Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 54


__ADS_3

"Makanya kamu jangan ngerokok di depan Alif," gerutu Amara setelah menanyakan kondisi Alif pada Bian. "Itu anak kena ISPA pasti karena paparan asap rokok dari kamu. Jangan mentang-mentang—"


"Ra, aku mana pernah ngerokok di depan anak kecil," tukas Bian sambil menuang sayur sup yang baru matang ke dalam mangkuk. "Dari jamanan Firaun ngerangkak juga aku nggak pernah berani ngrokok di depan anak-anak—"


"Terus itu si Alif kenapa bisa gitu?" sahut Amara penuh selidik. "Matanya merah, batuk-batuk, mana suaranya serak, itu mah udah jelas- banget kebanyakan ngehirup asap rokok!"


Bian tak lantas menjawab. Dia meraih piring dari susunan kabinet, menyendok nasi dan meletakkan di atas nampan dengan semangkuk sup ayam untuk Alif.


Sambil menuangkan segelas air minum, Bian mempertimbangkan apakah dirinya harus memberitahu Amara apa yang membuat Alif seperti itu. Sebenarnya, dia tak ingin membahas hal ini— mengingat semalam mereka baru saja bertengkar tentang masa lalu Bian.


Sekarang, apa yang menimpa Alif juga lagi-lagi berhubungan dengan masa lalu Bian yang lain, dan dia tak ingin membuat Amara berpikir hidup bersamanya terlalu banyak dihantui masa lalu.


Namun, setelah berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya Bian meyakinkan diri bahwa dia memang harus sedemikian terbuka pada wanita itu. Walau bagaimana pun, sejak dulu Bian selalu terbuka dan jujur pada Amara.


Jadi, tak peduli apa yang akan dipikirkan wanita itu, Bian tetap berprinsip untuk tidak menyembunyikan hal apa pun dari Amara.


"Om?" panggil Amara dengan tatapan mendesak ketika Bian tak kunjung menjawab.


"Tapi kamu janji dulu jangan marah-marah," kata Bian penuh antisipasi. "Bukan mau ungkit-ungkit mantan istri, tapi kan kamu tau sendiri sebelumnya gimana Alif sama Yunita ..."


Ketika Amara akan menyahut, Bian lebih dulu menambahkan, "Waktu dia masih usia dua taun, Alif ini pernah kena flek paru-paru, jadi aku ketat banget sama kondisi kesehatan Alif setelah dia konsisten berobat jalan sampe sembuh ...."


"Tapi," lanjut Bian, suaranya berubah sedikit tak senang. "Tadi si Alif akhirnya cerita setelah aku tanya-tanya apa dia deket-deket sama orang yang ngerokok atau nggak. Katanya, dua hari lalu si Alif dibawa nginep sama Yunita, dikenalin sama Zaki— pacar barunya Yunita katanya. Ternyata mereka gadang tuh sampe jam tiga malem pada maen bola— maen PlayStation. Anak-anak dibawa kayak gitu gimana nggak seneng? Nggak mikir kalau Alif masih kecil, nggak mikir juga mereka main game sambil pada ngerokok. Pantesan aja si Alif nyampe kayak—"


"Kok kamu bisa diem aja dan ngebiarin Yunita nemuin Alif kalau dia nyontoinnya kayak gitu?" komentar Amara kesal.


"Aku mana tau kehidupan Yunita kayak gitu sekarang?" Bian berkata dengan jujur. "lagian aku kan nggak tau waktu si Yunita bawa Alif sampe nginep gitu. Biasanya mereka cuma ketemu di rumah Mirna. Kalau aku tau pasti aku larang—"


"Udah deh, Alif di sini aja," tukas Amara marah. "Kesel aku dengernya. Lagian itu si Alif kan bukan anaknya Yunita, kok bisa-bisanya sih masih ada komunikasi yang—"


"Ra, kan waktu itu aku bilang dulu kami udah pernah sepakat, panjang atau nggak jodoh kami, Alif bakalan jadi hak-nya Yunita. Dulu itu aku nggak peduli, toh Mirna yang ibu kandungnya sendiri aja nggak mau ngurus Alif. Tapi karna aku yang ngurus dia dari bayi, aku baru sadar kalau aku nggak bisa kehilangan Alif. Waktu aku dan dia cerai, aku bahkan rela bagi dua semua harta dan tabunganku asalkan si Yunita mau nyerahin Alif—"


"Nah, berarti kan seharusnya sekarang Alif udah jadi hak kamu lagi," Amara menukas tanpa banyak berpikir.


"Faktanya, ngejalanin semua itu nggak semudah kita bisa berkomentar dan berasumsi," Bian menjelaskan. "Nggak segala sesuatu akan semudah yang kita pikir, terutama kalau kamu terlalu peduli pada seseorang, yang terkadang hal itu bikin kita harus mengevaluasi dan mempertimbangkan ulang."


