Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 51


__ADS_3

Amara baru saja akan naik ke tempat tidur ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka. Dia menoleh dan mendapati Bian melangkah masuk dengan kaku.


"Aku mau tidur," kata Amara sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.


Air wajah Amara tentu saja tak sedap dipandang— mengingat mereka belum menyelesaikan perkara baju.


Amara tahu, Bian pasti terlebih dahulu membahas pekerjaan dengan Dika, kemudian menemani Alif hingga tertidur di kamar pria itu. Jadi, tak heran jika Bian baru menemuinya ketika waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.


Sudah tiga jam berlalu sejak mereka di meja makan, Amara terus mengabaikan Bian. Wanita itu berpura-pura sibuk mengobrol dengan Alif, sementara dia bersama Dika— memeriksa laporan pendapatan.


Hingga detik ini, Bian masih belum menemukan kata dan alasan yang tepat untuk berbicara dengan Amara. Namun, tentu saja Bian perlu menjelaskan kesalahpahaman tentang hadiah Amara yang berakhir pada Dika— meski dia tak tahu apa yang akan terucap dari bibirnya.


"Ra, aku ..." Bian menelan kembali kata-katanya ketika melihat tatapan Amara tampak menyipit, penuh ancaman. "Sayang, sebenarnya aku nggak tau kalau paket itu dari kamu, jadi aku langsung kasiin—"


"Aku tulis nama pengirimnya 'wanita yang mencintaimu', kamu nggak bisa mikir kalau itu dari aku, padahal aku berkali-kali bilang kalau aku cinta kamu? Gitu? Hal kayak gitu aja kamu nggak peka?" tukas Amara kesal.


Itu dia masalahnya! Kenapa Amara tidak menuliskan namanya saja, atau setidaknya mencantumkan nomor telepon?


Kenapa Amara harus menulis nama pengirim dengan 'wanita yang mencintaimu', sementara beberapa jam sebelumnya Bian baru mendapat pesan dari Tiara— yang juga mengakhiri pesannya dengan tulisan 'wanita yang mencintaimu'.


Terkutuklah Tiara dan kenangannya— yang bahkan bayang-bayangnya saja menjadi momok permasalahan bagi Bian dan Amara.


Bian menggaruk-garuk alis yang tak gatal, luar biasa bingung dan tak tahu bagaimana harus bersikap. Apakah dia harus jujur dan mengatakan bahwa dia menduga paket itu berasal dari Tiara?


Itu sama saja bunuh diri!


Atau, apakah dia harus berbohong dan mengaku takut menerima paket misterius? Itu sangat konyol dan tolol!


Lagi pula, Bian tak pernah ingin membohongi Amara dalam hal sekecil apa pun. Setelah menimbang-nimbang dan berpikir keras, Bian membulatkan tekad untuk berkata jujur pada istrinya— meski dia sudah membayangkan Amara pasti akan mengeluarkan taringnya.


Bian menghela napas panjang dan mengembuskan dengan frustrasi. Harus bersiap jika Amara mengeluarkan senjata andalannya, menggigit Bian hingga gigi wanita itu terkatup erat— dan resiko tangannya yang membiru akibat gigitan sang istri.


Namun, sebelum Bian mampu membuka mulut, Amara lebih dulu menebak dengan jengkel, "Atau, jangan bilang ada 'wanita yang mencintaimu' yang sering kirim kamu hadiah sama kamu?!"


'Mampus!' gumam Bian, dalam hati.


"Sayang, sebenarnya aku cuma takut kalau paket itu dari ..." Bian menelan ludah dengan kasar, mengucapkan nama Tiara terasa sulit— mengingat Amara pernah sebegitu cemburu dengan masa lalunya.


"Siapa?!" desak Amara sambil menatap tajam. "Sebenarnya seberapa sering kamu ngerayu dan seberapa banyak cewek yang udah kamu rayu sampai kamu bisa mikir ada wanita lain yang cinta sama kamu selain aku? Yang bahkan cewek itu sampe berani kirim-kirim—"


"Ra, aku bukan cowok kayak gitu," tukas Bian suram. "Gitu amat kamu nilai—"


"Fakta kamu tiap hari ganti-ganti pel*cur yang kamu booking dari Akew kan—"


"Jangan mandang aku berdasarkan pemikiran kamu dan keburukanku sebelum kenal kamu gitu dong, Ra!" Bian meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Terus siapa?" Suara Amara tak kalah tingginya dari Bian, bahkan dia menatap suaminya dengan sikap menantang. "Kamu nggak akan serta merta mikir paket itu bukan dari aku kalau emang sebelumnya sering dapet kiriman dari orang lain."


