Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 47


__ADS_3

"Kamu kebiasaan, bayi belum genap sebulan udah dibuka-buka gitu bedongannya."


"Orang mau dimandiin, gimana ceritanya kalau nggak dibuka bedongnya?" sahut Bian enteng sambil menekuni membuka tali gurita yang membalut perut Biandra.


Amara mengamati Bian sejenak, memastikan suaminya itu sudah benar-benar sembuh. Meskipun dokter mengatakan demikian dan melepas infusnya kemarin sore, tetapi tetap saja Amara masih merasa khawatir akan kondisi sang suami.


Padahal, Bian jelas-jelas sudah kembali bugar. Bahkan, pagi ini dia sudah bisa mendengar suara Bian kembali normal, juga tak ada bersin-bersin dan batuk yang beberapa hari membuat suaminya terkulai tak berdaya.


"Aku aja deh yang mandiin Biandra," kata Amara setelah beberapa saat.


"Nggak, aku aja. Kamu kalau mau mandi, ya mandi aja sana," tolak Bian sambil menghalangi upaya Amara yang akan mengambil alih mengurus Biandra. "Aku kangen nggak ngurus-ngurus anak gadisku."


Akhirnya Amara mengangguk dan membiarkan Bian menangani bayi mereka.


Setelah Amara selesai mandi tiga puluh menit kemudian, dia buru-buru mengganti pakaian rumahan sederhana, juga tak lupa mengulas make up tipis di wajahnya agar tak terlalu kusam.


Ketika dia keluar kamar, samar-samar terdengar suara Bian yang tampaknya berbicara dengan Biandra di teras atas— tempat di mana Amara biasa menjemur Biandra setelah anak gadis itu selesai dimandikan.


Amara tak lantas menghampiri mereka, tetapi dia lebih dulu turun dan berjalan ke dapur, menyiapkan beberapa jenis buah potong untuk Bian.


Tak lama kemudian, Amara kembali dengan membawa sepiring penuh berisi potongan melon, semangka, apel, dan anggur.


Dia mengerjap terkejut ketika melihat Biandra masih tak mengenakan apa pun. Si bayi dibaringkan di atas meja yang dialasi perlak dan handuk, sementara Bian menyelipkan kedua telunjuknya di kepalan tangan mungil Biandra.


"Ya ampun, Om, masuk angin deh itu bocah kelamaan ditelanjangin kayak gitu," gerutu Amara ketika berjalan menghampiri mereka.


"Bentar lagi, Biandra- nya juga anteng-anteng aja, kok," sahut Bian sambil menggelitik wajah Biandra dengan hidungnya. "Ah, udah lama nggak ketemu. Kamu makin gede aja, Sayang ... kangen bercanda sama Ayah, ya—"

__ADS_1


"Gede dari Hongkong, nggak ketemu empat hari aja gayanya udah kayak nggak ketemu se-abad," komentar Amara sambil menyandarkan tubuh di pagar balkon, tangannya menekuni garpu dan menusuk potongan melon, lalu melahapnya sambil terkekeh-kekeh menertawai Bian.


"Bunda kamu rese, ya, Sayang. Ngomentarin mulu kalau Ayah lagi mesra-mesraan sama kamu," Bian terkekeh geli, kemudian membubuhkan minyak telon di telapak tangan dan membalur tubuh Biandra. "Pantesan aja tadi kamu nyaranin Ayah buat nikah lagi—"


"Apa kamu bilang?" Amara nyaris tersedak melon yang dia kunyah. "Coba ulangi sekali lagi!"


"Tadi Biandra nyuruh aku nikah lagi—"


"Nggak usah ngada-ngada deh!" gerutu Amara, tak sadar bahwa Bian menyunggingkan senyum menggoda. "Mana ada bayi bisa ngomong kayak gitu? Itu mah alesan kamu aja yang nggak puas punya istri satu."


Sambil memakaikan popok pada Biandra, Bian tergelak tawa sebelum berkata, "Kamu nanggapi serius, Ra? Iya kali si Biandra ngomong kayak gitu?"


Amara tak menyahut, dia memutar bola mata saat menyadari bahwa Bian hanya menggodanya. Akhirnya dia menusuk-nusuk potongan buah tersebut dan melahapnya dengan jengkel, memikirkan kemungkinan Bian yang mungkin memang tak cukup memiliki satu istri.


