Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 25


__ADS_3

"Tapi kan aku nggak gila."


"Yang bilang kamu gila siapa, Sayang?"


Dengan suasana hati yang kacau, Amara membenamkan wajahnya yang murung di bahu Bian. Kedua tangannya memeluk leher pria itu, sementara Bian memeluk Amara yang berada di pangkuannya.


Sebelah tangan Bian bergerak naik turun mengelus-elus punggung Amara dengan penuh kasih sayang, berharap bisa membuat wanita itu sedikit tenang setelah berjam-jam Amara menangis sambil mengurung diri, karena merasa buruk sudah membahayakan Biandra.


Setelah hampir satu minggu mereka tinggal bersama di villa Bian, ini pertama kalinya bagi Bian bisa membujuk Amara agar mau berbicara. Bian tahu, Amara memang masih marah karena upaya Bian yang mengajaknya rujuk tanpa berkompromi terlebih dahulu.


Namun, yang dilakukan Amara tadi pagi benar-benar membuat Bian tak bisa diam lagi, dan dia berupaya membujuk agar Amara mau berbicara padanya.


Beruntung Amara mau membuka pintu kamar setelah Bian memohon berkali-kali. Sesudah Bian berhasil mengajak istrinya berbicara baik-baik, Amara bahkan tak menolak saat Bian menariknya ke dalam pelukan.


Amara yang duduk di atas pangkuan Bian memandangi Biandra, sang bayi tampak nyaman tertidur di baby swing yang berayun lembut ke kiri dan ke kanan.


Dengan sisa suaranya yang seolah terkuras oleh air mata, Amara kembali menyahut, "Tapi kan barusan kamu bilang aku harus dibawa ke psikiater? Kan itu tempat buat orang-orang gila. Aku nggak gila, Om. Masa kamu tega mau jauhin aku dari Biandra dan ngurung aku di sana?"


Bian mengembuskan panjang, menyadari mungkin memang pengetahuan Amara memang terbatas — mengingat usianya yang memang masih terlalu dini jika dibandingkan dengan dirinya.


Sambil mengecup dahi Amara yang masih membenamkan wajah di bahunya, Bian kembali bertanya, "Memangnya waktu aku bilang mau ngajak kamu ke psikiater, yang kamu pikirkan apa, Sayang?"


"Yang kaya ada di TV itu, tempat orang gila pada dikurung, ada yang ditemenin sama suster. Pada ngomong sendiri, ada yang—"


"Itu mah rumah sakit jiwa atuh, Sayang," bisik Bian sambil terkekeh kecil. "Kamu mah mikirnya kejauhan. Aku cuma mau ngajak kamu konsultasi aja ke psikiater, atau yang biasa disebut sebagai dokter spesialis kejiwaan. Dokter di spesialis itu mendedikasikan diri dan bertanggung jawab pada gangguan mental dengan memberikan diagnosis dan pengobatan—"


"Tetep aja kamu nuduh aku punya penyakit jiwa," sahut Amara dalam gumaman lirih, lalu terdiam sebentar sebelum kemudian menambahkan dengan pahit, "Kenapa sih kamu suka banget nuduh aku yang nggak-nggak, Om? Apa nggak cukup kamu dulu nuduh aku punya penyakit sipilis? Aku buruk banget, ya, kayaknya di mata kamu?"


Bian terdiam sejenak, menyadari bahwa Amara tampaknya tak pernah bisa menghapus sedikit pun apa yang pernah dia lakukan pada wanita itu. Namun, Bian tahu saat ini bukan waktunya untuk terus berlarut membahas tentang hal tersebut.


Masih sambil mempertahankan suaranya agar tetap tenang, Bian kembali berkata, "Oke, dulu aku memang salah dan nuduh kamu yang nggak-nggak. Tapi, saat ini situasinya beda, Sayang. Akhir-akhir ini kamu lebih tertutup dari biasanya. Kamu nggak pernah marah, tapi kamu juga nggak pernah mau bicara sama aku ..."


Bian menghela napas berat. Dia kembali mendaratkan kecupan dan menghidu pipi Amara sambil melanjutkan dengan suara berupa bisikan, "Mungkin kamu males, kecewa, dan hilang kepercayaan sama aku, sampe kamu bener-bener ngasingin diri meski kita tinggal satu rumah. Tapi kamu perlu ngungkapin apa yang jadi kekesalan kamu. Kalau emang kamu nggak mau bicara sama aku, jalan satu-satunya cuma itu, ngobrol sama psikiater—"


"Tapi aku nggak mau, Om," tolak Amara penuh harap. "Aku takut mereka nantinya bakalan—"


"Sayang, dengerin aku kali ini aja, ya?" bujuk Bian tak berdaya. "Aku cuma nggak mau kejadian kayak gini terulang lagi ke depannya. Aku nggak mau liat kamu terus-terusan sedih, sampe kamu sendiri nggak fokus dan konsentrasi sama Biandra. Aku nggak tau gimana penilaian kamu tentang ini. Mungkin kamu nyangka aku egois. Tapi ini buat kebaikan kamu sama Biandra juga."


