Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 32


__ADS_3

"Jadi itu alesannya kenapa kamu juga konsultasi ke dokter Cheppy?" Amara tak tahu sejak kapan air matanya bercucuran saat lagi-lagi mengetahui fakta yang dialami Bian selama ini.


Ketika Bian hanya mengangguk dan mengembuskan napas berat, Amara kembali menambahkan dengan pedih, "Kenapa Om nggak datang sejak awal dan ngasih tau aku, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu butuh aku?"


Air wajah Bian masam dan serba salah ketika sejak tadi tak bisa menghentikan tangis Amara. "Akunya malu, Ra. Aku sadar udah nyakitin kamu, aku takut kamu nggak maafin aku," kata Bian pahit. "Lagian, aku bener-bener takut, takut aku bawa penyakit yang ujung-ujungnya bakal nular ke kamu. Aku nggak mau kamu sampe kenapa-kenapa gara-gara aku."


"Nyampe nahan diri nggak mau nemuin aku, padahal kamu kangen pengen ketemu aku? Gitu?" Amara terisak-isak menahan sesak. "Padahal, setelah aku tau kalau aku hamil, tiap hari aku nungguin kamu. Tiap hari aku berdoa supaya Tuhan buka hati kamu biar sekali aja dateng nemuin aku ...."


Amara membersit hidung ketika air matanya semakin tumpah tak terkendali. "Tiap hari aku nengok ke jendela tiap kali denger suara motor, ngarepin sekali aja kamu dateng biar liat kalau aku kesiksa. Aku sampe nggak berani keluar rumah karena nggak tau mau jawab apa saat orang-orang nanya kenapa nggak pernah liat kamu pulang? Aku hidup di kampung, yang semua orang terlalu peduli kenapa aku ditinggal sendirian dalam keadaan hamil ..."


"Ra ... maafi, aku nggak—"


"Kamu nggak tau kan gimana rasanya tiap malem ngerasain pinggangku kepanasan, nggak bisa nyaman tidur saat kehamilanku makin besar. Bolak-balik ke kamar mandi sendirian tengah malem, nahan ngantuk sampe aku ampir jatoh. Kamu tau nggak aku ngedoa tiap malem supaya kamu datang buat nemenin aku—"


Suara Amara berubah menjadi bisikan pilu saat melanjutkan, "Sampe aku muak ngedoa, sampe aku ingin ngumpat kenapa Tuhan nggak denger doaku, sampe aku minta sama Tuhan supaya bisa lupain kamu, nggak perlu ngarepin kamu dateng ... Sampe akhirnya tiba-tiba ketemu kakaknya Zack waktu periksa kandungan di puskesmas, terus dari sana Zack rutin nemenin aku periksa, kamu tau nggak kalau aku pengennya kamu yang ada saat itu?!"


"Maafin—"


"Terus kenapa kamu nggak ngasih tau aku dari kemarin-kemarin biar aku nggak perlu bentak-bentak kamu, biar aku nggak marah-marah terus sama kamu, kenapa nggak ngasih tau aku dari—"


"Kapan tepatnya kamu ngasih aku kesempatan buat jelasin semuanya ke kamu?" pungkas Bian sambil mencondongkan tubuh ke kursi Amara dan memeluk Amara dengan penuh kasih sayang.


"Hari pertama kita pulang dari bidan, ada Zack sama kakaknya, dan mau nggak mau aku langsung pulang," lanjut Bian sambil mengecup pipi Amara yang basah oleh air mata. "Hari-hari berikutnya, kita nggak pernah akur. Kamu selalu marah-marah karena takut aku bawa Biandra. Setelah kita tinggal di villa selama hampir sepuluh hari ini, kamu susah diajak bicara karena masih setelah aku ngajak rujuk kayak gitu—"


"Atuh kamunya harusnya ngasih tau aku aja langsung," Amara memeluk leher Bian dan mencium pipi pria itu dengan penuh emosional. "Aku kira cuma aku yang kesiksa, ternyata kamu juga sama."


Hati Bian berdentam tak terkendali, menghangat karena Amara berinisiatif memeluknya.


"Jangan nangis lagi," bisik Bian di dahi Amara, tetapi dia juga tak sadar matanya terasa pedas mendapati sikap Amara melunak.


