
Setelah menunaikan shalat subuh pukul lima lalu, Amara memilih untuk kembali bergelung sambil memeluk Biandra di tempat tidur— tak peduli meski saat ini waktu sudah hampir pukul delapan pagi.
Bukan karena putrinya masih sedikit rewel semenjak imunisasi tiga hari lalu, tetapi saat ini dia merasa seluruh tubuhnya begitu remuk.
Bahkan, Amara curiga seluruh otot dan tulang-tulangnya menjadi tak berfungsi, hingga seolah rasanya sulit untuk digerakkan.
Bukan, bukan terjadi sesuatu hal buruk pada Amara. Namun, Amara tahu benar penyebab dirinya merasa begitu lemas pagi ini.
Semua itu pasti dampak dari perbuatan Bian yang menyerangnya lagi dengan ganas saat menjelang subuh.
Ketika mendengar pintu kamar dibuka, Amara menatap tajam pada pelaku penyerangan yang membuat dia tak berdaya seperti ini.
Bian berjalan masuk membawa nampan berisi makanan yang dia buat sejak tiga puluh menit lalu. "Kelamaan, ya, bikin sarapannya? Udah laper?" Tanpa menutup pintu di belakangnya, Bian melangkah ke samping tempat tidur.
Dia menggeserkan botol susu kotor di atas nakas, kotak tisu, ponsel, minyak telon— dan segala ***** bengek yang tadi belum dia rapikan. Lalu, meletakkan nampan tersebut sementara dia duduk di samping Amara.
"Kasian Istriku sampe nggak punya tenaga buat ngomong," kata Bian tanpa dosa, lalu meraih tangan Amara agar wanita itu duduk— tak peduli meski ekspresi wanita itu tampak begitu jengkel melihatnya.
"Dasar binatang buas!" desis Amara sambil menangkis tangan Bian.
Bian hanya terkikik geli, menggoda Amara. Bahkan, dia sengaja mencondongkan tubuh dan membenamkan wajah ke bahu Amara.
"Puas nggak?" bisik Bian sambil menciumi leher Amara.
Amara tak menjawab, dia memilih untuk mendorong bahu Bian dan segera meraih segelas lemon tea hangat di atas nampan.
Namun, dia sedikit meringis nyeri ketika menggerakkan pahanya. Mengingat bagaimana permainan Bian di ronde ketiga yang cukup agresif, Amara semakin jengkel karena hal itu membuat miliknya terasa kebas dan tebal.
"Masih sakit?" Bian mengambil gelas di tangan Amara, khawatir tehnya akan tumpah ketika tangan wanita itu tampak sedikit gemetaran. "Maafin, ya?"
"Gara-gara kamu yang nggak ada puas-puasnya!" gerutu Amara. Jika saja tadi subuh dia tak mengeluh kesakitan di area intimnya, mungkin Bian belum mau berhenti menggaulinya. Padahal, semalam mereka sudah dua kali bercinta sebelum Bian tidur. "Dasar maniak!"
Bian tergelak tawa sambil mengacak-acak rambut Amara. "Salah sendiri kenapa desahannya nafsuin. Udah aku bilang kamu paling cantik kalau lagi *******. Jadi, bukan salahku kalau pengen liat istriku cantik terus."
__ADS_1
"Alesan aja terus." Amara menggertakkan gigi, jengkel mendengar Bian selalu bisa mengelak.
Ketika Bian mendekatkan gelas ke bibir Amara agar meminum tehnya, Amara memberengut murung seraya berkata, "Tiupin dulu tehnya, panas banget."
"Suapin pake sendok aja, ya?" Bian mencondongkan tubuh dan meraih sendok bersih di atas nampan. Lalu kembali menegakan tubuh dan menyuapi teh pada istrinya.
