Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 58


__ADS_3

"Bun, air minum Alif udah dimasukin ke tas 'kan?" Sekali lagi Alif memastikan pada Amara. "Kemarin waktu Alif mau minum nyariin botolnya di tas nggak ada."


"Itu mah Bunda lupa masukin, padahal udah siap di meja makan." Amara terkekeh kecil sambil membungkuk merapikan seragam merah putih yang dipakai Alif.


Bian berjalan menuruni undakan anak tangga sambil menggendong Biandra, bersiap mengantar Alif ke sekolah. Mendengar percakapan Amara dan Alif Bian langsung menasihati dengan pelan, "Makanya kakak belajar mandiri, jangan ngandelin Si Bunda terus. Kan kakak tau si Bunda kalau pagi-pagi repot sama Biandra. Belum lagi kamu banyak maunya, mau sarapan ini itu. Nanti lagi coba—"


"Udahlah, Om, cuma kayak gitu doang kenapa harus dipermasalahin sih?" Amara menoleh dan menghampiri Bian, lalu mengambil Biandra dari pangkuan suaminya. "Udah sana, kamu anterin Alif dulu, nanti kita kesiangan berangkat ke rumah sakitnya."


Alif melompat-lompat kegirangan di dekat Amara untuk menciumi tangan Biandra yang sudah tak lagi memakai kain bedongan.


"Biandra gemesin banget sih," seru Alif dengan gigi terkatup gemas. "Kakak berangkat sekolah dulu, ya, Dee?" Sekali lagi Alif mencium pipi Biandra sembari menggesekkan hidungnya.


"Kak, nanti kakak pulang sekolah dijemput sama si ibu, ya?" kata Amara mengingatkan.


"Emang Papa sama Bunda ke rumah sakitnya lama?" Alif mengulurkan tangan untuk menyalami bundanya.


"Takutnya kita pulang telat," Bian menjelaskan sambil meraih tas Alif di atas sofa. "Nanti pulang dari rumah sakit Papa sama Bunda langsung jemput Alif ke rumah ibu."


"Bawain kue lagi, ya, Bund?" Alif tersenyum ceria ketika melihat Amara mengangguk mengiyakan.


Amara mengangguk dan mengecup pipi Alif. "Belajar yang pinter, ya, Kak .... I love you."


"Kamu kok bisa-bisanya bilang I love you ke si Alif?" gerutu Bian sambil melirik Amara. "Ke aku mana pernah bilang I love you kayak gitu?"


"Dih ..." Amara tergelak tawa melihat ekspresi Bian yang tampak cemburu. "Orang semalem aku udah bilang sayang Om banyak-banyak."


"Tapi kan itu bukan bilang I love you, Ra," Bian mengeluh.


Amara mendorong punggung Bian dengan sebelah tangannya sambil terus tertawa-tawa. "Apaan sih kayak anak kecil gitu, cemburuan segala sama anak sendiri."


Bian mengerucutkan bibir membentuk sebuah ciuman, lalu menunduk untuk menggesekkan hidung di pipi Biandra. "Kamu mau nitip apa, Ra?"


"Nggak ada. Udah kamu buruan langsung pulang lagi aja, aku mau siap-siap, ntar pegangin Biandra kalau udah dimandiin."


"Siap, Bunda- ku."


Jadi, Bian langsung pergi setelah sekali lagi mendaratkan kecupan singkat di bibir istrinya. Amara lantas beranjak ke lantai atas dan mengurus Biandra sementara Bian mengantarkan Alif sekolah.


Amara memang sudah mandi wajib ketika hendak melakukan salat subuh, sama seperti Bian. Namun, tubuhnya kembali berkeringat setelah berjibaku di depan kompor untuk menyiapkan sarapan bagi suami dan anaknya.

__ADS_1


Belum lagi kesibukan-kesibukan kecil yang juga dilakukan Amara: menyiapkan seragam dan keperluan sekolah, menyetrika satu set pakaian untuk pergi, hingga merapikan kamar.


Bukan berarti Bian tak membantu, tetapi seperti biasa, Amara lebih menyukai jika dirinya aktif melakukan kegiatan rumah tangga tersebut.


Jadi, tak heran jika sekarang tubuhnya kembali terasa lengket setelah selesai memandikan Biandra dan memberinya susu.


