Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 26


__ADS_3

"Kamu minta dicium, Ra?"


Itu bukan sebuah pertanyaan atau ucapan meminta persetujuan yang dilontarkan Bian pada Amara. Karena di detik berikutnya, pria itu menundukkan dan menempelkan bibirnya pada bibir Amara.


Awalnya, Bian hanya ingin mengecup singkat bibir Amara. Namun, dia merasakan bibir Amara yang selembut dan semanis madu, otomatis lidah Bian bergerak mengetuk-ngetuk bibir Amara, meminta wanita itu memberikan akses agar dia bisa menjelajahi bibir Amara lebih banyak lagi.


Namun, yang terjadi bukan ciuman panjang yang didapatkan Bian dari sang istri. Amara yang sejak tadi bersiap memakai pashmina, di tangannya sudah tersedia peniti kecil yang siap disematkan pada pashminanya.


Ketika mendapati Bian yang tiba-tiba mencium sambil memeluk pinggangnya dengan kencang, tentu saja Amara terkejut bukan main. Dia tak tahu di mana harus meletakkan kedua tangannya, terutama ketika Bian tiba-tiba mendesak hingga punggung Amara membentur dinding.


Amara berupaya berpegangan dan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Namun, dia lupa dengan keberadaan peniti terbuka yang berada di tangannya. Tanpa sengaja, mata jarum tersebut menusuk leher Bian dan membuat pria itu mengerang dan melepas pagutannya.


"Kamu apa-apaan sih, Yank?" Bian melepas pelukannya dan meraba-raba leher, lalu menyadari keberadaan peniti menancap di leher kanannya.


"Aduh … maaf. Aku nggak sengaja." Amara terbelalak hingga tubuhnya sedikit tegang. "Atuh salah sendiri kamunya tiba-tiba kenapa nyosor kayak gitu."


Bian memberingis ketika menarik lepas peniti tersebut, lalu Amara refleks berjinjit dan melihat leher pria itu berdarah.


"Maafin." Suara Amara terdengar kaku meski diwarnai penyesalan, lalu menyambar beberapa lembar tisu dan menggapai leher Bian yang sudah melepas peniti tersebut. "Lehernya berdarah … sakit nggak?"


"Sakit banget." Bian tersenyum menyadari kepanikan Amara saat memperhatikannya.


Tanpa sadar, ada desir kehangatan yang mulai menyelimuti palung hati Bian, terutama ketika Amara meniup-niup sambil menyeka tetesan darah di lehernya, yang sebenarnya bukan masalah besar bagi Bian.


"Obatin," bisik Bian sambil melingkarkan kedua tangan di pinggang Amara dengan sikap sedikit manja.


"Ini lagi diobatin," sahut Amara yang tak menyadari bahwa Bian tengah mencari kesempatan dan perhatian istrinya. "Tapi lukanya kecil banget, seujung jarum doang. Nggak keliatan malah. Udah nggak berdarah juga."


"Tapi masih sakit, Yank." Bian masih tak berniat melepaskan pelukannya pada Amara.


"Mau pake plester?"


"Cium aja. Ntar juga sembuh."


Barulah saat itu Amara menyadari bahwa Bian tengah mengerjainya. Jadi, spontan Amara menepuk dada Bian dan mendorong pria itu sambil menggerutu kesal, "Tau gitu aku tusukin aja sklian jarumnya."


"Jahat amat sih sama suami sendiri, Ra?" Bian terkekeh geli sambil mencoba menarik tangan Amara lagi, tetapi wanita itu berupaya menghindar untuk menekuni memakai pashmina di depan cermin. "Ntar kalau suaminya kepincut cewek lain, baru kerasa gimana —"


"Faktanya, kamu emang berpotensi nyakitin aku terus." Amara tersenyum pahit, kemudian menyambar tas selempang hitam dan menyampirkan di bahunya.


"Ra, aku cuma bercanda." Suara Bian sedikit kaku ketika menyusul Amara yang melangkah keluar dari kamar.