"Tiara! Puas kamu bikin aku ngerasa serba salah kayak gini?" Bian mengatupkan rahang ketika menyebutkan nama sang mantan, kesal sekaligus sakit hati karena kini Amara langsung tertegun dan tampak terkejut.


Amara menelan sesuatu sebesar gunung Himalaya yang menyumbat kerongkongan.


Tiara katanya?


"Mantan terindahmu?" Amara tertawa hampa. Menertawakan kebodohannya, yang dengan bangga dan penuh percaya diri meyakini dialah satu-satunya wanita yang mencintai Bian. Satu-satunya wanita yang dicintai dan ada di hati pria itu.


Faktanya, tulisan 'wanita yang mencintaimu' itu justru membuat Bian hanya mengingat satu nama— Tiara.


Amara terus tertawa untuk beberapa saat, tawa yang tak bisa dia hentikan. Bisa-bisanya dia sebegitu yakin bahwa pria itu tak mungkin mengingat nama wanita lain, terutama karena mereka baru saja kembali bersama.


Mengingat Bian yang selalu siaga di sisinya, memerhatikan Amara dan Biandra dengan segenap hati— rasanya luar biasa sakit ketika realita menyadarkan Amara bahwa hati Bian tak ada bersama mereka.


"Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang," kata Amara setelah tawanya mereda. "Hati orang itu nggak bisa diselami. Terlalu dalem dan gelap. Aku yang tiap detik liat kamu di sisiku, yang nggak kehilangan kamu, nyatanya kamu masih bisa mikirin cewek lain—"


"Amara, nggak gitu juga, Sayang. Sumpah nggak kayak gitu kebenaran—"


"Terus apa? Kenapa kamu bisa yakin kalau yang kirim paket itu Tiara?" Amara mendorong Bian ketika pria itu berusaha memeluknya. "Di sini, di villa kamu yang besar ini, yang di dalamnya ada istri dan anak kamu, kok bisa-bisanya sih kamu mikirin cewek lain?"


Sekali lagi Bian mengembuskan napas gusar, terpukul melihat mata Amara yang mulai memerah dan berair. Bahkan, wanita itu mengatupkan rahang, tampak berupaya mengendalikan amarah dan air mata yang hampir meluncur.


Bian mengerang frustrasi, karena tak bisa membohongi Amara sedikit saja. Karena dia tahu semakin banyak dia bicara, maka Amara akan semakin terluka.


"Udah apa?" Amara bahkan bisa mendengar getaran dalam suaranya saat mencoba menebak, "Udah balikan lagi sama dia sebelum kamu tahu kalau kamu punya Biandra?"


"Nggak, Ra, nggak gitu. Aku baru kali ini ketemu dia lagi." Bian berusaha menjelaskan dengan hati-hati, sekaligus serba salah. "Karena aku udah ... mm, malem itu dia terlibat kasus narkoba di villaku, aku jemput dia di kantor polisi—"


"Malem sebelum kamu sakit?" Amara menerka dengan getir, dan nyaris menangis ketika melihat Bian mengangguk. "Kamu bahkan ngebiarin dia tinggal di villa kamu? Dan itu juga alesan kamu sampe bela-belain pergi jam dua malem, semua demi Tiara. Gitu?"


"Nggak, dia memang kebetulan sewa villaku udah hampir sebulan," Bian menjelaskan apa adanya, dan semakin tak berdaya ketika Amara lagi-lagi mendorong saat dia ingin memeluknya. "Dia bahkan ada di villa sebelum kita ketemu lagi, Sayang. Semuanya nggak seperti yang kamu pikirin, Ra."


Amara merasakan napasnya sedikit pendek ketika mengingat seberapa lama Bian pergi malam itu.


Dia menghela napas dengan susah payah sebelum berucap, "Kamu keluar jam dua malem dan pulang pas subuh. Tiga jam itu kamu ngapain aja? Kamu tidur bareng dia karena istrimu yang jelek ini nggak bisa—"


"Ra, kamu mikirnya terlalu jauh. Aku nggak ngapa-ngapain, cuma ngobrol."


"Ngobrol?" sahut Amara pahit. "Ngobrol yang sampai bisa ngeyakinin kamu bahwa Tiara masih cinta sama kamu?"


Ketika Bian tak menyahut, Amara menambahkan dengan tajam, "Kamu megang tangan dia?"


Anggukkan Bian membuat Amara semakin menyelidik, "Kamu meluk dia?"

__ADS_1


Sekali lagi Bian mengangguk hingga amarah dan rasa sakit membuat tubuh Amara bergetar saat melanjutkan, "Kamu nyium dia? Kamu foreplay dan buka baju sebelum akhirnya kalian having ***, hah?"


