
Amara tak tahu kenapa kepalanya berdenyut-denyut hebat setelah mendengar skandal perselingkuhan Yuanita. Bahkan, perutnya bergejolak hingga Bian mau tak mau menepikan mobil ke bahu jalan.
Bahkan, sebelum mobil tersebut berhenti sepenuhnya, Amara buru-buru melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil ketika cairan asam merambati kerongkongan.
Bian bergegas turun dan mengitari mobil untuk menghampiri Amara yang membungkuk di trotoar.
"Udah aku bilang kamu jangan makan pedes," kata Bian saat memijat tengkuk Amara ketika wanita itu terus memuntahkan isi perutnya.
Kekhawatiran kian merayapi palung hati Bian saat mendapati wajah Amara mengeluarkan keringat dingin, tak berbeda dengan telapak tangan wanita itu yang juga basah oleh keringat.
"Kamu sih bandel banget kalau dikasih tau," gerutu Bian panik. "Udah tau kalau seminggu ini kamu susah makan, masih aja—"
"Bukan masalah pedesnya," tukas Amara setelah merasakan gejolak di perutnya mulai berkurang dan tak ada lagi muntahan yang keluar dari mulutnya. "Aku enek ngebayangin istri kamu tidur sama cowok lain sampe di videoin kayak gitu."
Bian mengernyit sambil menyeka keringat dingin di dahi dan hidung Amara. Tak menduga istrinya akan bereaksi seperti itu pada apa yang baru saja dia ceritakan.
"Maafin," kata Bian sambil menggiring Amara kembali ke mobil. Dia menarik tuas di samping kursi, memposisikan jok mobil agar Amara nyaman dengan duduk setengah berbaring. "Kamunya yang maksa-maksa aku buat cerita. Mana tau kamu bakalan kayak gini."
Bian mencondongkan punggung dan menyambar beberapa lembar tisu di atas dashboard, serta mengambil sebotol air mineral di antara persneling mobil.
Kekhawatiran tak terelakkan jelas terpancar dari sorot mata Bian ketika melihat wajah Amara begitu pucat.
"Sayang, jangan bikin panik coba," gumam Bian sambil membersihkan mulut Amara dari sisa cairan yang wanita itu muntahkan. "Muter balik lagi ke rumah sakit, ya?"
"Ngapain?" Amara meringis ketika Bian menangkup sebelah tangan di wajahnya, membiarkan ibu jari pria itu mengelus pipinya dan mendaratkan kecupan di dahi kiri Amara.
"Atuh kamunya sakit kayak gini—"
"Siapa yang sakit?" Amara terkekeh kecil menyadari kecemasan mewarnai suara Bian. Bahunya sedikit bergidik ngeri saat melanjutkan, "Aku nggak apa-apa, cuma nggak tau kenapa tiba-tiba pengen muntah aja denger apa yang dilakukan istri kamu."
"Beneran?" keluh Bian murung. "Jangan bilang nggak sakit, tapi ntar tau-tau kamu muntah lagi."
Amara menepuk bahu Bian dan mendorong pria itu ketika bibir Bian mengecup pipinya dengan sayang. "Jangan kayak gini ih, malu atuh diliat orang lewat," bisik Amara dengan pipi yang mulai bersemu.
"Atuh kamunya jangan bikin orang panik lagi," gumam Bian sambil menegakkan punggung, kembali berdiri dan menahan pintu di samping Amara.
Amara mengangkat pandangan dan menatap ke kedalaman manik mata pria itu, lalu menyunggingkan senyum geli melihat bagaimana air wajah Bian yang memelas seperti anak kecil.
"Aku beneran nggak apa-apa, Om." Amara terkekeh kecil. "Jangan lebay kayak gini. Ntar orang-orang ngira kita lagi ngapain. Malu atuh diliat orang mesra-mesraan di tempat umum gini."
"Siapa yang mesra-mesraan?" Bian memberengut dan menjawil hidung kecil Amara. "Orang lagi khawatirin istri sendiri, kenapa harus meduliin apa kata orang?"
