabung di sana.
Ketika mendengar karyawannya mengatakan alasan kedatangan Bahtiar dan Tiara adalah untuk menukar mobil dengan motor yang semalam dipakai Bian, dia berpikir mereka tidak akan lama berada di kafenya.
Namun, dia juga sadar bahwa mereka akan membahas pekerjaan. Sejak bersama Bian, Amara bahkan jarang ikut campur atau merecoki saat sang suami mengurus pekerjaannya.
Jadi, itu alasan pertama Amara kenapa tetap memilih di lantai atas bersama Alif dan Biandra. Selain itu, Amara tak mungkin meninggalkan Biandra dan Alif tanpa pemantauan, juga tak mungkin membawa Biandra ke bawah karena tak ingin anaknya terpapar asap rokok.
Ditambah lagi, Amara terlalu malas berganti pakaian yang saat ini dikenakan. Sangat mustahil bagi Amara untuk turun dengan hanya mengenakan celana jeans putih satu jengkal dan t-shirt hijau ketat yang memperlihatkan setiap lekuk tubuh.
Amara memang kerap berpenampilan seksi saat di rumah, tetapi bukan berarti dia senang jika pria lain memerhatikan dadanya yang montok atau pahanya yang mulus.
Penampilan seperti itu hanya dia persembahkan untuk Bian, agar suaminya tak melirik paha mulus yang bertebaran di luar sana.
Walau bagaimana pun, dia tahu betul seperti apa isi otak para pria jelalatan.
Sebagai seorang istri dan wanita yang pernah disakiti, tentu saja Amara tak akan rela jika sampai Bian lebih suka melihat dan menikmati kemolekan tubuh wanita lain daripada dirinya.
Lagi pula, setelah menjadi istri Bian, setelah pria itu mencukupi kebutuhannya untuk merawat tubuh dan wajah, Amara cukup yakin bahwa dia tak buruk-buruk amat untuk pantas bersanding dengan pria itu.
Untuk kesekian kalinya Amara melirik jam dinding dan menyadari sebentar lagi waktunya makan siang. Meski mereka memiliki kafe, tetapi dia tahu betul suaminya lebih menyukai makanan yang dia masak alih-alih makanan yang dimasak oleh koki cafe.
"Kak, temenin Bunda masak di dapur, yuk?" kata Amara pada Alif sambil mengangkat Biandra yang tengkurap di karpet tebal. "Bawain mainan adeknya, Kak."
"Bunda mau masak apa?" tanya Alif saat mengambil beberapa mainan milik Biandra dan membuntuti Amara ke dapur berukuran kecil.
Sambil menarik kursi tinggi dan mendudukkan Biandra, Amara memikirkan apa yang akan dia masak hari ini. Selama menjadi istri Bian, bukan hal sulit bagi Amara untuk menebak bahwa suaminya itu lebih menyukai makanan kering daripada yang berkuah.
Pedas adalah makanan yang sangat dihindari Bian, dan udang goreng tempura adalah makanan favorit suaminya.
Sedangkan Amara sendiri, dia terlahir dari keluarga susah, dan Amara sadar diri akan sangat sombong jika dia terlalu pemilih dalam urusan makanan. Jadi, tak heran jika Amara menjelma sebagai seorang wanita omnivora— dia memakan segalanya, asalkan makanan itu pedas.
Namun, perbedaan selera makan yang bertolak belakang dengan suaminya dan juga Alif itu terkadang membuat dia sendiri repot.
Untuk menyiasatinya, Amara hanya perlu menyetok setoples besar sambal goreng dan menyimpan di kulkas, lalu menghangatkan sesuai kebutuhan jika dia akan makan.
Saat membuka lemari es dan melihat stok bahan makanan, dia menahan napas ketika tercium aroma amis ikan basah dari freezer yang membuatnya sedikit mual.
"Kak, makan ayam goreng lagi buat kamu bosen nggak?" tanya Amara pada Alif.
