Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 57


__ADS_3

Bian berguling ke samping Amara dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan. Napasnya tersengal-sengal, tak berbeda seperti Amara.


Jemari Bian menyibak seberkas anak rambut di pipi istrinya. Lenguhan penuh kepuasan mewarnai bariton berat Bian ketika mendaratkan kecupan panjang di dahi Amara.


"Nggak sia-sia aku nunggu lama sampe dua bulan," kata Bian ketika Amara berbalik menghadapnya dan memeluk leher sang suami. "Kamu emang pantes buat ditunggu."


Seulas senyum tersungging di bibir Amara ketika mencium dagu Bian dengan mesra. Pipinya terasa panas, dan sudah dapat dipastikan kini wajahnya pasti memerah— mengalahkan sapuan blush on nude di tulang pipinya.


Sekali lagi Bian mencium hidung Amara yang memerah bagai buah cherry, lalu menggigitnya dengan gemas sewaktu wanita itu bergelayut manja memeluk lehernya.


Ada kehangatan tak terbantahkan yang mengetuk-ngetuk palung hati Bian saat mendapati istrinya bertingkah manja. Dia suka cara Amara memeluknya— seolah membuktikan betapa wanita itu membutuhkannya, dan Bian senang dibutuhkan oleh Amara.


Lebih dari itu, Bian menyukai semua yang ada pada istrinya. Tak peduli seberapa buruk sikap Amara ketika sedang marah dan terbakar cemburu, Bian menyukainya. Entah apa yang membuat Bian seperti itu pada wanita sekeras kepala seperti Amara.


Bian sadar, dia bukan remaja hijau yang baru pertama kali jatuh cinta. Akan tetapi, dia tak ingin menepis dentaman jantungnya yang selalu menghentak-hentak rusuk ketika sedang berduaan dengan Amara.


Jadi, tak heran jika **** yang mereka lakukan barusan terasa sangat luar biasa. Amara menakjubkan, selalu menakjubkan. Namun, kali ini Bian tahu apa yang membuat **** bersama Amara terasa begitu sempurna. Mungkin itu karena dia benar-benar bercinta dengan sepenuh hati dan segenap jiwa pada satu-satunya wanita yang dia miliki.


Alasan tepat kenapa dia sebegitu puas meski percintaan mereka begitu singkat. Namun, Bian tahu bahwa Amara juga tak bisa berlama-lama menahan g@ir@hnya.


Terbukti dari bagaimana cara wanita itu berteriak penuh kemenangan sewaktu mereka mencapai puncak kenikmatan bersama-sama, dan dia ingin melihat Amara terbakar gairah lagi— sekarang!


Bian meremas bumper belakang Amara yang kenyal, kembali menjelajahi leher Amara yang masih lengket oleh keringat— sama seperti punggung Bian yang juga basah oleh keringat.


Dia baru saja akan memberitahu Amara bahwa dirinya ingin bercinta lagi, tetapi Amara tiba-tiba mengeluh pelan, "Aku lapar, tadi kan waktu makan malem belum selesai udah keburu dateng teman kamu."


Bian tertawa terkekeh-kekeh hingga Amara bisa merasakan dada pria itu bergetar.


Pria itu menarik selimut di ujung kaki mereka dan menyelimuti Amara sambil berkata, "Mau makan apa? Kamu tunggu di sini, aku—"


"Aku mau ikut." Amara menggeliat bangun dan menyibak selimut. "Tapi masa keluar pakai lingerie? Bajuku yang tadi kan udah basah di kamar mandi."


Jadi, Bian mencari handuk kimono putih di antara gulungan selimut. Kemudian mencari pakaian Bian yang berserakan, menyatu dengan gundukan lingerie hitam terkutuk yang lagi-lagi membuat Bian membasahi kerongkongan.


Sialan. Bahkan baju tipis yang tadi dipakai Amara saja bisa membangkitkan hasrat Bian. Kemolekan tubuh Amara dalam balutan lingerie tersebut rasanya terus menari-nari dalam otak.


