
"Kamu aja yang ke sana, aku nunggu di sini. Ngambil Biandra doang, terus nanti kamu langsung—"
"Kamunya ikut turun, Ra," tukas Bian yang berdiri sambil menahan pintu di dekat Amara. Terkadang, Bian harus ekstra sabar saat mendapati Amara bersikap kekanak-kanakan seperti itu. "Aku khawatir bakalan sedikit lama, soalnya si Alif udah seminggu nggak ketemu aku. Ikut turun, ya?"
"Ish, tapi kan aku malu sama kakak kamu, Om!" Amara memberingis masam. "Pas ketemu waktu itu aku bentak-bentak kakak kamu. Masa sekarang—"
"Sayang, nggak apa-apa, dia juga nggak ambil hati, kok," Bian membujuk sambil mengulurkan tangan, tetapi Amara tetap tak bergerak dari kursinya. "Lagian, kamu bilang kan waktu itu kaget karena Biandra nggak ada. Turun, yuk? Kakakku nggak suka gigit orang, kok."
Amara tampak ragu. Sekali lagi dia mengedarkan pandangan ke depan, pada sederet motor yang terparkir di pelataran rumah. Sesungguhnya, dia benar-benar malu saat berpikir akan berhadapan dengan kakak perempuan Bian, dan entah mengapa sekarang jantungnya berdentam-dentam tak terkendali, terlalu gugup.
"Tapi kayaknya di sana rame, itu banyak orang. Udah deh, Om … kamu aja yang turun sana."
Bian mengembuskan napas panjang, lalu membungkuk dan menatap Amara lekat-lekat sambil berkata, "Kan aku udah bilang, motor-motor itu pasti pengunjung warnet sama rental PS. Di rumah kakakku nggak pernah ada siapa-siapa, cuma dia sama anak-anak aja."
"Terus itu mobil siapa?" Amara mengerucutkan bibir. "Jangan bilang yang dateng ke warnet juga pake mobil?"
Bian melongok pada Swift merah yang juga terparkir di depan rumah Mirna, dan dia tak benar-benar yakin siapa pemilik mobil tersebut.
"Bisa jadi," sahut Bian ragu. "Atau mungkin temen kakakku kali. Udah deh, jangan dipikirin. Turun sebentar … tiga puluh menit, oke?"
Amara terdiam lagi, kemudian memutar tubuh dan menurunkan kaki, tetapi masih duduk di kursi mobil. Namun, kali ini dia sedikit khawatir, khawatir kakak Bian akan membalas apa yang dia lakukan padanya minggu lalu.
Amara mengulurkan kedua tangan hingga Bian semakin mendekat dan menatapnya penuh tanda tanya.
"Kenapa?" Bian memegang kedua tangan Amara, sedikit bingung dengan sikap istrinya yang tak bisa ditebak.
Amara melingkarkan kedua tangan di pinggang Bian dan membenamkan wajah di perut pria itu. "Om, kalau kakak kamu bales bentak-bentak aku, kamu bakal belain aku nggak?"
Amara merasakan perut Bian bergetar, kemudian dia mendongakkan wajah menatap Bian dan mendapati pria itu tengah menertawainya.
"Kenapa malah ketawa?"
__ADS_1
Bian berhenti tertawa, tetapi sorot matanya memancarkan ekspresi geli ketika melihat wajah Amara ditekuk seperti anak-anak.
"Kadang-kadang aku bingung sama isi kepala kamu, kayaknya rame banget di sana, ya?" goda Bian sambil mengusap-usap kepala Amara, gemas sekaligus memanjakan. "Sampe-sampe semua hal itu kayaknya jadi beban pikiran kamu terus."
Masih sambil duduk dan memeluk Bian, Amara menempelkan dagu di perut suaminya. Dan Bian semakin terkekeh-kekeh ketika hidung kecil Amara memberengut saat berkata, "Kamu jawab dulu pertanyaan aku. Bakal belain aku nggak kalau kakak kamu bentak-bentak aku?"
"Pasti dibelain, Sayang," kata Bian dengan tak berdaya. "Ayo bangun … udah jam delapan malem lho ini, Ra. Katanya tadi lelah pengen buru-buru istirahat?"
"Cium dulu." Amara mengerucutkan bibir sambil menengadahkan wajah.
Ketika Bian menunduk untuk mendarat kecupan, Amara justru menjauhkan kepala sambil memberingis, "Ada orang lewat."
Bian hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala karena kelakuan Amara.
Lalu wanita itu kembali bergumam, "Sebenarnya kakiku udah pegel dipake jalan. Pengen digendong belakang kayak dulu waktu sendalku putus, tapi pasti sakit pas ngangkangin kakinya. Takut robek jahitanku."