"Tapi aku sakit hati," gumam Amara yang mendekap Bian semakin erat.


"Sakit kenapa lagi?" Bian mengelus-elus punggung Amara sambil membenamkan wajah di leher wanita itu, berupaya menyembunyikan air matanya yang mulai menitik.


"Kamunya kasian."


Bian tak bisa menahan tawa mendapati Amara bersikap seperti seorang ibu yang memberikan kenyamanan dan perlindungan pada anaknya. Padahal, jelas-jelas wanita itu juga sedang tak baik-baik saja.


Tak ingin membuat Amara berlarut-larut menangisinya, Bian berdeham dan melepas pelukan sambil bergumam, "Jadi, berapa lama lagi kita diem di pinggir jalan kayak gini? Katanya tadi mau buru-buru pulang kepikiran Biandra?"


"Atuh salah sendiri kenapa kamu harus dipaksa dulu baru mau cerita—"


"Ya kan tadinya aku nggak mau bikin kamu mual lagi kayak tadi. Eh, hasilnya malah jadi kayak gini," gumam Bian sambil terkekeh-kekeh. "Jangan nangis lagi, Ra. Aku nggak tega liatnya."


"Salah kamu kenapa ceritain semuanya, aku kan jadi sedih dengernya kamu sama Alif."


Bian terbelalak sebelum akhirnya terbatuk-batuk karena tersedak mendengar ucapan Amara. "Ra, kapan kavlingku bisa digarap?"


"Kavling apaan?" tanya Amara sengau.


Bian melirik area bawah tubuh Amara dengan sambil bergumam, "Itu ... Kapan bisa dijenguk? Kamu mah dari tadi bikin serba salah terus. Perlu diseret ke kamar kayaknya."


"Om! Kenapa bisa-bisanya mikir kayak gitu pas aku lagi nangis?"


"Terus apa lagi solusi suami saat udah buntu buat nenangin istrinya?" Bian menyeringai nakal.


"Nggak usah mimpi! Jahitan aja belum kering!"


"Berapa lama lagi nunggunya?"


"Enam bulan!"


"Ra, kelamaan. Aku bisa beku!"


"Terus selama kamu ngeduda, itu gimana ceritanya kamu bisa kuat?"


"Orang aku aja kesiksa sama kepanikanku, mana ada pengen ngs*ks?"


"Kamu bisa nggak sih nggak usah terlalu jujur banget bahas masalah kayak gituan?"

__ADS_1


"Kaya apaan?" Bian tersenyum menggoda. "Ngaku aja kalau kamu juga kangen aku?"


"Nggak!"


"Oh, kita liat nanti pas aku bisa garap kamu."


"Nggak usah mimpi deh!" Amara memalingkan tatapannya dari Bian, menyembunyikan pipinya yang memerah bagai kepiting rebus.


"Awas aja kalau nanti ngdesah dan minta nambah. Kita sama-sama kangen lho."


"Om, bisa diem nggak?!"


"Nggak! Kapan lagi bisa godain istri yang dari kemarin susah banget diajak ngomong?"


"Bisa nggak sih beli susunya di minimarket pertigaan villa aja? Kanapa harus ke mall cuma mau beli susu doang?"


"Nggak ada salahnya mampir sekalian lewat 'kan?" Bian menggandeng tangan Amara ketika berjalan memasuki gedung pusat perbelanjaan.


"Emang susunya Biandra beneran udah mau abis?" Amara berusaha mengingat-ingat sebelum akhirnya kembali berkata, "Perasaan aku liat masih ada dua kaleng yang belum dibuka. Minggu lalu kan kamu belinya tiga, masa seminggu udah abis semua sih?"


Bian tak menjawab, hanya mengulum senyum nakal sambil melirik Amara ketika mereka berjalan ke ekskalator.


Amara mendongak dan menyadari bahwa susu Biandra yang katanya habis hanya alasan Bian agar dia mau diajak mampir ke mall. Jadi, tak heran jika sekarang Amara mendengkus jengkel dan mengempas tangan Bian yang menggandengnya.


"Dasar pria licik," gerutu Amara ketika mereka tiba di lantai dua. "Udah pulang aja sekarang. Ini udah sore, kasian Biandra."