"Nggak, sumpah, Ra— aku cuma meluk dan nenangin karena dia nangis waktu—"


"Waktu aku nangis di sini jam tiga malem karena ASI-ku nggak keluar, kamu malah di luar buat nenangin wanita yang mencintaimu itu?" Akhirnya Amara tak bisa lagi menahan air matanya yang meluncur tanpa bisa dikendalikan. "Waktu aku bikin susu ke dapur sementara Biandra jerit-jerit di sini, kamu malah meluk cewek lain? Kok bisa sih kamu kayak gitu?"


"Sayang—"


"Nggak usah manggil-manggil 'sayang' kalau mulut kamu nggak sesuai sama hati kamu!"


Setelah mengatakan itu, Amara berbalik dan berjalan menuju lemari— mengeluarkan ransel dan setumpuk baju sambil terisak-isak menahan nyeri.


"Ra, kamu mau ngapain?" Bian berupaya menarik tangan Amara yang mulai menjejalkan pakaiannya ke dalam tas.


"Aku mau pulang!" pekik Amara sambil menangkis tangan Bian.


Bian luar biasa panik ketika melihat upaya Amara yang tampak bersungguh-sungguh.


"Ini udah malem, kamu—"


"Aku nggak peduli, aku mau pulang!" kata Amara sambil mendorong Bian yang lagi-lagi berusaha menghentikan apa yang dia lakukan. "Kamu bisa bebas bawa Tiara masuk, bebas meluk dia, nyium dia— having *** sama dia, dapetin apa yang nggak bisa aku kasih ke kamu!"


Bian mengamati Amara dengan sorot terluka ketika wanita itu mengambil tas dan mengeluarkan pakaian Biandra. Hal yang tak diperkirakan oleh Bian.


Awalnya Bian berpikir semua akan lebih mudah diselesaikan jika dia berkata dengan jujur, dan dia sama sekali tak berniat untuk menyembunyikan hal apa pun dari istrinya. Berharap Amara bisa memandang kesalahan pahaman tersebut dari sudut pandang lain.


Namun, rupanya kejujuran Bian justru berakibat fatal. Terkadang, Bian bertanya-tanya, apakah seorang wanita akan lebih senang jika dibohongi suaminya?


Bian menghampiri Amara dan berkata dengan lembut, "Amara, aku minta maaf, aku lupa kalau pemikiran kita belum tentu sama meski kita berada di jalan yang sama ...."


Bian mengembuskan napas panjang dan masih berupaya membujuk, "Jangan pulang, ya? Di sana kamu mau tidur di mana? Kontrakan kan nggak aku perpanjang. Kamu mau tega bawa Biandra tidur desak-desakan sama ade-ade kamu? Tetep di sini, ya? Please ... kasian Biandra."


Ucapan itu justru membuat Amara semakin sakit hati sekaligus tersinggung. Dia berhenti menjejalkan pakaian Biandra ke dalam tas, lalu menatap Bian sambil menyeka air mata di pipinya.


"Kamu mau ngingetin aku kalau aku lahir dari keluarga susah? Mau ngingetin aku kalau untuk bayar utang tiga puluh juta aja aku harus jual harga diri? Kalau aku sama kamu emang beda? Aku nggak punya apa-apa, nggak kayak mantan istri kamu yang bahkan tasnya lebih mahal dari harga diriku? Nggak kayak Tiara kamu yang bahkan datang pake BMW? Nggak usah diingetin, aku sadar diri kok siapa aku—"


"Sayang," kata Bian tak berdaya. "Jangan bahas-bahas itu, aku udah bilang—"


"Aku juga udah bilang, harusnya kita nggak usah rujuk kalau niat kamu cuma didasari rasa tanggung jawab ke Biandra doang. Kamu bisa tetep tanggung jawab walaupun kita bukan suami istri." Amara melesit hidung ketika rasa sakit semakin menusuk-nusuk hatinya. "Aku udah pernah nikah, dan aku tau hati suamiku cuma buat mantan istrinya. Aku nggak mau ngalamin itu yang kedua kali, sementara dari sekarang kamu udah berpotensi jalin hubungan diem-diem sama Tiara. Aku mau pulang. Aku mau cerai."


Bian membeku hingga air wajahnya berubah dingin. Berbicara dengan Amara luar biasa menguras energi, dan selalu berakhir salah paham.


Akhirnya Bian berbalik dan berjalan menuju pintu, membiarkan Amara bebas berpikir dan berpendapat apa saja yang wanita itu inginkan.


Tanpa berbalik pada Amara, Bian berkata dengan tegas, "Jangan harap kamu dan Biandra bisa keluar dari sini. Buang jauh-jauh kata pulang dan cerai dari kepala kamu!"

__ADS_1


__ADS_2