
Amara tak keberatan ketika Bian mengatakan bahwa dirinya memakai uang kafe untuk meminjamkan pada Bahtiar. Meskipun Bian mengatakan bahwa kafe tersebut milik Amara, tetapi tentu saja mereka adalah pasangan suami istri.
Lagi pula, Amara berpikir dia tak akan kekurangan sesuatu apa pun lagi jika Bian terus bersamanya. Berulang kali Amara mengatakan bahwa dia tak butuh apa pun, kecuali Bian dan anak-anak mereka.
Sejak pembicaraan Bian dan Bahtiar malam itu, Amara tak pernah mendapati Tiara datang ke kafenya bersama Bahtiar seperti sebelumnya.
Di satu sisi, tentu saja dia senang karena tak ada hal yang membuatnya cemburu lagi pada masa lalu Bian. Namun, di sisi lain, Amara sedikit heran karena mengetahui bahwa Tiara juga berinvestasi di hotel yang sama dengan Bian dan Bahtiar.
Hingga di satu waktu dia pernah menanyakan mengapa Tiara tak pernah turut datang untuk membahas pekerjaan mereka, barulah saat itu Bian memberitahu bahwa Tiara menyerahkan urusan investasinya pada Bian dan Bahtiar.
Demi alasan bijak, Bahtiar memutuskan untuk tetap menjaga Tiara dan Tifany dari kejauhan— tanpa harus menciptakan kegelisahan pada rumah tangga Bian dan Amara.
Bagi Amara, itu adalah kabar baik yang pernah dia dengar— mengingat dirinya tak perlu lagi merasa curiga atau pun cemburu jika Bian pergi ke hotel bersama Bahtiar.
Walau bagaimanapun, bohong jika Amara tak merasa cemburu pada masa lalu Bian— yang digadang-gadang sebagai cinta pertama yang terlalu melekat di hati pria itu.
Semenjak malam itu, dia benar-benar bersyukur karena tak ada masalah berarti yang menghampiri mereka.
Riak-riak kecil memang terkadang sesekali hinggap, tetapi dia dan Bian tak pernah membiarkan masalah kecil itu berlarut atau memperbesar masalah sepele. Semua selalu mereka selesaikan dengan berbicara.
Lagi pula, baik Amara atau pun Bian, mereka sadar betul bahwa ada hal yang lebih penting yang harus mereka persiapkan.
Seiring berlalunya waktu dan kehamilan Amara bertambah besar, semakin besar pula perhatian dan cinta kasih yang dia dapatkan dari suaminya.
Hal itu juga berlaku sebaliknya Amara pada Bian. Dari awal, dia memang bertujuan untuk menjadikan dirinya sebagai satu-satunya wanita yang ada di hati Bian.
Hanya saja, Amara tak menduga bahwa Bian akan kecanduan oleh perhatiannya— yang terkadang berlebihan. Bahkan, pada akhirnya Amara sendiri yang lelah karena sikap Bian yang tak kalah manja dari Alif dan Biandra.
Seperti yang terjadi hari ini setelah Amara selesai mandi sore, Bian yang baru masuk kamar mandi kembali melongokkan kepala dan memanggil Amara.
"Apaan lagi sih?" gerutu Amara sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
__ADS_1
"Bantu ilangin ini," ujar Bian sambil menunjuk janggut dan kumisnya yang sudah lima hari tak bercukur.
Amara terdiam sejenak, kali ini suaminya benar-benar manja keterlaluan.
"Biasanya juga kamu cukur janggut sama kumis sendirian," kata Amara akhirnya. "Nggak usah ngada-ngada deh, si Biandra takut bangun—"
"Bangun apaan? Orang dia baru aja aku tidurin," tukas Bian sedikit memaksa. "Nggak nyampe lima belas menit juga kali cukur janggutku. Mau, ya?"
Melihat Bian menyeringai lebar dengan sedikit manja, akhirnya Amara mengangguk. "Yaudah kamu bawa kursinya ke kamar mandi."
"Oke." Bian mengambil kursi lipat dan membawa ke kamar mandi, lalu dia duduk di depan cermin sementara Amara berdiri di antara dua kakinya.
