
Amara bernapas lega sewaktu Bian menjelaskan bahwa dia tak perlu dipusingkan dengan masalah Yuanita. Memang, Bian tak bisa menjamin bahwa mantan istrinya itu tak akan kembali mengganggu mereka selama Alif masih berada dalam asuhan Bian.
Namun, setelah mendengar Bian mengatakan bahwa Mirna pun marah dan memberikan ultimatum pada Yuanita jika berani mendekati Alif, setidaknya Amara mengerti memang seharusnya kakak Bian bertindak lebih tegas untuk Alif.
Lagi pula, Bian tak ingin keberadaan Alif justru menciptakan kekacauan dalam rumah tangga mereka. Walau bagaimana pun, kerelaan Amara yang mengizinkan Alif ikut bersamanya sudah cukup membuat Bian terenyuh.
Amara sadar, pada dasarnya memang tak ada seorang pun yang bisa menjamin akan terbebas dari masalah. Namun, selama mereka bersama dan memiliki satu tujuan, Amara tahu tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan.
Lagi pula, Amara yakin lambat laun pun Yuanita akan lelah dengan sendirinya untuk mengganggu rumah tangga mereka.
"Kamu masih belum ngantuk bukan, Om?" tanya Amara sambil menahan kuap ketika Bian kembali membakar sebatang rokok di sela bibirnya. "Kenapa harus tidur malam-malam terus sih?"
"Masih belum beres, Sayang, bentar lagi." Bian menyandarkan punggung di sandaran kursi, memposisikan agar Amara nyaman bergelung di pangkuannya. "Kamu mau tidur duluan?"
"Nggak, nunggu kamu selesai aja." Amara melirik pada layar laptop di atas meja, melihat tabel dan angka-angka yang sudah sering dia lihat.
Lalu, dia kembali mengangkat pandangan pada Bian yang tengah menikmati sebatang rokoknya. Meskipun Amara sudah berhenti merokok semenjak mengandung Biandra, tetapi bukan berarti dia menjadi wanita yang anti asap.
Jadi, tak mungkin dia juga meminta Bian agar berhenti merokok seperti dirinya. Terutama karena Bian tahu betul kapan dan di mana pria itu akan menikmati rokoknya.
"Aku lupa gimana rasanya rokok—"
Ucapan Amara terputus ketika Bian tiba-tiba menatap tajam ke arahnya sambil bergumam, "Nggak usah macem-macem, Ra, udah bagus kamu bisa berenti ngerokok. Awas aja kalau berani nyoba-nyoba lagi."
"Mau diapain kalau aku nyoba-nyoba?" goda Amara dengan seringai nakal. "Biasanya nih, ya ... cewek itu makin dilarang malah makin nekat. Makin diancem malah makin ngeyel—"
"Oh, emang cewek doang yang bisa kayak gitu?" Bian tersenyum licik ketika menurunkan sebelah tangannya dari pinggang Amara ke tulang selangka wanita itu. "Kalau nggak salah inget, kamu juga ngancem mau pulang supaya aku nggak minta tiga ronde kalau lagi pengen gaulin kamu. Jadi, kalau kamu mau bandel nyobain rokok lagi, apa susahnya aku tinggal nurunin celana dan—"
__ADS_1
"Ampun!" pekik Amara ketika Bian meremas pahanya dari balik celana tidur berkain licin. "Nggak usah kayak gitu-gitu, geli tau!"
"Siapa suruh kamunya nantang kayak gitu." Bian tertawa geli, lalu menunduk dan mendaratkan kecupan singkat di dahi wanita itu. "Ngomong-ngomong, Ra, aku belum kasih tau kamu kalau kafe udah sembilan puluh persen siap operasi. Kapan rencana kamu mau buka kafenya?"
"Cepet amat udah selesai sebulan doang?" komentar Amara. "Kata kamu mau bikin dua kamar sama satu kantor di lantai atas buat istirahat kalau kita lagi di sana 'kan? Kok secepet itu sih ngerjainnya?"
Amara berusaha bangun dari pangkuan Bian, khawatir tangan pria itu akan melakukan penjelajahan di tubuhnya. Walau bagaimana pun, Amara tahu seperti apa gairah Bian bereaksi ketika mereka berdekatan.
Terlebih lagi, pembicaraan mereka kali ini sedikit serius, dan Amara tak mungkin bisa berkonsentrasi jika tangan Bian meraba-raba tubuhnya.
"Yang ngerjainnya banyak." Bian menarik pinggang Amara agar wanita itu tak duduk terlalu jauh darinya. "Ra, kalau kita tinggal dulu sementara waktu di kafe itu gimana? Kira-kira kamu risih nggak tinggal di sana, yang jelas lebih kecil dari pada villa ini?"
Amara mendongak ke samping dan membalas tatapan Bian. Untuk pertama kalinya dia mendengar kebimbangan dalam nada bicara suaminya.
