Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 41


__ADS_3

"Masa cuma ketemu silaturahmi doang istri kamu bakal bunuh kamu sih? Kecuali restu dari almarhum orang tuaku yang nggak pernah kita dapet, selebihnya kita berhubungan baik 'kan, Bi?"


"Tiara, posisinya udah berubah," Bian menjelaskan dengan lembut, dan dia berusaha menghindari tatapan Tiara. Tatapan yang nyatanya tak berubah, masih membuatnya luluh.


"Seperti yang kamu bilang, semua udah berubah. Udah nggak kayak dulu lagi," lanjut Bian sambil meninggikan bahu.


"Tapi keluarga kamu juga pasti seneng ketemu aku," ujar Tiara dengan sedikit menurunkan suaranya. "Nyatanya, Dika masih Wellcome ... kakak-kakak kamu juga nggak mungkin mutusin silaturahmi. Atau, jangan bilang kamu tipikal suami takut istri, Bi?"


Bian tak menjawab, dia justru tertawa terkekeh-kekeh sambil menggelengkan kepala.


"Bi, aku tau bener gimana sifat kamu, kamu pada dasarnya selalu—"


"Aku bukan tipe suami yang takut istri, kamu tau benar aku nggak suka sama cewek yang ngendaliin aku," Bian akhirnya menukas, meski dia sendiri bingung mengapa dirinya pernah begitu bertekuk lutut oleh Yunita. "Aku menghargai istriku. Itu sebabnya, aku nggak mau nyari masalah kalau nggak diduluin."


Hening sejenak, hanya terdengar deru mesin mobil Bian yang sejak tadi belum dimatikan.


"Aku pulang, kamu—"


"Bi, aku masih butuh bicara sama kamu. Bentar lagi, please ... please .... Lima belas menit, ngobrol di gazebo sambil ngopi, ya?" bujuk Tiara dengan sorot penuh harap, yang faktanya membuat Bian tampak menimbang-nimbang untuk menerima tawaran Tiara. "Kamu masih suka kopi dengan takaran gula sedikit 'kan? Aku bikinin, ya ... Atau, apa mau aku bikinin roti telur?"


"Tiara ..." Bian mengembuskan napas berat, lalu kembali membalas tatapan memelas Tiara. Mata kucingnya tampak berkaca-kaca di bawah naungan langit pekat menjelang subuh.


Tak bisa dia pungkiri, dari semua orang, mungkin memang Tiara yang paling tahu apa yang dia sukai dan tidak disukai.

__ADS_1


Tak heran jika Tiara pernah menjadi sosok wanita yang benar-benar sulit dilupakan, sebelum dia mengenal Amara dan memiliki Biandra.


Mungkin sorot mata Tiara jua yang menjadi alasan Bian kenapa tak ingin menemui sang mantan, mengingat Bian tahu apa hal-hal yang selalu membuatnya tak berdaya.


Sejujurnya, Bian benci sisi lain dalam dirinya yang selalu melunak oleh pancaran memelas dari wanita yang Bian ketahui memiliki perasaan terhadapnya.


Namun, konyol jika dia harus luluh oleh pancaran mata Tiara yang tampak rapuh, setelah kini dirinya memiliki anak dan istri.


Bian menghela napas dalam-dalam, memutuskan bahwa dia harus segera menghindari Tiara detik itu juga. Di saat yang bersamaan, ponsel di sakunya berdering.


Lalu, kemudian dia merogoh ponsel tersebut dan mendapati alarm sekaligus reminder bertuliskan: 'Selesai atau nggak masalahnya, harus pulang jam lima pagi. Jangan lupa sholat subuh— Bundanya Biandra.'


Tanpa menyadari keberadaan Tiara yang masih berdiri di samping pintu mobil, Bian menggulirkan senyum simpul, senang atas perhatian kecil yang dilakukan sang istri ketika dia akan berangkat.


"Kamu apa-apaan sih?" Bian tak bisa untuk tidak terkejut mendapati Tiara sebegitu berani dan tak sopan, hal yang tak pernah dilakukan Tiara sejak dulu. Lalu, dia menyadari Tiara menggigit bibir, sementara tangannya gemetaran.


Jadi, mau tak mau Bian turun dari mobil untuk meraih ponsel dalam genggaman sang mantan.


