Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 66


__ADS_3

"Bun, kalau Papa nggak ada, Bunda bakalan mukulin kakak nggak?"


Amara langsung terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Alif yang dilontarkan sewaktu makan malam bersama.


Sejak Alif pulang tadi pagi, Amara memang melihat Alif lebih banyak diam dibandingkan sebelum anak itu menginap di rumah Yuanita.


Bahkan, kebiasaan Alif yang selalu bernyanyi dengan riang di kamar mandi mendadak hilang. Yang lebih mengherankan, Amara sempat mendapati Alif tampak murung sewaktu berkumpul bersama Biandra dan Bian tadi sore.


Awalnya, Amara tak mencurigai gelagat Alif yang agak menghindari waktu berdua bersamanya. Tadi pagi, sewaktu dia membuatkan nasi goreng untuk sarapan, Alif bahkan memilih untuk segera naik dan bergabung dengan Bian.


Padahal, biasanya Alif selalu ingin tahu apa yang Amara masak untuknya. Saat itu, Amara hanya berpikir mungkin Alif memang terlalu merindukan Biandra seperti yang anak itu katakan. Namun, seiring berputarnya waktu, Amara sadar bahwa Alif memang benar-benar menghindari Amara.


Sekarang, mendapati pertanyaan Alif yang diucapkan di depan Bian, tentu saja Amara semakin yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi pada anak itu.


"Ya enggaklah," Akhirnya Amara berhasil menjawab setelah batuknya mereda.


"Kalau kakak-nya bandel pas Papa nggak ada, Bunda mau mukulin—"


"Kak, kenapa nanya kayak gitu ke si Bunda?" Pada akhirnya Bian pun berkomentar saat melihat ekspresi wajah Amara sedikit tak senang. "Emang Bunda pernah galakin kamu? Kan enggak, Kak."


Amara mengedip-ngedipkan mata pada Bian sewaktu melihat Alif menunduk murung dan kembali menyuapkan makanannya.


"Kak, dari tadi Kakak ngehindarin Bunda karena takut dipukul, ya?" tanya Amara lembut sambil mengusap punggung Alif yang sedikit merosot. "Ada atau nggak ada Papa kamu, di depan atau di belakang Papa kamu. Kalaupun Bunda marah karena kamu bandel, Bunda pasti nggak mungkin mukul kamu, Sayang."


Alif menoleh dan melihat ke arah Amara dengan ragu-ragu. "Beneran, Bun? Janji nggak akan mukulin?"


Amaral mengamati ekspresi Alif dengan seksama. Sekilas, ada rasa takut yang terpancar dari sorot mata sayu Alif.


Amara pernah merasakan ketakutan seperti yang terlihat pada akun sekarang. Terutama saat kakak lelakinya memukuli Amara hanya karena masalah-masalah sepele.


Amara meletakkan sendok di atas piring dan mengusap kepala Alif yang duduk di sampingnya. Mana mungkin dia sampai hati melayangkan tangan pada anak kecil, terutama anak itu adalah seorang yatim.


Ketika Amara baru saja membuka mulut, Bian tiba-tiba berkata dengan tenang, "Si Bunda nggak galak, Kak. Kalau Bunda udah bilang nggak akan mukul kamu, itu artinya nggak akan, Kak. Percaya 'kan kalau Papa nggak pernah bohong sama kamu?"

__ADS_1


Rasa panas merayapi pipi Amara mendengar bagaimana Bian mengatakan hal tersebut sambil tersenyum pada Amara. Di antara semua orang, sebenarnya Amara luar biasa kasar pada Bian.


Bahkan, pria itulah satu-satunya yang sebegitu sering menerima amukan Amara. Namun, bagaimana mungkin Bian bisa sebegitu yakin saat mengatakan pada Alif bahwa dirinya baik?


Amara melirik Bian dengan ekor matanya, lalu menyinggungkan senyum lembut sambil mencicit pelan, "Makasih, Om."


"Bunda, kenapa sih manggilnya 'om'?" tanya Alif yang dengan mudah mengubah topik pembicaraan, dan tak heran jika nada bicaranya mengandung rasa penasaran. "Kenapa nggak manggil Papa atau Ayah?"


Ketika Bian tersedak tawa mendengar pertanyaan Alif, Amara justru tersenyum kaku saat menyahut, "Kan dia bukan papa atau ayahnya Bunda."


"Tapi dulu mama manggilnya papa, bukan Om kayak Bunda gitu manggilnya."


Bian tak tahan untuk tidak tertawa melihat Amara bersemu merah. Terlihat jelas bahwa istrinya itu tampak tak bisa menjawab pertanyaan Alif. Padahal, bukan satu atau dua kali Bian mengingatkan Amara agar berhenti memanggilnya dengan sebutan 'Om'.


"Si Bunda cuma masih belum terbiasa, Kak," kata Bian akhirnya, tahu bahwa istrinya tak memiliki alasan untuk menjawab. "Kelamaan juga manggilnya sama kayak Biandra— ayah."


"Berarti cuma Kakak doang yang manggil dengan sebutan Papa?" tanya Alif murung. Sedikit tak senang karena hanya dia yang dibedakan.


Bian menangkap kesedihan yang terpancar dari mata Alif. Dia berhenti makan dan meneguk air minum, lalu kembali menanggapi anak lelakinya.


