
Bian masih tak bisa mengerti kenapa Amara tiba-tiba membahas masalah baju sambil marah-marah.
Kebingungan Bian semakin berlipat ketika Amara menambahkan dengan kesal, "Masih pake nanya aku kenapa? Nih, yah, coba kamu bayangin ... aku beli baju itu pake uang sendiri. Iya, dari kamu. Tapi kan itu udah jadi uang aku sendiri ..."
"Apa karena harga baju yang aku beli itu cuma 299 ribu?" lanjut Amara sambil menunjuk logo A|X di kaus bawah kiri Bian. "Nggak semahal Armani Exchange kamu yang bikin jiwa miskin saya nangis darah, makanya kamu jadi ngasih baju itu ke ade kamu? Gitu?"
"Ra, kamu itu ngomong apaan sih? Kenapa jadi bahas-bahas ..."
"Ah, pikir aja sendiri!" tukas Amara dengan gigi bergemeretak. "Asal kamu tau aja, uang tiga juta itu besar buat aku, bahkan bisa buat beli baju lebaran sekeluarga! Harusnya kamu nanya dulu sama aku sebelum kasih baju itu ke ade kamu. Kalau semisalkan kamu nggak suka pilihan warnanya juga bisa kasih tau dulu ke aku. Aku mana tau kamu cuma suka hitam putih abu, nyampe aku dengan begonya pilih biru, marun, hijau lumut—"
"Sayang, sumpah aku nggak ngerti sebenarnya kamu lagi bahas apa?"
"Ah! Urusan kita belum selesai!" Amara mengatupkan rahang dan berbalik, buru-buru keluar dari kamar. "Kalau aja nggak ada Alif yang nungguin kamu di bawah, aku pengen puasin ngomong sama kamu—"
"Ra, tunggu dulu, aku—" Bian buru-buru menyusul Amara yang menuruni tangga dengan langkah cepat. "Kita kan bisa bicarain ini baik-baik, Sayang, kamu nggak harus—"
"Diem, jangan bikin malu diri sendiri dengan ribut di depan Dika sama Alif!" desis Amara sambil menoleh dan memelototi Bian, dan pria itu langsung mengunci mulutnya ketika mereka hampir tiba di ruang makan.
Amara benar, mereka tak mungkin bertengkar di depan Alif dan Dika. Terlebih lagi, Bian tak ingin Alif menyaksikan lagi sebuah pertengkaran, mengingat dulu Alif pernah sebegitu takut karena mendapati dia kalap pada Yunita.
Sekarang, Bian sekali lagi tersentuh dengan Amara yang masih bisa bersikap normal, sementara wanita itu baru saja murka— untuk alasan yang tidak Bian ketahui.
Namun, alasan itu terjawab ketika dia mendapati Dika yang tengah makan bersama Alif. Bukan karena melihat sebegitu lahapnya Alif dan Dika saat menyantap makan malam yang membuat Bian tercengang, tetapi tentu saja karena baju yang dikenakan sang adiklah yang membuat Bian ternganga.
Bian ingat, itu adalah pakaian yang Amara minta agar Bian mencobanya sewaktu singgah di mall beberapa hari lalu.
Dia bertanya-tanya dalam hati, bukankah saat itu Amara mengatakan membeli pakaian-pakaian tersebut untuk hadiah pada seorang lelaki?
Bukankah Amara bahkan mengirim pakaian itu melalui kantor pos? Kini, Bian semakin bingung kenapa pakaian itu ada pada Dika?
Apakah istrinya itu sudah mengenal Dika sebelumnya— mengingat Dika adalah teman Anji? Terbersit berbagai pemikiran dalam benak Bian, tentang kemungkinan Amara yang mungkin saja pernah dibooking oleh Dika, atau pernah menjalin hubungan dengan sang adik.
Namun, mengingat Amara bahkan tak tahu siapa Dika ketika pertama kali adiknya berkunjung ke villa, rasanya semua itu menjadi tak masuk akal.
Lagi pula, jika pun Amara memang mengirim baju-baju tersebut pada Dika, kenapa wanita itu justru luar biasa marah padanya?
"Kamu makannya mau pake perkedel jagung atau cumi aja?"
Pertanyaan Amara berhasil membuat Bian tersadar dari pikirannya yang luar biasa bingung. Lalu mendapati Amara tengah menyendok nasi ke atas piring, dan dapat dipastikan wanita itu masih saja sabar melayaninya— sementara Bian tahu benar Amara masih marah.
__ADS_1
Bian menarik kursi yang berseberangan dengan Alif, lalu duduk di sana— tepat di samping kanan Amara.
"Pake semuanya," kata Bian singkat.
"Papa udah sembuh?"
Bian bahkan tak sadar sejak tadi Alif memandanginya. Dia mengembuskan napas gusar, mencoba menetralisir otaknya yang luar biasa kacau.
Ketika Amara meletakkan makanan di depannya, Bian menoleh lagi pada istrinya— wanita itu masih tak berekspresi.
"Sembuh, Sayang," kata Bian setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya. "Kamu kenapa nggak ngabarin kalau mau ke sini? Kan Papa bisa jemput."
"Kata si mamang kan Papa sakit," sahut Alif dengan polosnya. "Lagian kata ibu nomor Papa nggak bisa ditelepon. Makanya Alif pengen ke sini, kangen sama Papa."
Sekali lagi Bian mengembuskan napas tak berdaya, merasa lalai pada tanggung jawabnya sebagai seorang ayah— terlepas dari status Alif yang bukan darah dagingnya. Namun, yang anak itu tahu, dialah ayahnya.
