
Untuk pertama kalinya Amara memindai wajah Yuanita, seolah merekam wajah dan penampilan wanita tersebut dalam memorinya. Namun, semakin menyadari bahwa wajah Yuanita begitu mulus dan pandai bersolek, Amara semakin membandingkan dirinya dengan wanita itu, dan tak salah jika dia berkecil hati untuk saat ini.
Yuanita mengenakan jeans hitam ketat, dipadu atasan merah muda yang juga ketat, sehingga membentuk setiap lekuk tubuh wanita itu. Bahkan, kerah bajunya yang berpotongan rendah sedikit memperlihatkan *********** yang penuh dan tampak sintal.
Harus Amara akui, bahwa dirinya lebih pendek dari pada Yuanita. Posisi mereka yang berdekatan membuatnya tersadar bahwa tinggi Amara hanya sebatas dagu Yuanita. Dari awal melihat wanita itu, pandangan Amara memang hanya terfokus pada bibir dan mata Yuanita, tetapi kini dia juga bisa melihat hidung Yuanita sedikit lebih mancung dibanding dirinya.
Hal tersebut membuat Amara berpikir, pantas saja dulu Bian langsung menceraikan Amara ketika dia mengatakan kemungkinan Yuanita lah yang menularkan penyakit seksual yang dialami Bian— meski hal itu terbukti benar adanya. Rupanya Yuanita memang jauh lebih unggul dari Amara, baik dari rupa atau pun bentuk fisik.
Pantas saja Bian bertahan hingga sepuluh tahun berumah tangga dengan Yuanita, meski wanita itu bahkan pernah mengkhianati Bian.
Memang, kepercayaan diri Amara kembali terkikis. Terutama karena saat ini dia terlihat sangat kacau dan kelelahan. Sudah bisa dia bayangkan bagaimana kacau wajah Amara saat ini, mengingat beberapa hari lalu dia tak pernah bisa tidur dengan baik.
Sudah dapat dia pastikan seberapa buruk kantung matanya, ditambah sapuan make up sederhana tadi pagi yang pasti sudah luntur.
Kendati demikian, bukan berarti Amara tak pandai bersolek. Dia mantan seorang biduan, yang dituntut selalu tampil memukau ketika menghibur para tamu. Hanya saja, sayang sekali sekarang kondisi Amara sebagai perempuan yang baru saja melahirkan.
Bentuk tubuhnya belum kembali ke ukuran semula, melar di sana sini — tak seramping Yuanita yang saat ini melirik Amara dengan ekspresi merendahkan. Seolah-olah sedang mengatakan bahwa Amara tak ada apa-apanya dibanding dirinya.
Tampaknya Yuanita masih ingin mengatakan sesuatu pada Bian, tetapi ketika dia baru saja membuka mulut, Bian lebih dulu mengedikkan kepala ke arah pintu, "Tunggu apa lagi?"
Akhirnya Yuanita melesat pergi setelah sebelumnya memberikan tatapan penuh kecemburuan pada Amara.
Amara hanya menautkan alis melihat reaksi seperti itu. Lalu menoleh ke belakang dan menyadari Yuanita berjalan ke arah Swift merahnya dengan kesal.
Setelah terdengar suara pun yang ditutup keras, Amara mencicit pelan, "Manusia nggak ada akhlaq! Kasian mobilnya, moga nggak cepet rusak."
Di tengah kejengkelan karena bertemu dengan orang yang paling tak ingin ditemui, ketika mendengar komentar Amara yang seperti itu, mau tak mau Bian tertawa terbahak sambil mengusap-usap puncak kepala Amara.
"Aku kira kamu marah dan bakal maki Yuanita karena natap kamu dengan cara kayak gitu," kata Bian setelah tertawa sejenak. "Padahal aku ngarepin banget pengen liat kamu maki dia lebih kejam dari pada pas maki-maki aku."
Amara meninggikan bahu. "Ditatap kayak gitu kan nggak bikin aku terluka," kata Amara pelan. "Lagian, dia nggak nyari masalah sama aku, ngapain aku tiba-tiba harus maki dia? Kalau kamu kan dulu jelas nyakitin aku, makanya aku maki-maki."
