
Bian tiba di Villa Hawai hampir satu jam kemudian, tak lama setelah iring-iringan dua unit SUV hitam keluar dari villa. Jadi, dia tak sempat bertemu dengan sekelompok orang yang mungkin baru saja meringkus tamu di villanya.
Kendati demikian, Bian tetap memarkirkan mobil dan masuk menemui adik serta penjaga villa. Seharusnya Bian lega karena tidak perlu terlibat terlalu jauh. Namun, melihat dua orang anak kecil yang menangis sementara Dika menghiburnya, entah mengapa Bian merasa kesal.
"Jadi, si Tiara juga ikut digiring ke kantor polisi?" Bian menyelidik Dika dengan ekspresi tak mengenakan. "Kalau ujung-ujungnya dibawa, ngapain tadi nelpon dan minta saya ke sini? Nyusahin orang aja malem-malem."
"Tadi mah belum ketemu barang bukti, A. Makanya butuh informasi dari pemilik villa, mungkin khawatir kalau villa ini dibikin basecamp karena Tiara udah sebulan ada di sini," ungkap Dika, tak kalah khawatir seperti kakaknya. "Tapi pas geledah salah satu kamar yang dipake temen Tiara yang baru datang tadi pagi, di sana baru ketemu ada pipet sama bong, sama ubas satu Ji. Yaudah langsung digiring mereka semua, orang barang bukti udah—"
"Tapi beneran itu si Tiara kekeuh ngakunya nggak make?" tukas Bian, tak bisa memungkiri bahwa dia khawatir melihat kedua anak Tiara tampak syok melihat ibunya diringkus oleh polisi.
"Orang Tiara sampe nangis sambil sumpah serapah bilang dia nggak make," Dika memaparkan. "Tapi mau gimana lagi, kayaknya tiga orang cewek temen Tiara itu emang pemake, mungkin juga emang udah jadi TO— Target Operasi. Nggak tau deh Tiara nya tau apa nggak kalau temen-temennya pada make. Yang jelas, dia dibawa buat tes urin sekalian periksa lebih—"
"Kamu telpon sepupunya— Benny," pungkas Bian setelah berpikir sejenak. "Kasih tau aja kronologisnya, biar dia urus Tiara ke—"
"Sebelum aku nelpon Aa kan Tiara nelpon Benny dulu," pungkas Dika. "Tapi Benny- nya lagi di Semarang. Terus barusan juga Benny nelpon, minta tolong Aa urus ke kantor polisi. Kalau Tiara emang kebukti negatif, atau sama sekali nggak tau menau, tolong diurus prosedurnya di kantor polisi. Nanti masalah biaya dia yang tanggung. Kan tau sendiri di sini kerabat Tiara siapa aja."
Bian mendengkus jengkel. Dia sama sekali tak ingin ambil bagian untuk membantu Tiara. Bahkan, lebih dari itu, Bian tak pernah berniat untuk menampakkan wajah pada mantan kekasih— tak peduli meski Tiara berkali-kali menitipkan pesan pada Dika agar menemui Tiara di villa Bian yang disewa wanita itu.
Namun, nuraninya tak bisa mengelak ketika melihat dua anak Tiara yang jelas-jelas pasti sangat terkejut dengan penangkapan tersebut. Memang, Tiara adalah mantan kekasihnya sebelas tahun lalu. Hanya saja, sebagai orang yang pernah menjalin hubungan serius dengan Tiara, Bian tahu benar siapa saja kerabat yang dimiliki Tiara di sana.
__ADS_1
Terlebih lagi, kepergian Tiara sebelas tahun lalu benar-benar membuat semua teman wanita itu sudah pasti melupakannya. Jadi, tak heran jika Benny meminta bantuannya untuk mengurus Tiara.
Setelah menimbang-nimbang, Bian berpikir mustahil tak membantu Tiara— sementara kedua anak wanita itu berada di villanya. Sebenarnya, Bian benci ketika nurani terus mengoyaknya agar segera melakukan sesuatu.
Bian tak tahu seberapa lama waktu yang akan dia butuhkan untuk mengurus Tiara di kantor polisi. Namun, dia juga tak mungkin membiarkan Dika atau para karyawannya justru disibukkan untuk menjaga anak-anak Tiara.
