
"Gue yang bakalan ngomong sama dia. Puas?!"
"Saya tau kamu peduli sama saya dan Tifany," berang Tiara sambil berdiri gemetar menatap Bahtiar. "Saya juga tahu bahwa kalian memiliki asumsi yang sama dengan saya, tentang Fabian yang nggak mungkin lari dari tanggung jawabnya kalau dia tau punya anak dari saya—"
Ketika Bahtiar akan menukas, Tiara meninggikan intonasi suaranya saat melanjutkan, "Tapi yang nggak kalian perhitungkan adalah istri dia. Apa kamu nggak liat dia itu kelihatan masih anak-anak banget? Bahkan saya yakin kalau dia jauh lebih muda daripada saat saya ngandung Tifany. Apa kamu pikir saya nggak pertimbangkan segala hal dari berbagai aspek dan sudut?"
"Andai jika saya tetep nekat kasih tau Fabian," lanjut Tiara tanpa merendahkan suaranya. "Andai istri dia bisa nerima kehadiran Tifany, dan andai Fabian minta Tifany dari saya, terus gimana dengan saya? Apa saya harus kehilangan segalanya, karena kita semua tau kalau saya dan Fabian memang nggak ditakdirkan buat bersatu—"
"Gue cuma pengen dia tau aja kalau dia punya anak dari lu, Nyuk!" Bahtiar bersikukuh. "Gue nggak bilang kalau lu harus ngasih Tifany ke dia. Belum tentu juga Fabian bakalan ngambil Tifany dari lu. Yang gue pikirin cuma mental Tifany ke depan kalau lu sama sekali nggak ngasih tau dia siapa bapaknya—"
"Gue bisa bilang kalau bapaknya mati—"
"Set*n lu!" Bahtiar meradang. "Itu nggak adil buat Tifany dan Fabian. Lu sadar nggak kalau lu nggak ngasih tahu bahwa bapaknya masih hidup, sehat, sukses— terus ke depannya Tifany tau dengan sendirinya, yang ada justru Tifany bakalan benci sama lu, Nyuk. Fabian juga mungkin bakalan benci lu kalau terus nutup-nutupin fakta tentang ..."
"Terus kamu sadar nggak kalau misalnya Fabian dan istrinya nggak terima dengan jejak dosa di masa lalunya, akan seberapa terpukul saya dan Tifany kedepannya?" Tiara menyergah dengan amarah yang membuat tubuhnya gemetaran. "Harus berapa banyak pukulan mental lagi yang saya dan anak saya bisa terima atas takdir Tuhan yang nggak adil?"
"Kita nggak pernah tau kayak gimana keputusan Fabian kalau kita belum ngasih tau dia, Nyuk!" kata Bahtiar frustrasi. "Lu sadar nggak sih kalau nempatin posisi gue? Gue punya anak istri, nggak selamanya gue bisa ngelindungi kalian. Sementara kalian cuma hidup berdua. Anak lu perempuan, dia butuh sosok bapak. Ke depan dia bakalan nikah, dia butuh wali—"
"Anak saya nggak butuh wali!" Tiara memekik penuh rasa sakit. "Apa harus saya ingetin kalau Tifany hanya anak haram? Apa kalian pura-pura buta dan perlu saya ingetin tentang jejak dosa yang saya dan dia lakukan? Oke, mungkin saya salah dan nggak sadar kalau selama ini udah ngerepotin kamu, saya pikir—"
"Tiara, nggak gitu, Sayang." Akhirnya Pinkan melerai dan membelai bahu Tiara untuk menenangkan wanita itu. "Maksud suami saya nggak ke sana, kita sama sekali nggak ngerasa direpotin sama kamu ataupun Tifany—"
"Kayaknya keputusan saya memang benar untuk tetap bungkam dan pergi bawa anak saya jauh-jauh ..."
"Tiara, kamu tenang dulu," ujar Pinkan lembut sambil membawa Tiara kembali duduk. "Jangan salah paham. Kita kan nggak pernah tahu bakalan kayak gini akhirnya. Kita pikir kamu udah baik-baik aja hidup sama suami kamu. Siapa yang pernah menduga akan kayak gini?"
__ADS_1
"Maksud suamiku mungkin bukan gitu, Tiara," lanjut Pinkan tenang. "Kamu tadi bilang mau pergi ke Batam, sementara semua uang kamu udah di-invest dan nggak bisa diambil gitu aja. Semua kontrak udah kita setujui, dan kamu harus ngerti kalau suamiku cuma khawatir kamu dan Tifany bakal lebih menderita nantinya. Tapi kalau Fabian tau, seenggaknya mungkin dia akan upayakan sesuatu untuk kalian. Coba kamunya juga liat dari sudut pandang yang lain. Mungkin maksud suamiku dia cuma perlu bicara sama Fabian baik-baik."
