
"Apa keuntungan yang bakalan saya dapetin kalau saya nyabut tuntutan?"
Amara menyeringai lebar ketika Yuanita lagi-lagi menangis sembari memohon agar Amara mencabut tuntutannya.
Walau bagaimana pun, Yuanita tak pernah ingin hidup dalam penjara. Terutama saat dia tahu harus mendekam di balik jeruji besi selama bertahun-tahun. Sesungguhnya, Yuanita tak pernah memperhitungkan dirinya akan mendapat timbal balik seperti ini dari Amara.
Awalnya Yuanita menduga Amara akan kapok dan memilih mundur, atau setidaknya Amara dan Bian berseteru hingga mereka bercerai.
Mulanya Yuanita hanya tak terima melihat Bian hidup bahagia bersama Amara, sementara dia sendiri jelas menderita karena sadar tak ada pria yang lebih baik daripada Bian.
Namun, siapa yang menduga bahwa niatnya untuk menghancurkan Amara justru menjadi bumerang dan melukai dirinya sendiri.
Mungkin dia tak pernah takut pada kegelapan malam atau setan sekali pun, tetapi saat harus dikurung dalam penjara, tentu saja dia takut setengah mati.
"Aku bakal ngelakuin apa aja kalau kamu mau nyabut laporannya, Mora," kata Yuanita dengan tak berdaya.
Amara duduk bersandar dan bersedekap sambil membalas dengan tegas, "Terus gimana ancamanmu yang bakalan nyantet aku dan anak-anakku? Menurut kamu, apa aku bakalan nyabut tuntutan dan mempertaruhkan keselamatan aku dan anakku?"
"Amara, aku mohon ..." Yuanita merosot dari kursi dan duduk berlutut di hadapan Amara sambil menangis memohon, "Aku janji nggak akan ngancam atau nyantet kamu. Bila perlu bersujud, aku siap sujud di kaki kamu asal dapet ampunanmu."
Amara berdiri dan menyurut mundur ke belakang kursi Bian. Entah seberapa sakit hati dirinya oleh perlakuan Yuanita, tetapi saat melihat wanita itu tak berdaya, Amara justru tak nyaman menyaksikan pemandangan tersebut.
Walau bagaimana pun, Amara tahu benar bagaimana rasanya menjadi orang tertindas dan tertekan.
Sebagai upaya agar pertahanannya tidak rubuh, Amara berpegangan pada kedua bahu Bian, sementara pria itu meremas jemarinya dengan erat.
Bian mendongakkan kepala ke belakang, sadar bahwa istrinya dilanda kepanikan.
__ADS_1
Jadi, Bian pun berbisik dengan lembut, "Kamunya tenang, Sayang. Jangan gugup."
Amara mengangguk dan menghela napas dalam-dalam sebelum kembali menatap Yuanita dan berkata, "Sujud aja nggak cukup, Yuanita. Kamu nggak tau apa dampak yang ditimbulkan dari perbuatan-perbuatan dan ancaman kamu. Kamu bikin saya nggak nyaman, terancam, nggak tenang dan ..."
"Terus aku harus apa, Amara?" Yuanita beringsut dan merangkak untuk menggapai kaki Bian sambil berkata, "Bian, aku mohon tolong bujuk istri kamu buat maafin aku dan nyabut tuntutannya. Aku nggak mau dipenjara, aku janji nggak akan berulah dan nyelakain—"
"Kalau kamu mau nyetujui perjanjian tertulis dengan disaksikan para polisi dan kakak kamu ...." Akhirnya Amara berhasil mengendalikan kembali emosionalnya dan menguraikan dengan penuh ketegasan, "Yang di mana perjanjian itu berisi bahwa kamu nggak akan muncul dan ganggu rumah tangga kami lagi, meski dengan alasan ketemu Alif—"
"Aku bisa menuhin itu, Amara," Yuanita menukas dengan keputusasaan. "Aku janji nggak akan pernah muncul lagi, ngusik kalian, atau—"
"Dan itu berlaku untuk seumur hidup," Amara menambahkan dengan serius dan menatap Yuanita dengan bersungguh-sungguh. Ketika Yuanita mengangguk, Amara melanjutkan, "dan satu hal yang paling penting. Aku nggak pernah tau kapan kamu bakalan nekat atau benar-benar pergi untuk ngelakuin hal-hal mistis. Tapi—"
Amara menoleh pada pak Willy yang sudah Bian hubungi sewaktu mereka dalam perjalanan ke kafe. "Kalaupun saya nyabut semua tuntutan, bukan berarti kamu bebas dan leluasa bertingkah semau kamu. Mungkin saya tetap minta bantuan perlindungan hukum untuk ngawasi gerak-gerik kamu."
Amara meremas bahu Bian lagi hingga suaminya itu membuka dokumen di atas meja, lalu memberikan selembar kertas berisi syarat dan perjanjian yang harus Yuanita penuhi.