Alif tersenyum senang. "Nggak ada bosennya kalau sama ayam goreng, Bunda," kata Alif dengan ceria. "Tapi ayah kan udah nggak mau makan ayam, Bun."
Amara mendesah pelan karena apa yang dikatakan Alif memang benar, Bian bahkan bergidik ngeri ketika Amara hampir setiap hari memasak ayam goreng untuk Alif. Lalu, dia kembali memindai isi kulkas: cumi basah, ikan kembung, daging sapi, telur, udang.
Akhirnya Amara mengeluarkan udang dan ayam dari freezer sambil berkata, "Masak ayam buat kamu aja, si ayah nanti dimasakin udang tempura."
"Yang krenyes-krenyes itu bukan, Bun?" tanya Alif sambil menepuk-nepuk tangan menghibur Biandra. "Alif juga suka."
"Ah, kamu mah apa aja yang dimasak Bunda pasti suka," ujar Amara dengan suara sengau karena menutup hidung agar tak muntah mencium aroma udang.
"Abisnya masakan Bunda enak," kata Alif ketika Amara berjalan menuju wastafel untuk membersihkan bahan makanan.
Terakhir kali Amara memasak udang adalah tiga minggu lalu, dan dia masih bereaksi normal terhadap amis aroma ikan basah. Namun, saat ini, entah mengapa Amara begitu tak tahan mencium aroma udang itu hingga berkali-kali mual.
"Bunda sakit bukan?" tanya Alif ketika bundanya selesai mencuci udang dan muntah-muntah di wastafel.
__ADS_1
"Nggak," sahut Amara singkat sambil menarik lembaran tisu dan menyaikan mulutnya.
Namun, cairan asam dan pahit yang merambat di tenggorokan membuat dia bergidik hingga bulu kuduknya meremang. Akan tetapi, hal itu tak membuat Amara menghentikan kegiatan untuk memasak— meski kini punggungnya berkeringat dingin.
Tiga puluh menit kemudian akhirnya Amara selesai menyajikan dua menu makanan dengan keringat bercucuran di wajah dan punggungnya.
Sambil mencuci peralatan bekas memasak, Amara berkata pada Alif, "Panggil Ayah, Kak. Bilangin udah waktunya makan siang."
"Tapi ntar ade nangis kalau ditinggalin, Bunda," kata Alif dengan polosnya.
"Nggak apa-apa, Kak. Kan Bunda udah selesai masaknya. Kalau dia nangis juga tinggal digendong doang," sahut Amara sambil membilas wajan di bawah kucuran air. "Ayo panggilin dulu si ayahnya, ntar makanannya keburu dingin nggak enak, Kak."
Alif mengangguk dan bergegas turun ke kafe. Sambil menunggu Alif, dia mengambil tiga piring dari rak gantung dan meletakkan di atas meja bersama hidangan yang sudah disajikan.
Tak lama kemudian, Alif kembali dan berkata, "Bun, kata ayah kita makan duluan aja. Ayah masih belum beres soalnya."
Laporan itu berhasil membuat tenggorokan Amara merasa tersumbat sesuatu. Jika sebelumnya Amara gemetaran karena kelaparan setelah memuntahkan banyak cairan, kini nafsu makannya bahkan seketika menguap begitu saja mendengar apa yang dikatakan Alif.
Amara menghela napas dalam-dalam, mencoba tak melampiaskan kekesalannya pada Alif ataupun Biandra.
Sambil mengangkat Biandra dari kursi tinggi khusus bayi, Amara berkata dengan suara rendah, "Kakak makan duluan aja, nanti abis itu sholat dzuhur terus jagain Biandra lagi kalau Bunda sholat."
Alif mengangguk mengerti dan segera menyendok nasi ke atas piring. "Bunda makannya kapan? Kata ayah kan kita duluan aja."
"Ntar nunggu ayah kamu beres aja."
