Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 30


__ADS_3

Flashback


Bian masih memikirkan keputusannya yang menceraikan Amara begitu saja. Namun, entah mengapa Bian tak bisa terima ketika Amara menuding Yuanita dengan berkata, 'Bisa jadi istri kamu yang nularin penyakit.'


Bian tak tahu, kalimat tersebut luar biasa seolah mengoyak hatinya. Memang, Bian terbiasa berdiri di garda terdepan untuk membela keluarga, terutama anak dan istrinya.


Rumah tangganya dengan Amara hanya baru berjalan beberapa hari, tak bisa dibandingkan dengan pengorbanan Yuanita yang sudah sepuluh tahun hidup bersamanya. Terlepas dari kondisinya yang belum memiliki keturunan, Bian tahu Yuanita selalu tabah ketika para tetangga menggunjingkan kondisinya yang tak kunjung memiliki anak.


Jadi, ketika Amara menuding hal yang tidak-tidak tentang Yuanita, entah mengapa dia langsung memutuskan untuk menceraikan Amara, yang jelas-jelas belum teruji akan seberapa sabar Amara menghadapi sikap Bian.


Mungkin, Bian tak sadar selama dirinya sakit sipilis, secara tak langsung ucapan Yuanita yang selalu berkata, 'Kalau udah sakit kayak gini, aku juga yang ngurusin kamu 'kan? Mana pelacur-pelacur kamu?'


Dan Bian tak bisa memungkiri hal tersebut, karena faktanya memang Yuanita yang merawat dirinya selama itu. Sehingga dia menepis pemikiran bahwa keputusannya menceraikan Amara sudah benar, bahwa Yuanita lah yang sudah teruji sabar merawatnya, terlepas dari ocehan-ocehan pedas yang dia terima.


Namun, rupanya yang dia bela ternyata orang tersadis yang dengan tega melukainya dengan sebegitu brutal.


Saat itu, Bian meminta akew menghentikan motornya beberapa meter lebih jauh dari pelataran rumah karena melihat Alif bermain gundu bersama teman-temannya.


Namun, tentu saja dia hanya mengingatkan agar Alif tak pulang terlalu sore, karena dia tahu Alif pun akan bosan jika tak ada teman di rumah. Terutama karena Bian tak bisa menemaninya selama dua minggu itu, khawatir Alif akan tertular penyakit.


Bian membuka pintu begitu pelan, khawatir mengganggu Yuanita yang pasti sedang tidur karena sama-sama sedang sakit.


Akan tetapi, ketika Bian akan membuka pintu kamar, tangannya berhenti di gagang pintu saat mendengar erangan samar dari dalam kamar. Awalnya, Bian menduga Yuanita kesakitan, tetapi erangan tersebut berubah menjadi ******* yang sesekali menyebutkan nama 'Ardi'.


Amarah Bian seketika menggelegak ketika menduga Yuanita menyeret seorang pria ke dalam kamar sementara dirinya pergi. Jadi, Bian langsung mendorong pintu dengan keras hingga mengempas dinding.


Memang tak ada pria di sana, tetapi Yuanita yang luar biasa terkejut langsung terperanjat dari tempat tidur. Hanya saja, gaun tidur Yuanita tersingkap, sementara ****** ******** diturunkan, dan sebelah tangan wanita itu memegangi ponsel yang masih menempel di telinganya.


Bian tak cukup bodoh untuk meyakini bahwa Yuanita sedang masturb*si. Namun, fokus Bian tertuju pada ponsel yang masih digenggam Yuanita di dekat telinganya.


Tanpa banyak berpikir, Bian merampas ponsel yang masih tersambung panggilan dan menempelkan di telinganya, tepat ketika pria di seberang panggilan tengah berkata, "Vita sayang, berisik apaan sih? Ayo kita lanjut, bentar lagi aku *******, kamu kan—"


"Bangs*t!" Bian memekik penuh amarah. "Siapa lu, anj*ng—"


Panggilan langsung terputus, dan Yuanita luar biasa pucat sambil terburu-buru menaikkan ****** ********. Seketika, Bian sadar bahwa wanita itu sedang berselingkuh dan melakukan hal menjijikkan.


Jadi, bukan tanpa alasan Bian tak bisa mengendalikan emosinya dan refleks mencekik leher Yuanita hingga wanita itu terbelalak.