Amara terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang dikatakan Bian dengan pemikiran yang terbatas usia.


"Tapi kalau udah kayak gini yang kasian kan Alif sendiri," kata Amara, tetap memainkan nuraninya yang tak tega melihat kondisi Alif menderita karena ulah mantan istri Bian. "Emang kamu nggak bisa bikin peraturan tegas sama Yunita dan larang dia ketemu?"


"Bisa, tapi ...."


Ketika Bian tak kunjung menyelesaikan kata-katanya, Amara mendesak sambil menarik baju Bian, "Tapi apa?"


"Tapi Alif- nya harus ada dalam pantauanku, nggak bisa aku serahin ke Mirna," kata Bian ragu.


"Yaudah, tadi kan aku bilang udah Alif tinggal di sini aja."


"Nggak bisa, Ra." Bian mengembuskan napas berat, lalu mengangkat nampan dan buru-buru keluar dari dapur. Tahu bahwa Amara terus membuntutinya, Bian menambahkan, "Aku juga harus mikirin dampaknya ke kamu kalau Alif tinggal di sini. Kamu udah cukup tertekan sampe minggu lalu nggak bisa konsentrasi sama Biandra."


"Lho, kan aku sama Biandra mau pulang," kata Amara yang berjalan di belakang Bian sambil mengocok pelan botol berisi susu untuk Biandra. "Jadi kamu bisa fokus kasih perlindungan ekstra buat Alif—"

__ADS_1


"Kenapa kamu nyaranin Alif tinggal sama aku?" tukas Bian tanpa menoleh ke belakang sewaktu mereka menjajaki anak tangga ke lantai dua.


"Buat kebaikan Alif 'kan, kasian itu anak kalau—"


"Kalau kamu bahkan bisa nyaranin yang terbaik buat Alif yang bukan anak kandung saya, kenapa kamu justru bersikeras mau ngejauhin Biandra dari saya? Dari ayah kandungnya? Kamu pernah nggak mikirin gimana stresnya saya saat mikirin ini semua? Saya nggak minta apa-apa dari kamu, Ra." Suara Bian begitu dingin ketika memprotes ucapan Amara. "Saya maksa kamu tetep tinggal di sini supaya bisa kasih yang terbaik buat Biandra, anak kandung pertama dan satu-satunya yang saya pernah punya sepanjang hidup—"


"Om—"


"Kali ini kamu dengerin saya. Dari kemarin saya udah nyoba dengerin kamu, saya nyoba ngalah, nyoba pahami ke mana arah pikiran kamu," kata Bian serius, dia berhenti sejenak di ambang tangga sebelum masuk ke kamar untuk menyuapi Alif. "Kamu bilang saya cuma mentingin Biandra, dan nggak mikirin perasaan kamu, dikit-dikit Biandra, apa-apa Biandra—"


"Kan emang bener kamu selalu jadiin Biandra buat nahan aku," protes Amara dengan suara mencicit, sedikit ngeri melihat tatapan Bian yang berubah galak.


"Tapi kamu harusnya mikir kalau semua itu jelas akan berbalik ke kamu, Ra." Bian mengembuskan napas gusar. "Kalau aku minta kamu tetap di sini demi aku, kamu pasti bilang ujung-ujungnya aku pria egois yang nggak ngerti perasaan kamu. Masalah Tiara, aku udah mikir ribuan kali kalau aku harus jujur ke kamu dan nggak ada yang aku umpetin, nyatanya justru kamu makin marah dan nuduh aku yang nggak-nggak. Coba kamu bilang, aku harus apa dan gimana nyikapin kamu? Apa kamu lebih seneng kalau aku boongin kamu?"


"Nggak gitu juga," gumam Amara, sedikit merasa bersalah hingga kehabisan kata-kata karena apa yang diucapkan Bian benar adanya.


"Terus maunya gimana?"


Ketika Amara tak bisa menjawab, suara tangisan Biandra seolah menjadi penyelamat agar Amara bisa melarikan diri dari desakan Bian, dia butuh waktu untuk berpikir rasional.


Jadi, Amara buru-buru lari ke kamar— meski dia tahu tatapan tajam Bian terus mengikutinya hingga dia menutup pintu.


Amara berpikir keras dengan segala keterbatasan dan pengalaman pahitnya tentang sebuah pengkhianatan. Namun, semua yang dikatakan Bian sama sekali tidak salah. Dia tak boleh egois, dan Amara tahu benar bahwa yang Bian lakukan adalah untuk kebaikan dia dan Biandra.