Setelah mengatakan itu Amara langsung beranjak pergi dan masuk ke ruang kerja Bian. Meski dia tak berniat menguntit suaminya, tetapi bukan berarti dia tak bisa melihat pergerakan pria itu.
Sambil menggendong Biandra di atas pangkuan, Amara duduk di kursi kulit dan menyalakan laptop di atas meja, lalu mengakses CCTV untuk melihat apa yang sedang dilakukan suaminya.
Setidaknya, Amara lega ketika melihat Bian duduk sendiri sementara temannya itu duduk berdampingan dengan wanita yang pastinya adalah Tiara— meski Amara hanya bisa melihat mereka dari arah belakang dan tak bisa melihat seperti apa wajah wanita itu.
Tepat pukul dua siang, Bian baru naik dan langsung masuk ke kamar saat tak menemukan anak istrinya di ruangan.
Melihat suaminya baru kembali sementara Amara melewatkan makan siang, tak heran jika sekarang wanita itu mengabaikan Bian meski suaminya turut bergabung duduk di karpet bersama Alif dan Biandra.
Amara berbaring dan membiarkan Biandra merayap di atas perut, menjambak rambut dan memainkan wajah Amara— tak peduli meski sekujur tubuhnya terasa ngilu dan lemas.
"Yah, si Bunda masa dari tadi muntah-muntah terus," kata Alif yang langsung melapor ketika ayahnya duduk di samping Amara.
Dari awal Bian masuk dia memang sudah melihat wajah Amara semakin piyas. Untuk itulah Bian langsung meraih Biandra dari istrinya. Namun, reaksi pertama yang didapat oleh Bian adalah mata Amara mendelik kesal dan menangkis tangan Bian saat mencoba mengambil Biandra.
"Urusin aja sana temen sama mantan kamu," desis Amara, suaranya terdengar pelan karena giginya terkatup rapat.
Bukan saja hanya karena menahan kesal pada Bian, tetapi menahan sakit di kepala yang berdenyut-denyut semakin intens hingga dia tak berani bangun.
Khawatir akan jatuh bersama Biandra jika dia terus menggendongnya, dan untuk itulah dia memilih terus berbaring selepas masak dan sholat.
Karena tak berhasil mengambil Biandra, akhirnya Bian menggendong Amara hingga wanita itu refleks memeluk Biandra di perutnya dengan erat.
"Pelan-pelan, sakit tau," keluh Amara yang akhirnya menangis saat Bian membaringkan di tempat tidur dengan hati-hati.
Meski Bian kesal karena sejak pagi berselisih, tetapi jika sudah melihat Amara kesakitan hingga menangis tak berdaya, pada akhirnya Bian pun melunak dan berupaya memeluk istrinya.
"Maafin," bisik Bian sambil menciumi pipi Amara. "Aku nggak enak kalau ninggalin mereka. Udah jauh-jauh dateng buat bahas kerjaan, nggak mungkin aku tinggalin gitu aja. Jangan marah."
Amara menelan ludah ketika Bian menyeka air mata di pipinya dan menurunkan Biandra di sampingnya.
__ADS_1
"Yaudah kamu makan dulu sana," kata Amara akhirnya.
"Aku udah makan di bawah sekalian sama—"
"Kok bisa sih kamu malah makan di bawah?" Akhirnya Amara tak bisa membendung kekesalan dan melempar Bian dengan bantal. "Aku bela-belain masak dan nunggu makan bareng. Kamu malah—"
"Sayang, tadi aku udah bilang kalian makan duluan aja, aku belum ..." Bian berhenti sejenak ketika melihat tangisan Amara tak terbendung. "Kamu belum makan? Yaudah ayo aku temenin makan—"
"Nggak usah!" Amara menangkis tangan Bian keras-keras. "Udah ilang nafsu makan aku!"
Bian mengembuskan napas berat, sadar bahwa dia melakukan kesalahan karena mereka terbiasa makan bersama.
