Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 52


__ADS_3

'Aku mau pulang. Aku mau cerai.'


Bian tak bisa untuk tidak memikirkan ucapan Amara yang dilontarkan wanita itu dengan penuh rasa sakit.


Haruskah demikian? Tentu saja tidak!


Bian berdiri termenung di teras balkon. Matanya menatap lurus ke kejauhan. Membiarkan semilir angin malam menerpa wajahnya yang murung— berharap dapat menembus pori-pori kulit agar menggerus dan menyejukkan isi otaknya yang luar biasa panas.


Kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya melayang-layang di depan mata, menyatu dengan aroma lembab pegunungan dan dengingan serangga malam. Komposisi yang tepat untuk menemani suasana hati Bian yang dirundung kegalauan.


Tadi pagi, sewaktu Bian membuka mata setelah beberapa hari terbaring lemas, Amara menyambutnya dengan pelukan hangat.


Sentuhan bibir Amara ketika menciumi wajahnya dengan penuh kerinduan bahkan masih terasa hingga saat ini. Belum lagi bisikan Amara yang mengatakan bahwa dia membutuhkannya, bahwa Amara takut akan kehilangan dirinya.


Rasanya kalimat yang dibisikkan dengan penuh ketulusan itu bahkan masih berdengung di telinga Bian. Selama ini, itulah yang Bian rindukan dari Amara-nya.


Sekarang, setelah tadi pagi dia meyakini bahwa mereka akan baik-baik saja, bahwa Bian telah mendapatkan Amara kembali, dalam sekejap mata wanita itu kembali menggaungkan kata cerai.


Bagaimana mungkin dia akan sanggup berpisah lagi dengan Amara, setelah menahan kerinduan dan rasa bersalah selama berbulan-bulan?


Bian menghisap lagi rokoknya dalam-dalam, mengembuskan kepulan asap yang menari-nari mengejek sorot mata Bian yang memancarkan kesunyian.


Benar, sesungguhnya— Bian sadar bahwa hidupnya kesepian. Terutama jika Amara benar-benar memutuskan untuk pulang dan membawa serta Biandra bersamanya.


Mana mungkin Bian akan membiarkan wanita itu pergi? Mana mungkin dia akan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesunyian, sementara dia sendiri tahu bahwa Amara dan Biandra membutuhkannya?


Jadi, Bian bertekad untuk tetap mempertahankan wanita itu— apa pun resikonya yang akan dia terima. Tak peduli meski Amara akan membencinya jika dia bersikap sedikit mengikat dan keras.

__ADS_1


Getaran ponsel di atas meja membuat Bian menoleh, dan mendapati bunyi alarm yang dipasang pukul lima pagi. Lalu, Bian tersadar bahwa dia berdiri di luar nyaris sepanjang malam.


Bian mendesakkan rokok ke dalam asbak berisi abu dan puntung rokok yang menggunung, bukti bahwa dia menghabiskan waktunya berteman asap rokok dan angin malam.


Ketika Bian akan masuk ke kamar, dia teringat untuk membuka pintu kamar Amara yang sengaja kunci dari luar— khawatir wanita itu benar-benar akan nekat pergi. Itu juga yang menjadi alasan Bian kenapa dia tak bisa tenang hingga matanya tak bisa terpejam.


Bian berjalan menuju kamar Amara, membuka kunci dan mendorong pintu perlahan-lahan.


Amara masih terlelap, tetapi di ujung ranjang tampak satu ransel dan tas perlengkapan bayi berukuran besar tampaknya sudah siap diangkut.


Dia melangkah menuju tempat tidur dan berdiri di sana. Memandangi tubuh Amara yang bahkan tidur mengenakan celana jeans dan jaket tebal. Pashmina hitam yang menutupi rambutnya seolah mempertegas tekad wanita itu untuk langsung pergi saat dia membuka mata.


Bahkan, wanita itu tak repot-repot menarik selimut yang terlipat rapi di ujung ranjang. Namun, Amara meringkuk menaungi Biandra yang dibalut selimut kecil— seolah tetap berusaha memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk sang buah hati.


Dengan hati-hati, Bian mengulurkan tangan di kepala Amara, menundukkan kepala dan mencium pipi wanita itu dengan penuh sayang.