"Lu lagi phone ****, Nyet?" Suara Bian luar biasa menggelegar, sementara dia terus mencekik Yuanita sambil mendorong wanita itu hingga membentur lemari.


Sambil berupaya melepaskan tangan Bian dari lehernya Yuanita dengan terpatah-patah membantah, "Nggak, Pa, M-mama ... Mama bisa jelas—"


"Masih mau ngelak?" Bian menarik leher Yuanita, lalu menghantam kepala wanita itu pada cermin yang menempel di lemari.


Ketika Yuanita memekik kesakitan, Bian kembali berteriak gemetaran, "Gue udah kasih peringatan ke lu, jangan pernah sekali-kali lagi mainin gue, Bangs*t!"


Sekali lagi Bian menghantam kepala Yuanita, tak menyadari kepala belakang wanita itu sudah berdarah karena pecahan kaca.


"Pa, ampun, Pa ... Sakit—"


"Hati gue lebih sakit dan ancur dari ini, Anj*ng!" Bian tak berdusta, sama sekali tak bisa mentolerir lagi apa yang dilakukan Yuanita.


Yuanita berupaya memberontak, tangannya tak berhasil melepas cengkraman Bian yang semakin erat mencekiknya. Jadi, dia berupaya meraih benda di atas meja di samping lemari.


Benda pertama yang gapai adalah asbak keramik, lalu Yuanita menghantam kepala Bian. Namun, tenaganya tak cukup besar karena dia semakin kesulitan bernapas.


Hal itu berhasil membuat amarah Bian semakin tersulut. Sehingga dia langsung mengempas tubuh Yuanita hingga wanita itu terkapar di lantai.


Dengan napas memburu Bian menunjuk-nunjuk Yuanita, dan dengan gigi bergemeretak dia menggeram marah, "Lu bener-bener nguji kesabaran gue! Kurang apa gue sama lu, lont*?"


Bian menyambar lagi ponsel Yuanita yang dia lempar ke tempat tidur. Sambil memegangi kepala yang sudah berdarah, Yuanita langsung bangkit dan berusaha menyambar ponselnya dari Bian.


"Nyembunyiin apa lagi lu dari gue?" bentak Bian sambil memeloti dan mendorong Yuanita hingga wanita itu lagi-lagi terjatuh di atas lantai.


Semakin Yuanita berusaha merebut ponselnya dari Bian, pria itu jelas semakin penasaran. Kemudian Bian tersadar bahwa itu bukanlah ponsel baru yang dibelikan Bian beberapa minggu lalu, itu ponsel lama Yuanita yang katanya rusak.


Satu kebohongan kecil Yuanita yang disadari Bian, dan jelas pasti ada kebohongan lain yang wanita itu sembunyikan.


"Minggir, jal*ng!"


Bian mendorong Yuanita lagi ketika wanita itu merangkak dan menarik kaki Bian, berusah bangkit sebelum pria itu menelisik lebih jauh apa yang tersimpan dalam ponsel tersebut.


Yuanita berhasil berdiri dengan susah payah sambil memohon, "Pa, jangan dibuka. Itu bukan punya Mama—"


"Diem!" bentak Bian dengan gigi bergemeretak, kemudian beranjak menjauh dan memeriksa ponsel tersebut.


Dia berdiri di dekat ambang pintu dengan napas luar biasa memburu serta mata memerah. Ketika Bian mencoba menggulirkan ibu jari pada keyboard, tiga jemari Bian merasakan sesuatu mengganjal di balik ponsel.

__ADS_1


Lalu, kemudian dia membalik ponsel dan membuka jelly case merah muda. Sekali lagi Bian terkejut melihat lima sim card dari berbagai operator terselip di sana, dan sekali lagi Yuanita berupaya menghampiri Bian.


"Pa, itu bukan punya—"


"Lu bisa diem atau mau gue gampar?"


Pelototan Bian berhasil membuat Yuanita gemetaran. Jadi, wanita itu berdiri di jarak tiga meter sambil menekan belakang kepalanya yang terluka, sementara Bian mulai memeriksa satu persatu sim card tersebut.


Butuh waktu beberapa saat hanya untuk memeriksa setiap kartu. Hal pertama yang diperiksa Bian adalah blackberry messenger, pesan, dan nama kontak. Dia tertegun saat melihat kontak bernama 'suamiku tercinta', yang jelas-jelas bukan nomor Bian.