"Pulang sekarang atau nanti, dia tetep minumnya susu formula 'kan? Bukan ASI." Bian tersenyum geli melihat Amara memutar bola mata dengan malas. "Bentar aja, ada yang perlu aku beli—"


"Belanja aja sendiri! Aku mau nunggu di mobil!"


Ketika Amara berbalik dan bersiap melangkah ke ekskalator turun, Bian buru-buru menarik tangan Amara.


"Temenin," pinta Bian setengah merajuk. Sebelum Amara bisa menolak, dia buru-buru menambahkan, "Satu jam paling lama, oke?"


Amara tak diberi kesempatan untuk menolak ketika Bian langsung menariknya, lagi-lagi pria itu membawanya ke area kebutuhan bayi dan wanita.


Sebenarnya, Bian tak benar-benar ingin membeli sesuatu di sana. Namun, ketika dari kejauhan terlihat gedung pusat perbelanjaan yang mereka kunjungi minggu lalu, hal pertama yang terbayang dalam benak Bian adalah ekspresi Amara yang bersukacita ketika mereka membeli kebutuhan Biandra.


Mungkin kali ini Bian egois karena menitipkan Biandra berlama-lama dengan kakaknya, tetapi entah mengapa saat ini Bian hanya ingin berdua saja dengan wanita itu.


Berulang kali Bian mencoba mengingatkan diri bahwa dia tak boleh menjadi orang tua egois bagi Alif dan Biandra, tetapi tetap saja kerinduan menghabiskan waktu dengan wanita itu lebih besar bersemayam dalam hatinya.


"Masa beli baju sama mainan lagi?" protes Amara ketika menyadari bahwa Bian juga tak tahu ke mana arah tujuan mereka. "Yang minggu lalu dibeli aja belum dipake, Biandra itu bayi masih bedongan ... itu baju selemari buat—"


"Yaudah beli buat kamu aja," tukas Bian dengan senyum kaku. "Kemarin kamu belinya cuma dikit, beli lagi—"


"Kan baju-bajuku dari rumah udah kamu ambil."


"Yaudah ... beli yang nggak kamu butuhin aja—"


"Nggak waras!" Amara mendengkus heran. "Kurang kerjaan ah kamu mah, Om. Udah deh, mending kita—"


"Ya udah aku jujur, aku masih pengen lama-lama berduaan sama kamu, Sayang." Bian memasang ekspresi penuh permohonan. "Beli apa aja deh, yang penting bisa—"


"Emangnya kalau mau berduaan sama aku harus jalan ke mall?"


"Mau nyeret kamu ke hotel kan masih nggak bisa, Ra," gerutu Bian. "Puas?"


Pipi Amara terasa panas ketika lagi-lagi Bian membahas hal tersebut. Namun, entah mengapa jantung Amara terasa ingin melompat dari tempatnyaa— terutama saat melihat sorot mata Bian tampak memancarkan kasih sayang.


Akhirnya Amara memutuskan untuk mengabulkan keinginan Bian, menghabiskan lebih banyak waktu dengan pria itu, hanya berdua.


Jadi, tak heran jika dia benar-benar membeli apa yang tidak dia butuhkan, tetapi jelas dia inginkan. Namun, tetap saja yang selalu diutamakan Amara adalah benda-benda untuk Biandra.


Hanya saja, tak begitu banyak yang dia pilih saat itu, mengingat salah satu kamar di villa Bian sudah dipenuhi oleh kebutuhan Biandra. Ketika mereka beralih ke area kebutuhan wanita, lagi-lagi Bian menggoda Amara saat melihat area pakaian dalam dan lingerie.


Terlebih lagi, entah mengapa benak Bian dipenuhi oleh kemolekan tubuh Amara dalam balutan lingerie transparan berwarna merah menantang. Entah karena desakan akan kebutuhan biologis yang terlalu lama tak tersalurkan, atau karena kerinduan untuk bercinta semakin mendarah daging dalam diri Bian, sehingga fantasi liarnya bersama sang istri tiba-tiba membuat Bian mengerang.


"Ra," gumam Bian sambil melirik ke area pakaian dalam. "Beli itu sekalian."