Amara mengangkat wajah dan menatap Bian dengan tatapan rumit. Ketika dia baru saja ingin membuka mulut untuk berkomentar, Bian lebih dulu menambahkan dengan bujukan terakhir, "Jangan bikin aku khawatir liat kondisi kamu kayak gini, ya? Aku sakit hati liat kamu sedih terus, Ra. Rasanya kok aku nggak berguna banget buat kamu sama Biandra? Kasih aku kesempatan buat jadi suami yang kayak kamu mau, yang bisa nemenin kamu, dukung kamu, merhatiin kamu, nyayangin kamu ... sekali lagi, ya?"


Amara menggigit bibir, tak tahu harus berkata apa untuk menyahut ucapan Bian.


Akhirnya dengan ragu-ragu Amara mengangguk sambil bergumam khawatir, "Tapi kamu nggak akan ninggalin aku kan kalau aku lagi sama dokternya?"

__ADS_1


"Nggak akan," kata Bian prihatin dengan ketakutan terpancar dari sorot mata sayu Amara. "Pas kamu konsultasi sama dokternya, aku ada di ruangan itu juga, nunggu kamu sampe selesai."


"Berarti ngobrolnya jadi bertiga?" tanya Amara dengan keterbatasan pengetahuan yang dia miliki.


Bian tersebut samar. "Cuma pasien sama dokternya aja. Walaupun kita suami istri, mengingat akhir-akhir ini kamu nggak mau ngomong sama aku, akan lebih baik kalau aku ngasih kamu privasi biar bisa leluasa ngungkapin apa yang kemungkinan nggak mau kamu ungkapin di depanku. Tapi aku ada di sana. Jangan takut."


Amara mengangguk-angguk, mulai mengerti. "Nanti Biandra gimana? Kamu bawa dia pas aku lagi konsul—"


"Aku titip di kakakku, ya?" Sebelum Amara siap memprotes usulannya, Bian buru-buru menambahkan, "Aku nggak minta kamu percaya sama aku kalau aku bilang kakakku bisa ngurus anak kita selama kita pergi ke rumah sakit. Yang jelas, dia udah ngelahirin tiga anak. Yang satu kelas tiga SMA, satu kelas lima SD, dan terakhir Alif. Dan aku yakin kalau dia nggak akan nolak dititipin Biandra."


Amara menatap Bian dengan curiga. "Ini bukan siasat kamu lagi buat jauhin aku sama Biandra 'kan?"


"Sayang, aku nggak punya alesan lagi buat jauhin kamu sama Biandra," kata Bian merasa bersalah. "Kamu istriku sekarang, dan Biandra anak kita. Apa alesan aku ngejauhin kamu sama dia?"


"Bisa aja karena gara-gara tadi aku hampir celakain Biandra, kamu jadi mikir buat jauhin aku sama anakku sendiri," keluh Amara dengan suara sengau.


"Nggak atuh, Ra," ujar Bian bersungguh-sungguh. "Gini aja, besok sebelum kita berangkat ke rumah sakit, kita anterin Biandra sama-sama ke rumah kakakku. Biar kamu nggak mikir macem-macem, gimana?"


Jadi, Amara mencoba untuk percaya pada ucapan Bian. Namun, ketika keesokan paginya mereka akan pergi, faktanya Amara sedikit repot karena harus menyiapkan perbekalan Biandra. Mulai dari mensterilkan beberapa botol susu, menyiapkan beberapa set pakaian dan popok Biandra, diapers, selimut, kain gendongan, dan segala ***** bengek yang menjadi kebutuhan Biandra, yang dia yakini tak mungkin ada di kediaman kakak Bian.


Hasilnya, hingga pukul sembilan pagi, Amara bahkan belum sempat mandi, masih mengenakan piyama dengan wajah yang masih kacau, karena dia lagi-lagi tak bisa tidur nyaris sepanjang malam.


Semalam Bian memberitahu Amara bahwa dokter yang akan mereka datangi biasa datang pukul sepuluh. Amara lagi-lagi merasa kacau karena tak bisa bergerak dengan cepat.


Amara tak tahu sejak kapan dirinya merasa terbebani karena hal sepele. Mulai dari memikirkan mereka akan terjebak macet, membayangkan akan mengantri di rumah sakit, menunggu tiba giliran dirinya dipanggil dokter, berapa lama dia akan berkonsultasi, hingga berapa lama perjalanan pulang jika mereka kembali terjebak macet.


Semua gagasan-gagasan tersebut membuat keringat dingin mulai menyerbu tubuh Amara, dia merasa kesulitan bernapas untuk beberapa saat ketika terpikirkan bahwa dia akan meninggalkan Biandra selama beberapa jam.


