Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 65


__ADS_3

Amara tergemap sewaktu Bian membukakan pintu depan dan mendapati Alif bercucuran keringat.


Beberapa menit lalu Amara memang memilih berleha-leha di tempat tidur sementara Bian menyuapinya sarapan, tetapi sewaktu mendengar Alif pulang seorang diri, tentu saja dia tak bisa berdiam diri lagi dan ikut bersama Bian ke lantai bawah.


Memang, bukan hal aneh melihat anak kecil berjalan sendiri. Bahkan, Amara dan ketiga adiknya pun selalu pulang dan pergi sekolah seorang diri.


Namun, Alif masih kelas satu SD, dan yang membuat dia khawatir adalah jauhnya jarak dari sekolah ke villa. Jika Bian yang mengendarai motor saja butuh waktu selama hampir dua puluh menit ke sekolahan, lalu seberapa lama Alif berjalan dari sekolah ke villa?


Tak heran jika wajah anak itu begitu merah seperti orang yang lari sejauh kiloan meter di bawah teriknya sengatan matahari. Seragam merah putih yang dikenakan Alif basah oleh keringat— tak peduli meski cuaca pagi itu cukup segar.


Berbeda dengan Amara yang diliputi kekhawatiran saat menggiring Alif masuk, Bian bersikap sedemikian tenang— meski Amara mengetahui bahwa suaminya itu tak kalah khawatir dibandingkan dirinya.


Selayaknya kekhawatiran orang tua pada anaknya, Bian dan Amara tentu saja melayangkan segelintir pertanyaan pada anak itu.


Sambil melucuti sepatu dan kaus kaki Alif yang kini duduk di sofa, Amara dan Bian mendengarkan penuturan Alif yang diuraikan dalam narasi panjang.


"Jadi, Kakak berangkat dari rumah mama, bukan dari sekolahan?" tanya Amara setelah mendengar uraian Alif. "Ya Allah, Kak, itu jaraknya jauh banget, Sayang. Kok Kakak bisa-bisanya sih nekat pulang bahkan sebelum mama kamu bangun?"


"Abisnya Kakak kangen sama Biandra," kata Alif, napasnya kini tak begitu tersendat-sendat seperti pertama kali tiba. "Lagian kalau nunggu mama bangun sampe dianterin ke sekolah, kata mama nanti aja pulangnya. Padahal Kakak 'kan pengen ketemu Biandra."


Alif jelas tak mungkin mengadu yang sesungguhnya, bahwa dia terlalu takut apa yang diucapkan mamanya setiap hari akan terbukti benar adanya.


Memang, Alif baru dua malam menginap di kediaman mamanya. Namun, semenjak mendengar ucapan Yuanita yang mengatakan bahwa Bian dan Amara akan membuangnya di kemudian hari, sejak itu pula dia menunggu siapa pun untuk menjemputnya pulang. Seolah-olah ingin meyakinkan diri bahwa mamanya berbohong, mereka tidak mungkin membuang Alif begitu saja.


Sayangnya, tak ada satu pun yang datang. Papanya tak kunjung datang, Ibu kandungnya bahkan tak muncul. Hal itu berhasil membuat Alif semakin takut bahwa mereka benar-benar tak peduli padanya, hingga membiarkan dia bersama Yuanita.


Tak peduli meski Alif disuguhi kebebasan di rumah mamanya, tetapi bukan itu yang Alif inginkan.


Selama satu bulan dia tinggal bersama Bian, Amara, dan Biandra, semenjak itu juga Alif tahu bahwa keluarganya sekarang berbeda.

__ADS_1


Bahkan, perbedaan itu terlalu kentara dan membuat Alif lebih nyaman. Terutama karena papanya hampir setiap hari berada di rumah, berbeda seperti ketika Bian masih bersama Yuanita.


Bian tak banyak berkomentar, bukan berarti dia tidak peduli. Amara mengamati Bian yang beranjak dari tempat duduk untuk mengambil minum bagi Alif.


Terlihat jelas raut wajah Bian tak sedap dipandang, kesal sekaligus marah pada Yuanita yang jelas tak pernah berubah.


Sudah bisa Bian bayangkan seperti apa Alif di bawah asuhan Yuanita. Tak terurus, tidur larut malam dengan kepulan asap rokok, dan dia tak ingin membayangkan hal lebih buruk pagi yang mungkin didapatkan Alif.


Namun, tentu saja Bian tak mengungkapkan hal tersebut pada Amara. Bahkan, sebisa mungkin dia mencoba mengendalikan diri untuk tidak meluapkan kekecewaan karena Amara yang waktu itu menahannya pergi menjemput Alif.


Walau bagaimana pun, Bian tak mungkin menyesalkan yang terjadi hari itu. Dia hanya berusaha agar Amara tak berpikir bahwa dirinya tidak memprioritaskan Amara yang saat itu tertekan oleh ancaman Yuanita.


Lagi pula, yang terpenting sekarang adalah Alif sudah berada bersamanya— meski sebenarnya ada rasa sakit ketika membayangkan anak itu berjalan sejak pukul enam pagi.


Bukan berarti Bian terlalu berlebihan saat membandingkan banyak anak yang jauh kurang beruntung dibanding Alif. Namun, ada ironis tersendiri saat mengingat betapa dirinya bergelimang harta, memiliki banyak kendaraan, bahkan bisa menyuruh orang untuk menjemput Alif— tetapi anak itu justru terlunta-lunta seorang diri.


"Sarapan dulu, Kak," kata Bian ketika kembali dari dapur membawa air minum untuk Alif, setelah anak itu meneguk habis segalas air putih, Bian menambahkan, "Mau sarapan apa?"