Amara memilih tak menggubris ucapan Bian. Bahkan, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, wanita itu memilih untuk tetap membisu. Sesekali Bian meraih tangan Amara, meremas jemarinya di sela-sela dia menekuni memanuver persneling mobil.


Namun, tetap saja Amara tak mengindahkan pertanyaan Bian, ketika wanita itu mencoba mengajak dia berbicara untuk memecah keheningan.


Akhirnya Bian memilih untuk memutar lagu, turut bersenandung ketika alunan 'Yang Tersendiri' karya Iwan Fals mengiringi perjalanan mereka.


Meski Amara tak ingin memedulikan Bian, tetapi tetap saja dia mencuri-curi pandang ketika pria itu bersenandung sambil mengemudi dengan tenang.


Amara tahu, tempat pertama kali ketika mereka bertemu adalah Cozy Karaoke. Namun, dia tak pernah mendengar suaranya Bian ketika bernyanyi ternyata juga merdu. Bariton beratnya terdengar berirama senada dengan setiap lirik dan bait dari lagu yang terdengar.

__ADS_1


Seharusnya, Amara sudah bisa menduga bahwa suara Bian memang merdu. Terbukti ketika pria itu mengimami shalat dan melantunkan surat-surat pendek yang dibaca. Kemudian, hati Amara menghangat saat dia kembali mengingat momen-momen tersebut.


Gagasan-gagasan itu membuat Amara menoleh dan memandangi Bian. Siluet wajah pria itu tampak lebih tampan ketika sedang serius mengemudi. Setiap lekukan pada garis tegas rahangnya, hidungnya yang mancung, dan dia suka ketika merasakan janggut berusia dua hari itu menggesek kulit saat Bian menciumnya.


Meski tatapan Bian tertuju ke depan, tetapi tentu saja dia menyadari bahwa Amara yang duduk di kursi samping kemudi sedang memandanginya. Bahkan, jika Bian tak salah menangkap ekspresi samar wanita itu, Amara tampak menyunggingkan senyum kecil.


Awalnya, Bian tak ingin membuyarkan pikiran Amara, khawatir wanita itu akan malu karena tertangkap basah saat memandanginya. Namun, karena Bian juga sadar Amara nyaris tak berkedip selama beberapa menit, akhirnya Bian tak bisa untuk tidak membuka mulut.


"Terpesona sama ketampanan suamimu, Sayang?" tanya Bian dengan penuh percaya diri.


Amara tentu saja terkejut mendengar suara Bian yang tiba-tiba bertanya seperti itu, sementara tatapan Bian masih tertuju ke depan, dan tak sedikit pun melirik ke arahnya.


"Pede banget jadi orang!" Amara mendengkus sambil memalingkan wajahnya dari memandangi Bian, lalu menatap ke samping jendela dengan menahan hawa panas yang tiba-tiba merayapi pipinya.


Bian hanya mengatupkan bibir menahan senyum, dan tak ingin menggoda Amara karena tahu wanita itu sedang tak bisa diajak bercanda. Jadi, keduanya kembali membisu hingga satu jam kemudian mereka tiba di rumah sakit.


Amara tak tahu kapan Bian mengambil nomor antrian dan mendaftarkan namanya ke dokter spesialis kejiwaan yang memang menjadi tujuan mereka siang itu. Dia beruntung karena mendapat nomor antrian ke dua, dan berpikir dirinya tak akan menghabiskan waktu lebih banyak di rumah sakit.


Namun, dugaan Amara keliru. Dia ingat betul bahwa pasien dengan nomor urut pertama memasuki ruang konsultasi pada jam sepuluh lewat dua puluh menit. Faktanya, hingga waktu menunjukkan hampir pukul dua belas kurang lima menit, pasien itu masih belum keluar dari ruang konsultasi.


Rasa cemas kembali merayapi palung hati Amara saat memikirkan Biandra yang bisa saja menangis karena terlalu lama ditinggalkan.


Bian yang menyadari kegelisahan Amara langsung meraih tangan wanita itu, meletakkan di atas paha Bian sambil meremas jemarinya. Lalu dia menyadari telapak tangan Amara basah oleh keringat dingin.