Jadi, tak heran jika Bian langsung kembali menatap Yuanita dengan kelam. "Siapa yang kamu namai 'suamiku tercinta'?"


Yuanita tak menjawab, bibirnya terkunci rapat sementara Bian mulai menghubungi nomor tersebut. Panggilan pertama tak ada jawaban, kemudian dia mencoba panggilan kedua.


"Halo, Mami? Tumben banget nelpon? Kangen Papi, ya—"


"Anj*ng! Punya hubungan apa lu sama bini—"


Panggilan terputus sebelum Bian berhasil menyelesaikan kalimatnya. Namun, pukulan Bian tak hanya sampai di situ.


Selain kontak bernama 'suamiku tercinta', Bian masih menemukan nama-nama kontak 'My Love, Aa ganteng, kekasih tercinta, pacarku paling tampan'— Bahkan puluhan nama-nama pria lain yang membuat ulu hati Bian merasa dihujani belati tak berkesudahan.


Itu di simcard yang masih menempel pada ponsel. Belum lagi lima simcard lain yang membuat Bian hampir tak bisa bernapas. Memang, dia tak memungkiri cintanya pada Yuanita tak bisa dibilang besar.


Namun, mustahil jika Bian tak menyayangi Yuanita sedikit pun setelah sekian lama mereka berumah tangga— setelah mereka melalu berbagai onak dan duri yang menyertai perjalanan rumah tangga mereka dalam berbagai kondisi.


Bian juga tak menampik dan mengakui bahwa dirinya bukan pria baik-baik. Akan tetapi, Bian tahu benar kebiasaannya dua tahun belakangan ini yang 'jajan' di luar hanya untuk melampiaskan kekecewaan yang tak bisa dia ungkapkan karena pengkhianatan Yuanita.


Dia tak tahu, kenapa dirinya sebegitu bodoh. Bagaimana mungkin Bian bisa bertahan sebegitu lama dengan Yuanita, hanya karena berpegang teguh dia tak ingin menelantarkan anak dan istri, seperti yang dilakukan ayahnya di masa lalu.


Pada akhirnya, janji dan tekad yang dia gaungkan karena rasa sakit akibat melihat penderitaan ibunya di masa kecil, justru membuat Bian terperangkap dalam luka luar biasa dahsyat.


"Kenapa kamu segitu begonya jadi cewek, Yuanita?" Bian tertawa pahit saat memeriksa simcard terakhir, hanya menemukan tiga kontak pria entah siapa lagi pria-pria tersebut.


Kemudian dia mendekati Yuanita, menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya.


Dengan penuh rasa sakit, Bian menatap istrinya dengan begitu dingin sambil berkata, "Nggak sedikit wanita yang ingin ada di posisi kamu. Hidup nyaman tanpa harus dipusingkan kesulitan ekonomi. Coba kamu bilang di mana kurangnya saya? Kurang perhatian? Kurang uang belanja? Kurang digauli? Apa yang sebenarnya kamu cari?"


Yuanita tak bisa menjawab, dia menangis terisak-isak— tak bisa membalas tatapan Bian, atau mengucapkan sepatah kata pun dari mulutnya.


"Pa, maafin—"


Bian mendorong Yuanita ketika wanita itu ingin memeluknya, berusah membujuknya. Dia kembali menjauh, merasa belum puas memeriksa ponsel Yuanita karena hanya baru melihat daftar kontak yang membuatnya mual.


Bian menghela napas dalam-dalam sebelum menggerakkan jemarinya membuka aplikasi pesan. Entah dengan siapa saja Yuanita berkirim pesan, dia sudah tidak bisa memindai banyaknya nama-nama pria di sana.


Hanya saja, tak sedikit isi pesan Yuanita yang menyatakan bahwa dia berstatus janda yang ditinggal mati suaminya.


"Lu nggak pantes gue maafin, Yuanita!" Suara Bian begitu lirih, penuh syarat akan rasa sakit.


Bian sampai di titik lelah untuk marah. Dia menyambar sebatang rokok dan menyulutkan api. Kemudian duduk di tepi ranjang dan kembali melanjutkan memeriksa pesan-pesan yang belum dia jelajahi.


