Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 87


__ADS_3

Bian dan Amara masih mengobrol di lantai atas ketika salah satu karyawannya naik dan memberikan paket kiriman pada wanita itu.


"Kok kecil sih paketnya?" kata Amara sambil meraih paket tersebut dari karyawannya. "Ini kamu nggak salah nerima paket kan?"


"Gimana mau salah, itu tulisannya di situ Faradisa Kafe atas nama Ibu Amara," si karyawan menjelaskan.


"Kurirnya masih ada nggak?"


"Udah langsung pergi."


"Ya udah makasih."


"Kamu belanja apaan lagi di online shop, Bunda?" gumam Bian pelan. "Perasaan dari kemarin paket terus."


Amara ragu untuk membuka paket berukuran boks handphone tersebut— meski nama penerima dan alamat memang bertuliskan untuk dirinya.


"Yang kemarin itu kan beli susunya Biandra, parfum, minyak telon, diapers, ada diskon 20% kan lumayan," kata Amara sambil mempertimbangkan apakah dia benar-benar harus membuka paketnya. "Tapi harusnya paket yang datang sekarang baby powder jumbo, kenapa paketnya kecil banget gini."


Melihat Bian seolah-olah tak menanggapinya dan justru membungkuk menciumi perut Biandra, Amara menepuk pundak Bian hingga pria itu menoleh ke arahnya.


"Kamu nggak beli jam tangan di online dan pakai nama aku sebagai penerimanya 'kan?" selidik Amara curiga. "Terakhir kali aku lihat Patek Philippe ada di wishlist kamu loh, Ay."


"Apaan sih nuduh-nuduh orang sembarangan gitu," gumam Bian enteng. "Aku mikir-mikir lagi kali harus beli jam seharga mobil."


"Terus ini paket apa, ya?" Amara beranjak untuk mengambil gunting di laci kabinet. "Ay, kamu ada beli hp baru nggak? Ini kayaknya hp deh isinya."


"Ya Allah, nggak, Bunda," kata Bian tanpa dosa. "Kamu kali beli lipstik baru. Katanya kemarin pengen beli lipstik nude."


"Nggak, aku nunggu falsh sale 99% aja belinya."


Bian tertawa terpingkal-pingkal, tahu bahwa istrinya terlalu berhemat dan terkadang membuat dia tak habis pikir.


"Ay, kamu beneran nggak beli—"


"Udah buka aja sih isinya," kata Bian sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Nggak usah tebak-tebakan gitu. Tinggal dibuka doang apa susahnya?"


"Soalnya aku nggak ngerasa beli paket yang ukurannya kecil kayak gini," sahut Amara sambil membolak-balik paket tersebut, lalu mulai menyayat lakban dengan hati-hati. "Masa iya sih isi baby powdernya ditabur ke dalam box karena aku beli harga diskon. Kan nggak mungkin, ya?


Bian merasa dia bisa gila jika terus menanggapi ucapan Amara. Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Bian kembali bercanda dengan Biandra di sofa, sementara Amara mulai membuka paketnya.


Amara terperangah saat bungkusan bubble wrap terbuka dan mendapati boks handphone, tetapi tak sadar bahwa segel dus ponsel tersebut sudah terbuka.


"Ay, ini beneran i-phone 6 plus keluaran baru!" Amara memekik terkejut. "Kamu beliin HP baru lagi buat aku?"


"Nggak," gumam Bian tanpa menatap ekspresi istrinya yang terkejut sekaligus bingung. "Nggak percaya banget sih. HP kamu kan masih baru, Bunda."

__ADS_1


"Terus ini punya ..." Amara berhenti sejenak saat menyadari segel sudah terbuka. Jadi, dia mengangkat paket tersebut dan menyodorkan paksa pada suaminya. "Kamu buka paketnya. Aku takut. Masa itu segelnya udah kebuka gitu!"