"Nginep di sini malem ini, ya?" Akhirnya Amara berinisiatif menawarkan dengan lembut, tak tega dengan tatapan Alif yang begitu polos.
"Emang boleh, Pa?" Alif menatap Bian dengan mata berbinar-binar.
"Boleh," Amara menjawab lebih dulu, tahu bahwa Bian pasti akan melarang Alif berada di sana. "Katanya Alif kangen kan sama Papa? Ya udah, nginep aja di sini."
"Ra ...," Bian bergumam sambil menoleh, meyakinkan wanita itu bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyatukan mereka. "Besok Alif sekolah, dia—"
Namun, kepeduliannya pada Alif jelas tak bisa disembunyikan, dan hal itu lagi-lagi membuat Bian tersentuh.
Sebelum Bian menyantap apa yang disajikan pada Amara, dia kembali menatap Alif. Lalu sadarlah bahwa wajah anak itu sedikit merah, sementara mulutnya masih berupaya mengunyah makanan.
Biasanya, Alif selalu bersikap manja saat sedang tak enak badan— sama seperti kebanyakan anak seusianya. Namun, hari ini, Bian sadar Alif bersikap mengerti— mungkin karena Bian yang sudah terlalu lama tak berada di sisinya.
Ada rasa sakit yang menusuk-nusuk hati Bian, mengingat Alif lagi-lagi dipaksa harus lebih dewasa di usianya yang masih terlalu dini.
Jadi, dia melambaikan tangan pada Alif sambil berkata, "Sini, Nak. Bawa piringnya, biar Papa suapin."
Alif turun dari kursi dan membawa piring tersebut pada Bian. Setelah meletakkan piring Alif di atas meja, Bian mengulurkan tangan dan menggendong anak itu.
Bukan, dia bukan memanjakan Alif. Rasanya cukup adil jika saat ini Alif mendapat pelukan dan ciuman penuh sesal dari Bian, mengingat dirinya terlalu apatis pada anak itu.
Entah mengapa, menyaksikan pemandangan tersebut membuat ulu hati Amara terasa nyeri. Sebagai anak yang tak mengenali siapa ibunya sejak lahir, Amara tentu bisa merasakan di posisi Alif, yang tak memiliki ayah sejak lahir.
__ADS_1
Jadi, dia cukup mengerti mengapa Alif tampak begitu bergantung pada Bian, tak berbeda seperti Amara yang juga bergantung pada ibu tirinya yang sudah dia anggap seperti ibu kandung sendiri.
"Pa, Alif boleh tidur sama Biandra nggak?" tanya Alif ketika Bian mulai menyuapinya.
Bian terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kamu kan udah biasa tidur sendiri, jadi—"
"Alif malem ini tidur sama Papa dulu aja, ya?" tukas Amara dengan senang hati. "Ntar kalau demam Alif udah agak turun, kita tidur bareng-bareng, oke?"
"Ra? Kamu nggak lagi bercanda kan?" Bian merasa tercekik mendengar ucapan Amara.
Akhirnya dia mengerti kenapa Amara membiarkan Alif menginap, ternyata secara tidak langsung wanita itu menolak untuk tidur bersama Bian— lagi.
"Kemarin waktu kamu sakit, kamu nggak mau deket-deket Biandra sama aku," kata Amara tanpa dosa. "Sekarang Alif lagi kurang sehat, kata kamu orang sakit nggak boleh deket-deket sama bayi?"
Bian nyaris tak bisa membuka mulut untuk menjawab ucapan Amara, merasa semua ultimatumnya saat itu kini berbalik pada dirinya sendiri.
"Atau, mau dibalik?" lanjut Amara ketika Bian masih tak bisa menemukan suaranya. "Aku yang tidur sama Alif, kamu tidur sama Biandra?"
Dua pilihan itu sama-sama menegaskan bahwa Amara memang tak ingin tidur dengannya. Sial!
"Udah, Alif tidur sama aku aja," kata Bian murung, "Dia sering kebangun tengah malem kalau lagi sakit."
"Besok Alif sekolah gimana, Pa?" tanya Alif lagi sambil mengunyah makanannya.
"Nanti biar mamang jemput kamu subuh-subuh," Akhirnya Dika berinisiatif menyahut.
Barulah Bian benar-benar fokus dan menatap serius pada Dika. "Baju dari mana?"
Dika menelan ludah dengan susah payah, merasa tersudut dan terancam oleh tatapan Bian yang berbahaya.
"Lah, kan tadi mang Kusnadi anterin baju suruh Aa," akhirnya Dika hanya bisa berkata apa adanya.
Bian tercengang seketika, bahkan sesendok nasi yang akan disuapkam ke mulut Alif melayang di udara untuk beberapa saat, tepat ketika teringat ucapan si penjaga villa yang berkata, 'Nama pengirimnya wanita yang mencintaimu.'
Bagaimana mungkin Bian bisa berpikir Amara lah si pengiriman paket? Jadi, paket itu bukan berasal dari Tiara? Apa karena Bian merasa di teror oleh wanita itu, sehingga begitu ngeri ketika mendengar kata 'wanita yang mencintaimu', dan langsung menjauhkan hal-hal tersebut darinya?
Pantas saja Amara sebegitu murka, dan Bian tak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Amara mengapa pakaian-pakaian itu ada pada Dika.
Bian menelan ludah dengan susah payah ketika menoleh pada Amara dan mendapati raut wanita itu masih tampak geram.
__ADS_1
"Sayang, aku bisa jelas—"
"Abisin dulu tuh makanan!" tukas Amara, tanpa ekspresi. "Urusan kita belum selesai!"