Bian mengamati manik mata Amara bergerak cemas, dan hal itu tentu saja membuat Bian khawatir. "Tadi itu beneran berdarah?" tanya Bian cemas. "Pergi ke dokter kandungan, ya? Takutnya luka, biar diperiksa—"
"Nggak usah," tukas Amara sambil mengibaskan tangan. "Barusan aku cek lagi, kayaknya flek. Mungkin darah sisa nifas kali masih keluar ... mm, nggak tau mau haid. Kan belum ketauan kapan haidku normal."
Bian meletakkan gelas setelah Amara meminum beberapa sendok tehnya. Lalu meraih piring berisi telur rebus, brokoli dan dada ayam yang juga hanya direbus. Bahkan, Bian sudah memisahkan antara kuning dan putih telur— mengingat wanita itu tak begitu menyukai kuning telur.
Sebelum menyuapi makanan tersebut, Bian menyibak anak rambut di wajah Amara dan menyelipkan di belakang telinga. Lalu mengangkat dagu wanita itu untuk mengamati sorot matanya.
"Beneran nggak mau ke dokter?" tanya Bian, memastikan dengan nada cemas. Ketika Amara menggelengkan kepala, Bian mendaratkan kecupan singkat di bibir istrinya dan bergumam, "Jangan bikin aku khawatir."
"Makanya kamu jangan keseringan mintanya. Masa cuma jeda sehari udah hampir enam kali main," keluh Amara murung. "Perih tau kalau mainnya kelamaan."
Sekali lagi Bian mengecup bibir Amara. "Iya, nggak lagi banyak-banyak. Sekali aja ... Tapi tiap hari."
"Kan tadi aku bilang kalau aku udah chat Mirna, Sayang," kata Bian lembut sambil melanjutkan menyuapi Amara.
"Siapa tau kan kakak kamu lupa." Amara tersenyum kaku. "Semalem Dika bilang kakak kamu lagi diapelin pacarnya, siapa tau kan pacarnya sekarang masih—"
"Nggak!" tukas Bian serius. "Semalem aku nyuruh Dika nginep di sana, enak aja udah tua masih mikir mau nikah—"
"Eh, jangan gitu sama perempuan," timpal Amara. "Kakak kamu juga kan butuh suami, butuh yang nafkahin? Lagian dia belum tua-tua banget 'kan? Beda setaun dua taun doang sama 'kamu?"
"Masalahnya, dia itu punya tiga anak tiga bapak yang berbeda, Ra." Bian mengembuskan napas gusar. "Masalah nafkah udah aku ambil alih semua, makanya waktu dia minta bukain warnet sama rental PS biar dijaga sama anak pertamanya, aku setuju. Biaya sekolah mereka, kebutuhan harian sama bulanan udah aku cukupin. Masa nikah tiga kali nggak puas—"
"Tapi kan semuanya meninggal?" Amara menatap Bian dengan serius. "Gimana kebutuhan biologisnya kalau nggak punya suami? Kamu tau kan ada hal-hal yang nggak bisa didapet dari keluarga?"
"Iya, iya ... aku tau. Tapi kamu kan nggak mikir juga gimana nanti kalau Alif udah ngerti dan tau aku bukan bapak kandungnya, terus dia milih tinggal sama Mirna, punya bapak tiri ... mending kalau bapak tirinya lebih baik dariku, kalau lebih parah gimana? Kamu ngerti nggak sih kalau aku cuma nggak mau si Alif kedepannya punya beban mental yang—"
__ADS_1
"Dia nggak akan kenapa-kenapa, Om," tukas Amara sambil memegang tangan Bian, meyakinkan. "Sependek yang aku perhatikan dari cara kamu nyayangin si kakak, aku yakin kok dia nggak akan salah pergaulan seperti yang kamu cemasin. Ke depannya, andai dia tau kamu bukan bapaknya, pemberontakan kecil pasti bakalan ada, down udah pasti terjadi. Aku emang nggak di posisi kamu, tapi aku ngerasain gimana rasanya jadi Alif. Jadi, menurutku ..."