"Atuh tetep aja orang mah nggak tau kalau—"
"Capek kamu lama-lama kalau mikirin terus isi kepala orang-orang," tukas Bian sambil mengetuk-ngetuk kening Amara dengan telunjuknya. "Kapan kamu mikirin diri kamunya?"
Sebelum Amara bisa menjawab, Bian menutup pintu dan kembali duduk di kursinya. Jadi, Amara memiringkan kepala menghadap Bian sementara pria itu mengaitkan sabuk pengaman.
"Terus gimana ceritanya sekarang Alif bisa sama kamu, Om?" Amara kembali mempertanyakan cerita Bian yang sempat terputus. "Bukannya seharusnya sekarang Alif sama istri kamu."
"Mantan istri!" gerutu Bian tak senang. "Udah jangan bahas-bahas itu dulu, nanti kepala kamu pusing lagi—"
"Tapi aku penasaran—"
"Ra, kamu mah ngeyel kalau dibilangin. Udah diem, diem, diem."
"Yaudah aku mau turun aja kalau kamu nggak mau kasih tau," Amara menggeliat bangun dan berupaya melepas sabuk pengaman yang baru dipasangkan Bian.
"Ra, eh ... kamu mah gitu ngancemnya. Jangan bandel coba." Bian menarik tangan Amara yang tampaknya benar-benar akan berupaya turun.
Sambil memasang wajah tanpa dosa, Amara kembali mendesak, "Yaudah kamu cerita dulu gimana Alif akhirnya bisa sama kamu."
"Nggak!"
"Om, ih. Buruan cerita. Masa masih mau rahasia-rahasiaan sih sama istrimu sendiri?"
"Untung sayang!" Bian menggeram jengkel hingga Amara menyeringai penuh kemenangan.
___
Malam itu, seusai menjatuhkan talak tiga pada Yuanita, Bian langsung pergi tanpa membawa Alif. Awalnya, Bian berpikir dia bisa melepaskan Alif begitu saja.
__ADS_1
Akan tetapi, kehilangan Alif ternyata jauh lebih menyakitkan dari pada kehilangan Amara dan pengkhianatan yang dilakukan Yuanita.
Ketika malam semakin larut dan semakin banyak Bian meneguk Marteel, dia mendapati dirinya semakin hancur dalam kesendirian dan rasa sakit.
Dalam kondisinya yang berada di bawah pengaruh alkohol, benak Bian dipenuhi oleh bayang-bayang Amara yang begitu terluka ketika dia menceraikannya tadi sore.
Bian tertawa getir saat berkelebat pemikiran bahwa karma tersadis yang dia lakukan pada Amara dibayar kontan sebelum dua puluh empat jam. Bian tak bisa menebak seberapa terlukanya Amara, tetapi dia sadar, rasa sakit yang dia dapatkan saat ini mungkin tak sebanding dengan luka yang dirasakan Amara.
Meski demikian, Bian hanya berharap wanita itu belum benar-benar jatuh cinta padanya. Karena semakin sedikit Amara mencintainya, maka kecil pula kemungkinan rasa sakit yang Amara tanggung.
Bohong jika saat itu Bian tak ingin bertemu dengan Amara. Jauh dalam lubuk hatinya, Bian ingin melihat wanita itu— wanita yang beberapa jam lalu baru dia jatuhi talak. Ingin melihat apakah ada pemaafan yang mungkin diberikan Amara.
Bukan, Bian bukan bermaksud menjunjung harga diri dan tak bisa menekan egonya. Harga dirinya sebagai seorang pria sudah terkikis habis oleh Yuanita. Cacian dan makian kasar yang mungkin akan dilakukan Amara bukan masalah bagi Bian, tetapi tetap saja faktanya Bian tak berani menemui Amara.
Entah karena terlalu malu, atau dia terlalu takut akan menyakiti wanita itu lagi. Mengingat betapa besar Yuanita menggoreskan luka, bukan hal mustahil jika sekarang kepercayaan Bian pada wanita menjadi terkikis, dan tak menutup kemungkinan jika Bian juga akan sulit percaya pada Amara. Terutama karena Yuanita dan Amara sama-sama memiliki latar belakang yang sama, wanita malam.