Ketika Yuanita meraih secarik kertas dari Bian dan membacanya dengan mata berkabut, Amara lagi-lagi menambahkan, "Di sana disebutkan bahwa kamu akan selamanya menjadi tahanan wajib lapor. Lalu, bila mana didapati kamu masih ganggu saya, baik secara menampakkan diri langsung ataupun melalui hal-hal mistis, saya berhak buat buka lagi kasus ini."
Agung dengan marah berdiri dan menarik bahu Yuanita. "Udah gue ingetin berkali-kali lu jangan pernah ngikutin jejak ibu sama bapak," bentak Agung kesal sambil menunjuk-nunjuk wajah adiknya. "Mau jadi apa lu? Mau gila kayak mereka sampai mati?"
"A, aku cuma—"
"Cuma bego! Nggak ngotak!" Agung menunjuk kepalanya sendiri. "Gue udah cukup malu punya orang tua yang gila. Lu mau nambah-nambah beban mental gue, Ta? Jangan mentang-mentang gue banyak bergantung sama lu sampai lu nggak mau dengerin omongan gue! Biar gini-gini juga gue kakak lu, Ta. Gue satu-satunya orang yang bakal belain lu mati-matian seburuk apa pun kelakuan lu!"
Pernyataan itu membuat ulu hati Amara tiba-tiba tercabik nyeri. Tak peduli Agung terdengar menghardik Yuanita, tetapi Amara tahu benar itu adalah bentuk kasih sayang seorang kakak pada adik perempuannya— yang hingga saat ini tak pernah Amara rasakan dari Risman.
Amara sadar, bapaknya terlalu tua jika harus berargumentasi dengan orang-orang yang menindasnya. Namun, dia memiliki tiga orang kakak kandung. Dan salah satunya adalah kakak lelaki yang masih bugar, tetapi justru Risman- lah yang paling kejam merusak mental Amara sejak kecil.
__ADS_1
Pemikiran-pemikiran tersebut membuat Amara lemas. Dia membungkuk dan memeluk leher Bian sambil meletakkan dagu di bahu kanan pria itu.
Mungkin hanya Bian, lelaki yang hanya kepadanya tempat Amara bersandar. Lelaki yang hanya bersamanya lah Amara merasa aman dan dilindungi.
Bian menolehkan kepala ke kanan dan mendapati wajah Amara tampak sedih, sementara kedua tangan wanita itu memeluknya dengan erat.
"Kenapa?" bisik Bian sambil menyentuh tengkuk Amara dengan cemas. "Pusing lagi kepalanya?"
Amara sadar, saat ini tak mungkin menceritakan suasana hatinya pada Bian. Sebagai upaya menyembunyikan kesedihan yang terselubung jauh dalam hatinya, Amara mengangguk dan membuat Bian segera berdiri dari tempat duduk.
Bian lebih dulu undur diri untuk membawa Amara kembali ke lantai atas, dan mereka mengerti bahwa Amara memang tak begitu sehat hari itu.
Amara sadar bahwa urusan dengan Yuanita belum selesai. Jadi, setelah Bian membawanya kembali ke kamar dan membaringkan di tempat tidur, Amara langsung berkata, "Ay, aku nggak salah ngambil keputusan 'kan?"
Bian menarik selimut hingga menutupi perut Amara, lalu mendaratkan kecupan singkat di pipi wanita itu sambil bergumam, "Kalau kamu lebih takut Yuanita naruh dendam lebih besar setelah keluar penjara, maka keputusan kamu yang ini lebih tepat. Kamu lihat sendiri kan barusan kalau Yuanita emang takut banget sama hukuman penjara?"
Amara mengangguk. "Ya udah kamu turun lagi dan beresin semuanya," kata Amara dengan gumaman lirih. "Hari ini nggak tau kenapa perasaan dari pagi aku lemes banget."
Bian membelai rambut Amara dengan lembut. "Kalau mereka udah pulang, nanti kita ke rumah sakit, ya? Sekalian periksa mana tau kamu lagi hamil."
"Hamil?" Amara terbelalak menatap Bian. "Kok nuduh aku hamil sih?"
Bian menggaruk-garuk alis, sedikit salah tingkah dan nervous. "Abisnya kamu akhir-akhir ini sensitif banget," kata Bian dengan senyum kaku. "Mana minta makanan yang aneh-aneh terus."
Amara mengerutkan kening. "Nggak mungkin hamil," kata Amara cemas. "Kan aku udah bilang belum siap punya anak lagi, Ay. Bekas ngelahirin Biandra aja masih sakit."
"Siap atau nggak siap, kalau misalkan emang hamil ... ya, mau gimana lagi coba selain dijalanin?" Bian berkata dengan suara lembut. "Lagian, Sayang ... apa yang perlu ditakutin? Kalau pun kamu hamil, kamu nggak akan ngelewatin masa kehamilan kayak dulu lagi. Aku ada di sini buat kamu, Ra."
__ADS_1
Mata Amara bergerak-gerak gelisah ketika menatap Bian. "Tapi aku nggak mau periksa, ah. Takut liat hasilnya kalau hamil."
"Waktu prosesnya kenapa nggak keliatan takut sama sekali?" Bian menyeringai nakal. "Malah agresif banget tiap malem."