Jadi, Amara mempertimbangkan matang-matang perihal keputusannya untuk pulang dan meminta cerai dari Bian. Setelah Biandra menghisap habis 50ml susu yang dia berikan, Amara menepuk-nepuk lembut tubuh Biandra— sementara otaknya mulai merangkai kata demi kata untuk dia bicarakan dengan Bian.


Setelah berpikir keras selama hampir satu jam hingga Biandra tertidur, Amara keluar dari kamar untuk menemui Bian. Namun, pria itu sudah tak ada di kamarnya.


Ketika Bian mendengar detak langkah yang mendekat dan meyakini itu adalah istrinya, Bian langsung mendongak dan melambaikan tangan. "Kamu sarapan dulu, mikir juga butuh tenaga."


Amara mengangguk dan duduk di kursi yang yang berhadapan dengan Bian.


"Aku bisa ngambil sendiri," kata Amara ketika Bian akan menyendokkan nasi untuknya. Jadi, Bian hanya mengambil untuk dirinya sendiri.


Terjadi keheningan sejenak di antara mereka. Hanya terdengar denting piring dan sendok yang beradu ketika keduanya seolah tak ingin memulai bicara lebih dulu.


"Om ...." Akhirnya Amara memecah keheningan tersebut, dan mendapati Bian hanya mengangkat alis. "Aku udah mikir buat tetep di sini, tapi kita harus bicara—"


"Dari tadi juga kita bicara," sahut Bian sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Maksudku, tadi kan Om nanya kamu harus gimana ngadepin aku?" Amara menatap Bian ketika pria itu mengangguk. "Aku cuma pengen kamu bener-bener terbuka. Nggak mau hal kayak kemarin terjadi lagi— yang ujung-ujungnya aku hanya bisa nyimpulin sesuai dengan apa yang aku pikirin. Ke depannya, aku pengen kamu ngasih tau aku apa aja yang kamu lakuin, ke mana, sama siapa ..."


Amara berhenti sejenak untuk meneguk air minum, sedikit gugup ketika Bian hanya mengamatinya— seolah-olah mencari kesungguhan dari sorot mata Amara.


"Bukannya aku pengen ngatur-ngatur kehidupan kamu, tapi ... berdasarkan pengalaman kita berdua, di mana kamu nikahin aku diem-diem dan nggak ketauan sama Yunita, aku cuma takut kamu juga bakalan ngelakuin itu ke cewek lain di belakang aku. Aku cuma nggak mau jadi orang yang dibohongin sebegitu lama, bahkan sampe hubungan kita berakhir pun Yunita nggak tau 'kan?"


Bian berhenti makan dan meletakkan sendok di atas piring, lalu mengunci sorot mata Amara hingga wanita itu balas menatapnya dengan serius.


"Sayang," kata Bian lembut. "Kamu tau, aku juga bukan orang yang nggak pernah gagal rumah tangga. Sama kayak kamu, aku juga nggak mau ngalamin hal kayak gitu lagi. Untuk itulah kemarin aku ngomong sejujur-jujurnya sama kamu, tapi aku ngaku kalau aku salah karena nggak ngasih tau kalau orang yang aku temuin malam itu adalah Tiara."


Amara meninggikan bahu, kecemburuan terpancar jelas dari sorot matanya ketika Bian menyebutkan nama wanita itu.

__ADS_1


"Kamu harus janji nggak boleh kayak gitu lagi," kata Amara dengan sedikit merajuk.


"Kalau itu bakalan bikin kamu mau pertimbangin untuk tetep bertahan sama aku, aku nggak keberatan kalau harus laporin semua kegiatan aku ke kamu," kata Bian dengan kelegaan luar biasa. "Asal kamu tau, bukan cuma kamu dan Biandra yang butuh aku, tapi aku butuh kalian."


Pipi Amara terasa panas ketika melihat Bian tersenyum hangat, sesuatu yang berhasil membuat hati Amara berdenyut-denyut.


"Ada lagi yang harus aku lakukin buat kamu, Sayang?"


Amara terdiam sebentar, berkonsentrasi menghabiskan sisa makanannya terlebih dulu.


"Kan waktu itu kamu bilang kalau uang kamu juga uang aku?" kata Amara sambil menuangkan lagi segelas air minum. "Boleh nggak aku minta sesuatu yang ... mm, tapi nggak jadi deh."


"Bilang dulu, kamu butuh apa?" Bian menangkap tangan Amara dan meremas jemarinya. Tatapannya begitu hangat dan memanjakan. "Kamu pengen apa? Kalau aku bisa ngasih, aku pasti kasih. Jangan sungkan-sungkan kalau emang kamu punya keinginan. Aku suami kamu."


