Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 85


__ADS_3

'Masa udah punya istri bisa mesra-mesraan sama teman istrinya?'


Meskipun Amara berbisik di telinganya, tetapi karena mereka duduk di luar kafe dan di saat yang bersamaan terdengar deru motor melaju kencang, hasilnya Bian tidak bisa mendengar apa yang dikatakan sang istri.


"Kamu ngomong apaan sih?" Bian menoleh pada istrinya dengan sebelah alis yang terangkat. "Nggak kedengeran tau."


Amara memberingis samar. Tentu saja dia tak mungkin mengulangi apa yang dia bicarakan, dan rasanya tak akan sopan jika dia terus berbisik pada Bian di depan kedua temannya.


Kesal karena Bian selalu memperlihatkan wibawanya yang tenang saat kembali mengobrol dengan Bahtiar, akhirnya Amara melampiaskan kejengkelannya dengan menggigit bahu kiri Bian cukup keras— tindakan spontan yang sudah menjadi kebiasaannya.


Mau tak mau Bian mendesis dan menatap galak pada istrinya, tetapi dia tak bisa marah atau berkata apapun. Lalu kembali menatap Bahtiar dan lanjut berbicara.


Ditatap dengan wajah galak oleh Bian tentu saja membuat Amara semakin kesal. Jadi, sekali lagi dia menggigit bahu Bian dengan cukup lama hingga pria itu mengerang.


"Sakit tau, Bun ...," gerutu Bian berupa bisikan pelan sambil memegang kepala Amara agar wanita itu berhenti menggigitnya. "Kebiasaan kamu suka gigit-gigit gini."


Amara tak menjawab, tetapi wajahnya berubah cemberut dan dengan kesal mengambil Biandra dari pangkuan suaminya.


Bian yang sadar bahwa Amara marah langsung menghentikan apa yang dilakukan wanita itu, dia mengeratkan pelukan pada Biandra— sementara sebelah tangannya lagi merangkul bahu Amara ke dalam pelukan.


"Jangan marah," bisik Bian sambil tersenyum kecil saat mencium pipi Amara. "Bentar lagi selesai."


Pipi Amara terasa panas oleh perlakuan Bian yang manis, tak peduli meski di hadapannya ada teman dan mantan kekasihnya.


Amara tak benar-benar berniat bertingkah seperti itu atau memanas-manasi Tiara, semua sikapnya hanya kebiasaan karena Bian yang kerap memperlakukan Amara dengan mesra.


Amara tahu, Bian mengecup pipinya sebagai upaya permintaan maaf— meski dia sendirilah yang lebih dulu membuat Bian kesal padanya.


Seperti biasa yang sering mereka lakukan, Amara bales mengecup singkat pipi Bian sebagai bukti bahwa dia memaafkan pria itu.


Bian tercengang sesaat, tak menduga Amara berani bersikap mesra di depan orang lain. Seringai nakal tersungging di bibir Bian saat Amara kembali menegakkan tubuh.


Sambil memasang ekspresi sedatar mungkin ketika menanggapi pembicaraan Bahtiar, Bian meninggikan bahu kirinya dan menyeka bekas kecupan Amara.


Amara ternganga melihat bagaimana Bian menyeka bekas kecupannya. Dia bertanya-tanya dalam hati, apa Bian merasa jijik dengan kecupan itu?


Atau, apakah suaminya tidak suka Amara mencium Bian di depan mantan kekasihnya?


Tanpa sadar, hal itu membuat Amara kembali tersulut emosi, dan dengan sengaja mencium Bian lebih lama.

__ADS_1


"Apaan sih, Bun, kamu gangguin terus?" kata Bian tanpa dosa, lalu mencabut selembar tisu di atas meja dan menggosok-gosok bekas kecupan Amara di pipinya.


Amara terbelalak melihat tindakan Bian yang semakin keterlaluan. Bagaimana mungkin pria itu bisa-bisanya menyeka bekas ciuman Amara? Apa pria itu malu memiliki istri seperti dirinya? Apa pria itu sengaja memperlihatkan di depan teman-temannya bahwa Bian tak menyukainya?


Memikirkan gagasan tersebut membuat Amara tersulut amarah luar biasa. Dengan galak dia berdiri dan memeluk leher Bian, lalu menciumi wajah suaminya dengan posesif.


Biarkan saja semua orang tahu bahwa pria itu hanya miliknya.


"Kamu yang apa-apaan?" kata Amara sambil mengunci leher Bian dalam pelukan dan sengaja mencium pipinya berlama-lama. "Kenapa bekas ciumanku di lap-lap gitu? Kamu jijik bukan?"