"Ini piso cukurnya tajem banget lho, Ay," kata Amara setelah beberapa saat. "Nggak takut kalau nanti pipi kamu aku bikin lecet?"
"Mau dibikin lecet atau diiris-iris, asal pelakunya kamu, nggak apa-apa kayaknya." Bian menyeringai dan mengulurkan tangan di pinggang Amara, lalu menunduk untuk dengan lembut mendaratkan kecupan di perutnya yang semakin membuncit.
"Kamu makin hari makin manja kayak anak kecil, ya?" Amara terkekeh samar ketika Bian berlama-lama menciumi perutnya dari balik handuk kimono.
"Ya kali kamu nggak mau ngalah sama anak-anak" Amara tersipu-sipu sambil menjauhkan tubuh dari Bian, lalu mengambil botol shaving foam dan menuangkan ke telapak tangan.
Ketika Amara mengulas foam tersebut di wajah Bian, tangan pria itu rasanya terlalu rugi jika tidak menyentuh Amara.
"Bisa diem nggak tangannya?" tegur Amara sambil meraih pisau cukur dan mengarahkan ke dagu Bian. "Kalau aku gagal konsentrasi, nanti wajah kamu yang ganteng ini bisa lecet."
"Iya, aku diem," kata Bian dan untuk terakhir kalinya meremas bumper belakang Amara dengan gemas. "Tapi abis dicukur aku nggak mau diem lagi."
Bian menelan ludah dan menjaga wajahnya agar seserius mungkin. Sentuhan jemari Amara seolah membelai wajahnya dengan lembut.
Amara berdiri di antara kedua kaki Bian, dan jarak mereka begitu intim.
Sialnya, gairah Bian selalu mudah bereaksi ketika sedang berdekatan dengan sang istri. Padahal, tadi malam mereka baru saja melakukannya. Mana mungkin dia kembali meminta jatah dari istrinya? Terutama Amara baru saja selesai mandi, bahkan rambut wanita itu jelas masih basah.
__ADS_1
Amara tampaknya tak menyadari bagaimana gairah Bian dengan cepat bereaksi, tetapi ketika Bian tiba-tiba mengulurkan tangannya lagi dan memegang pinggang Amara, saat itulah dia kembali menatap manik mata Bian.
"Ay, nggak usah macem-macem," tegur Amara ketika kegiatan mencukurnya hampir selesai. Dia menyeka dagu Bian dengan tisu basah, membersihkan bulu-bulu halus yang masih menempel. "Aku baru beres mandi."
"Kangen," kata Bian serak. "Aku mandiin entar."
"Tetep aja aku kedinginan—"
"Pake air anget," tukas Bian nakal.
Dan ketika Amara selesai mencukur, Bian tak melepaskan istrinya begitu saja. Dia turut berdiri dan memeluk Amara dari belakang saat wanita itu mencuci tangan di wastafel
Tanpa harus melihat ke cermin besar di atas wastafel, Amara bisa merasakan bibir Bian bergerak nakal di tengkuknya. Tangan pria itu menyusup ke dalam handuk kimono yang dia pakai, dan tanpa bisa dihentikan, Bian menarik lepas tali kimono yang melingkari perutnya.
"Ay, ih—"
"Sepuluh menit," kata Bian sambil mengelus paha Amara dengan gerakan sensual, sementara sebelah tangannya lagi menahan perut Amara yang membuncit.
Bagi Bian, semakin besar perut Amara, tubuh wanita itu terlihat semakin seksi dan bercahaya. Tak heran jika dia tak pernah bosan untuk memberi Amara siksaan yang pelan dan nikmat.
Pada akhirnya, Amara tak bisa lagi menolak ketika Bian melucuti handuk kimononya, sementara pria itu masih mengenakan handuk yang hanya menutupi pinggangnya.
Percuma Amara menolak ketika dia tahu dirinya pun mudah terbakar gairah, terutama saat Bian menciumi punggungnya dengan sentuhan-sentuhan memabukkan.
Baik Bian atau pun Amara, mereka berdua tahu bahwa semakin sering mereka bercinta, kian besar pula cinta yang tumbuh di antara mereka.
Tak heran jika pada akhirnya Amara menunjukkan pada Bian keuntungan memiliki seorang istri yang mudah terbakar gairah.
___
TAMAT
__ADS_1