__ADS_1


Pipi Amara lagi lagi memanas saat mengetahui apa yang dimaksud Bian, sehingga dia mencubit perut pria itu sambil berbisik kesal, "Kan aku bilang nunggu jahitan kering dulu."


"Yaudah beli sekarang nggak ada salahnya 'kan?" Bian tersenyum nakal. "Kayaknya kamu bakalan seksi banget deh pake itu."


Ketika Bian akan membawa Amara untuk memilih beberapa lingerie yang cocok untuk istrinya, tiba-tiba Amara menghentikan pria itu hingga Bian menoleh.


"Jangan beli itu, aku nggak mau makenya," kata Amara ragu-ragu.


"Kenapa?" Bian mengangkat alis saat melihat ekspresi Amara tampak gugup. "Nggak ada salahnya 'kan ciptain sensasi baru, walaupun kita udah punya anak?"


"Tapi ..." Amara menggigit-gigit bibir. "Aku malu makenya, Om?"


"Kenapa malu?" Bian merendahkan suaranya saat berbisik, "Kita bukan nggak pernah 'kan telanjang bareng? Sampe jadi Biandra malahan."


"Masalahnya sekarang perut sama pahaku banyak ... mm, banyak stretch mark- nya," kata Amara dalam gumaman rendah. "Aku nggak pantes make itu kayaknya. Jadi, Om jangan ngarep aku bakalan pake baju kayak gitu kalau aku udah sembuh nanti. Kalau perlu, aku nggak mau lepas baju, matiin lampu, jangan buka selimut."


Meski Amara menyebutkan kalimat tersebut diiringi tawa, tetapi Bian menangkap nada ketidakpercayaan diri dalam suara Amara. Lalu, saat Bian melihat pada sorot mata istrinya, Bian tahu wanita itu benar-benar kehilangan kepercayaan diri.


'Aku jelek, ya?'


Bian tertegun ketika ucapan Amara tadi pagi tiba-tiba terasa berdengung di telinganya, 'Aku keliatan tua, ya? Aku buruk? Kamu harusnya nyesel nikahin aku. Kamu kaya, kamu ganteng, kamu bisa dapetin cewek mana aja di luaran sana. Kenapa malah nikahin aku yang bego, yang miskin, yang nggak berpendidikan, yang ..."


'Kamu mau selingkuh? Atau, kamu punya berapa banyak cewek simpenan, pelacur lain yang bisa kamu bayar dengan uang kamu yang nggak abis-abis itu?'


Memang, semenjak mereka kembali bersama, Bian belum pernah melihat tubuh Amara tanpa pakaian. Bian bertanya-tanya dalam hati, stretch mark itukah yang membuat Amara tadi pagi tiba-tiba bersikap seperti orang yang cemburu buta?


Bian mengembuskan napas berat, mengerti bahwa istrinya sedang dilanda krisis mental. Namun, entah mengapa lagi-lagi hati Bian merasa nyeri saat kepercayaan diri Amara pun terkikis di usianya yang masih terlalu muda setelah melahirkan anak mereka.


Memikirkan hal tersebut membuat Bian sadar bahwa tugas dirinyalah untuk mengembalikan krisis kepercayaan diri Amara.


"Jangan mikir yang berat-berat, Sayang. Cuma stretch mark doang mah bukan masalah," kata Bian sambil meremas jemari Amara dalam genggamannya.


"Tapi nanti kamu ilfeel liatnya," keluh Amara murung. "Mana ukurannya pada gede, banyak, merah. Gila tau, Om ... Kayak—"


"Ra, jangan bahas itu ah, apaan sih? Kalau aku bilang bukan masalah, berarti udah nggak ada masalah. Jangan minder gini atuh, Sayang."


"Tapi nanti kamunya diem-diem malah mendem sendiri kalau kamu nggak puas punya istri kayak aku," gumam Amara sendu. Kemudian dia mendongak menatap Bian dengan putus asa. "Nanti kamu jajan di luar karena tubuh aku menjijikkan. Nanti kamunya nyari kepuasan di—"


"Sayang," tukas Bian serba salah. "B*go amat kalau aku harus nyari kepuasan di luar, sementara aku punya segalanya di rumah? Istri yang cantik, yang baik, yang nyayangin aku— bahkan udah bertaruh nyawa demi anakku?"