Pada akhirnya, Bian tak bisa menjawab ucapan Amara. Bibirnya terkatup rapat seolah kehabisan kata-kata. Dia meremas bahu Amara dan kembali berjalan masuk, lalu disambut seruan Alif yang memekik girang mendapati kehadiran ayahnya.
Ketika Alif menghambur memeluk kaki Bian, pria itu langsung mengangkat Alif ke dalam pangkuan.
"Kirain Papa nggak jadi pulang," kata Alif dengan ceria. "Tadinya Alif udah mau tidur, tapi Papa pasti pulang bawain kue. Papa beliin kue yang Alif pesen 'kan?"
Bian tersenyum dan mendaratkan kecupan di pipi Alif sambil berkata, "Bawain dong. Kita makan bareng-bareng sama Bunda, ya?"
Amara nyaris tak bisa bernapas mendengar ucapan Bian. Dan ketika Amara mendongak melihat ekspresi Alif, anak itu pun menoleh pada Amara sambil bergumam, "Sama bundanya adek Alif?"
"Ya, Bunda kamu juga," kata Bian sambil menurunkan Alif, lalu meminta kantong belanjaan dari Amara dan memberikan pada Alif. "Bawa ke ibu, minta potongin sekalian buat Bunda sama Papa."
Ketika Alif melesat pergi dengan antusias, Amara langsung meremas lengan Bian sambil bertanya, "Kenapa kamu nyuruh Alif manggil aku Bunda?"
"Minggu kemarin dia bingung mau manggil kamu dengan sebutan apa," Bian menjelaskan seadanya. "Kamu juga ngebiarin anak-anak di kampung manggil kamu dengan sebutan Bunda. Jadi, aku cuma ngasih tau Alif supaya manggil kamu kayak gitu. Kamu nggak marah 'kan?"
Sebelum Amara sempat menjawab, Bian menambahkan, "Nggak boleh marah. Alif anakku juga."
Amara menggerutu pelan, "Kalau gitu, ngapain kamu nanya aku marah apa—"
Ucapan Amara terputus ketika Mirna tiba-tiba datang ke ruang tamu sambil membawa Biandra. "Ini gimana ceritanya sih, Bian, kamu nyuruh Alif biar aku motongin kue sambil gendong Bian? Kurang ajar bener jadi ade."
Bian tertawa terkekeh-kekeh sambil mengambil Biandra yang diserahkan Mirna. "Kapan lagi kamu dikunjungi tamu istimewa kayak istri gue, Na? Susah setengah mampus pengen bawa ibu ratu ke sini sampe—"
Ucapan Bian terputus, dia memberingis ketika Amara tiba-tiba mencubit perutnya. "Sakit, Ra … kebiasaan kamu mah."
__ADS_1
"Atuh apaan kamunya ngagetin aku terus," desis Amara dengan senyum kaku, lalu mengalihkan perhatian Bian dengan mengambil Biandra. "Uh, kesian anak Bunda … kelamaan, ya, ditinggalinya?"
"Kurang lama," komentar Mirna hingga Amara menoleh dan tersenyum canggung pada kakak iparnya. "Pengennya sih si Biandra nginep di sini. Biar rame ini rumah. Si Alif juga jadi nggak pergi-pergi main, di rumah terus nemenin adeknya."
"Akunya yang kesepian kalau Bian nginep," kata Amara, berusaha menjaga suaranya terdengar enteng, berharap memecah kecanggungan karena sikapnya minggu lalu.
"Sama kamu nginep di sini kali-kali," sahut Mirna bersahabat. "Masa datang ke sini cuma jemput Bian doang? Sepi lagi deh ini rumah."
"Si Amara capek, Na. Nanti aja kapan-kapan nginepnya," Bian berinisiatif menjawab saat melihat Amara tak bisa membuka mulut. "Itu si Alif potongin kuenya."
Setelah Mirna bergumam sebelum berbalik dan pergi ke dapur, Bian membimbing Amara sambil berkata, "Kamu duduk dulu bentar. Mau minum apa?"
"Jangan bikin minum, ntar makin lama," keluh Amara murung. "Aku ngantuk. Kasian juga Biandra udah kemaleman pulangnya."
"Sayang, sebentar lagi, mmh … sepuluh menit?" pinta Bian penuh harap. "Sampe Alif tidur abis makan kue … ya?"