Tanpa memedulikan Yuanita yang tersungkur sambil terisak-isak di hadapannya, fokus Bian tertuju pada nama 'Ardi'— yang jelas-jelas dia ingat itulah nama yang disebut-sebutkan Yuanita dalam desahannya, dan tentu saja pastinya pria itu juga yang melakukan **** by phone dengan Yuanita.


Seolah mengingat-ingat setiap tanggal dan waktu, Bian melihat sesuatu yang janggal dalam pesan tersebut, yang menyatakan apakah Yuanita masih menyimpan video mereka.


Sambil menghisap rokok dalam-dalam, jemari Bian bergulir membuka aplikasi file manager. Bian terdiam sejenak ketika melihat file yang dinamai 'aku dan kekasihku tercinta'.


Rasa dingin yang merayapi seluruh tubuh Bian berkolaborasi dengan rasa sakit dan amarah yang kian tak terkendali— tepat ketika melihat tiga video panas Yuanita dan Ardi di sebuah hotel.


Untuk beberapa detik, Bian bahkan tak bisa bernapas. Tak ingin menebak bahwa itu adalah Yuanita, dan berusaha berpikir bahwa itu adalah video bok*p biasa. Namun, fakta dan skandal perselingkuhan itu memang harus terkuak.


Saat rasa penasaran mengalahkan logika, Bian memaksa diri untuk menakan video tersebut. Tak butuh waktu bermenit-menit bagi Bian untuk mengenali bahwa itu adalah Yuanita, karena di detik-detik awal pun di bisa melihat tubuh wanita bugil di bawah kungkungan seorang pria itu jelas adalah Yuanita.


Tanpa bisa dikendalikan, Bian menendang Yuanita dengan amarah bergemuruh yang kian membabi buta. Yuanita yang langsung terkapar seolah tak membuat Bian mengurungkan niat untuk melayangkan sebuah tinjuan di wajah Yuanita.


Yuanita menjerit-jerit lemah meminta ampunan Bian. Hanya saja, Bian tak tahu kenapa dia benar-benar seperti orang dirasuki iblis, sama sekali tak bisa menyadari keadaan sekitar, tak bisa mendengar pekik kesakitan Yuanita.


Satu-satunya kalimat yang diucapkan oleh Bian ketika mencek*k Yuanita adalah, "Dar*hmu halal bagi saya!"


Mata Yuanita terbelalak, nyaris kehabisan napas ketika Bian menduduki perutnya. Cek*kan Bian di lehernya seolah melekat, dan Yuanita sama sekali tak bisa meronta-ronta lagi melawan Bian.


Amarah yang menaungi Bian begitu asing, tak terkendali dan membuat dia benar-benar berniat ingin menghabisi Yuanita detik itu juga. Meski begitu, pipi Bian basah ketika dia mengeratkan cek*kannya di leher wanita itu.


Entah karena luka dan rasa sakit yang dilakukan Yuanita, atau karena pemberontakan Bian yang tak bisa mengendalikan amarahnya.


Bian tak tahu apa yang saat ini dia rasakan. Hatinya berdenyut tak keruan. Terluka, kecewa, bahkan rasanya tak ada kata yang sebanding dan bisa menggambarkan betapa hancurnya pria itu.

__ADS_1


Ketika napas Yuanita seolah akan berakhir, saat itulah Bian samar-samar mendengar Alif yang entah sejak kapan berada di ambang pintu kamar sambil menangis menjerit-jerit, "Papa ... jangan nyakitin Mama! Papa! Papa!"


Saat itulah Bian tersadar, lalu mendengar langkah kaki terburu-buru sebelum akhirnya beberapa orang berupaya menghentikan Bian dari melenyapkan Yuanita.


Hal itu begitu cepat terjadi, bahkan Bian tak sadar berapa orang tetangga yang mencoba memeganginya, menjauhkan Bian dari Yuanita yang nyaris mati di tangannya.


Telinganya seolah berkarat, tak bisa mendengar pekikan orang yang mencoba menyadarkan Bian. Matanya seolah tertutup, tak bisa melihat bahwa Yuanita hampir tak bisa bernapas ketika beberapa orang mengangkat wanita itu dari lantai.