Bian mengerang rendah dan kasar, mencoba meredam g@ir@hnya karena tak mungkin memaksakan kehendak untuk bercinta ketika mengetahui istrinya kelaparan.

__ADS_1


"Abis makan ntar eksekusi lagi ronde kedua, ya, Sayang?" Bian meloloskan pakaian dari atas kepalanya, lalu mengenakan celana pendek dan melirik Amara.


Rupanya wanita itu tengah memelototinya dengan galak sambil menggerutu, "Besok lagi aja, kakiku pegel—"


"Kan aku yang kerja keras, Ra," sahut Bian sambil membantu Amara memakai handuk dan mengikat tali kimono di pinggangnya. "Kamu tinggal ngedesah sambil nikmatin aja, Sayang."


"Apaan sih ngomong-ngomong kayak gitu," Amara mencicit pelan, menyembunyikan pipinya yang semakin merona— ucapan Bian yang blak-blakan benar-benar membuat dia malu.


Bian hanya tertawa geli sambil mengacak-ngacak puncak rambut Amara ketika wanita itu masih duduk di tepi ranjang. "Mau makan apa? Mau dibikinin nasi goreng? Roti bakar? Mie, atau pesen nasi—"


"Nggak mau makan yang berat-berat," tukas Amara sambil melambaikan tangan. "Kata instruktur senamku kalau udah malem jangan ngonsumsi makanan berat, kasian organ pencernaan kalau harus bekerja keras waktu kita tidur. Itu ... tadi Om beliin WRP sama soyjoy 'kan? Aku mau ngemil itu aja."


"Makan gituan doang?" Alis Bian terangkat ketika mengulurkan tangan pada istrinya. "Kenyang nggak, motorin gigi iya. Makan yang lain aja, ya?"


"Nggak, takut gendut aku. Nanti mata kamu jelalatan di luaran lihat yang langsing-langsing." Amara menangkis tangan Bian, tetapi dia menengadahkan kedua tangan pada suaminya. "Gendong."


"Sayang, aku baru aja nguras tenaga barusan." Bian memasang ekspresi memelas. "Kamu beneran minta digendong sekarang?"


"Tuh kan! Kamu nggak mau gendong aku karena aku gendut 'kan?" Amara menggerutu murung. "Lagian kamu udah janji mau gendong aku seharian kalau jahitan aku udah kering. Sekarang kan udah lebih lebih dari kering, kamu malahan udah eksekusi barusan. Aku cuma minta digendong ke dapur doang, bukan minta digendong keliling komplek."


Demi menghindari pertengkaran, akhirnya Bian berbalik dan membungkuk di depan Amara. Bohong jika dia mengatakan lelah karena Amara minta digendong.


Terlebih lagi ketika Amara meletakkan dagunya di bahu kanan Bian. Bergelayut dengan manja sambil mencium leher Bian dan berbisik, "Akhirnya kesampean juga digendong kamu."


Bian tersenyum dan menoleh ke belakang, mengecup kening Amara. Dia sadar, permintaan Amara bukan hal-hal besar yang tak bisa bisa dia penuhi. Wanita itu hanya butuh perhatian-perhatian kecil yang tampaknya tak pernah dia dapatkan.


Amara wanita yang berbeda, dan dia tahu alasannya kenapa Amara begitu butuh kasih sayang. Jadi, Bian memaklumi jika sekarang Amara bersikap manja seperti anak-anak.


"Salad buah kayaknya enak, ya, Om?" bisik Amara ketika mereka berjalan menuju dapur.


"Mau dibikinin?" Suara Bian terdengar memanjakan.


"Tapi jangan pake susu. Ganti yogurt aja sama thousand island," kata Amara sambil melonggarkan pelukannya di bahu Bian. "Aku turun—"


"Nggak usah, kamu pegangan aja yang kenceng," kata Bian sambil membuka kulkas dan mencari beberapa jenis buah.


"Tapi kamunya susah ntar, kan mau ngupasin—"

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Cintaku," kata Bian dengan lembut sewaktu mengeluarkan beberapa macam buah yang dia butuhkan. "Katanya mau digendong seharian? Baru beberapa menit."