"Aku aja yang bikinin sarapan buat Alif, Om," kata Amara sambil mengulurkan tangan pada Alif dan mengajaknya ke dapur. "Kamu telpon kakak kamu dulu aja sekalian jagain Biandra di atas. Takutnya kakak kamu keburu berangkat ke sekolah buat jemput Alif 'kan?"


Bian mengangguk dan membiarkan Amara berdua dengan Alif. Lalu, kemudian dia bergegas ke kamar untuk menghubungi Mirna dan memberitahukan tentang Alif yang sudah pulang seorang diri.


Jauh dari Bian yang mencoba menelan kejengkelannya pada Yuanita, Mirna yang baru saja bersiap pergi ke sekolah pun akhirnya dibuat marah setelah mendengar penjelasan Bian.


Terlepas dari sikapnya yang tak begitu banyak berinteraksi dengan Alif, tetapi tetap saja dia tersulut emosi jika pada akhirnya Alif hanya ditelantarkan oleh Yuanita.


Sejak dulu, Mirna memang tak begitu menyukai Yuanita. Namun, lagi-lagi dia menghormati Bian yang memutuskan untuk mengizinkan Alif dan Yuanita bertemu demi kebaikan anak itu.


Sekarang setelah melihat bagaimana kedekatan Alif dan Amara, mengetahui rumah tangga adiknya terlihat jauh lebih bahagia dibandingkan saat bersama Yuanita, rasanya Mirna tak bisa tinggal diam lagi jika Yuanita masih saja mengganggu mereka.

__ADS_1


Jadi, tanpa banyak pertimbangan, Mirna langsung menghubungi Yuanita dan menumpahkan kekesalannya sewaktu panggilan langsung terhubung.


"Kenapa, Teh? Tumben pagi-pagi nelpon?" Suara Yuanita dari seberang panggilan terdengar masih mengantuk.


Hal itu membuat kejengkelan Mirna semakin berlipat, menyadari sepertinya Yuanita bahkan tak tahu bahwa Alif pergi.


"Pagi-pagi dari mana? Udah mau jam sembilan ini," kata Mirna sambil meremas ponsel dengan erat. "Pantesan aja anak saya pulang sendirian. Ternyata gini kelakuan kamu? Kalau sekiranya nggak niat mau ketemu dan urus Alif, mending nggak usah dateng dan jemput-jemput dia lagi deh, Ti. Udah cukup saya—"


"Maksudnya apaan ini pagi-pagi nelpon sambil marah-marah kayak gini? Pulang sendirian apaan maksudnya?"


"Nah, bener berati kamu nggak tau anak saya pulang sendirian!" Mirna meninggikan intonasi suaranya, mengimbangi nada bicara Yuanita yang terdengar kesal. "Kamu dikasih kepercayaan kok malah gitu? Kurang bijak gimana adek saya ngizinin kamu ketemu Alif, padahal itu surat perjanjian udah nggak berlaku semenjak kamu nuker sama villa. Kalau bukan karena Alif, saya juga udah muak liat kamu dateng. Udah deh, mulai sekarang nggak usah pake acara ketemu Alif apalagi sampe jemput-jemput tanpa izin kami. Sekali lagi kamu berani jemput Alif, saya laporin kamu ke polisi sebagai kasus penculikan. Kamu makin—"


"Lu berani ngancem gue, Mar?"


Mirna bahkan mendengar raungan Yuanita dari seberang panggilan. Namun, tentu saja hal itu tak membuat dia gentar.


"Ya. Inget baik-baik! Kamu udah nggak ada hak sama sekali buat ketemu Alif, dan jangan berani muncul ke rumah saya atau ke villa adek—"


"Oh, pasti si ***** itu juga provokasi kamu buat nyegah saya ketemu Alif yang udah saya urus dari bayi?!"


"Bukan kamu yang urus anak saya! Tapi adek saya! Kamu makin lama makin kurang ajar. Udah cukup, ya, saya diem selama ini, dan bukan berarti saya takut sama perempuan sampah kayak kamu!"


"Lu yang nggak tau diri, lont*! Sepuluh taun gue rumah tangga sama adek lu, lu sekarang ikut belain lont*e itu karena dia punya anak dari si Bian? Lu juga ikut nutup-nutupin dia yang nikah siri di belakang gue 'kan? Asal lu tau aja, Mirna, walaupun Bian ngasih gue sepuluh villa, itu nggak ada apa-apanya dibanding saat gue ngalamin susah sama adek lu. Jangan mentang—"


"Eh, ngaca Lu, Yuanita! Bukan sekali dua kali lu hianat dari adek gue! Masih berani ngungkit kalau itu nggak sebanding? Udah cukup harga diri adek gue lu injek-injek, masih ngerasa diri paling bener—"


Ucapan Mirna terhenti ketika panggilan tiba-tiba terputus sebelah pihak. Jauh dari Mirna, Yuanita murka bukan main ketika menyadari bahwa Alif melarikan diri.


Tak hanya itu, dia luar biasa emosi ketika Mirna bahkan kini terdengar membela Amara. Bagaimana mungkin dia langsung tersingkirkan begitu saja oleh kehadiran Amara yang dia sadari jauh lebih rendah dari dirinya.

__ADS_1


Sialnya, Yuanita kini tak bisa berbuat banyak mengingat dukun andalannya sudah lenyap. Namun, bukan berarti dia kehabisan cara untuk mendapatkan Bian kembali— aset terbesarnya.


Setidaknya, jika pun mereka tak kembali, Yuanita tak akan diam melihat Amara menikmati apa yang seharusnya menjadi milik Yuanita selamanya. Tak akan dia biarkan Bian hidup bahagia bersama keluarga barunya— sementara dia hanya mendapat separuh harta Bian yang kini semakin berkurang.


__ADS_2