Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 43


__ADS_3

Bian berbalik menyamping menghadap Amara dan mendapati wanita itu masih memejamkan mata. Lalu, kemudian dia mengulurkan tangan dan menarik istrinya ke dalam pelukan.


Amara menggeliatkan kepala saat hidung Bian yang dingin menempel di pipinya, disusul bibir Bian yang berlama-lama mencium keningnya.


"Biandra kebangun terus?" bisik Bian sambil mengeratkan pelukannya.


"Hmm," gumam Amara ketika membenamkan kepala di dada Bian yang bidang, hangat dan nyaman. "Pas kamu berangkat, dia bangun. Terus barusan bangun lagi setengah lima, jadi aku sekalian siapin air panas buat kamu. Kamu juga tidur, Om."


Sebentuk senyum kembali terukir di bibir Bian ketika mendekap dan mendaratkan kecupan di puncak kepala Amara. "Kamu tidur yang nyenyak, Sayang."


Tak butuh waktu lama bagi Amara dan Bian untuk memasuki dunia mimpi, di saat seharusnya mereka bangun dan menjalani aktivitas. Bahkan, ketika kehangatan pelukan Bian menyelimuti sekujur tubuh Amara, rasanya Amara tak butuh apa-apa lagi. Semua kekhawatiran dan kegelisahan beterbangan dari otaknya, sehingga dia menemukan kenyamanan luar biasa dalam tidurnya.


Namun, sayangnya kenyamanan itu tak berlangsung lama. Dia lagi-lagi terbangun oleh tangis Biandra saat pukul delapan pagi. Amara membuka mata saat merasakan ada yang hilang dalam tidurnya. Lalu menyadari pelukan Bian ternyata terlepas karena pria itu kini bergelut dengan botol susu.


"Tidur lagi, Sayang … masih pagi," kata Bian.


Jadi, Amara kembali tertidur. Membiarkan Bian mengambil alih, karena matanya tak bisa diajak berkompromi untuk tetap terjaga.


Tak lama kemudian, dia merasakan Bian kembali berbaring dan memeluknya. Mungkin pria itu juga sama-sama lelah, sehingga tidak memedulikan apa pun lagi, kecuali istirahat bersama istri dan anaknya.


Amara merasa dia belum lama tertidur saat terdengar bunyi ponsel yang menjerit-jerit di atas meja. Tanpa membuka mata, dia meraih ponsel tersebut, menjawab panggilan dan menempelkan di telinga.


"Hallo," kata Amara dengan suara serak.


"Baru bangun, Ra?" tanya seorang perempuan dari seberang panggilan. "Bian mana?"


"Siapa ini?"


"Eh, ini Teteh … mm, Mirna. Si Bian belum bangun, Ra?"


Amara mengernyit, dan mau tak mau dia memaksa membuka mata. Dia menjauhkan ponsel dari telinga, dan ketika melihat nama 'Ibu Alif' di layar, dia baru tersadar bahwa itu adalah ponsel milik suaminya.

__ADS_1


"Kenapa, Teh?" tanya Amara lagi sambil melirik Bian dan menyadari pria itu begitu pulas dengan napas yang beraturan.


"Teteh lagi di rumah sakit, bawa Thia ke dokter gigi," kata Mirna dari seberang panggilan, diiringi gemerisik orang saling bersahutan. "Bentar lagi si Alif pulang, coba tanyain ke Bian bisa jemput Alif dulu nggak? Di rumah nggak ada siapa-siapa soalnya, warnet sama rental juga ditutup dulu. Nanti pulang dari rumah sakit Teteh jemput Alif ke villa."


"Ya, Teh ... ntar aku bilangin ke Om."


Setelah mengatakan itu, Amara langsung menutup telepon. Lalu tersadar saat ini waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Amara menoleh pada Bian setelah meletakkan ponsel di atas meja di samping tempat tidur. Awalnya, dia menduga suaminya sudah bangun dan mendengar apa yang dikatakan Mirna di telepon, tetapi ketika Bian tak bergerak sama sekali, Amara menyadari bahwa suaminya memang benar-benar tertidur pulas.


Jadi, Amara menangkupkan telapak tangan di pipi Bian sambil berkata dengan suara rendah, "Om ... bangun."


Ketika Bian masih tak bereaksi, untuk beberapa saat dia mengamati wajah suaminya. Semburat kelelahan jelas terpancar dari wajah suaminya yang terlanjur tampan, tak peduli meski dia sendiri sadar bahwa pria itu terlalu dewasa untuk jadi pendamping hidupnya.