"Berat nggak?" bisik Amara ketika Bian berjalan menuju wastafel untuk mencuci buah-buahan tersebut. "Berat badanku sekarang 53 kilo, katanya kalau mau ideal sama tinggi badanku harus turunin dua sampe tiga kilo lagi."


Selanjutnya, sambil menekuni membuat salad yang diinginkan sang istri, Bian hanya mendengarkan keluh kesah Amara yang dituturkan dalam narasi panjang.


Tak lama kemudian mereka ke ruang makan, mendudukkan Amara di kursi yang berdampingan. Bian mengaduk-aduk semangkuk salad dan menusuk apel— lalu menoleh dan menyuapi istrinya.


Dia tak sadar bahwa sejak tadi Amara mengamati dan menilainya. Amara membuka mulut untuk melahap potongan apel tersebut, lalu menatap Bian yang juga turut menikmati salad tersebut— semangkuk berdua.


"Om," kata Amara sambil mengulurkan tangan memegang pergelangan tangan Bian hingga pria itu kembali menoleh dengan alis terangkat. "Kamu kenapa baik sama aku?"


"Mau digalakin?" Bian mengulum senyum sambil mengusap puncak kepala Amara. "Jangan tanya kenapa, kamu istri aku. Bukan hal aneh kalau suami baik sama istrinya sendiri 'kan?"


Nyatanya, Amara tahu benar bahwa tidak semua lelaki bisa berpikir demikian, misalnya— mantan suami Amara sendiri. Dia sadar, perbedaan Bian dan mantan suaminya seperti langit dan bumi. Jadi, tak heran jika Amara semakin takut Bian akan berpaling darinya.


"Tapi aku kan galak, ngomongnya kasar, aku keras kepala, bandel kalau dibilangin. Kenapa kamu masih sabar ngadepin aku?"


"Mau gimana lagi?" Bian meninggikan bahu dengan acuh tak acuh sambil menusuk potongan melon dan kembali menyuapi Amara. "Aku nggak pernah nuntut orang jadi sempurna untuk jadi pendamping hidupku, kok. Toh pada dasarnya nggak ada orang yang sempurna—"


"Tapi kamu laki-laki sempurna kok," tukas Amara apa adanya.


Bian tersenyum. "Kamu terlalu berlebihan muji aku," kata Bian tenang. "Nggak ada cowok yang sempurna, Ra. Kita berdua tau kayak apa histori- ku, Semuanya balik lagi dari cara kamu memandang, dari cara kamu melihat sesuatu itu sendiri. Kalau kamu bilang aku sempurna, artinya kamu sendiri yang nutup semua celah keburukanku."


Amara tersenyum hangat, lalu mendekatkan wajah dan mengecup pipi Bian sambil berbisik, "Aku sayang om banyak-banyak."


Bukan bisikan Amara yang membuat darah Bian tiba-tiba berdesir, tetapi embusan napas wanita itu di pipinya berhasil menyulut gairah Bian kembali menyala.


Bian menundukkan kepala dan mendaratkan kecupan kecil di bibir Amara.


"Ngomong-ngomong, Istriku sayang," bisik Bian dengan serak di bibir Amara. "Kamu keliatan lebih cantik kalau lagi klimaks—"


Bian mencium bibir Amara lagi, merasakan kelembutan setiap inci kulit bibir sang istri ketika dia mengulumnya. "Ra, aku pengen liat kamu lebih cantik lagi. Sekarang."


Amara mengedip-ngedipkan mata, butuh waktu untuk mencerna apa yang dikatakan Bian. Ketika dia tersadar bahwa Bian ingin melihatnya kembali melayang sewaktu gairah mereka meletup-letup, barulah Amara menepuk bahu Bian dan mendorong pria itu yang masih menciumi bibirnya.


"Nggak bisa," gumam Amara dengan pipi memanas. "Besok lagi—"

__ADS_1


"Aku maunya sekarang," pungkas Bian parau, sementara api g@ir@h semakin berkobar di matanya.


__ADS_2