"Yaudah aku pulang sendiri," gerutu Amara penuh rajukan.
"Ra, kasian Alif. Aku udah lama nggak nemenin—"
"Iya, iya, iya! Aku tunggu dua puluh menit," kata Amara sambil menghentakkan kaki dan berjalan ke sofa. "Suapin makan kue tapi?"
"Siap." Bian tersenyum lebar sebelum akhirnya mendaratkan kecupan kilat di pipi sang istri. "Tunggu bentaran."
Sebenarnya, Amara tak benar-benar ingin pulang terburu-buru. Terutama setelah melihat ekspresi Alif yang tampak antusias melihat kehadiran mereka. Memang, ego Amara menyatakan dia ingin Bian hanya mencurahkan kasih sayangnya pada dia dan Biandra saja.
Namun, Amara juga tak memungkiri bahwa dia dibesarkan bukan oleh ibu kandungnya. Hal itu membuat dia kembali teringat pada nasihat sang dokter, yang mengatakan bahwa tak semua ibu dititipi kasih sayang.
Jadi, Amara berasumsi bahwa hal itu juga berlaku pada Bian, yang dititipi kasih sayang untuk menyayangi Alif— tak peduli meski anak lelaki kecil itu bukan darah daging Bian.
Terlebih lagi, Amara sadar, mustahil Bian tak memiliki kasih yang besar pada Alif, mengingat pria itu mengurusnya sejak Alif berusia satu hari. Dan melihat bagaimana telatennya Bian saat mengurus Biandra, Amara tak ragu untuk menilai Bian bahwa suaminya itu adalah seorang ayah terbaik.
"Siapa yang nggak ngasih tau?" bantah Mirna heran. "Dari tadi aku nelpon nggak dijawab, udah chat juga ngasih tau kamu kalau Yuanita di sini nungguin kamu. Makanya aku bilang kamu mending jangan ke sini dulu, nunggu si Yuanita pulang, baru ntar aku kabarin kamu lagi."
Bian memberengut suram, lalu merogoh ponsel dari saku celana. "Pantesan di- silent."
"Nah, salah siapa kalau udah gini?" Mirna mendesis jengkel, lalu kembali ke meja makan dan menekuni memotong kue untuk Alif dan Amara. "Udah malem lho ini … kenapa si Amara nggak diajak nginep di sini aja sih? Kasian itu anak bayi malem-malem dibawa pulang."
Sebelum Bian bisa menjawab, Alif mendongak menatap ayahnya sambil menambahkan, "Kalau Bunda sama Biandra pulang, berarti Papa juga nggak tidur di sini?"
Bian mengembuskan napas panjang, sedikit serba salah dan tak tega melihat tatapan penuh harap yang terpancar dari sorot mata Alif.
"Nanti Papa tidur di sini sama Bunda, sama adek kamu kalau si Bunda udah sembuh, ya, Alif?"
"Emang Bunda sakit apa sih, Pa? Kok tadi Papa lama perginya?" tanya Alif sambil mengamati ibunya meletakkan sendok kecil di atas dua piring berisi potongan kue.
"Bunda kan baru ngelahirin," Bian menjelaskan dengan lembut. "Badannya lemes, sakit semua. Jadi harus ditemenin dulu sampe sembuh. Alif yang sabar, ya, nungguin Papa?"
Alif mengangguk paham. "Alif bawain kue buat Bunda ke depan, ya?"
Bian mengangguk, dan setelah anak itu pergi, Mirna tiba-tiba bertanya, "Beneran si Mora nggak apa-apa, Bian? Nggak ngalamin baby blues kayak yang kamu khawatirin?"
"Lebih buruk," keluh Bian masam. "Postpartum anxiety— mirip-mirip sama yang aku alami. Bedanya, itu kecemasan yang berlebihan pada masa nifas, pasca melahirkan."
"Aduh, laki bini bisa samaan gitu penyakitnya. Sama-sama punya gangguan mental," komentar Mirna sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Berapa lama pulihnya?"
"Nggak tau pasti." Bian meninggikan bahu. "Dokternya bilang nggak bisa cepet, apa lagi kalau nggak ditangani cepet-cepet, bisa berujung depresi."