Jadi, Bian merangkul bahu Amara dengan sebelah tangannya, menarik wanita itu agar bersandar di dadanya.


Posisi mereka yang duduk di ruang tunggu tentu saja membuat Amara kaku. Mana mungkin dia mau terlihat terlalu mesra di depan khalayak umum? Akhirnya Amara menolak rangkulan Bian dan menegakkan tubuh, menarik napas berkali-kali dan berupaya tenang.


Amara menggeleng cepat, tetapi dia tak menarik jemarinya dari genggaman Bian. Dia sedikit malu untuk mengakui, bahwa gagasan Bian untuk berangkat pukul sebelas seharusnya dia turuti. Mungkin dia tak akan merasa bosan dan terlalu mengkhawatirkan Biandra karena terlalu lama.


"Terus kenapa?" tanya Bian lagi dengan lembut. "Jangan gugup, Sayang. Tenang sedikit."


"Biandra nangis nggak, ya?" Untuk kesekian kalinya Amara menyatakan apa yang menjadi kekhawatirannya. "Masih lama nggak sih orang di dalem itu? Kok nggak keluar-keluar udah mau dua jam gini? Apa dokternya ngurung—"


"Sayang, jangan mikir macem-macem coba," tukas Bian sambil mengelus punggung tangan Amara dengan ibu jarinya. "Tadi kan kamu udah liat kakakku kirim foto kalau Bian anteng banget ditemenin Alif yang baru pulang sekolah."


"Itu kan dua puluh menit lalu," keluh Amara murung. "Gimana kalau sekarang dia nangis? Perasaan aku nggak enak, aku takut dia—"


"Hey, jangan gitu mikirnya atuh," potong Bian lagi dengan tak berdaya. "Mau telpon kakakku dan mastiin apa Biandra nangis atau nggak?"


Amara terdiam sejenak, tampak menimbang-nimbang. Lalu dia mengangguk ragu, dan Bian segera menghubungi Mirna. Awalnya, Amara ingin berbicara dengan kakak Bian, menanyakan langsung kabar putrinya, atau hanya untuk mendengar apa ada suara tangisan Biandra dari seberang panggilan.


Namun, saat mengingat bagaimana sikapnya pada kakak Bian minggu lalu, Amara cukup malu dan tak tahu harus apa yang harus dikatakan jika dia berbicara langsung dengan Mirna.


Jadi, Amara hanya mendengar Bian yang menyampaikan kekhawatiran Amara tentang Biandra. Lalu, pria itu juga tampak berbicara dengan Alif, tersenyum sambil bertanya apa yang diinginkan anak lelakinya itu ketika Bian menjemput Biandra nanti.


Setelah melihat Bian mengakhiri panggilan, Amara buru-buru bertanya dengan tak sabaran, "Gimana, Biandra nangis nggak?"


"Nggak, Sayang," kata Bian sambil menyimpulkan senyum kecil dan tak berdaya, menyadari Amara kembali dirundung kecemasan yang berlebihan. "Anak kita baik-baik aja, Alif seneng banget ada adeknya di sana. Dari minggu lalu dia pengen banget gendong adeknya. Sekarang baru kesampean karena Biandra ada—"


"Anak kamu gendong Biandra?" tukas Amara dengan nada sedikit tinggi. "Kok bisa sih kakak kamu ngebiarin anak kecil gendong Biandra? Gimana kalau dia jatoh? Gimana kalau—"

__ADS_1


"Ra, kakakku juga tau atuh gimana dia harus ngejaga Biandra," Bian menjelaskan dengan hati-hati. "Nggak yang kamu pikirkan juga. Si Alif gendong Biandra juga posisinya sambil duduk, dialasin bantal juga. Nggak bener-bener gendong kayak yang kamu bayangin. Jangan terlalu panik, ya? Biandra aman sama kakakku."


Amara menggigit bibir erat-erat, terasa sulit untuk mempercayai bahwa putrinya sungguh baik-baik saja, meski dia sendiri pun tak bisa berbuat apa pun jika Biandra memang menangis— terutama karena jarak mereka yang saat ini berjauhan.