Amara mungkin tak sadar bahwa dia sudah masuk ke dalam jebakan Bian. Ketika Amara masih menghujani wajah Bian dengan ciuman-ciuman gemas, pria itu justru terkekeh-kekeh geli dan dan melingkarkan sebelah tangannya di punggung Amara.


Bahtiar justru tertawa menggelegak melihat tingkah Bian yang sedang diciumi Amara, lalu berkomentar geli, "Si modus, Anying!"


Mendengar perkataan Bahtiar, Amara langsung sadar bahwa suaminya itu memang terlewat jahil. Mata Amara membulat dan pipinya memerah saat Bian tersenyum nakal ketika dia berhenti menciumi suaminya.


"Manis banget kamu, Istriku," gumam Bian sambil tersenyum lebar dan mengusap-usap pucuk kepala Amara di balik kerudung.


Bian memang sengaja menyeka bekas kecupan Amara, hanya ingin tahu apakah wanita itu berani melakukannya lagi atau tidak. Hasilnya cukup memuaskan karena Amara benar-benar menciumnya lagi di depan banyak orang.


Suaminya yang sialan itu berani sekali justru tertawa geli saat melihat Amara salah tingkah. Wajah Amara terasa panas luar biasa karena rasa malu. Lalu, dia menoleh ke sekeliling dan menyadari para pengunjung kafe melihat ke arahnya.


Saat ini, Amara hanya ingin mencekik Bian karena sengaja membuat dia memperlihatkan kemesraannya di depan umum. Meski Amara melakukan itu di cafenya sendiri, tetapi tetap saja dia tak berniat untuk mempertontonkan kemesraan dengan suaminya di depan mereka.


Namun, saat dia baru saja bergerak, lagi-lagi Bian menarik pinggangnya agar tetap duduk. "Udah di sini aja, mau ngapain masuk? Di di atas juga kamu cuma sama anak-anak kan?"


"Malu tau!" gerutu Amara sambil menunduk dan berpura-pura memusatkan perhatiannya pada Biandra yang berada di pangkuan suaminya. "Kamu usil banget jadi orang? Pakai sengaja jebak aku biar nyiumin kamu kayak gitu."


"Ngapain malu? Yang dicium juga suami sendiri 'kan?" Bian tersenyum tipis sambil mencubit dagu Amara agar menatapnya. "Gitu dong, tunjukin ke orang-orang bukti kepemilikan kamu."


"Tapi kan nggak di depan umum juga," Amara mencicit pelan sambil meremas paha Bian dengan gemas. "Kamu bener-bener bikin aku malu."


"Hey, i love you," gumam Bian sambil mengerucutkan bibir membentuk ciuman. "Udah Jangan gugup gitu, ah. Lagian aku seneng kok kamu mesra-mesra kayak gini. Jangan malu, aku suami kamu, Sayang."


Amara tak menanggapi Bian lagi, bahkan dia tak berani mengangkat pandangannya dan menunduk sambil berceloteh ringan pada Biandra. Tuhan tahu betapa dia ingin bersembunyi ke lubang semut karena menjadi pusat perhatian.


Yang tidak disadari Bian dan Amara adalah Tiara yang tiba-tiba tertegun dengan pemandangan dan kemesraan mereka.


Sebagai wanita yang pernah menjadi kekasih Bian selama hampir sepuluh tahun, Tiara tahu benar ternyata sikap manis Bian tak pernah berubah.

__ADS_1


Tiara bahkan yakin benar bahwa pria itu tak berubah sama sekali tentang bagaimana memperlakukan wanita dalam hidupnya.


Tak heran jika dulu teman-temannya menyebut mereka dengan pasangan romantis. Mungkin karena Bian yang kerap spontan bersikap manis seperti yang baru saja dia lihat, sebagian lagi karena Tiara sendiri yang cenderung manja pada sang kekasih.


Tiara tahu, kecamuk rasa sakit sakit dan kecemburuan yang saat ini menguasai hatinya adalah akumulasi dari kekecewaan karena dia tak bisa bersama pria itu. Karena semua harapan dan mimpi-mimpi tentang kebahagiaan yang pernah mereka gaungkan harus sirna di tengah jalan.


Entah mengapa, ada rasa sesak yang begitu hebat menghantam ulu hati Tiara sehingga tubuhnya terasa menggigil. Bahkan, dia tak sadar kemesraan Bian dan Amara membuat Tiara meremas pahanya dengan erat, khawatir dirinya akan menjerit karena hatinya terus teriris.