"Aku bilang bentar, aku masih kangen. Aku merindukan kita, Bi. Please ... bentar—"


"Tiara, jangan kayak gini. Siniin hapenya," Bian berupaya membujuk dengan lembut, sadar bahwa sulit berargumentasi dengan nada tinggi pada wanita itu.


Tiara menelan ludah dengan susah payah saat memberikan ponsel tersebut pada Bian. Namun, ketika pria itu akan meraih ponselnya, Tiara tiba-tiba memeluk pinggang Bian hingga sekujur tubuh pria itu langsung membeku.

__ADS_1


"Butuh waktu sebelas tahun buat bisa ngeliat kamu lagi, ngobrol sama kamu lagi ..." Tiara kembali terisak pilu sambil memeluk Bian. "Kamu mungkin nggak pernah tau kalau aku bener-bener menderita selama itu. Setelah mama papa gugurin kandunganku, seterusnya kondisi tubuhku sering sakit-sakitan. Dulu, waktu aku keguguran anak kita yang pertama dan kedua, kamu ngerawat aku, kamu nemenin aku ... Kamu ..."


Tiara tak bisa menahan tangisnya yang semakin meluap. Jadi, ucapannya tersendat-sendat saat melanjutkan, "... tapi yang ketiga itu kandunganku dipaksa gugur, rasanya jauh lebih sakit. Kamu nggak tau gimana rasanya harus dipaksa tidur sama suami yang jelas-jelas nggak cinta dan aku cintai, yang tetep nidurin aku walaupun aku sakit, yang bersikeras nuntut anak dan nggak peduli kalau kondisi kandunganku lemah—"


"Tiara—"


"Dan yang nggak kamu tau, Fabian, aku dipaksa hamil lagi nggak lama setelah ngelahirin... dia nggak puas karena aku lahirin anak perempuan," pungkas Tiara getir.


Meski Bian gagal berupaya menukas ucapan Tiara, tetapi tangannya perlahan mencoba mengambil ponsel dari genggaman Tiara yang melingkar erat di pinggangnya. Setelah ponsel tersebut berpindah tangan, Bian melemparnya ke jendela mobil, khawatir Tiara akan berbuat hal yang lebih nekat.


Tiara meremas punggung Bian dari balik kemeja hitam yang melekat di tubuh pria itu. Dia merasakan tubuh Bian tegang, tetapi Tiara masih tak rela melepas pria itu.


"Aku udah nyoba nerima semua garis hidupku yang diatur orang tuaku," lanjut Tiara dalam isakannya. "Tapi aku gagal waktu aku tau kalau pernikahan yang aku dapetin bukan perjodohan, tapi aku dijual. Papa kelilit utang, perusahaannya nggak selamat, dan itu cara dia bayar utang sama suamiku."


Untuk sepersekian detik, Bian hampir tak bisa bernapas saat mengetahui fakta yang dialami wanita itu. Wanita yang hanya kepadanyalah dulu Bian pernah melabuhkan hati. Wanita yang hanya bersamanyalah Bian pernah merajut mimpi tentang kebahagiaan.


Kendati demikian, meski ribuan kenangan masa lalu kini menghantam benak Bian, menyibak luka lama yang menjadi bibit awal Bian keluar dari kehidupan normalnya, tetap saja Bian berusaha keras untuk tidak membalas pelukan Tiara.


"Aku berkali-kali nyoba lari saat aku udah nggak kuat hidup sama dia," lanjut Tiara meski dia merasakan tubuh Bian semakin tegang. "Tapi aku gagal lagi. Nggak ada yang bantu aku untuk bisa bebas dari situasi itu. Kamu nggak merjuangin—"


"Tiara, kapan aku pernah 'nggak' merjuangin kamu? Pernah nggak merjuangin kita?" tukas Bian akhirnya. "Waktu kamu hamil yang ketiga kali, apa kamu lupa kalau kita lagi nekat buat pergi ke Batam? Kita terlalu keras maksain kehendak kita, sampe akhirnya kita yang sama-sama terluka. Aku bukan nggak pernah merjuangin kita, kamu tau benar itu, Tiara. Bahkan—"


Bian terdiam sejenak, hatinya nyeri ketika semua bayangan-bayangan menyakitkan itu kembali berkeliaran dalam otaknya.

__ADS_1


"Bahkan apa?" Tiara mendongak dengan air mata bercucuran, sementara tangannya masih saja memeluk Bian erat-erat, seolah hanya dengan cara itu dia bisa berkomunikasi dengan Bian.


__ADS_2