Gagasan-gagasan tersebut semakin menyakitkan bagi Bian saat membayangkan masa tuanya akan berakhir dalam kesepian. Tanpa wanita di sisinya, tanpa keturunan, tanpa Alif. Lalu, Bian tersadar bahwa nasibnya jauh lebih pahit dari mendiang ayahnya.
Ayahnya bisa saja meninggal dalam penyesalan karena pengkhianatan yang dilakukan pada ibunya di masa lalu. Namun, ayah Bian jauh lebih beruntung karena memiliki banyak anak.
Masa tuanya tak kesepian, dan beliau mengembuskan napas terakhir dengan dikerumuni seluruh anak-anaknya. Lalu, apa yang Bian miliki sekarang, besok, bahkan hari tua mendatang?
Alif. Hanya nama itu yang muncul dalam benak Bian. Mungkin masih ada kebahagiaan dan kasih sayang tersisa dari sang yatim yang tak berdosa.
Jadi, itulah yang membuat Bian bertekad untuk mempertahankan Alif agar tetap bersamanya. Tak peduli meski Alif bukan anak kandungnya, Bian tak pernah ingin kehilangan anak itu.
Anak yang dia harapkan akan menjadi teman hidup satu-satunya, yang selalu menyambut Bian dengan senyum tulus yang terukir di bibir kecilnya. Senyum yang tak dibuat-buat, dan berasal dari lubuk hati.
"Kalau kamu mau Alif, artinya kita nggak boleh cerei!"
Tak heran jika Yuanita merasa di atas awan ketika keesokan harinya Bian datang, hal yang sudah dia perhitungkan karena tahu bahwa Alif adalah sumber kelemahan Bian.
Jadi, Yuanita bersikukuh untuk mempertahankan keberadaan Alif di sisinya, senjata terakhir yang dia kira akan lebih ampuh untuk mempertahankan sumber keuangannya dibanding dengan mantra-mantra yang tampaknya tak lagi berfungsi.
"Gila!" Bian menggeram jengkel. "Sampai saya mati pun saya nggak akan pernah mau kembali sama kamu. Bahkan nggak ada talak ke empat. Alif ponakan saya, saya lebih berhak bawa dia. Dia keluarga saya."
"Bapak sama ibu kamu, teh Mirna, dua kakak laki-laki kamu, bahkan kamu sendiri udah tanda tangan dan setuju kalau Alif milikku sampe mati. Kalian udah nyatain nggak bakal ngambil Alif, apa pun yang terjadi—"
"Itu karena saya dan keluarga saya nggak pernah mikir kalau kamu ternyata wanita busuk!" tukas Bian tegas. "Udah cukup saya ngalah demi Alif dua taun lalu, Alif saya bawa!"
"Jangan nguji kesabaran saya sampe harus kalap lagi!" Bian balik mendorong Yuanita dan segera mencari Alif, ketika dia membuka pintu kamar, anak itu justru menjauhi Bian— seolah ayahnya itu adalah orang sadis yang harus dia hindari.
"Vin," bujuk Bian lembut ketika menghampiri Alif yang menatapnya dengan ketakutan. "Ikut Papa ke rumah ibunya teh Thia, ya?"
Ada rasa sakit yang begitu nyelekit di hati Bian saat Alif menjawab dengan suara bergetar, "Alif maunya sama Mama."
Bian membungkuk mengimbangi Alif, lalu memegang kedua bahu anak itu sambil berkata, "Kenapa nggak mau ikut sama Papa? Biasanya kamu pengen ikut terus kalau Papa berangkat."