Jadi, dia menatap Bian dengan serius sewaktu bertanya, "Kamu kenapa? Lagi ada masalah?"
"Iya, ada masalah serius sama keuanganku," kata Bian sambil menggaruk alis yang tak gatal. "Aku mau jual semua villa dan penginapanku. Kalau sekiranya aku kesulitan keuangan, kamu mau ninggalin aku nggak, Ra? Kita hidup susah dulu, ngerintis dari awal di kafe itu. Prihatin sebentar, gimana, Ra?"
Kekhawatiran mewarnai wajah Amara sewaktu memegang tangan Bian dengan penuh simpati. Dia tak tahu apa yang terjadi pada suaminya, tetapi mendengar Bian berkata seperti itu, Amara tahu bahwa Bian pasti sedang menghadapi masalah serius.
Kenapa sampai mau ngejual semua villa sama penginapan kamu?" tanya Amara cemas. "Kamu kelilit utang bukan, Om?"
Bian terbatuk-batuk tersedak asap rokok mendengar pertanyaan Amara. Sama sekali tidak menduga istrinya akan mengajukan pertanyaan dengan begitu polos. Dia mematikan rokoknya ke dalam asbak, lalu kembali menarik Amara ke dalam pelukan sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Kenapa kamu gemesin banget, sih, Sayang? Jangan sampe deh suamimu ini kelilit utang," bisik Bian yang kemudian menghidu pipi Amara dengan gemas.
"Terus kenapa?" tanya Amara sambil menggeliatkan kepala ketika Bian kembali menciumi lehernya. "Kenapa harus di jual villa sama penginapannya? Bukannya itu semua sumber—"
__ADS_1
"Jawab dulu pertanyaan aku," tukas Bian serius. "Kamu keberatan nggak kalau kita tinggal di kafe? Tempatnya nggak seluas villa ini, kamarnya juga nggak seluas kamar tidur kita sekarang. Aku takut kamu nggak nyaman karena—"
"Ngaco, ah, kamu mah, Om," Amara mendengkus pelan. "Masa kamu lupa kalau aku dulu biasa tidur desak-desakan sama ade-adeku? Udah tinggal di sini selama hampir dua bulan, bukan berarti aku nggak akan terbiasa lagi tinggal di tempat kecil. Udah deh, mending kamu ngomong kamu lagi kenapa? Kalau bukan punya utang, terus kamu ada masalah apa?"
Bian menyeringai lebar. "Kamu tau kan dari kemarin chat di group akomodasi pada bahas Ayudi's Hotel and Convention?"
Amara mengangguk cepat, meski dia tak benar-benar menyimak apa yang diperbincangkan di group chat dalam ponsel Bian.
"Hotel besar yang di pusat kota itu kan?" desak Amara tak sabaran. "Kenapa? Kenapa?"
"Ya, hotel bintang empat," Bian menjelaskan dengan tenang. "Nah, yang punya Ayudi's Hotel ini kan ada tiga orang. Salah satu dari mereka ini kelilit utang hampir tiga ratus milyar. Terus mau jual saham hotel miliknya. Jadi, aku rencana mau beli saham se—"
"Kamu punya uang tiga ratus milyar. Sebanyak itu, Om?" tukas Amara dengan terbelalak tak percaya saat menatap suaminya. "Kenapa kamu nggak ngasih tau aku kalau uang kamu banyak?"
Bian mencubit pangkal hidung Amara sambil tertawa-tawa, gemas melihat reaksi Amara yang tercengang tak percaya.
"Nggak, uangku nggak sebanyak itu," kata Bian apa adanya. "Kalaupun semua villa dan penginapanku di jual, ditambah tabunganku selama ini, paling totalnya cuma sampe setengah dari jumlah itu. Jadi, aku sama temenku rencananya mau join beli itu saham. Gimana menurut kamu, Ra?"
"Kalau kamu punya uang ratusan milyar kayak gitu, kenapa nggak bikin hotel sendiri aja sih?" komentar Amara dengan polosnya.
Tawa Bian semakin tergelak mendengar pertanyaan istrinya.
"Nggak semudah itu, Cintaku," kata Bian setelah puas tertawa. "Uang segitu palingan cuma cukup buat ngebangun hotel bintang dua dengan jumlah kamar paling banyak 200 unit. Sedangkan Ayudi's Hotel ini kan jumlah kamarnya hampir empat ratus, yang kalau diperkirakan biaya untuk ngebangun 1 kamarnya aja butuh 600 sampe 800 juta. Uangku palingan cuma seratus lima puluh milyar, mana bisa aku bangun hotel sendiri?"
"Terserah kamu deh, Om, aku pusing bayangin uangnya sebanyak apa," kata Amara sambil melambaikan tangan.
"Jadi, gimana tentang kita yang harus hidup susah dulu di kafe kamu, Ra?" goda Bian dengan seringai nakal. "Nggak keberatan kan hidup dari nol bareng aku?"
__ADS_1