Akhirnya Amara memutuskan untuk mandi lagi. Tak ingin berspekulasi tubuhnya akan tak nyaman oleh keringat saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Dia membiarkan Biandra berada dalam keranjang, memutar musik box klasik yang menggantung di atas tempat. Dia tahu Biandra pasti akan tertidur jika perutnya sudah kenyang.


Kendati demikian, tetap saja Amara tak berlama-lama di kamar mandi— hanya sekadar untuk menghilangkan bau keringat karena dia sudah keramas tadi subuh.


Bian hanya pergi selama tak kurang dari dua puluh menit. Jadi, begitu dia kembali ke villa, Bian langsung masuk dan beranjak ke kamar mereka.


Sewaktu Bian membuka pintu kamar, Amara tengah mengeringkan tubuh dengan handuk. Kesegaran dari sabun cair beraroma lavender menyeruak hidung ketika Bian berjalan masuk. Namun, yang lebih menyegarkan mata adalah pemandangan yang kini tak lepas dari penglihatan Bian.


"Kebiasaan kalau masuk nggak pernah ngetuk pintu dulu!" Amara mendengkus sambil memelototi Bian, tangannya kembali menyambar handuk dari atas tempat tidur yang baru saja dia lepaskan. "Tutup matanya! Aku nggak pake baju!"


"Nggak usah repot-repot ditutupin kayak gitu, Sayang." Bian tertawa kecil sambil berjalan menghampiri istrinya yang berdiri di antara ujung ranjang dan meja rias, sementara tangannya tampak sibuk melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya yang polos. "Aku udah ngeliat semuanya."


Amara bersikap waspada dan menggertakkan gigi ketika Bian melangkah mendekat. "Jangan ke sini!"


"Telat," kata Bian yang langsung menyambar pinggang Amara dan menariknya ke dalam pelukan.


Amara memegangi handuk yang melilit di dadanya ketik ajak tiba-tiba mendaratkan kecupan di lehernya seraya berbisik serak, "Enak amat sih, Ra, wangi kamu. Bikin orang nafsu, tau nggak?"


Alih-alih melepas pelukannya dari pinggang Amara, Bian justru mendesakkan tubuh hingga tubuh Amara menyurut mundur hingga membentur lemari.


"Kalau aku bilang nggak mau, gimana?" Bibir Bian bergerak nakal di leher Amara, sementara tangannya mengunci tubuh wanita itu agar tak bisa memberontak. "Sarapan paginya belum lengkap, aku mau makan kamu dulu."


Amara menggeram jengkel, tetapi dia hampir menyerah ketika kecupan basah Bian di lehernya seolah mengirimkan sensasi hangat yang merayap ke sekujur tubuh.


Sebelah tangan Amara masih memegangi simpul handuk, agar tak terlepas dari tubuhnya. Namun, sebelah tangannya lagi refleks memegangi kepala Bian ketika pria itu menciumi bahunya yang terbuka.


"Om, semalem kita udah dua kali," kata Amara, menahan sensasi menggelitik yang membuat perutnya tegang. Pipinya terasa panas ketika mengingat adegan liar yang dilakukan Bian di meja makan saat pria itu tak kuasa mengendalikan g@ir@hnya.


"Tapi belum tiga kali, Sayang." Suara Bian berubah parau saat meraup pay*dara Amara, meremas dari balik handuk dengan gerakan sensual. "Aku bilang pengennya tiga kali."


Meski berhubungan intim sesama suami istri bukanlah hal yang tak mungkin dilakukan, tetapi gairah Bian semalam yang memintanya mencoba berbagai gaya membuat Amara sedikit malu.


Belum lagi, pria itu tahu benar bagaimana cara membuat Amara meronta-ronta di bawah sentuhannya. Dia tak tahu kenapa semalam bisa sebegitu liar bersama Bian.

__ADS_1


Bahkan, Bian membiarkan Amara bebas mendesah dan berteriak ketika pria itu memberikan berjuta kenikmatan yang baru Amara rasakan. Jadi, ketika sekarang Bian menciuminya, Amara tak bisa untuk tidak hanyut oleh permainan lidah Bian yang piawai.


Pria itu menautkan bibirnya pada bibir Amara, ******* dan mencecap dengan penuh dahaga hingga Amara nyaris kehabisan napas untuk mengimbanginya.