"Buka aja sendiri." Bian tertawa kecil dan mengangkat Biandra ke dalam pangkuan. "Aku mau bikinin susu buat anakku, kayaknya dia udah laper."


"Ay, ih! Bukain—"


"Buka sendiri, Cintaku, Istriku yang paling gemesin, nyebelin." Bian melengos dan memasang ekspresi sedatar mungkin. "Masa buka segitu aja nggak bisa."


Amara memberingis samar melihat Bian tampak acuh tak acuh saat berjalan ke dapur. Ketika rasa penasaran mengalahkan logika, pada akhirnya Amara membuka box ponsel tersebut.


Dengan hati-hati dia mengangkat kertas penutup di tumpukan teratas, lalu terheran saat mendapati isinya justru bukan ponsel. Melainkan sebuah kunci yang sudah terpasang gantungan logam berbentuk huruf A.


"Ay!" Amara berseru dan menyusul Bian ke dapur. "Ini kunci mobil 'kan?"


Bian melirik sekilas, tetapi tangannya masih menuangkan beberapa sendok susu ke dalam botol. "Iya."


"Mobil siapa?" Amara menarik-narik tangan Bian ketika pria itu justru terlihat tenang. "Kamu beli mobil baru? Ini kuncinya masih mulus gini loh."


"Yang beli paket siapa, yang dituduh beli siapa." Bian menyeringai nakal dan berjalan menuju dispenser untuk menyeduh susu, sementara sebelah tangannya memeluk Biandra dalam pangkuan.


"Ih, kamu kenapa bikin aku bingung sih?" Amara mengikuti Bian dan terus mendesak pria itu. "Kamu beli mobil baru?"


Tak ingin berlama-lama menggoda Amara, akhirnya Bian berbalik menghadap wanita itu sambil mengaduk-ngaduk susu hangat dalam botol.


"Tuh kan akhirnya ngaku juga!" Amara mendengkus jengkel dan menyerahkan kunci tersebut pada Bian. "Katanya nggak punya uang. Tapi bisa beli mobil. Terus Fortuner mau dikemanain? Mau dijual?"


"Mobil barunya buat kamu."


"Hah?" Amara memekik hingga Biandra mengerjap kaget mendengar suara bundanya. "Buat aku?"


Amara tak tahu kenapa lututnya gemetaran ketika melihat Bian mengangguk dan tersenyum kecil menanggapi pertanyaannya.


"Kamu serius?" Akhirnya Amara kembali menemukan suaranya yang tersendat-sendat.


"Kapan aku pernah bercanda?" Bian menahan diri untuk tidak menarik Amara ke dalam pelukan ketika mata wanita itu tampak berkabut.


"Tapi kenapa harus beliin mobil?"


Bian berjalan kembali ke sofa, dan membaringkan Biandra untuk memberikan susu. Amara terus mengikutinya dengan lutut yang terasa semakin lemas.


"Ay, kamu kenapa—"


"Katanya kamu pengen kayak orang-orang?" tukas Bian yang kemudian mengerucutkan bibir membentuk ciuman. "Liat ke bawah gih, pasti udah dateng mobilnya."


Amara menggigit bibir sambil berjalan menghampiri suaminya. Dengan mata berkaca-kaca, dia mengangkat sebelah tangan Bian dan masuk ke pelukan pria itu.

__ADS_1


"Di suruh ke bawah malah ke sini?" bisik Bian sambil mencium kepala Amara yang bergelung di dada kanannya, sementara tangan kiri Bian memegang botol susu yang tengah dinikmati Biandra. "Liat dulu, suka apa nggak. Kalau kamu nggak suka, nanti—"


Ucapan Bian terputus ketika Amara menciumi wajahnya dengan beruraian air mata dan berbisik, "Kamu kenapa harus ngasih hadiah mahal kayak gini sih? Katanya uang kamu abis di-invest?"


