Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 40


__ADS_3

"Siapa yang bilang?" Suara Bian jelas tak bersahabat.


"Waktu hari pertama aku booking villa kamu, aku nanyain kamu ke Dika. Dika bilang kamu udah lama cerei sama istri kamu. Dika juga bilang, katanya kamu belum punya anak?" Tiara mencoba berbicara dengan lembut, dengan nada yang selalu dia gunakan saat sedang berbicara dengan pria itu. "Dika udah dewasa banget, ya? Aku inget waktu itu dia masih kelas tiga SD saat pertama kali kita ketemu. Terakhir ketemu Dika lagi pas dia SMA waktu kamu pertama kali kerja di Jakarta."


Tiara menghela napas panjang, mengendalikan kegugupan yang tak bisa diredam. Walau bagaimana pun, setelah sebelas tahun tak bertemu, tentu saja dia merasa canggung saat bertemu lagi dengan pria itu.


Terlebih lagi, kisah asmara mereka dulu berakhir tanpa sebuah kata perpisahan, dan mereka berpisah di saat keduanya tengah dimabuk cinta.


"Sebenarnya apa yang mau kamu bahas? Kebiasaan kalau ngomong suka nggak ke intinya langsung." Bian tak berbasa-basi untuk menebak.


Tiara diam sejenak, lalu terdengar embusan napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Jam tangan yang aku kirim tiga minggu lalu, kenapa dipake Dika? Aku ambil versi cowok, sama kayak waktu kamu beliin aku jam tangan dengan gaji pertamamu waktu kerja di Hy***. Kamu inget 'kan?"


"Mustahil lupa sama apa yang pernah saya lakukan," sahut Bian acuh tak acuh. "Tapi itu cuma masa lalu, nggak pantes buat dikenang."


"Bi, kamu udah banyak berubah, ya, sekarang?" Tiara masih mempertahankan suaranya agar terdengar tenang. "Udah sukses, karirmu bagus, pemikiranmu udah jauh lebih dewasa—"


"Tua, bukan dewasa," pungkas Bian. "Pada dasarnya, semua orang pasti berubah seiring berjalannya waktu. Toh tiap detik yang berlalu dan apa yang pernah kita alami, semua berperan mendorong kita untuk menilai, berasumsi, berpikir, dan memutuskan satu perkara dengan cara berbeda-beda. Jadi, jangan—"


"Kamu benar, semuanya pasti berubah," Tiara menambahkan dengan pahit. "Satu-satunya hal yang nggak pernah berubah yaitu kita yang susah banget jadi satu. Nggak perduli seberapa besar rasa cintanya kamu sama aku dulu, atau seberapa besar aku yang pengen jadi istri kamu, rasanya kok sulit banget buat ngewujudin itu. Tapi, asal kamu tau aja, Bi ... keinginan aku untuk jadi istri kamu, itu nggak pernah nyurut sedikit pun ...."


Tiara menjeda kalimatnya sebentar, menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Berhubung kamu sekarang udah jadi duda dan belum punya anak, aku mikir kamu juga ngalamin hal yang sama kayak aku. Kita nggak bener-bener bisa saling lupain, nggak bisa buka hati dan beradaptasi pada pasangan kita. Bi, aku lagi di tahap proses perceraian sama Ko Liem, dan kedua orang tuaku udah nggak ada. Kalau ada kesempatan kedua, bisa nggak kita ngambil kesempatan itu? Kita bisa lanjutin kisah kita yang tertunda tanpa sebuah keputusan. Kita berdua tau, aku nggak mandul, aku pernah hamil anak kamu walaupun—"

__ADS_1


"Ra, kamu bisa turun sekarang?" Bian membuang puntung rokok ke luar jendela, ekspresinya begitu rumit seolah benar-benar terkejut mendengar apa yang dijelaskan Tiara.


"Bi, tolong pikirin apa—"


"Nggak bisa, dari dulu hubungan kita diawali dengan cara yang salah. Nggak seharusnya kita tetep nekat berbuat hal konyol cuma buat dapetin restu orang tua kamu. Dan segala sesuatu yang dimulai dengan cara yang baik, nggak akan pernah berakhir baik," pungkas Bian tegas. "Tolong turun sekarang, Bi. Aku perlu pulang dan istirahat—"


"Bi, aku serius. Udah lama aku nunggu kesempatan untuk bisa cerai sama Ko Liem. Itu juga yang jadi alesan kenapa aku milih sewa tempat kamu sebulan ini selama proses mediasi perceraianku. Aku cuma berharap bisa ketemu kamu, bahas apa yang dulu pernah jadi harapan kita, aku kangen jalanin hari-hari sama kamu. Aku pengen kita balikan, mulai lagi semuanya dari awal dan—"


"Dan lebih baik kamu pulang, beresin urus proses perceraian kamu. Jalanin kehidupan kamu dari awal sama anak-anak kamu, karena harapan kamu nggak mungkin terwujud. Aku bukan duda, aku punya istri dan anak—"


"Anak adopsi—"


"Tiara, turun ... tolong ... nggak ada yang perlu kita bahas lagi. Akan lebih baik kalau kamu lanjutin hidup kamu tanpa bayang-bayang masa lalu ..."