Pada akhirnya, Amara pasrah ketika Bian menarik simple handuk tersebut hingga melumuk di bawah tubuh mereka.


"Sayang, kata Bian sambil memandangi tubuh Amara yang lembab dan segar. "Aku pengen lagi sekarang, sebentar aja."


"Sebentar apanya?" keluh Amara serak. "Semalem juga lama, sampe kakiku keram, baru kamu berenti."


Bian tersenyum nakal sambil mengecup pipi Amara. Lalu kembali menunduk, berlama-lama memandangi saat tangannya memainkan pay*dara istrinya.


Bian bisa melihat perut Amara menegang, sementara tarikan cepat napasnya membuat gairah Bian kembali meletup. Bukan hal sulit bagi Bian untuk menebak bahwa sekarang Amara juga sama terbakar gairah. Terutama ketika dia menyelipkan sebelah tangan di antara lipatan paha sang istri, menyentuhkan jemarinya ke sana dan langsung berbisik serak, "Kamu udah basah, Ra. Bilang kalau kamu juga pengen."


Amara tak mampu menjawab, karena apa yang dikatakan Bian memang benar adanya. Jadi, tak heran jika sekarang dia langsung pasrah sewaktu Bian melucuti gesper dan melepas celana.


Amara melirik jam sekilas, waktu menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Sementara mereka harus ke dokter anak pukul sembilan pagi.


Amara tak ingin berspekulasi Bian akan menghabiskan waktu seperti semalam, hampir satu jam penuh saat mereka menghabiskan percintaan di ronde kedua.


Dia berpikir akan lebih cepat jika dirinya yang mengambil kendali untuk percintaan mereka kali ini. Akhirnya dia mendorong Bian ke tempat tidur dan merangkak naik ke atas tubuh suaminya yang kini berbaring dan mengerang rendah.


Hanya untuk mempersingkat waktu, itu saja.


Sayangnya, ketika mereka mulai menyatu dan Amara meliukkan tubuh, pada akhirnya gairahlah yang menguasai mereka hingga keduanya lupa waktu.


Jika semalam Bian menunjukkan seberapa besar cinta yang dia miliki untuk Amara, kini Amara lah yang menunjukkan pada Bian keuntungan memiliki seorang Istri yang tengah dilanda cemburu buta.


"Sayang, kamu luar biasa nikmat," Bian mengerang penuh kenikmatan ketika Amara bergerak agresif di atas tubuhnya. Dia meremas pay*dara istrinya yang bergerak-gerak di depan wajah. "Aku bisa gila kalau kamu kayak gini, Sayang."


Bian tak tahan untuk tidak meremas kedua bumper belakang Amara, mengguncang pinggang wanita itu sementara dia turut menggerakkan tubuh.


Amara mengerang dan memberitahu bahwa dia akan segera meledak, memohon pada Bian agar pria itu menyelesaikan dan segera mengambil alih. Amara tak tahu seberapa liar gerakan tubuhnya, tetapi dia tak berdaya ketika Bian kini beralih berada di atas tubuhnya.


Tubuh Amara bergetar ketika gairah yang membelenggu jiwanya akhirnya terlepas. Namun, Bian belum berakhir. Dia membalik tubuh Amara agar berbaring tengkurap, lalu kembali menyatukan tubuh dan bergerak intens.


"Om ...," Amara meloloskan desauan untuk kesekian kalinya ketika pria itu menghujam lebih dalam. Sementara bibir Bian terus bergerilya di punggung Amara, menghujani kecupan-kecupan penuh gairah hingga berakhir gigitan penuh nafsu di tengkuknya. "Ampun, aku nyerah."


"Nggak bisa, Sayang," kata Bian sambil meraup rambut Amara, mengulum telinganya hingga tubuh Amara semakin bergetar. "Udah dua bulan aku nahan pengen bercinta liar kayak gini sama kamu."

__ADS_1


Jadi, Amara membiarkan Bian melepaskan fantasi yang nakal. Dia memberikan apa yang Bian inginkan, dan Bian mengambil semua apa yang istrinya berikan.


Keduanya kembali mendayu-dayu, memagma syahwat dengan penuh cinta hingga bulir-bulir keringat membasahi tubuh kedua insan yang dilanda g@ir@h membabi buta.


__ADS_2