__ADS_1
"Kasian itu anak—"
"Makanya aku sekalian mau bilang, kamu tolong kasih pengertian ke Alif kalau aku nggak bisa ada buat dia terus," kata Bian serba salah. "Lagian aku butuh adaptasi lagi sama Amara, terutama setelah ada Biandra. Tolongin, ya, Na?"
"Iya, nggak usah khawatir. Kamu fokus aja sama mereka," kata Mirna, menenangkan. "Mudah-mudahan nggak lama, kasian juga Alif. Siapa lagi bapaknya kalau bukan—"
"Pa, kata Bunda .. Papa mau makan kuenya bareng-bareng nggak?" Suara Alif berhasil memungkas kalimat Mirna dan membuat Bian melompat terkejut.
"Mampus," gumam Bian pelan. "Lupa kalau dia minta disuapin."
Bian buru-buru kembali ke ruang tamu dan mendapati Amara tengah mengayun-ayun Biandra di pangkuannya dengan wajah murung.
Sebelum Amara bisa mengeluh, Bian menyambar satu piring kecil kue di atas meja dan duduk di antara Amara dan Alif.
"Kelamaan, ya?" goda Bian sambil menyendok potongan kue dan mengarahkan kue ke mulut Amara.
"Kirain kamu kesasar di Baghdad," gerutu Amara setelah melahap potongan kue yang disuapi Bian.
Bian nyaris tersedak ludah mendengar komentar Amara, lalu ditambah suara Alif yang bertanya dengan polos, "Emang Baghdad di mana, Pa?"
Lalu, tawa Bian pecah seiring tawa Amara yang tiba-tiba menggelegak mendengar pertanyaan Alif dengan ekspresinya yang begitu polos. Tentu saja Amara mengerti, Alif mana paham bahwa dia hanya sedang mencandai Bian.
Kemunculan Mirna yang tiba-tiba berhasil membuat Amara berhenti tertawa.
"Alif, nanti jangan tidur malem-malem, ya?" kata Mirna. "Besok kamu sekolah pagi."
"Dari tadi juga Alif udah ngantuk, tapi nungguin Papa dulu kan." Alif mencolek krim sekali lagi dengan telunjuknya, lalu menjilati dengan semangat. "Ntar kuenya simpen buat bekel ke sekolahan, ya, Bu?"
Bian mengamati jemari Alif yang berlumuran krim dan potongan kue di atas piring yang tak tersentuh sama sekali. Sebenarnya, menyenangkan Alif bukan hal sulit, cukup dengan meluangkan waktu dan menemaninya seperti itu, Bian tahu tampaknya kerinduan Alif sudah cukup terobati.
Hal itu terbukti ketika Alif mengecup pipi Bian, kemudian beralih pada Amara— meski sedikit canggung. Bukan untuk mencium Amara, tetap menatap Biandra dengan gemas sambil berseru, "Kakak tidur duluan, ya, Dek? Nanti main lagi ke sini."
"Iya, Kakak Alif … nanti aku main lagi ke sini," Amara berinisiatif menyahut sambil mengusap-usap puncak kepala Alif, tak tega melihat anak itu setelah mendengar cukup banyak cerita dari Bian.
Alif tersenyum senang dan melambaikan tangan sebelum akhirnya pergi bersama Mirna.
"Lagi nggak, Ra?" Pertanyaan Bian berhasil membuat Amara menoleh setelah melihat sosok Alif dan Mirna menjauh.
"Aku baru makan dua suap, masa udah abis lagi sih?" keluh Amara saat melihat potongan kue di piringnya habis tak tersisa.
"Ah, aku lupa kalau ini kue kamu, Ra."
"Ih, bisa-bisanya lagi nyuapin sampe lupa itu kue punya aku?" protes Amara. "Tapi nggak apa-apa, kita pulang sekarang, ya?"
"Ada syaratnya."
"Apaan lagi sih?"
"Malem ini aku tidur di kamar kamu, ya?"
Amara menatap Bian dengan curiga. "Jangan macem-macem! Aku masih nifas, inget?"
"Satu macem doang, Ra."
"Apa?"
"Peluk."
__ADS_1
"Nggak usah mimpi! Ada Biandra yang butuh pelukanku."
"Emang kamu nggak butuh pelukanku, Ra?"