"Kamu bisa dapetin semua yang kamu mau, tapi bukan dari aku, Tiara."


Bian mengembuskan napas panjang, dia merendahkan suaranya sebelum kembali melanjutkan, "Tiara, kisah kita cukup jadi sejarah, pelajaran, dan pengalaman buat jadi lebih baik lagi jalani hidup di masa depan— dengan atau tanpa orang yang kita cintai. Dan perlu kamu garis bawahi tentang statusku sekarang, aku bukan duda. Aku baru nikah lagi dua minggu lalu, dan aku punya anak dari istri yang aku cintai. Jadi, Tiara ... lupain masa lalu kita, jalanin kehidupan kamu, percayalah ... bahagiamu pasti datang di waktu yang tepat."


"Bi ..." Tiara bahkan bisa mendengar getaran dalam suaranya, dan dia tak tahu kenapa air matanya tiba-tiba meluncur saat mendengar suara lembut Bian.


Nada yang sejak lama dia rindukan, yang kerap Bian lakukan ketika mereka menjalin kisah asmara panjang yang berakhir tanpa kata 'bahagia'.

__ADS_1


Bian sedikit gusar dan serba salah saat mendengar isakan pilu dari kursi belakang. Dia melirik kaca spion dan mendapati bahu wanita itu berguncang, seolah-olah dipukul oleh realita.


"Tiara, jangan kayak anak kecil gini atuh. Kamu kebiasaan kalau apa-apa malah nangis gitu, selalu bikin aku ngerasa jadi bajingan sejati yang demen banget bikin nangis cewek." Bian memberengut suram.


"Kita udah sama-sama dewasa, coba kamu cerna lagi apa yang tadi aku bilang," lanjut Bian. "Semua orang bukan nggak pernah ngalamin kejadian pahit, mereka punya pengalaman hidup sesuai porsinya masing-masing. Jangan bikin aku serba salah, please ..."


"Bi ... aku cuma kangen kamu," sahut Tiara di tengah isakannya. "Aku kangen semua tentang kita."


Bian mengembuskan napas berat sebelum berkata, "Tiara, aku udah bicara baik-baik dan jelasin semuanya tentang kehidupanku sekarang. Aku tau kamu bukan wanita bodoh yang nggak bisa hargain orang lain. Dan andaipun aku duda dan kita kembali bersama, belum tentu apa yang kamu khayalin tentang kita akan sama kayak dulu. Jadi, tolong turun sekarang... Kasian anak-anak kamu, terutama istri dan anakku yang nunggu aku pulang."


"Aku ngerti ..." Tiara membersit hidung dan mengangguk-angguk. "Maaf ... aku mungkin terlalu egois. Tapi, jangan lupain aku, ya, Bi? Katanya ... hal yang paling menyakitkan itu adalah dilupakan. Aku nggak mau jadi orang yang kamu lupain."


"Aku nggak janji."


Setelah mengatakan itu, Bian menunggu Tiara turun hingga terdengar pintu mobil yang ditutup. Tak lama kemudian, Tiara berada di samping pintu mobil Bian dengan mata yang kentara tampak terluka. Jadi, mau tak mau Bian melihat manik mata Tiara yang kini jelas tampak rapuh.


"Makasih," kata Tiara sambil menyunggingkan senyum pahit. "Salam buat istri dan anak kamu. Kita masih bisa temennan kan?"


"Nggak tau." Bian meninggikan bahu. "Temenan sama orang dari masa lalu yang pernah punya hubungan khusus dengan kita, rata-rata cuma akan jadi masalah dan bibit pertengkaran dalam rumah tangga. Dan aku nggak mau gagal lagi berumah tangga."


Ketika Bian menyadari bahwa air mata kembali menggenangi pelupuk mata Tiara, dia menambahkan, "Udah ah, jangan melow-melow kayak gitu. Istirahat sana, terus pulang ke Jakarta kalau kondisi kamu udah baikan. Ada di sini juga cuma nyakitin diri sendiri kalau kamu ngarepin ketemu lagi sama aku. Karena hal yang bakalan kamu dapet cuma aku dan kehidupanku yang sekarang, bukan masa lalu kita."

__ADS_1


"Aku mau mampir dulu ke rumah kamu, ketemu sama istri—"


"Nggak! Mau bunuh aku itumah namanya!" Bian menggerutu sambil terkekeh-kekeh. "Jangan bikin masalah, oke?"


__ADS_2