Namun, mendengar Alif yang mengadukan Amara muntah-muntah, tentu saja Bian tak mungkin membiarkan Amara tak makan meski wanita itu mengatakan sudah tak lagi berselera makan.
Bian mencondongkan punggung dan menahan tangan Amara agar tak berontak, lalu membujuk dengan lembut, "Makan, ya? Mau aku yang masakin? Mau makan apa kamu, Sayang?"
Amara memeperkan air mata dan ingus di lengan baju Bian ketika sadar perutnya yang keroncongan tak bisa berbohong.
"Bikinin rujak tomat yang pedes," kata Amara akhirnya dengan suara merajuk.
"Makanan apaan itu, Ra?" Bian memberengut suram dan berpikir keras seperti apa gambaran makanan yang disebutkan istrinya. "Jangan minta yang aneh-aneh—"
"Tuhkan .... kan kamu mah nggak sayang aku emang," kata Amara kesal. "Udah sana deh turun aja lagi urusin temen sama mantan kamu."
Bian menahan tawa tercekik, sadar betul bahwa istrinya tengah merajuk dan terbakar cemburu. Namun, dia tak ingin membuat Amara semakin murka.
"Kayak gimana bikinnya?" tanya Bian akhirnya. "Aku belum pernah liat makanan yang kamu sebutin itu."
"Ngakunya aja koki dari hotel bintang lima," Amara mendengkus sebal. "Tapi rujak tomat aja nggak tau!"
"Mana aja rujak tomat pedes di hotel?" Bian tak bisa menahan tawa. "Adanya jus tomat sama sambel tomat. Mau dibikinin jus?"
"Nggak! Bikinin rujak tomat super pedes. Masa bikin kayak gitu aja nggak bisa? Cuma tomat diiris-iris doang pakai cabe rawit terus kasih gula sama garem dikit—"
"Ra, eh ... tetep aja aku nggak tau kayak gimana rasanya, gimana bentuknya." Bian menggaruk-garuk alis yang tak gatal. "Bikin makanan yang lain aja, ya, Sayang?"
"Nggak mau! Itu rasa rujak tomat pedes udah ada di ujung lidah." Amara bersikeras dan berbalik memunggungi Bian dengan kesal. "Minta aja ke si Eka suruh bikinin di dapur kafe kalau kamu nggak bisa."
Bian tertawa kecil dan memeluk pinggang Amara. "Berarti nggak pakai nasi, ya? Itu bukan makan namanya, Sayang."
"Aku maunya itu, kamu ngerti nggak sih?"
Untuk menghindari pertengkaran, Bian memutuskan keluar kamar dan segera turun menghampiri Eka di meja kasir.
Sama seperti hari-hari libur sebelumnya di jam seperti itu, kafe mereka dipenuhi banyak pengunjung yang terjebak macet. Jadi, tak heran jika Eka pun cukup sibuk dengan pekerjaannya.
Namun, tetap saja Bian masuk ke belakang meja kasir dan menunggu Eka menyelesaikan pembayaran bill terakhir.
"Ka, tolong bikinin rujak tomat pedes buat si Teteh, bisa nggak?" tanya Bian hingga membuat Eka tercengang.
"Rujak tomat pedes?" Eka balik bertanya dengan heran. "Bisa sih. Tapi ini kasir gimana?"
"Yaudah tolong bikinin dulu, biar aku yang di sini," kata Bian sambil mengedikkan kepala.
Eka mengangguk paham, tetapi ketika dia akan keluar dari meja kasir, tiba-tiba Eka menatap Bian dengan terkejut dan berseru, "Si Teteh lagi hamil, A ... eh, Pak?"
"Hamil?" Bian lebih terkejut mendengar apa yang ditanyakan adik iparnya. "Hamil gimana maksud kamu?"
__ADS_1
"Itu, rujak tomat pedes ... waktu hamil si Biandra hampir tiap hari tuh si Teteh makanin kayak gituan, sampai aku dan ibu bosen ngeliatnya."