Beruntung ponsel dalam tasnya berdering dan membuat Tiara kembali menyeret pikirannya pada realita. Kendati rasa sakit menyelubungi hatinya, Tiara tetap mampu bersikap tenang saat mengambil ponsel tersebut dalam tas.


Sudah bertahun-tahun dia bersahabat dengan luka, dan Tiara tahu bagaimana harus mengendalikan diri. Dia beranjak dari tempat duduk untuk menjawab panggilan ke tempat yang sedikit sepi. Tak lama kemudian dia kembali dengan ekspresi gelisah dan menghampiri Bahtiar.


"Kenapa?" tanya Bahtiar ketika melihat Tiara buru-buru menjejalkan ponsel ke dalam tas. "Ada masalah?"


Tiara mengangguk cepat. "Kayaknya harus cabut duluan deh. Kamu kalau belum selesai lanjutin aja, aku harus balik ke hotel."


"Ya udah, ayo balik," sahut Bahtiar yang lantas merapikan beberapa dokumen dan mematikan laptop. Sambil menjejalkan barang-barang tersebut ke dalam ransel, Bahtiar menatap Bian dan meninggikan bahu sambil bergumam, "Anak Tiara ikut, dan ane nggak mungkin biarin dia balik ke hotel bawa mobil sendirian. Kita lanjut di telepon nanti, ya?"


Setelah berbicara singkat dan berpamitan pada Bian dan Amara, keduanya buru-buru berjalan ke parkiran dan masuk mobil.


Ketika Bahtiar mulai melajukan mobil keluar dari pelataran Faradisa Kafe, saat itulah tangisan Tiara benar-benar meledak setelah berusaha keras menahan air matanya agar tak meledak di depan Bian dan Amara.


Bahtiar mengembuskan napas panjang saat menyambar kotak tisu dari dashboard dan meletakkan di pangkuan Tiara, lalu dia berkata dengan penuh keyakinan, "Lu nggak bener-bener harus balik ke hotel 'kan?"


Tiara menarik beberapa lembar tisu dan membersit hidung, tetapi tangisnya semakin tak terbendung hingga Bahtiar harus menunggu beberapa saat agar Tiara sedikit lebih tenang.


"Kayaknya gue harus putar rencana B," gumam Tiara dengan suara sengau setelah tangisnya mereda.


"Lu mau nyerah gitu aja? Setelah lu ngeluarin duit ratusan milyar buat kerja sama ini, setelah dengan susah payah bujuk orang itu agar mau jual saham hotelnya, terus lu mau mundur?" Bahtiar menggerutu dan menatap Tiara dengan tak habis pikir. "Dikit lagi, Tiara ... gue yakin Fabian bakal—"


"Kamu pikir semua mudah dilakuin?" Tiara membalas dengan pahit. "Setelah orang tuaku nyakitin dia, tau kalau Fabian ngelewati masa-masa tersulit hingga akhirnya dia bisa bahagia sama istri dan anaknya, menurutmu apa aku bakal tega ngerusak kebahagiaan dia—"


"Lu nggak perlu ngerusak kebahagiaan mereka," sahut Bahtiar jengkel. "Lu cuma perlu ngasih tahu dia kalau—"


"Nggak!" pungkas Tiara sambil menggelengkan kepala cepat-cepat. "Nggak tega liat dampak ke depannya kalau sampe rumah tangga Fabian kacau lagi. Kamu kan tau, satu-satunya hal yang bikin aku pengen ngomong ke Fabian karena dengar kabar rumah tangganya berantakan. Aku pikir sekarang rumah tangga yang dia jalanin juga sama kacaunya kayak rumah tangga pertama. Tapi setelah lihat gimana keharmonisan Fabian sama istri dan anaknya, nggak deh, gue lebih baik—"


"Tapi Tifany butuh bapak yang bisa ngelindungin dia, Anj*ng!" Bahtiar meraung kesal.


Tiara menelan sumbatan yang menggumpal di tenggorokannya dengan susah payah. "Sebelas tahun lebih saya udah berusaha jadi ibu sekaligus jadi bapak buat Tifany—"

__ADS_1


"Masalahnya sekarang beda, Tiara. Mantan laki lu udah keterlaluan sama Tifany. Setelah dia bikin anak lu rusak sampe ke mental-mental, lu masih mau bersikap egois—"


"Apanya yang egois?" Tiara menahan tawa histeris. "Setelah saya mendem semuanya dan dipaksa bisu sekian lama, kamu masih bilang saya egois? Saya cuma nggak mau anak saya ke depannya jadi bibit masalah buat kehidupan Fabian dan istrinya. Bagian mana yang kamu sebut saya egois?"


__ADS_2