Hingga beberapa waktu berlalu, Bian seolah masih tak bisa diajak berkomunikasi. Matanya masih memerah, terbayang betapa panasnya video Yuanita dengan Ardi. Telinganya mendadak tuli, hingga dia tak bisa mendengar deru mobil yang membawa Yuanita ke rumah sakit.


Jika saja bukan karena melihat Alif menggigil dan menangis ketakutan di pelukan salah satu tetangganya, Bian tak tahu sampai kapan dirinya dikendalikan emosi.


Bukan hal mudah bagi Bian untuk dapat tersadar dalam waktu singkat, hingga tak bisa memikirkan kemungkinan dia akan mendekam di balik jeruji jika saja nyawa Yuanita melayang.


Bian memeluk Alif, menciumi anak lelakinya dengan penuh rasa sesal, sekaligus mencari ketenangan dari Alif yang gemetar ketakutan, sementara bibir kecilnya terus menggumamkan, "Papa kenapa muk*lin Mama? Mama nggak akan meninggal kayak mamanya temen Alif kan?"


Bian tak bisa menjawab, bibirnya terkunci rapat— menyadari dirinya begitu egois hingga tak memikirkan konsekuensi yang akan terjadi pada Alif jika dia benar-benar tak sadar melenyapkan istrinya.


Memang, Alif bukan buah hatinya bersama Yuanita, satu hal yang mungkin patut Bian syukuri kenapa hingga detik ini istrinya tak kunjung memberikan dia keturunan.


Namun, tetap saja Bian sadar bahwa Alif adalah titipan-Nya, terlepas dari dirinya yang belum bisa menjadi panutan bagi Alif. Terlebih lagi, Alif adalah anak dari kakak perempuannya, sang yatim yang tak pernah melihat seperti apa sosok ayahnya.


Jadi, tak heran jika kasih sayang Bian benar-benar tumpah ruah pada anak lelaki kecil di pangkuannya.


"Maafin Papa," gumam Bian penuh sesal. "Mama kamu nggak akan meninggal. Bentar lagi pasti pulang."


Sambil bercucuran air mata dan terisak-isak sesak, Alif memandang wajah ayahnya, berharap bisa mempercayai apa yang dikatakan sang ayah.


Namun, sorot mata Bian yang masih memerah diselimuti amarah membuat Alif semakin sesenggukan, sementara tubuhnya kian gemetaran. Dan tak bisa Bian pungkiri bahwa Alif dirundung rasa takut luar biasa.


Pada akhirnya, Alif semakin histeris di pangkuan ayahnya hingga Bian semakin kalut dan serba salah. Jadi, ketika Agung— kakak ipar Bian datang setelah salah satu warga menghubungi keluarga Yuanita, dia membiarkan anak lelakinya pergi bersama keponakan Yuanita.


Walau bagaimana pun, saat ini Bian tak bisa menemukan cara yang tepat untuk meredakan ketakutan Alif. Membuat Alif menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga tak pernah ada dalam skenario Bian, karena dia tahu apa dampak yang akan muncul pada Alif di kemudian hari.


Sementara Alif pergi bersama anak lelaki Agung yang berusia enam belas tahun, Bian meminta ketua RT yang ada di rumahnya agar membubarkan kerumunan warga. Lalu, kemudian dia, Agung, dan beberapa tokoh masyarakat setempat mulai bermusyawarah.


Awalnya, beberapa orang warga sudah berupaya menggiring Bian ke pihak berwajib untuk mempertanggung jawabkan apa yang dia perbuat pada Yuanita.


Namun, setelah Bian berhasil mengendalikan emosional dan bisa diajak berbicara, dia mulai menjelaskan duduk permasalahan yang mendorong dirinya melakukan hal demikian.


Perselingkuhan Yuanita yang menjijikkan merupakan aib dan noda terbesar dalam rumah tangga Bian, yang di lingkungannya terkenal sebagai pasangan harmonis— meski mereka tak kunjung dikaruniai anak. Jadi, tak mungkin Bian menceritakan skandal tersebut secara gamblang pada mereka.


Sepuluh tahun Bian tinggal di kampung Yuanita, beradaptasi dan bergaul baik dengan warga sekitar jelas dilakukan Bian sejak lama. Dan tak heran jika kekacauan yang saat itu terjadi cukup membuat gempar dan terkejut, tak menduga bahwa Bian melakukan kekerasan dalam rumah tangga.