Bian mengamati Amara dengan serius, menanti kalimat yang akan bergulir selanjutnya dari bibir wanita itu. Tak peduli seberapa muda istrinya, Bian tak pernah menolak untuk mendengarkan gagasan Amara.
"Mungkin kamu nggak seharusnya khawatirin Alif bakal salah pergaulan," lanjut Amara setelah beberapa saat. "Pada dasarnya semua orang tua nggak bisa terus ngintai anaknya tiap detik, kok. Dan menurutku, yang paling penting sekarang bukan itu, tapi balik lagi ke kamunya. Kan bukan pasti Alif doang yang terluka, tapi kamunya juga ...."
Amara menatap sorot mata Bian, mencoba berbicara dari sudut pemahamannya.
"Ibuku pernah nangis seharian waktu ngasih tau kalau aku cuma anak tirinya. Dan kalau ada orang yang bilang cuma orang tua kandung aja yang punya kasih sayang besar sama anaknya, aku sama sekali nggak setuju. Nyatanya, Ibu tiriku ngebesarin aku dengan penuh kasih sayang, kok. Dia orang pertama yang terluka saat aku ditindas. Jadi, aku yakin bener kalau Alif pasti ke depannya nggak akan mau liat kamu terluka, dan bakal ngejaga sikapnya. Percaya sama aku, ya?"
Bian tak berkomentar, tetapi benaknya menguar momen pertama kali Bian datang ke rumah Amara. Dia ingat betul bagaimana sikap Amara sewaktu menangis bersimpuh meminta ampunan ibunya, dan itu gara-gara Bian yang tak bisa menjaga mulut.
Jika saja Bian tidak tahu bahwa beliau hanya ibu tiri Amara, dia tak akan pernah percaya bahwa ada hubungan ibu dan anak tiri yang kasih sayangnya terlihat sama-sama besar, sebagai mana layaknya orang yang memiliki hubungan darah.
Bian menghela napas dalam-dalam. Mencoba mencerna penguraian Amara. Tak peduli istrinya jauh lebih muda, tetapi Bian sadar bahwa ada pengalaman hidup Amara yang membuat wanita itu terkadang bisa berpikir jauh lebih dewasa.
Benar apa yang dikatakan orang. Pengalaman adalah guru terbaik— bagi yang bisa mengambil pelajaran di dalamnya. Dan Bian akan berusaha mempelajari pengalaman Amara untuk menghadapi Alif di masa depan.
"Makasih, Ra," kata Bian lembut, dan sewaktu dia melihat rona merah menghiasi pipi Amara, Bian mendekatkan bibirnya untuk mengecup dahi Amara. "Untungnya aku ketemu kamu, dan keuntungan itu kerasa lebih besar karena kamu adalah istriku, milikku ... milikku—"
"Apaan sih kamu lebay lebay gitu." Amara tertawa sambil mencubit perut Bian. Dia memang suka saat suaminya bersikap romantis, tetapi tidak dalam keadaan seperti ini. "Buruan lanjutin suapinnya, aku lapar."
"Dasar manja," gumam Bian sambil tersenyum, tetapi tentu saja Bian tak keberatan memanjakan istrinya.
Walau bagaimana pun, Bian sadar Amara terlihat lebih manis saat bersikap seperti anak kecil alih-alih wanita itu marah seperti biasanya.
Amara menoleh ke atas meja sewaktu mendengar ponsel bergetar, lalu mengernyit saat melihat nama penjaga villa muncul di layar ponsel Bian.
Dia mengamati Bian menjawab panggilan, tetapi tak berbicara— hanya mengangkat alis terheran dan langsung mengakhiri panggilan.
"Ada apa?" tanya Amara ketika melihat Bian terburu-buru meletakkan piring di atas meja.
"Mau buka pintu," kata Bian cemas. "Si Alif pulang sendirian. Kayaknya kabur dari sekolahan—"
__ADS_1
"Kok bisa sih?"