Bian menghitung jarak dari parkiran hingga ke teras rumah Mirna hanya berkisar lima meter. Namun, Amara memang terlihat sudah kelelahan.
"Beneran?" Amara menaikkan alis tinggi-tinggi. Ketika Bian mengangguk penuh kepastian, Amara tersenyum lebar dan mengangkat kelingking sambil mendesak, "Janji?"
"Katanya nggak mau denger aku janji lagi?" Bian mencubit bibir Amara dengan gemas.
Amara mengembuskan napas panjang, lalu beranjak berdiri dan menerima tangan Bian ketika pria itu menggandengnya.
"Si Alif biasa tidur jam berapa?" tanya Amara ketika mereka berjalan menuju teras.
"Jam delapan," kata Bian enteng. "Tapi sekarang pasti belum tidur kalau tau aku mau dateng. Apa lagi tadi dia pesen dibawain kue kesukaannya."
"Alif suka banget fruit cake, ya?"
"Lebih suka cream sama buah hiasannya aja kayaknya. Kuenya jarang dimakan."
__ADS_1
Ketika mereka akan mengetuk pintu, di saat bersamaan pintu bercat putih itu terbuka sebelum akhirnya muncul sosok yang sama sekali tak ingin Bian lihat.
Sejak terakhir kali mereka bertemu seusai membagi harta gono-gini seminggu pasca Bian menjatuhkan talak, sejak saat itu pula Bian tak pernah melihat Yuanita. Entah mengapa, melihat Yuanita seolah mengingatkan Bian tentang mimpi terburuk yang pernah dia alami selama sepuluh tahun.
Berbeda dengan Bian yang seketika berubah dingin, Amara bersikap sopan dengan mengukir senyum sapaan— karena dia tentu saja tidak tahu siapa wanita berambut panjang berwarna pirang madu di hadapannya.
Alih-alih membalas senyum sapaan Amara, wanita bermake up tebal dengan bibir merah marun itu justru membeliak tak senang. Dia memindai Amara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai.
Ditatap dengan ekspresi sinis oleh orang yang Amara duga mungkin keluarga Bian, refleks dia bergeser dan memegang tangan Bian yang masih menggandeng dengan erat. Namun, dia tak melihat bagaimana ekspresi Bian yang awalnya penuh suka cita, kini berubah tak sedap dipandang dan penuh aura kejengkelan.
Hanya saja, Amara sedikit terganggu ketika wanita yang memakai kontak lensa abu-abu dengan bulu mata tebal itu memandang Bian dengan penuh minat.
"Masuk, yuk?" Bian merangkul bahu Amara tanpa memedulikan wanita yang baru saja akan pulang.
Amara ragu sejenak, terutama ketika melihat Bian tampak enggan melihat ke arah wanita itu. Lalu, Amara berpikir mungkin wanita itu adalah teman kakak Bian, yang bisa saja suaminya itu benar-benar tak mengenalinya.
Sayangnya, dugaan Amara seketika terjawab ketika wanita itu menghentikan langkah mereka dengan berkata pada Bian, "Aku mau ngomong sama kamu."
Jadi, Amara mendongak dan menatap ekspresi wajah suaminya. Barulah Amara bisa melihat ekspresi Bian yang sedikit rumit untuk diartikan. Tanpa menghiraukan wanita tersebut, Bian membimbing Amara masuk sambil menggandeng bahunya erat-erat.
"Bian, aku mau ngomong sama kamu," ulang wanita itu hingga mau tak mau Amara pun turut berhenti melangkah.
"Nggak ada yang perlu kita bicarin lagi," kata Bian dingin.
"Ini penting, kamu nggak bisa selamanya ngehindar dari aku kayak gini." Wanita itu melewati Amara dan berdiri di depan Bian. "Kenapa kamu tiba-tiba punya anak, padahal perceraian—"
"Nggak ada lagi yang akan kita bahas," tukas Bian dengan pelototan galak. Suara Bian tak terdengar tinggi, tetapi dia menekankan setiap kata-katanya, "Pulang sekarang dan jangan nyari masalah, atau aku nggak akan izinin kamu ketemu Alif lagi."
Barulah saat itu Amara mengetahui dan tersadar bahwa itu adalah Yuanita. Seketika dia menelan gumpalan yang mengganjal di tenggorokan, kesal, jengkel, marah, sekaligus cemburu di saat yang bersamaan.
Sama sekali tak menduga akan bertemu mantan istri Bian di kediaman kakak suaminya. Jadi, tak heran jika sekarang Amara berpikir kemungkinan Bian juga tadi pagi bertemu mantan istrinya.
__ADS_1