Mata Alif berkaca-kaca ketika rasa takutnya berubah menjadi deraian air mata. "Tapi Alif takut Papa mukulin Alif kayak mama kemarin. Mama sakit. Alif nggak mau sama Papa—"
"Kamu denger sendiri 'kan anak itu aja nggak mau sama kamu!" Yuanita tiba-tiba datang dan langsung menyambar Alif dari hadapan Bian. "Alif jangan tinggalin Mama pokoknya, mama pasti sedih kalau kamu ikut Papa. Bisa aja nanti kamu juga dipukul—"
"Jaga mulut kamu, Yuanita!" bentak Bian kesal, kemudian kembali merendahkan suaranya saat membujuk Alif, "Vin, Papa kan udah minta maaf sama kamu, Sayang. Papa nggak pernah galakin kamu 'kan selama ini? Ikut Papa pergi, ya?"
Alif menyurut mundur dan bersembunyi di balik tubuh Yuanita, seolah-olah hanya itu tempat yang menurut Alif paling aman setelah melihat bagaimana perlakuan ayahnya kemarin.
Yuanita tersenyum puas dalam hati, kemudian bersiap memasang ekspresi penuh sesal dan merekayasa sedikit cerita dengan berkata, "Pa, udah deh kita damai aja. Nggak usah repot-repot urus cerei. Mama minta maaf, janji ini yang terakhir kalinya Mama khilaf ..."
Yuanita menggantung ucapannya, dia menunduk seolah mencari alasan yang mungkin bisa meluluhkan Bian. Dengan sedikit spekulasi, Yuanita kembali merapalkan mantra-mantra dalam hati, berharap Bian masih mempercayai apa yang akan dia katakan.
Saat Yuanita kembali mengangkat pandangan, Bian khawatir wanita itu akan melontarkan kata-kata yang mungkin menyulut emosinya kembali di depan Alif. Jadi, Bian langsung keluar kamar dan Yuanita langsung menyusulnya.
"Sebenarnya Mama dijebak," kata Yuanita kemudian setelah menemukan alasan tersebut dalam benaknya. "Mama emang kenal cowok itu di sosmed. Awalnya dia ngaku sebagai orang pinter yang bisa therapi jalur pintas untuk wanita yang nggak bisa hamil—"
"Dengan berhubungan intim?" Bian mendengkus kesal saat memungkas ucapan Yuanita. "Bukan dia yang orang pinter, tapi kamunya yang b*go! Zaman udah maju, alat kesehatan udah canggih, bahkan nggak sedikit orang yang program bayi tabung. Tapi otak kamu malah nyangkut di sana!"
Yuanita menahan diri untuk tidak emosi dan membalas ucapan Bian. Walau bagaimana pun, dia harus berhasil membujuk pria itu agar mengurungkan niat berpisah darinya.
"Ya, maksud Mama cowok itu orang pinter karena dia dokter kandungan. Padahal cuma ngaku-ngaku doang. Uang Mama dikuras, Mama kayak dihipnotis gitu sampe mau ngelayanin—"
"Udah deh nggak usah ngarang-ngarang—"
__ADS_1
"Pa, Mama mohon. Percaya sama Mama sekali lagi. Demi Alif."
Bian terdiam, menatap Yuanita dengan serius— dan Yuanita menduga mungkin mantranya masih mujarab, karena Bian tampak mempertimbangkan permintaan Yuanita.
Tak heran jika Yuanita benar-benar bisa membuat Bian bertekuk lutut, karena wanita itu memang tahu sumber kelemahan Bian dari segala sisi. Pertama, Alif. Kedua, dia tahu bahwa Bian selalu berada di garda terdepan jika salah satu anggota keluarganya ditindas. Terlebih lagi, mereka belum dua puluh empat jam bercerai, sehingga Yuanita dengan bodohnya berpikir bahwa pria itu masih akan membelanya.
Namun, mungkin kali ini dugaan Yuanita keliru. Karena kepercayaan Bian sudah hilang sepenuhnya. Akan tetapi, mendengar Yuanita menyebut-nyebut tentang pria yang sudah tidur dengannya, tentu saja Bian tak membuang kesempatan. Setidaknya, ingin sekali dia melayangkan sebuah tinjuan pada pria yang berani bermain-main dengan wanita yang sudah bersuami.
"Kalau gitu, kita temuin dia. Kamu tau benar, aku mana rela ngebiarin keluargaku ditindas," kata Bian tegas dan membuat Yuanita langsung lemas, tak menduga Bian justru akan meminta bertemu pria itu.