Bian terkekeh sambil menciumi pipi Amara. "Hadiah-hadiah yang kamu kasih ke aku lebih mahal dan tak ternilai harganya. Terlalu berharga untuk dibandingkan dengan uang."


Amara menjauhkan wajah untuk menatap Bian lekat-lekat. "Kamu ngasih hadiah-hadiah kayak gini juga ke mereka?"


"Kamu yang pertama," bisik Bian sambil menarik tengkuk Amara dan menciumi pipinya lagi. "Kamu yang paling berharga."


"Tapi waktu kamu sama Yuanita—"


"Cium," pungkas Bian dengan bibir mendesak ke bibir Amara. "Jangan ungkit masa lalu lagi. Masa laluku milikku, masa lalumu milik kamu. Tapi kamu dan anak-anak adalah masa depanku."


Jadi, Amara membiarkan Bian menciumi bibirnya dengan sentuhan lembut yang menakjubkan. Akan tetapi, ciuman itu tak berlangsung lama ketika Biandra menggeliat saat susu dalam botolnya habis.


Amara melepas pagutan mereka dan melirik pada Biandra.


"Ra, kurang," gumam Bian dengan serak. "Lagi."


Tetap saja Amara tak bisa mengabulkan permintaan Bian yang ingin menciumnya lagi saat mendengar detak langkah tak asing di arah tangga.


Dia buru-buru bangkit dari pangkuan Bian ketika Alif berjalan ke arah mereka dengan wajah tak senang.


"Tumben Kakak udah pulang main jam segini? Biasanya belum ashar belum pulang?" tanya Bian sambil memperbaiki posisi duduk, juga menutupi gairahnya yang menggeliat di balik celana jeans.


"Abisnya temen Kakak nyebelin," keluh Alif sambil membungkuk dan menciumi tangan Biandra yang berada di pangkuan bundanya. "Jadinya tadi berantem terus kakak pulang."


"Hey, berantem apaan?" Amara menyelidik. "Berantem sama siapa?"


"Itu, Bun, sama anaknya tukang pulsa," Alif mengadu dengan murung, lalu beranjak duduk ketika Bian menepuk sofa kosong di sampingnya. "Masa dia nggak percaya kalau Kakak udah besar nanti mau nikah sama Biandra."


"Alif!" tegur Bian dengan tawa tercekik, sementara Amara membelalak tak percaya mendengar ucapan Alif. Lalu, Bian menambahkan dengan nada enteng, "Semua orang juga nggak akan percaya, Kak. Apaan sih kecil-kecil udah bahas nikah gitu?"


"Kenapa nggak percaya?" protes Alif tak senang. "Emang kenapa kalau kakak nikah sama Biandra?"


"Biandra ini ade kamu, Kak." Amara akhirnya tertawa geli, sadar bahwa Alif pasti belum mengerti. "Masa mau nikah sama ade sendiri sih? Ya nggak bisa dong, Sayang."


"Temen Kakak juga tadi bilangnya gitu, Bunda," Alif menjelaskan dengan bersungguh-sungguh. "Tapi Kakak udah bilang bisa. Dianya malah ngeyel bilang nggak bisa, ya udah kakak tinggalin aja."


"Ya emang nggak bisa, Kak." Bian mengacak-acak rambut Alif dengan gemas. "Nggak ada yang—"


"Tapi Ayah kok bisa nikah sama ibu?" protes Alif sambil menatap ayahnya dengan serius. "Ayah udah nikah tiga kali 'kan? Sama Ibu, terus nikah lagi sama Mama. Sekarang nikah lagi sama Bunda. Kan Ibu kakaknya Ayah. Berarti nanti Biandra juga bisa nikah sama Kakak. Iya 'kan, Bun?"


"Mampus!" gumam Amara pelan sambil melemparkan lirikan mata pada suaminya. "Nggak mau tau. Kamu yang jelasin."

__ADS_1


__ADS_2