"Tapi kan dulu juga kamu punya segala-galanya, tapi tetep aja kamu sering jajan di luar kan?"


"Jangan samain aku sekarang sama aku yang pertama kali kamu kenal," jawab Bian tenang. "Cukup dengan kamu mertahanin Biandra meski aku nggak ada di sisi kamu, itu udah ngasih tau aku kalau kamu wanita yang punya kasih sayang besar. Kalau kamu mikir aku bakalan selingkuh suatu saat karena nggak puas sama kamu, mending kamu pelan-pelan buang pemikiran itu—"


"Mantan istriku yang IQ-nya rendah aja aku pertahanin sampe bertahun-tahun," lanjut Bian, berupaya menghibur dan meyakinkan Amara. "Terus kalau aku udah dapet istri yang maha sholehah, cantik, gemesin, ngangenin, mudah banget dicintai, disayangin, penurut, pinter di dapur, di sumur, di kasur— mana mungkin aku sampe harus khianatin perempuan limited edition kayak kamu ini sih, Ra? Aku cuma milik kamu."


Untuk beberapa saat, Amara nyaris tak bisa bernapas saat Bian menyebutkan setiap kata-kata tersebut dengan penuh kepastian. Jika sudah seperti itu, bukan salah Amara jika hatinya kembali meleleh karena sikap Bian yang selalu memanjakan dia dengan caranya tersendiri.


Jadi, Bianmenggiring wanita itu dan memutuskan untuk membeli beberapa set lingerie dengan berbagai model dan warna. Dan Amara tak bisa mengendalikan pipinya yang semakin panas saat membayangkan dia akan memakai kostum laknat bersama suaminya.


Pada akhirnya, Bian dan Amara menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk berbelanja kebutuhan istri dan anaknya.


Saat mereka melintasi area pakaian pria, Amara baru tersadar bahwa Bian tak membeli apa pun bagi dirinya— hanya dia dan Biandra saja yang diutamakan Bian. Amara tersenyum dalam hati saat mengingat percakapan Bian yang meyakinkan dirinya bahwa Bian adalah milik Amara.


Entah mengapa terbersit keusilan dalam diri Amara untuk menggoda Bian, sekaligus ingin mengetahui apakah Bian benar-benar sesuai dengan apa yang baru saja pria itu katakan. Apakah pria itu akan cemburu jika...


"Om, mampir dulu ke toko itu sebentar, yuk?" Amara menyeringai lebar saat menunjuk toko pakaian pria.


Bian mengernyit ragu saat menjawab, "Mau ngapain ke toko pakaian pria? Nyari baju buat aku? Bajuku udah banyak, Ra."


"Bukan," sahut Amara jahil. "Aku mau ngasih hadiah buat seseorang."


"Cowok?" Bian memberengut. Ketika Amara mengangguk-angguk tanpa dosa, Bian langsung menarik tangan Amara menjauh dari area tersebut.


"Ih, bentaran doang, Om," pungkas Amara sambil menarik balik tangan Bian dan memaksa pria itu masuk ke toko pakaian pria. "Kamu jangan curang gini dong, Om. Dari tadi aku nurutin maunya kamu, nemenin kamu. Sekarang giliran kamu nemenin aku nyari hadiah buat seseorang, sekalian tolong kamu cobain baju yang aku pilih. Kayaknya ukuran tubuh kamu pas buat dibikin kelinci percobaan—"


"Kamu apa-apaan sih, Ra ... masa mau ngasih hadiah buat cowok lain dan jadiin aku kelinci percobaan? Tega amat sama suami?"


"Itu artinya aku nggak mau boongin kamu, Om," timpal Amara tanpa dosa. "Kalau aku ngasih hadiah ke orang lain tanpa sepengetahuan kamu, kamu baru boleh bilang aku tega sama suami sendiri."

__ADS_1


"Tapi tetep aja kamu nggak—"


"Pokonya cobain!" Amara menarik tangan Bian ketika dia memilih beberapa kemeja kasual, celana, dan kaus dengan warna-warna cerah.


__ADS_2