Persetan dengan asumsi mereka, Bian tak peduli jika reputasinya bobrok. Tak menggubris jika dia dilabeli sebagai pria arogan, biadab yang berani menganiaya istrinya sendiri. Yang Bian tahu, dirinya gagal menjadi seorang suami karena tak bisa mendidik anak dan istrinya dengan baik.


Setelah bermufakat dan memutuskan bahwa masalah tersebut akan diselesaikan secara kekeluargaan, akhirnya yang berada di sana hanya Bian dan Agung. Tak lama kemudian terdengar deru mesin mobil yang berhenti di pelataran, Yuanita pulang dari rumah sakit dituntun masuk oleh tiga orang warga ke dalam rumahnya.


Memar dan lebam di wajah Yuanita rasanya tak sebanding dengan seberapa hancurnya Bian saat ini. Bahkan perban lebar yang menempel di belakang kepala Yuanita tak bisa membuat Bian sedikit pun merasa iba.


Yuanita terduduk lemas di samping Agung, sementara Bian menatapnya dengan penuh amarah. Setelah hanya tersisa Bian, Yuanita, dan Agung di rumah tersebut, Bian tak berpikir ulang untuk langsung berkata, "Mulai sekarang, kamu dan saya bukan lagi suami—"


"Bian, coba pikirkan ulang keputusannya," Agung menukas dengan penuh harap, seolah dibutakan bahwa yang dilakukan adik perempuannya pada Bian benar-benar fatal. "Apa nggak bisa diselesaikan dengan—"


"Dua tahun lalu kamu bersaksi bahwa talak saya otomatis jatuh jika Yuanita mengulangi kesalahannya," pungkas Bian tegas, dan amarah yang masih berkobar di matanya membuat Agung langsung membisu.


Tak ada yang bisa dilakukan Yuanita, kecuali menangis terisak-isak. Jika saja tak ada bukti video di ponsel wanita itu, mungkin Bian akan dengan mudah percaya pada Yuanita, luluh begitu saja ketika wanita itu mengatakan dirinya khilaf.


Namun, Yuanita masih mencoba membujuk, "Pa, Mama janji nggak akan—"


"Kita bercerai," pungkas Bian, tak bisa diajak bernegosiasi. "Saya, Fabian Khadafi, secara lisan dan akan disusul tulisan, detik ini saya jatuhkan talak tiga padamu, Yuanita Pusvitasari. Kesalahan yang kamu ..."


"Talak tiga?" Yuanita terbelalak kaget hingga dia berdiri dari sofa. "Pa, kasih Mama kesempatan—"


"Talak satu dan dua sudah pernah terjadi dalam rumah tangga kita." Suara Bian penuh penekanan. "Kamu bukan wanita yang patut ditoleransi lagi dan lagi. Besok pengacara saya akan urus proses perceraian sampe—"


"Jangan bawa Alif!" Yuanita tiba-tiba memekik saat menyadari dia tak mungkin mendapatkan apa pun. "Kamu udah janji kalau Alif akan tetep sama aku kalaupun kita berpisah."


Saat itulah Bian membisu, tak bisa menampik surat perjanjian yang ditandatangani ketika mereka mengadopsi Alif dengan pernyataan yang baru dikatakan Yuanita.


"Alif anak kakak aku, kamu nggak berhak—"


"Tapi kakak kamu tetep bakalan ngasih Alif ke orang lain kalaupun kita nggak ngadopsi dia. Alif anak aku, kamu nggak bisa bawa dia pergi dari—"


"Saya yang ngurus dan nyebokin dia!" bentak Bian dengan amarah yang kembali tersulut. "Kamu nggak ada hak sama sekali atas diri Alif, dia anak saya. Kamu sedikit pun—"


"Surat perjanjian di atas materai yang disaksikan semua keluarga kamu ngebuktiin kalau Alif jadi hak aku sepenuhnya!" Yuanita melemparkan kartu as Bian yang membuat pria itu tak bisa membantah. "Kalau kamu berpegang teguh pada surat perjanjian akan jatuhnya talak tiga saat kita bercerai lagi, aku juga bisa tetep kekeuh buat pertahanin Alif. Kamu atau keluarga kamu nggak akan menang banding kalau surat itu dibawa ke pengadilan."

__ADS_1


__ADS_2