Tiara duduk termenung dan berupaya mengatur napas. Dia tak tahu sejak kapan air matanya kembali jatuh berderai tanpa dia inginkan.
Tak seorang pun menyadari bahwa di balik pintu kamar Bahtiar yang sedikit terbuka, sesosok gadis kecil berdiri tertegun dengan mata yang semakin meredup. Tifany bukan anak yang suka menguping pembicaraan orang dewasa.
Dia keluar dari kamar hanya untuk menanyakan pada Pinkan apakah Ibunya sudah kembali atau belum. Namun, siapa yang menduga bahwa dia justru akan mendengar ucapan ibunya, tepat ketika sang ibu mengatakan hal tersebut.
Gadis itu tampaknya tak mampu mempercayai apa yang baru saja dia dengar.
Dia anak haram! Dan ucapan itu terlontar dari mulut ibunya sendiri.
Ibunya! Ayahnya yang sebenarnya bukan yang selama ini bersamanya, bukan yang selama ini dia ketahui.
Jadi, sebenarnya dia tidak memiliki ayah yang sama dengan adik lelakinya yang kini dipisahkan?
Bahkan, sekarang Tifany sadar kenapa dia tak memiliki nama belakang ayahnya seperti yang didapatkan adik lelakinya.
Lalu, terjawab sudah kenapa ayahnya sendiri tega melakukan perbuatan tak terpuji padanya.
Semua itu karena Tifany bukan anaknya.
Namun, yang paling penting di antara semuanya adalah, mengapa ibunya tidak memberikan tanda-tanda bahwa dia dan adik lelakinya memiliki ayah yang berbeda?
Air mata menyumbat tenggorokan Tifany, dia menelannya dengan susah payah dan kembali ke kamar hotel mereka yang berhadapan.
__ADS_1
Kenapa Ibunya tega tak pernah memberitahu dia
Mungkin dia tak akan pernah iri ketika ayahnya banyak memberikan kasih sayang pada adik lelakinya, sementara dia kerap kali diabaikan.
Bukankah selama ini ibunya selalu mengajarkan agar dia berkata jujur? Faktanya, sang ibu sendiri lah yang menutupi kebenaran tentang dirinya.
Anak haram! Ucapan keji itu bergelayut dalam benak kecil Tifany hingga membuatnya mual. Dia berjalan berhuyung-huyung menuju tempat tidur, di mana pengasuhnya masih terlelap dan tak mengetahui bahwa dia baru saja beranjak dari tempat tidur.
Tifany meringkuk seperti bola di samping pengasuhnya. Ayahnya tak mengakui dia sebagai anak, ayahnya tak membubuhkan nama belakang seperti pada adik lelakinya.
Ayahnya tak pernah mengajak dia pergi seperti yang dilakukan pada adik lelakinya. Ayahnya tak pernah membawa dia untuk berkumpul dengan keluarga besarnya, karena itu akan mempermalukan dirinya.
Karena kehadiran Tifany pasti membuat dia malu. Dan lebih dari itu, ayahnya baru saja menanamkan trauma terhebat pada dirinya.
Ya Tuhan, rasanya Tifany ingin muntah. Hatinya terasa begitu sakit hingga seluruh tubuhnya berkeringat dingin. Semua orang tak pernah jujur.
Semua orang hanya berusaha menutupi keberadaan dan menyembunyikannya. Yang mereka pedulikan hanya memastikan tak ada yang mengetahui bahwa dia anak haram.
Memikirkan itu semua membuat Tifany menangis sesenggukan, meluapkan rasa sesak dalam dada. Seluruh tubuhnya bergetar hingga sang pengasuh mau tak mau langsung terbangun karena tangisan tersebut.
"Kakak kenapa?" tanya sang pengasuh sambil menarik Tifany ke dalam pelukan dan menenangkannya. "Mimpi buruk lagi, Sayang?"
Namun, Tifany tak kuasa untuk menjawab pertanyaan tersebut, dan memilih untuk memeluk pengasuhnya sambil terisak-isak.
"Tunggu bentar, Bibi mau nelpon dulu mama kamu, masa masih belum pulang udah jam—"
__ADS_1
"Nggak usah," tukas Tifany di antara tangisnya sambil memegangi tangan sang pengasuh. "Fany cuma mimpi buruk doang. Bibi temenin Fany aja."
Dan anak itu berharap semua yang dia dengar benar-benar hanya mimpi buruk.