"Pa, kita nggak usah repot-repot nemuin dia," Yuanita masih saja berupaya berbohong. "Lagian dia rumahnya di Jakarta, nggak—"
"Nggak lama perjalanan dari sini ke Jakarta. Nggak nyampe makan waktu seharian—"
"Papa, gila!"
"Kamu yang gila!" Bian mendengkus kesal. "Telpon dia. Aku nggak mau tau, gimana pun caranya, aku mau ketemu dia. Itu syarat yang harus kamu penuhi kalau mau aku kembali."
Awalnya Yuanita ragu, tetapi dia tahu itu adalah kesempatan untuk bisa mempertahankan rumah tangganya. Dan dia tentu saja tak akan membuang kesempatan, tak bisa membayangkan apa jadinya jika dia kehilangan sumber hartanya.
Jadi, Yuanita pergi ke kamar dan dengan bodoh serta piciknya dia menghubungi Ardi, meminta maaf atas kejadian kemarin agar pria itu mau bertemu dengannya.
Akhirnya Ardi bersedia bertemu di perbatasan Sukabumi— Jakarta. Keduanya masing-masing menempuh perjalanan selama hampir dua jam. Ardi yang tak tahu menahu rencana Yuanita, dia sungguh tak menduga bahwa Yuanita datang bersama Bian.
Hingga Bian tiba-tiba melayangkan tinjuan hingga pria itu terhuyung, barulah Ardi membeberkan fakta yang menyebutkan bahwa dia tak pernah tahu Yuanita memiliki suami.
Dari awal Ardi berulang kali mempertanyakan status Yuanita sebelum mereka bertemu, tetapi Yuanita menegaskan bahwa dia seorang Janda yang ditinggal mati. Dari pesan-pesan dalam ponsel Yuanita, Bian tahu bahwa wanita itu memang mengaku demikian.
Hanya saja, rasanya kemarahan yang tertanam dalam hati Bian seolah belum meluap karena tak bisa memberi pria itu pelajaran. Bian mengakui dia memang pria bajingan, tetapi meniduri istri orang adalah hal yang luar biasa nista baginya.
"Asal kamu tau aja, kalau saya sama sekali nggak tertarik sama cewek murahan itu!" Pada akhirnya Ardi tersulut emosi karena Yuanita menyudutkannya. "Dari awal saya nggak tau kalau dia punya suami! Bahkan istri kamu bayar saya untuk muasin nafsunya. Video itu juga dia yang minta. Bukan saya yang mau! Istri kamu tuh murahan, hypers*x. Dia bilang puas nges*ks sama saya karena bisa bertahan lama. Asal kamu tau aja, wanita murahan, saya bisa nges*ks lama sama kamu karena ketertarikan saya lebih besar ke cowok. Bukan ke cewek!"
Pernyataan tersebut berhasil membuat Bian muntah seketika, tak pernah menduga akan mendengar pernyataan luar biasa menjijikkan lebih dari ekspektasinya. Dan pengakuan itu juga yang membuat Bian semakin takut meninggalkan Alif bersama Yuanita.
Jadi, setelah mereka kembali dengan membawa fakta yang tak bisa Yuanita pungkiri, Bian memaksa Alif agar ikut bersamanya. Namun, dia tak tahu kenapa Alif sebegitu takluk pada Yuanita hingga tak ingin bersamanya.
Pada akhirnya, Bian terpaksa memakai jurus terakhir dengan berkata pada Alif, "Dia bukan Mama kamu. Ibunya teh Thia itu ibu kamu yang asli. Kamu bukan anak dia, kamu anaknya bu Mirna. Nurut sama Papa, ikut pulang ke Ibu, ya?"
Begitu kalimat tersebut diucapkan, Bian merasa dunianya luar biasa hancur— terutama saat melihat Alif menjerit-jerit histeris hingga berguling-guling di lantai— tak terima dengan fakta menyakitkan yang baru saja diucapkan ayahnya.