Amara menggigit bibir, sedikit takut dan malu untuk permintaannya kali ini. Khawatir Bian akan berpikir bahwa dia memanfaatkan pria itu untuk berbagai hal. Amara menghela napas, menyiapkan diri jika Bian keberatan dan menolak permintaannya kali ini.


"Masalah kafe yang dulu pernah kita bahas," lanjut Amara kaku. "Sertifikat rukonya ada di bapakku. Aku nggak berani simpen benda-benda berharga, takut ilang. Kamu udah kasih itu ke aku ... mm, kalau aku bilang masih pengen lanjutin usaha cafe itu gimana? Kamu mau modalin nggak?"


"Kamu pengen kerja? Pengen cari kesibukan? Atau kamu pengen uang banyak?" Bian bertanya blak-blakan. "Kalau cuma pengen uang, pengen nyukupin kebutuhan kamu, kamu nggak perlu capek-capek kayak gitu. Sejak aku ijab kabul dan ngambil kamu dari bapak kamu, kamu udah jadi tanggung jawabku, semua kebutuhan lahir batin kamu udah pasti aku penuhi. Kamu cuma perlu bilang apa aja yang—"


"Sebenarnya bukan cuma tentang kebutuhan aku," Amara buru-buru menambahkan, "Kalau masalah kebutuhan, aku percaya kamu pasti bertanggung jawab buat aku sama Biandra. Tapi, aku mikir pengen ngejalanin usaha itu sama keluargaku juga. Bapakku udah tua, nggak tega kalau liat bapak sama ibu pergi ke kebun tiap hari. Maksudku, bentar lagi kan adeku lulus SMA, yang satu lagi mau masuk SMA, trus Fathir mau masuk SMP ..."


Amara menggigit bibir ketika air mata mulai berkumpul di pelupuk mata. Suaranya sedikit serak dan bergetar saat melanjutkan, "Aku cuma nggak mau mereka gagal sekolah, karena waktu itu bapak bilang udah cape nyari ongkos buat anak-anak sekolah. Aku cuma nggak mau ade-adeku bodoh kayak aku yang nggak pernah sekolah. Nggak mau mereka nantinya dihina dan direndahin karena ..."


Amara mulai terisak-isak ketika Bian beranjak dari tempat duduk dan memeluknya. Namun, dia tetap melanjutkan, "Karena nggak bisa nyari kerja tanpa ijazah. Nggak mau mereka ngalamin kayak aku yang nyampe milih jalan pintas. Hidup miskin itu capek, hidup dalam kebodohan juga capek. Aku cuma pengen nantinya bapak istirahat di rumah, terus kalau kita punya kafe, ade-adeku bisa kerja di kafe itu. Seengaknya, nanti mereka bisa tetep sekolah atau kuliah pake uang sendiri. Mau nggak Om modalin bikin kafe itu?"


Bian merengkuh Amara ke dalam pelukan dan menciumi puncak kepala wanita itu. Di tengah kemelut otaknya, Amara masih saja memikirkan hal-hal lain— mementingkan orang lain alih-alih dirinya sendiri.


"Ada lagi, Sayang?" bisik Bian sambil mengelus-elus punggung Amara, takjub dengan kedewasaan Amara di usianya yang masih sangat muda. Tak heran jika Bian berkali-kali jatuh cinta pada wanita itu.


Sebelum Amara menjawab, ponsel di saku celana Bian berdering. Jadi, dia melepas pelukan dan merogoh ponsel tersebut.


Bian tak menjawab panggilan karena tak mengenali nomor tersebut, memilih untuk menolak dan kembali mengantonginya— khawatir nomor asing itu adalah Tiara.


"Kenapa nggak dijawab?" Amara menarik beberapa lembar tisu dan membersit hidung. "Dari siapa?"


"Nomor nggak dikenal, udah—"


Ucapan Bian terputus ketika Amara mengambil ponsel Bian sebelum pria itu mengantonginya.


"Kita tukeran hp," kata Amara hingga membuat Bian tertohok.


"Kenapa harus tukeran?"


"Nggak mau?" Amara mendongak dengan hidung semerah cherry. "Keberatan karena kalau kamu cuma pake blackberry Gemini-ku, sementara aku ambil i-phone kamu? Nggak suka pake hp murah?"


"Bukan itu, Sayang," ujar Bian sambil mengusap tengkuk dengan tak berdaya. "Tapi nomorku penting buat kerja—"


"Aku bukan nyita hp kamu dan matahin kartunya kayak yang kamu lakuin dulu!" sahut Amara serius. "Aku perlu yakin kalau kamu nggak macem-macem di belakang aku. Jadi, kita tukeran hp selama satu bulan."


"Ra, tapi aku—"

__ADS_1


"Kenapa? Takut ada cewek yang nelpon kamu? Masih keberatan?"


__ADS_2