Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 69


__ADS_3

Sorak semarai dari para pengunjung Faradisa Kafe di lantai bawah masih saja terdengar hingga ke kamar di lantai atas.


Padahal, kamar berukuran tiga kali empat meter bernuansa abu muda itu dirancang khusus agar menahan kebisingan dari luar.


Namun, tampaknya drywall— panel gipsum yang ditempel pada permukaan tembok pun sepertinya tak cukup efektif untuk meredam suara.


Amara mondar-mandir gelisah di depan jendela kamar. Sesekali dia menyibak gorden suede silver menjuntai yang sebenarnya memiliki soundproofing, mengintip ke halaman kafe bagian depan yang gemerlapan.


Di satu sisi, tampak deretan motor dan mobil terparkir dengan rapi. Namun, dia juga bisa melihat orang-orang yang duduk di atas hamparan rumput sintetis itu pun saling berteriak menyanyikan lagu yang dilantunkan si vokalis band.


Padahal baru satu jam berlangsungnya live musik yang selalu mengisi kafenya setiap malam Sabtu.


Namun, semarak dan antusias para pengunjung kafe yang turut menyanyikan lagu menambah suasana di bawah terdengar semakin heboh.


Tak biasanya suara berisik seperti itu menembus kamar hingga membuat Biandra rewel. Amara mendecakkan lidah, lalu mengelus-elus punggung Biandra yang digendong bersandar di pundak kirinya.


Seharusnya Biandra sudah tertidur di jam delapan malam seperti ini, tetapi anak itu masih gelisah.


Kepala Amara kembali berdenyut-denyut nyeri. Entah karena Biandra tak bisa tidur meski dia sudah mencoba menidurkan dengan berbagai cara, atau mungkin musik sialan itu yang membuat kepalanya semakin pusing.


Getar ponsel di atas meja membuat Amara menoleh, lalu mendapati nama 'suamiku' muncul untuk yang kedua kali semenjak Bian pergi tiga jam lalu. Sambil menjawab panggilan, Amara memilih untuk membawa Biandra berbaring di tempat tidur.


"Masih belum tidur Biandra-nya, Sayang?" tanya Bian ketika panggilan terhubung bertepatan dengan Biandra yang lagi-lagi menangis gelisah.


"Belum. Tumben banget ini anak rewel dari tadi," keluh Amara sambil menepuk-nepuk pantat Biandra yang tengkurap di dadanya.


"Itu suara musik berisik amat sih, Ra?" Suara Bian dari seberang panggilan terdengar heran. "Pintu sama jendela udah ditutup rapat semuanya 'kan?"


"Udah ..." Amara mengernyit heran saat melihat pintu bercat putih yang dilengkapi seal soundproof itu ternyata tak tertutup rapat. Pantas saja suara dari bawah bisa menembus ke kamar.


"Oh, pantesan aja berisik," kata Amara sambil berusaha bangun dan berjalan untuk merapatkan pintu. Seketika kebisingan musik itu lenyap dari pengendaran Amara. "Alif kayaknya lupa rapetin pintunya."


Terdengar tawa lembut Bian dari seberang panggilan. "Baru beres main sama Biandra dia?"


"Enggak, udah satu jam lalu," Amara menjelaskan sambil kembali ke tempat tidur dengan diiringi embusan napas lega. "Aku bilang mau tidurin Biandra lebih awal, soalnya kan kamu tau kalau malam Sabtu karyawan sering keteteran layanin tamu. Aku mau ban—"

__ADS_1


"Jangan, jangan turun," Bian menukas dengan penuh perhatian. "Udah, temenin Biandra aja. Ada adeku sama ade kamu juga kan di bawah? Jangan capek-capek kamu, Ra. Urus anak-anak aja dari pagi udah bikin kamu lelah."


"Kalau anak-anak udah tidur terus kamu pulang malem kan aku bete juga, Ay," keluh Amara sambil mengusap-usap dahi Biandra dengan punggung telunjuk, tampaknya anak itu kini sudah tenang karena kebisingan dari bawah tak lagi terdengar.


"Kan udah dibilang aku nggak pulang larut malem, paling jam sepuluh juga udah balik lagi."


Amara memberengut. "Tapi waktu malem Sabtu lalu kamu pulangnya jam dua belas. Sekarang juga—"


"Itu kan karena temen aku datengnya telat, jadi rapatnya baru mulai jam sembilan," pungkas Bian memberi pengertian. "Sekarang dia bentar lagi sampe kayaknya. Paling telat jam sebelas aku pulang, ya?"


Amara mengembuskan napas panjang. Semenjak pindah ke kafe dua bulan lalu, kegiatan mereka berdua memang berbeda seperti ketika masih di villa. Terutama setelah satu bulan lalu seluruh villa dan penginapan Bian laku terjual melalui agen properti. Sejak saat itu, suaminya resmi menginvestasikan seluruh kekayaan pada Ayudi's Hotel— seperti yang mereka bahas terakhir kali.


Namun, Amara tak menduga Bian menjadi sedikit sibuk dari sebelumnya. Memang, pria itu tak perlu pergi setiap hari untuk mengurus bisnis barunya, tetapi tetap saja Amara bisa merasakan Bian memang sibuk.


Terbukti dari rutinitas Bian yang pergi ke hotel selama tiga kali dalam seminggu. Dia tak ingin tahu dengan detail apa saja yang dikerjakan suaminya, tetapi Amara yakin betul bahwa Bian tak berbuat macam-macam.