Dan dia tak tahu berapa kali Biandra akan menangis ketika mereka menitipkannya pada kakak Bian.


Amara tak tahu kenapa dia tak mampu mengontrol emosional tersebut, dan membuat dia ingin menjerit.


Namun, Amara berupaya meredam, dan berakhir dengan tubuhnya yang menggigil karena kepanikan-kepanikan tersebut benar-benar mengambil alih kontrol Amara.


Setelah berhasil menghela napas berkali-kali, Amara memutuskan agar Bian mengantar Biandra seorang diri, sementara dirinya mandi dan bersiap-siap.


Ketika Bian kembali tiga puluh menit kemudian, Amara baru saja selesai mandi dan tengah memilih pakaian di dalam lemari empat pintu yang menjulang kokoh.


Semenjak melahirkan, Amara bahkan lupa tak pernah memerhatikan seperti apa penampilannya, atau pakaian apa yang dia kenakan setiap hari.


Dia memberingis ngeri ketika melihat tumpukan piyama, daster, pakaian-pakaian tertutup yang dia yakini ukurannya akan lebih besar jika sekarang dia memakainya.


Jadi, Amara menjatuhkan pilihan pada jeans hitam yang sempat mereka beli minggu lalu, dipadukan dengan blouse biru muda selutut, dan pashmina senada.

__ADS_1


Ketika Amara bercermin dan menyapukan lipglos di bibirnya yang kering, dia menyadari wajahnya begitu buruk.


Kedua kantung matanya tampak dalam, tulang pipinya sedikit menonjol, dan dia menyadari wajahnya begitu kusam.


Amara tak pernah merasa begitu buruk saat melihat penampilannya yang terlihat lebih tua dari pada usia seharusnya. Mungkin dia benar-benar terlalu tak memedulikan penampilannya karena terlalu sibuk memikirkan Biandra.


Saat itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka sebelum akhirnya muncul sosok Bian yang baru kembali. Dari pantulan cermin, Amara memindai sosok Bian yang selalu tampil segar dan menjaga penampilannya selalu rapi.


Tiba-tiba ketidakpercayaan diri mulai menyusup dalam hati Amara saat melihat Bian yang menurutnya terlalu sempurna.


Pria itu tampan, mapan, dan dia tahu Bian hanya cukup mengedip mata, maka hanya wanita bodoh yang tak mungkin tergoda oleh Bian.


Gagasan-gagasan tersebut membuat emosional Amara kembali bergejolak, diliputi kecemburuan tak beralasan dan rasa tak adil, merasa dirinya sangat buruk setelah melahirkan.


Sementara Bian sendiri terlihat semakin memesona dengan jeans blue wash dan kemeja hitam casual yang digulung hingga siku.


"Ngelamunin apa?"


Amara mengerjap terkejut ketika Bian tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sambil menatap pantulan mereka dalam cermin, Bian tersenyum kecil dan meletakkan dagu di bahu Amara yang baru saja akan memakai pashmina.


Amara berbalik memunggungi cermin dan mendongak menatap Bian.


"Aku jelek, ya?" tanya Amara tiba-tiba, kemudian napasnya sedikit bergemuruh saat menambahkan, "Aku keliatan tua, ya? Aku buruk? Kamu harusnya nyesel nikahin aku. Kamu kaya, kamu ganteng, kamu bisa dapetin cewek mana aja di luaran sana. Kenapa malah nikahin aku yang bego, yang miskin, yang nggak berpendidikan, yang ..."


"Kamu kenapa tiba-tiba ngomong gini?" Bian menarik pinggang Amara ke dalam pelukan dan menunduk menatap Amara lekat-lekat. "Ada apa?"


Amara menelan ludah dengan susah payah saat melihat tatapan Bian yang begitu dalam.


"Kamu mau selingkuh? Atau, kamu punya berapa banyak cewek simpenan, pelacur lain yang bisa kamu bayar dengan uang kamu yang nggak abis-abis itu?"


"Udah kacau kamu mah pikirannya," bisik Bian sambil mendaratkan kecupan di dahi Amara. "Jangan mikir macem-macem, aku sayang kamu."


"Bohong!"


"Terserah mau percaya apa nggak." Bian terkekeh. "Udah siap 'kan? Kita berangkat sekarang, ya?"


"Jawab dulu pertanyaan saya! Kamu punya berapa banyak cewek simpenan?"


Alih-alih marah, Bian justru tertawa geli melihat sikap Amara yang tampak menggebu-gebu. "Nggak ada, Sayang. Cuma kamu."


"Bohong ah kamu mah!" Amara mendengkus kesal sambil berupa mendorong Bian yang kian erat memeluk pinggangnya.


"Kamu minta dicium, Ra?"

__ADS_1


__ADS_2