"Istriku," bisik Bian sambil mengecup belakang kepala Amara. "Jangan pergi."


Tampaknya Amara tak terganggu oleh gerakan Bian, atau mungkin Bian memang bergerak sedemikian hati-hati. Sehingga wanita tetap terlelap hingga dia berderap keluar dari kamar.


___


Kelopak mata Amara bergerak-gerak ketika mendengar suara pintu yang dibuka cukup keras. Lalu diiringi derap langkah kaki menjauh yang terdengar buru-buru. Tak lama kemudian, langkah kaki tergesa-gesa itu terdengar lagi.


Hal itu berhasil membuat Amara langsung membuka mata dan menyeimbangkan pandangan. Kemudian menyadari suara-suara berisik itu berasal dari luar kamar. Dia ingin keluar karena khawatir terjadi sesuatu, tetapi sadar bahwa semalam Bian mengunci pintu dari luar.


Namun, sewaktu dia menoleh ke arah pintu dan melihat kunci menempel di lubangnya, saat itu Amara sadar bahwa Bian sudah membuka pintunya.

__ADS_1


Dengan hati-hati Amara bergerak turun dan berjalan untuk membuka pintu dalam satu tarikan. Di saat yang sama, Bian baru keluar dari kamar dengan panik sambil menggendong Alif seperti koala.


Bian berhenti sejenak dan menatap Amara dengan tak berdaya, menyadari bahwa wanita itu pasti akan pergi.


Sebelum Amara bisa bertanya apa yang terjadi, Bian lebih dulu membuka mulut dan berkata, "Kalau kamu emang tetep nekat mau pergi, seenggaknya tunggu aku dulu sebentar. Nanti aku anterin. Kasian Biandra kalau harus dibawa keluar subuh-subuh."


"Kamu mau ke mana?" tanya Amara, dan dia tak sadar suaranya sebegitu serak akibat menangis semalaman hingga akhirnya dia tertidur.


"Ke rumah sakit," kata Bian buru-buru. "Tungguin bentar, ya?"


Bian tak menunggu jawaban Amara, dia buru-buru menuruni tangga hingga Amara bisa melihat dahi Alif ditempeli plester penurun demam. Pemikiran untuk pulang rasanya hilang dari otak Amara ketika menyadari bahwa Bian saat ini pasti tengah panik. Walau bagaimana pun, Amara tahu benar bahwa Bian memedulikan Alif.


Saat sosok Bian hampir hilang ketika menuruni anak tangga, barulah Amara sadar dan segera menyusul Bian. "Om, aku ikut—"


"Nggak usah, aku pergi sama Dika," tukas Bian tanpa berbalik ke belakang. "Jangan pergi saat aku nggak ada."


Seharusnya Bian tak perlu cemas Amara akan pergi, mengingat dia mengunci pintu depan— bahkan meminta penjaga villa agar tidak membiarkan Amara keluar jika wanita itu memaksa untuk pergi.


Amara mondar-mandir gelisah ketika bayangan Alif yang terkulai lemah di pangkuan Bian membuat hatinya nyeri. Dia tak tahu kenapa harus merasa kasihan pada Alif, mengingat semalam dia baru bertengkar dengan Bian.


Seharusnya, dia tak memiliki perasaan seperti itu dan membuat tekadnya untuk pergi menjadi sedikit goyah. Lagi pula, Alif bukan anak Bian. Tak seharusnya dia memberikan perhatian pada anak yang jelas bukan anak Bian.


Namun, Amara tak bisa membohongi nuraninya. Dia cenderung lebih mudah menyayangi anak-anak, terutama mengingat Alif juga bernasib malang seperti dirinya.


Memikirkan hal tersebut membuat Amara memutuskan untuk menunggu Bian kembali sebelum pulang. Namun, ketika Amara kembali masuk ke kamar, dia baru tersadar bahwa dua tas berisi pakaiannya dan pakaian Biandra kini tak di atas ranjang.


Entah ke mana kedua tas itu pergi, atau dibawa pergi. Padahal, Amara ingat betul bahwa dia meletakkan tas-tas tersebut di sana— agar dia langsung bisa pergi pagi-pagi.

__ADS_1


__ADS_2