"Minta tolong Anji buat nelpon Juwita, suruh dia ke sini biar jagain anak-anak—"
"Udah ditelpon, tapi nggak diangkat-angkat," pungkas Dika bingung. "Jelas pasti lagi tidur atuh jam—"
"Terus masa harus saya yang direpotin terus?" Bian menggerutu dengan wajah semakin suram. "Saya orang asing, si Benny yang sodaranya aja nggak bisa terjun langsung. Masa si Juwita nggak mau direpotin? Suruh aja Anji ke rumahnya, gedor-gedor pintunya sampe kebuka!"
Ketika Bian tiba di kantor polisi setempat satu jam kemudian, Tiara baru saja selesai menjalani serangkaian penyelidikan dan pemeriksaan yang menyatakan bahwa dirinya negatif. Wanita itu tengah bersiap pulang bersama salah satu temannya yang juga baru selesai diinterogasi.
Sementara dua teman Tiara yang lain terpaksa harus ditahan karena terbukti menggunakan narkoba, dan menunggu konfirmasi pihak keluarganya dari Jakarta agar datang mengurus mereka.
Bian memutuskan bahwa itu bukan urusannya, tetapi dia mengantar Tiara dan temannya kembali ke villa. Meski Bian tahu bahwa Tiara menyewa villanya selama hampir satu bulan, tetapi tak pernah sekali pun dia berniat bertemu dengan sang mantan.
Sepanjang perjalanan, Bian tak sedikit pun melirik kaca spion untuk melihat Tiara yang terus mengamatinya di kursi belakang. Bahkan, saat di kantor polisi pun dia hanya melihat wanita itu sekilas, dan cukup yakin untuk menyadari bahwa banyak hal yang berubah dari wanita itu, tentu saja.
__ADS_1
Wanita itu jelas tak secantik dulu, tetapi parasnya tetap ayu memesona, dan lesung di kedua pipi serta gingsul di gigi kirinya itulah yang dulu membuat Bian pernah terpincut.
Namun, meski dia hanya melihat sekilas, tetapi Bian tahu apa yang hilang dari Tiara, wanita yang dulu pernah menjadi Mutiara- nya, yaitu aura. Aura ceria yang dulu selalu menjadi pelipur para, kini jelas tak terlihat dari sorot wanita itu, dan Bian tak tahu sejak kapan aura itu hilang dari Tiara.
Bian menepis pemikiran tentang Tiara ketika mereka tiba di Villa. Bahkan, Bian tidak bersusah payah untuk memasukkan mobil ke dalam villanya. Setelah teman Tiara turun dan berjalan ke arah gerbang, Tiara justru menutup pintu mobil dan melihat ke arah Bian.
Bian mengernyit menyadari Tiara masih berdiam diri dalam mobil. Barulah saat itu dia mengangkat tatapan dan melihat pada spion, saat itulah tatapan Bian bertemu dengan mata kucing Tiara yang dibingkai bulu mata lentik.
"Kenapa nggak turun?" tanya yang kemudian mengalihkan pandangannya dari Tiara.
Dia meraih sebungkus rokok di atas dashboard. Tak lama kemudian, Bian mengapit sebatang rokok yang menyala dan menghirupnya sambil bersandar malas. "Anak-anak kamu dari tadi udah—"
"Banyak hal yang pengen aku bicarain sama kamu." Suara Tiara terdengar lebih lirih dari pada yang Bian dengar sebelumnya saat Tiara mengobrol dengan temannya. "Makasih sebelumnya karena udah mau repot-repot datang ... mm, aku nggak tau harus kaget atau bersyukur karena akhirnya bisa ketemu kamu."
Tiara terdiam sejenak ketika Bian bersikap acuh tak acuh. Dari kaca spion, Tiara bisa melihat Bian memejamkan mata, entah pria itu mengantuk atau sedang memikirkan sesuatu yang jelas tak bisa dia tebak apa isi kepala pria itu.
"Bi ...," panggil Tiara yang membuat Bian kembali membuka mata dan melirik spion sekilas.
"Apa lagi?" gumam Bian, sedikit tak berminat. "Udah mau pagi, selain anak-anak kamu nungguin, saya juga ditungguin sama—"
__ADS_1
"Katanya kamu duda, ya, sekarang?"