Alif terdiam sejenak, tampak berpikir keras. Dia menyuapkan lagi sesendok makanan ke dalam mulut dan menoleh pada Amara dengan tatapan ragu.


Setelah beberapa saat, akhirnya Alif kembali memandang Bian dan menjelaskan dengan bingung, "Temen-temen di sekolahan Kakak pada manggil orang tuanya beda-beda. Ada yang manggil mama papa, mami papi, ayah bunda, bapak ibu, tapi nggak ada yang manggil papa sama bunda. Kalau kakak manggil bunda sama sebutan mama, nanti takutnya ketuker. Jadi, boleh nggak manggilnya 'ayah' aja?"


Awalnya Amara tak ingin menanggapi Alif. Bagi Amara, bagaimana pun Alif memanggil Bian, tetap saja tak ada bedanya— lelaki itu tetaplah orang tua bagi Alif.


Namun, ketika anak itu menyebut-nyebut mamanya, ada rasa panas yang tiba-tiba mencuat dalam hati Amara. Bohong jika tak terbersit rasa cemburu saat membayangkan seperti apa kemesraan Bian dengan mantan istrinya.


Sekarang, saat mendengar Alif lebih memilih untuk memanggil Bian dengan sebutan ayah tanpa desakan dari siapa pun, tentu saja Amara sedikit terhibur.


"Boleh banget dong, Kak. Biar nanti samaan sama adek kamu," Amara berseru dengan antusias.


Munafik jika Amara tak ingin membuat Alif atau pun Bian benar-benar membuka lembaran baru bersamanya. Dan harus Amara akui, ketika mendengar Alif memanggil Bian dengan sebutan papa, terkadang Amara memang sedikit kesal dan cemburu.

__ADS_1


Dia tak tahu kenapa hatinya selalu mendidih jika itu menyangkut masa lalu Bian. Sebenarnya, dia sadar, masa lalu adalah hal yang tak mungkin terlupakan.


Namun, tetap saja Amara tak bisa meredam kecemburuannya. Walau bagaimana pun, sekarang dialah istri Bian, dia wanita yang menjalani rumah tangga dengan pria itu.


Terkadang Amara berpikir dirinya terlalu kekanak-kanakan, tetapi dia juga berpikir wajar saja jika dia pun berkeinginan untuk memiliki keluarga utuh tanpa bayang-bayang masa lalu, tak perduli meski ada Alif bersamanya.


Selepas makan malam, Amara menghabiskan waktu berdua bersama Alif. Menemani anak itu belajar, terutama karena Alif hari ini tak masuk sekolah. Namun, mengingat minggu ini Alif sedang ulangan, mau tak mau Bian menghubungi guru Alif dan meminta salinan jadwal pelajaran Alif yang terlewat.


Jadi, Amara dengan sabar mengajari Alif pelajaran bahasa Indonesia. Beruntungnya Alif masih duduk di kelas satu SD, sehingga pelajaran tersebut tak membuat Amara kesulitan— mengingat dia pun hanya bersekolah hingga lulus SD. Setidaknya, dia tak begitu bodoh dalam urusan membaca dan menyimak.


Selepas mengajari Alif hingga menemani anak itu tidur, Amara kembali ke kamar bersama Biandra dan menunggu Bian.


Namun, hingga waktu menunjukkan hampir pukul dua belas malam, Bian masih tak kunjung naik. Jadi, Amara memutuskan untuk turun dan melihat apa yang sedang dilakukan suaminya.


Seperti biasa, Bian selalu berada di teras villa ketika membahas pekerjaan dengan Dika. Namun, Dika sudah pulang sejak pukul sepuluh, dan sewaktu dia berjalan ke luar, Bian menoleh ke arah Amara dengan alis terangkat.


"Mau ngapain ke sini?" tanya Bian sambil mematikan rokok ke dalam asbak. "Udah malem, kenapa belum tidur?"


Amara mengernyit tak senang, tatapi dia menyambut uluran tangan Bian yang memintanya duduk di pangkuan pria itu.


"Justru kamu yang kenapa belum tidur?" sahut Amara sambil bergelayut manja di leher Bian. "Udah jam dua belas masih di luar. Kenapa?"


Bian mendaratkan kecupan di pipi Amara setelah mengamati wajah istrinya yang tampak sedikit cemberut.


"Ada apa?" bisik Bian ketika tangannya melingkari pinggang Amara. "Ada yang mau dibicarain?"


"Masalah Alif," kata Amara ragu.


"Kenapa dia? Kamu marah karena obrolan di meja makan tadi?" Bian dengan mudah menerka.


"Nggak, cuma ada cemburu. Tapi udah nggak lagi," Amara mengakui. "Itu, kamu sadar nggak sih si Alif waktu nanya aku bakalan mukul dia apa nggak, itu anak kayak—"


"Iya, aku tau," tukas Bian pelan. "Si Yuanita ngomong yang nggak-nggak kayaknya ke si Alif, sebelumnya si Alif mana pernah kayak gitu ke kamu. Iya kan?"

__ADS_1


Amara terdiam sejenak. "Terus kamu mau gimana nanggepinnya kalau Yuanita bawa Alif diem-diem?"


__ADS_2