"Papa mah bohong!" pekik Alif dalam tangisnya yang tak bisa dihentikan. "Alif anak Papa sama Mama, bukan anak Ibu. Alif maunya anak Mama, bukan anak Ibu. Papa mah bohong!"
Bian tak tahu apa yang bisa dia ucapkan lagi, semua kata-kata seolah sulit terucap dari mulutnya. Namun, dia tak mengurungkan niat untuk membawa Alif yang meronta-ronta minta diturunkan.
Tak berbeda dengan Alif, Yuanita pun menangis dan mengejar Bian. Bukan karena benar-benar takut kehilangan atau kasihan pada Alif, tetapi dia tahu senjatanya akan habis jika Alif berhasil dibawa pergi.
"Alif mau Mama, Pa!" Alif tersedu-sedu melihat Yuanita berusaha menghalangi Bian saat membawa masuk ke mobil.
"Alif sayang, nurut sama Papa."
"Tapi Alif maunya Mama."
"Alif!" bentak Bian frustrasi. "Dia orang lain, dia orang asing. Kita pulang ke rumah Ibu."
Alif berhenti menangis, tetapi anak itu terisak-isak pilu hingga mereka tiba di rumah Mirna. Kakak perempuan Bian yang tak tahu menahu dengan apa yang terjadi pada adik lelakinya, tentu saja terkejut luar biasa saat melihat Alif dan Bian datang dengan kondisi yang begitu kacau.
Setelah berhasil menidurkan Alif, barulah Bian memberitahu Mirna apa yang terjadi. Hanya saja, Bian tak pernah menduga bahwa Alif keesokan paginya langsung jatuh sakit dan terus memanggil-manggil mamanya.
Sejak saat itulah Bian mengizinkan Yuanita dan Alif bertemu sesekali, semua hanya demi Alif. Namun, sejak Alif dan Yuanita sering bertemu, yang muncul dalam benak Bian adalah pernyataan Ardi— yang mengakui dirinya memiliki kelainan seksual.
Akhirnya terjawab sudah dari mana datangnya penyakit s*ksual yang menerpanya, dan semakin Bian memikirkan hal tersebut, Bian mendapati dirinya merasa sebegitu kotor, menjijikkan. Lalu, Bian sampai pada suatu titik keadaan di mana dia membenci diri sendiri.
Selama dua tahun Bian bermain dengan pel@c*r, selain dengan Amara, dia tak berani untuk melepaskan alat pengaman— khawatir akan tertular penyakit seksual. Namun, siapa yang menduga bakteri dan virus penyakit seksual itu justru berada di rumahnya.
Semakin berjalannya waktu, kekhawatiran Bian justru menimbulkan kecemasan luar biasa. Sikap Bian perlahan berubah tak normal, dia bahkan berulang kali ditegur Mirna karena kerap mandi hingga berkali-kali dalam sehari.
Mungkin Bian tak sadar bahwa alam bawah sadarnya menyebutkan dirinya sebegitu kotor karena bertahun-tahun hidup bersama wanita pembawa sumber virus.
Perlahan, Bian melupakan Alif ketika dalam pemikirannya terbersit mungkin bukan saja hanya sipilis yang dia alami.
Mengingat Ardi adalah pria yang memiliki kelainan s*ksu*l, bukan tak mungkin pria itu juga membawa virus HIV yang gejala dan tanda-tanda awalnya bahkan terkadang tak terdeteksi.
__ADS_1
Jadi, ketika Bian merasakan rasa pusing sekecil apa pun, kepanikan dan ketakutan Bian langsung membuatnya gemetaran. Kian hari, Bian kian phobia dengan penyakit-penyakit yang mungkin dia alami.
Sayangnya, meski Bian sudah melakukan tes keseluruhan untuk mengetahui penyakit apa yang dia alami, kepanikan itu tak kunjung hilang. Padahal, dokter menyatakan bahwa satu-satunya penyakit seksual yang dialami adalah sipilis primer yang bahkan pulih dalam waktu kurang dari enam minggu karena sudah terdeteksi sejak awal.