Ketika sayup-sayup terdengar adzan dzuhur berkumandang, Bian akhirnya berkata, "Kamu masih nifas, aku ke mushola dulu, ya?"


Amara memberengut suram. "Jauh nggak? Ntar gimana kalau aku dipanggil sama dokter?"


"Deket kantin yang barusan kamu jajan jasuke," kata Bian sambil beranjak dari tempat duduk. "Lagian dokternya juga pasti istirahat dulu. Atau, kamu mau makan siang, apa beli cemilan lagi?"


Amara mempertimbangkan tawaran Bian. Hingga saat ini, dia tak merasa lapar, terutama ketika pemikirannya terus tertuju pada Biandra. Akan tetapi, dia juga tak ingin duduk sendirian sementara Bian pergi menunaikan shalat.


"Ikut kamu, aku nunggu di kantin," gumam Amara sambil berdiri dan menyampirkan tas di bahunya. Ketika Bian meraih tangan Amara untuk menuntunnya, wanita itu menambahkan, "Kamu mau aku pesenin makan nggak? Dari tadi aku terus yang jajan, kamu cuma minum doang."


"Liat kamu mau jajan dan banyak ngemil aja aku udah kenyang," kata Bian sambil menggandeng tangan Amara dan berjalan menuju kantin dari ruang tunggu.


"Eh, kamu mah, emang aku menjijikkan, ya … sampe-sampe kamu nggak nafsu makan?"


Bian mengernyit, sadar bahwa Amara salah mengasumsikan ucapannya. Pada akhirnya, Bian mengembuskan napas panjang, mengerti bahwa dia butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi sikap Amara yang tak stabil dan sensitif.


"Aku nggak ada bilang kalau aku nggak nafsu makan, Istriku tercinta," kata Bian dengan lembut, mereka berbelok memasuki lorong yang dihimpit dinding kokoh bercat putih bersih menuju kantin. "Maksudku, liat kamu mau makan sesuatu aja aku udah seneng. Udah berapa hari ini kamu susah makan, bahkan nggak mau ngemil. Aku cuma takut kamu sakit. Makanya aku udah seneng banget liat kamu mau ngemil kayak dulu lagi."


"Oh," gumam Amara singkat. "Tapi kamu juga belum makan. Kita makan bareng aja kalau kamu udah selesai sholat, ya? Sekarang aku mau makan. Tadi aku liat ada soto mie. Kayaknya enak kalau makan pedes …"


"Jangan makan dulu pedes kamunya," tukas Bian mengingatkan dengan alis saling bertautan. "Jarang makan, sekalinya mau makan malah yang pedes-pedes. Jangan dulu—"


"Tapi kan kepalaku pusing, kayaknya enak kalau—"


"Sayang, yang nurut kalau dibilangin. Jangan bikin aku cemas, oke?"


"Cuma makan pedes masa bikin cemas?"


"Kalau kamunya sakit gara-gara makan pedes, akunya ikut sakit, Ra," kata Bian tak berdaya. "Nggak tega kalau harus liat kamu uring-uringan karena sakit perut."


Lalu Amara terdiam ketika mereka tiba di kantin. Kemudian Bian membimbing istrinya menuju salah satu meja dengan dua kursi besi. "Bubur sumsum aja, ya?"


Amara memberingis ngeri. Makanan manis bukan pilihan cocok untuk mengurangi rasa pusing yang melanda kepalanya.


"Burger aja." Amara menunjuk counter makanan cepat saji.


"Jangan pake saus cabe—"


"Cuma saus doang nggak bakalan bikin sakit," tukas Amara murung. "Masa makan ini gaboleh itu gaboleh?"


"Bukan nggak boleh sebenarnya," Bian mencoba bernegosiasi seperti dia membujuk Alif. "Tapi cuma jangan pake pedes doang."


"Iya, iya, ya … Pak bos diktator!" Amara menggeram jengkel. "Kamu mau apa?"


"Makan kamu," kata Bian sambil tersenyum kecil.


"Mimpi!"

__ADS_1


__ADS_2