Terlebih lagi, dia pun sadar sewaktu Bian menjadikannya sebagai istri kedua, dengan cara yang paling konyol. Jadi, Amara berpikir bahwa tak menutup kemungkinan pria itu memang memiliki sifat yang tak setia hanya pada satu wanita.


"Awas aja kalau kamu berani macem-macem di belakangku," desis Amara sambil memaksa menelan buah yang rasanya sulit ditelan. "Aku sumpahin kamu nggak bisa ereksi!"


Setelah kata-kata itu meluncur keluar dari bibirnya, tak hanya Bian yang memandang Amara dengan tatapan tak percaya, tetapi Amara sendiri bahkan nyaris tak mempercayai apa yang dia katakan.


Keduanya tahu betul apa yang pernah mereka alami waktu itu, tepat ketika Bian tak mampu membangkitkan g@ir@hnya sewaktu mereka akan bercinta.


Bian tersenyum samar, berpikir bahwa Amara tampaknya tak melupakan momen tersebut— yang mungkin saja kejadian itu bahkan membuat Amara tersinggung, tetapi tak diucapkan.


Sebenarnya, Amara tak bermaksud mengungkit. Itu hanya ucapan spontan, sebagai ultimatum bahwa dia tak pernah rela jika Bian bermaksud bermain-main pada wanita lain di belakangnya.


"Aku bercanda," kata Amara setelah beberapa saat dengan nada sedikit kaku.

__ADS_1


"Ya, aku tau." Suara Bian terdengar mengambang, dan Amara tak tahu apa yang dipikirkan Bian saat ini.


Namun, Amara bisa merasakan suasana berubah sedikit canggung. Bahkan, Amara bertanya-tanya dalam hati, apakah ucapannya sudah membuat Bian tersinggung?


Amara menghela napas panjang, dia memalingkan wajah dari memandangi Bian dan Biandra. Di saat yang sama, sebuah sedan BMW hitam mengilap berhenti tak jauh dari depan villa Bian.


Amara mengernyit samar, karena bukan pertama kali dia melihat mobil itu berada di sana. Dia kembali menoleh pada Bian yang hampir selesai mengenakan pakaian Biandra.


"Om, itu mobil kenapa diem di sana terus, ya? Udah hampir tiga hari ini aku liat itu mobil bolak-balik."


Bian masih menunduk menyelesaikan membedong Biandra. "Orang yang survey villa kali."


"Tapi orangnya nggak turun-turun dari mobil," kata Amara sambil mengamati mobil tersebut, tentu saja dia tak bisa melihat siapa yang ada di dalam sana. "Kalau orang mau survey villa, pasti turun dan masuk ke sini 'kan?"


"Villa di sekitar sini kan banyak, Sayang. Belum tentu juga mereka mau survey ke villa ini," kata Bian sambil menggendong Biandra yang sudah rapi dan wangi. Dia beranjak berdiri dari tempat duduk. "Lagian, kalau pun mereka mau survey villa ini, aku nggak mungkin ..."


Ucapan Bian terputus ketika dia baru melihat mobil yang terparkir di depan villanya. Bian terdiam sejenak, tak percaya dengan apa yang dia lihat. Untuk beberapa saat, bibir Bian seolah terkunci rapat-rapat ketika menyadari bahwa itu adalah mobil milik Tiara.


Bukan sembarang menebak atau menduga-duga, tetapi dia ingat betul sewaktu datang ke villa yang disewa Tiara, dan mendapati mobil itu terparkir di sana.


Ketika Bian kembali teringat gagasan konyol Tiara untuk mendatangi kediamannya dan bertemu istri Bian, saat itulah Bian semakin sadar tampaknya Tiara tak main-main dengan ucapannya.


Bian tahu, Tiara memang terkadang bisa berbuat nekat. Namun, datang berkunjung dalam keadaan seperti ini, di saat dia bahkan baru berdamai dengan Amara, bagaimana mungkin Bian membiarkan wanita itu melancarkan aksinya?


Meski Bian sedikit gugup memikirkan spekulasi Tiara akan datang, tetapi dia berusaha tetap tenang ketika merangkul bahu Amara dan berkata, "Istirahat di dalem, yuk, Sayang? Biandra juga udah waktunya minum susu."


Akhirnya mereka melangkah masuk, dan Amara sama sekali tak menyadari kejanggalan dari sikap Bian yang mendadak gugup.

__ADS_1


__ADS_2