Bukan terlalu percaya diri bahwa pria itu setia pada Amara, tetapi entah mengapa keterbukaan Bian yang selalu mengajaknya mengobrol selepas pulang menghadiri pertemuan, membuat Amara merasa yakin bahwa pria itu memang jujur padanya.


Jadi, Amara sama sekali tidak khawatir dengan hal tersebut. Terlebih lagi, dia sadar betul bahwa hubungannya dengan Bian semakin mesra dan harmonis karena keterbukaan mereka.


Sebagai wanita yang dulunya sering mendengar keluh kesah seorang pria yang memiliki berjuta alasan mengapa mereka 'jajan' di luar padahal sudah beristri, Amara menjadikan pengetahuan tersebut untuk membuat Bian tak memiliki alasan untuk berpaling darinya.


Mulai dari menjaga berat badan dengan olahraga teratur dan konsumsi makanan sehat, selalu tampil lebih segar tanpa make up berlebihan, menjadi teman berbicara dan pendengar di mana pria itu butuh berbagi cerita, dan mencoba mengerti kondisi Bian dalam segala sesuatu.


Jadi, tak heran jika Bian kini semakin sulit berjauhan dengan istri dan anak-anaknya. Terbukti dari seringnya pria itu menelpon atau berkirim pesan ketika sedang berada di luar rumah.


Terlebih lagi, semenjak Bian meminta Amara untuk tak membentak anak-anak ketika sedang emosi dan meluapkan kekesalan pada suaminya, Amara mulai berlatih untuk mengendalikan diri.


Memang, hal itu tak mudah dilakukan seperti yang dibicarakan Bian, terutama ketika Alif terkadang membuat Biandra menangis. Saat itu, Amara sering meledakkan emosionalnya pada Bian.


Namun, di satu waktu, dia menemukan Bian tampak lelah karena kesibukan kafe di awal-awal mereka buka, tetapi pria itu tetap sabar menghadapi emosional Amara.


Sejak saat itulah Amara sadar tak ada pria sesabar dan sepengertian Bian menghadapi sikapnya. Semenjak saat itu pula Amara berlatih untuk tidak bersikap kurang ajar pada suaminya, terutama karena Bian tak pernah sekali pun berkata dengan nada tinggi pada istrinya.


"Janji nggak malem-malem?" Amara kembali berkata dengan nada pelan.

__ADS_1


"Iya, Sayang." Suara Bian mengalun selembut sutra. "Inget, nggak usah ngeyel turun. Cuma aku soalnya yang boleh bikin kamu kelelahan, oke?"


"Kamu makin hari makin nakal, ya?"


Bian tertawa. "Salah sendiri kamunya ngangenin, nggak ngebosenin buat dinakalin. Dan ... mm, bikin nafsu."


"Titip cium buat Biandra," lanjut Bian kemudian. "Give me a kiss, My Wife."


"Nggak, ah," sahut Amara sambil mencium kepala Biandra yang tertidur dengan posisi tengkurap. "Bosen tiap nelpon minta cium, pulang minta cium, sebelum berangkat minta cium."


"Aku minta dicium sama istri sendiri, Ra, bukan ke—"


"Nggak usah macem-macem minta cium ke bini orang kalau nggak mau digampar lakinya," goda Amara sambil terkekeh.


"Makanya cium," desak Bian diiringi tawa kecil.


Amara bisa mendengar suara ketukan pintu dari seberang panggilan, lalu tak lama kemudian pria itu mau tak mau mengakhiri panggilan, setelah mendapat ciuman Amara tentunya.


Baru saja Amara meletakkan ponsel di atas meja di samping tempat tidur dan menyelimuti Biandra, saat itu terdengar ketukan pintu dari luar.


Jadi, Amara mengendap-ngendap turun dari tempat tidur dan menarik tuas pintu hingga berayun terbuka.


Eka— adik perempuan Amara yang baru lulus SMA dan bekerja di kafe mereka sebagai kasir, sang adik berdiri dengan gusar hingga membuat Amara terheran.


"Kenapa?" tanya Amara yang langsung keluar kamar dan menutup pintu rapat-rapat, khawatir Biandra akan terbangun karena suara-suara dari bawah. "Jengkel amat keliatannya?"


"Itu, barusan si Tari ngeluh ada tamu yang rese banget. Komplen-komplen makanan sambil marah-marahin dia. Itu si Tari sekarang nangis di loker karena disiram jus sama tamunya. Dia nggak berani ngadu ke Teteh langsung, makanya aku yang ke sini—"


"Kok bisa sih? Si Dika ke mana? Kenapa nggak diusir aja tamu kayak gitu?"


"Kan tadi bang Dika sama Teteh disuruh nemuin suplayer sayuran buat urus pembayaran."


Amara berjalan melewati lorong menuju ruangan khusus pemantauan. Dia jarang terjun langsung memeriksa situasi di kafe, dan memilih untuk memantau dari monitor CCTV di ruangan Bian.


Ketika Amara membuka pintu dan berjalan menuju meja kerja Bian untuk memeriksa CCTV, Eka menambahkan dengan sedikit menggerutu, "Tamunya ada di meja luar nomor 14, tadi aku sempet nemuin, tapi dia malah marah-marah sambil ngancem nggak mau bayar kalau nggak ketemu yang punya kafe."

__ADS_1


Amara masih berusaha tenang sebelum akhirnya berubah kesal, tepat ketika melihat dari layar laptop siapa tamu yang mencari masalah di kafenya.


__ADS_2