Sebenarnya, Amara tak tega untuk membangunkan Bian saat mendengar deru napasnya begitu teratur. Mata gelap Bian yang selalu memancarkan keteduhan saat menatap Amara, tampaknya kali ini belum bersedia terbuka, dan Amara tahu benar suaminya memang kurang tidur.


Kendati demikian, Amara tak bisa mengabaikan pesan Mirna, khawatir Alif akan segera keluar dari kelas dan tak mendapati orang yang menjemputnya.


Alih-alih membuka mata, Bian justru merapatkan tubuh pada istrinya dan membenamkan wajah di leher Amara sambil bergumam serak, "Masih ngantuk, Sayang. Bentar lagi."


"Tapi barusan kakak kamu nelpon," kata Amara sambil menjauhkan kepala ketika Bian menciumi lehernya yang membuat dia tergelitik. "Katanya tolong jemput Alif, dia lagi di rumah sakit—"


"Siapa yang sakit?" Bian spontan mengangkat kepala dengan mata yang terbuka sekaligus. "Mirna sakit?"


"Bukan, kakak kamu bawa kakaknya Alif ke dokter gigi," Amara menjelaskan seadanya. "Jadi dia bilang kamu tolong jemput Alif dulu ke sekolah, nanti pulang dari rumah sakit, kakak kamu jemput Alif ke sini."


Sambil mengembuskan napas lega, Bian kembali menenggelamkan wajah di leher Amara dan memeluknya erat-erat sambil berbisik, "Iya, ntar dijemput—"


"Tapi bentar lagi si Alif keluar."


"Jam berapa sekarang?" Suara Bian terdengar malas, seolah masih betah berlama-lama berada di samping istrinya.

__ADS_1


"Udah jam sepuluh lewat, anak kelas satu pagi kan biasanya—"


"Kenapa nggak ngasih tau dari tadi?" gerutu Bian yang langsung terperanjat dengan mata memerah, jelas berusaha keras melawan rasa kantuk yang masih bergelayut.


Amara terkekeh-kekeh melihat ekspresi Bian yang luar biasa terkejut. "Atuh kamunya bilang ntar dulu masih ngantuk."


"Emang masih ngantuk." Bian duduk sambil menggosok-gosok wajah, berupaya mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. "Kamu jangan dulu bangun, nanti abis jemput Alif, kita tidur lagi, ya?"


"Mana ada?" protes Amara sambil tertawa kecil. "Udah waktunya bangun, malu sama matahari. Lagian Biandra udah waktunya mandi, ganti popok—"


"Udah diganti tadi waktu minum susu," gumam Bian sambil menoleh pada Biandra.


"Jam berapa tadi?" Amara beringsut bangun dan duduk sambil menarik Biandra mendekat.


Alis tebal Bian saling bertautan sebelum akhirnya kembali bergumam, "Jam delapan kayaknya."


"Ah, bentar lagi juga Biandra bangun. Waktunya minum susu lagi." Amara meraih jepit rambut di atas nakas, meraup rambutnya yang acak-acakan dan mencepol asal.


Ketika Amara mencondongkan tubuh untuk meraih Biandra, Bian tiba-tiba berkata, "Kamu tidur pules, Ra? Segeran keliatannya."


"Tadi minum obat dari dokter," kata Amara dengan ceria. "Jadi bisa tidur nyenyak."


"Bukan nyaman karena aku peluk?" Bian mengulum senyum, menggoda Amara.


"Mana ada, orang jelas-jelas aku pules karena obat tidur dari dokter," gerutu Amara sambil menekuni membuka bedongan Biandra.


"Oh, kalau gitu, nanti malem aku meluk Biandra aja—"


Pelototan dan bantal yang dilayangkan Amara berhasil membuat ucapan Bian terputus, disusul gerutuan Amara yang terdengar jengkel, "Baru sekali doang tidur kelonan udah bosen, sampe nggak mau meluk aku lagi? Gitu?"


Bian tertawa terkekeh-kekeh. "Makanya, ngaku aja kalau kamu bisa tidur nyenyak karena pelukanku, bukan karena obat."

__ADS_1


"Pede amat jadi orang!" Amara mendengkus sambil memutar bola mata dengan malas. "Udah, cepetan kamu pergi jemput Alif, kasian dia kalau keluar kelas nggak ada siapa-siapa."


__ADS_2