
Bian tak bisa untuk tidak memikirkan apa yang dikatakan adik iparnya tentang kemungkinan Amara yang sedang hamil.
Jika yang dikatakan Eka benar, tentu saja hal itu menjadi sesuatu yang sangat menggembirakan bagi Bian. Sewaktu Amara mengandung Biandra, Bian tak ada di samping wanita itu, dan sudah dapat dipastikan dia tak tahu menahu apa yang menjadi kebiasaan Amara saat hamil.
Lagi pula, jika Amara memang benar sedang mengandung anak kedua mereka, walau bagaimana pun juga hal itu akan menjadi pengalaman pertama bagi Bian.
Bian bukan tak pernah mendampingi wanita yang tengah hamil muda. Dia pernah melewati masa-masa itu bersama Tiara. Namun, itu sudah belasan tahun berlalu, Bian lupa seperti apa tanda dan gejala-gejala yang pernah dialami Tiara.
Di samping itu, keadaannya jelas berbeda. Dulu dia dan Tiara menyembunyikan kehamilan itu, hingga sang mantan mengalami dua kali keguguran karena Bian tak bisa siaga setiap detik di sampingnya. Ditambah lagi, Bian sadar memang tak seharusnya saat itu dia memiliki anak di luar pernikahan hanya demi mengikuti ego agar bisa hidup bersama Tiara.
Sekarang setelah mendengar dugaan Eka, Bian tak tahu mengapa jantungnya berdegup tak keruan. Rasa gugup yang bercampur dengan kebahagiaan berkolaborasi menjadi hal yang asing.
Dia hanya tak bisa membayangkan bagaimana menjadi suami dari wanita yang sedang mengandung anak keduanya, dan Bian tak tahu apa yang harus dia lakukan jika Amara hamil.
"Nah, sekarang udah beres." Suara Eka yang tiba-tiba muncul di depan meja kasir berhasil membuyarkan lamunan Bian.
Bian menunduk dan mengerjap terkejut ketika melihat semangkuk besar rujak tomat dengan irisan cabai rawit yang mendominasi.
"Gila kamu, Ka," kata Bian dengan wajah ngeri. "Mau ngeracunin si Teteh pake cabe?"
"Dih, orang dia sukanya kayak gitu," sahut Eka sambil mengerutkan kening.
"Tapi ini namanya rujak cabe pake irisan tomat," kata Bian sambil mengaduk-aduk makanan tersebut. Dia menelan ludah dengan susah payah saat mencium aroma cabai yang menyengat, lalu membayangkan akan betapa tersiksa calon anaknya jika Amara mengonsumsi makanan seperti itu.
Bian menatap Eka dengan tersenyum kaku saat menambahkan, "Adik iparku yang paling good looking, paling cantik dan baik hati— bisa tolong diganti nggak rujaknya? Ini cabenya kebanyakan, Ka. Kasian anakku nanti kepedesan kalau—"
"Ah, nggak, ah ... orang si Teteh dulu juga kayak gitu seleranya. Si Biandra baik-baik aja kan buktinya sampe sekarang?" Eka melambaikan tangan dan masuk ke balik counter kasir, memaksa kakak iparnya agar keluar dari sana.
"Tapi ini keterlaluan, Ka—"
"Percaya sama aku deh, si Teteh bakalan demo kalau cabenya dikurangin," kata Eka bersungguh-sungguh. Ketika dia melihat Bian memberingis ngeri, dia menambahkan, "Emang si Teteh beneran lagi hamil?"
__ADS_1
Bian tercengang seketika dan tertohok menatap Eka. Saat ini, Amara belum mengatakan apapun padanya. Jadi, tak heran jika sekarang muncul segelintir pertanyaan dalam benak Bian, apakah Amara berencana memberinya kejutan dengan sengaja tak memberitahu tentang kehamilannya?
Mengingat Amara pernah diam-diam memberikan hadiah yang berujung kesalahan pahaman dengan Dika, Bian berpikir kemungkinan saat ini Amara memang belum berencana untuk mengabari dia tentang kehamilan itu.
Lagi pula, sejak pertama kali Amara bisa digauli saat Biandra berusia dua bulan, Bian melarang Amara menggunakan kontrasepsi karena dia tidak bersedia menunda untuk menambah momongan.
Terlebih lagi, usia Bian saat ini sudah menginjak empat puluh tahun. Dia tak memiliki alasan kenapa harus menunda menambah banyak anak jika memang memiliki kesempatan.
Sudah terlalu lama Bian menantikan memiliki anak, dan satu anak dari wanita yang dia cintai rasanya tak akan cukup.
Memikirkan gagasan tentang kemungkinan Amara yang memang merahasiakan kandungannya, Bian memutuskan untuk berpura-pura dan menunggu hingga wanita itu sendiri yang memberitahunya.
Mungkin dia harus bersikap biasa hingga wanita itu menyampaikan kabar tersebut.
Bian menghela napas panjang dan berusahalah bersikap normal. Tanpa menjawab pertanyaan Eka yang jelas dia sendiri tak bisa menjawab, Bian buru-buru baik sambil membawa makanan yang dipesan istrinya.
Ketika Bian masuk kamar dan memberikan makanan itu pada Amara, dia tercengang tak percaya melihat ekspresi Amara yang seolah baru menemukan harta karun.
"Nggak, nggak .... Makasih banyak, aku nggak mau ngeracunin perut sendiri." Bian memberingis ngeri smdan menggelengkan kepala dengan cepat, lalu mengambil Biandra dari samping Amara— khawatir bayi itu akan terciprat kuah cabai.
Amara meninggikan bahu dan menyantap dengan khidmat makanan tersebut.
Melihat Amara bahkan tampak biasa saja saat menyeruput kuah rujak tersebut, Bian hanya menelan ludah dengan susah payah hingga tak sadar dahinya berkeringat saat melirik perut Amara yang datar.
"Sayang," kata Bian khawatir. "Jangan banyak-banyak makan pedesnya. Nanti perut kamu sakit."
"Udah kebal," sahut Amara singkat. "Ah, obat sakit kepala paling ampuh."
Namun, Bian terlalu khawatir hingga dia tampak gelisah dan terus mengamati Amara.
"Sayang, kamu nggak ada yang mau diomongin sama aku?"
__ADS_1
Sambil mengunyah potongan tomat di mulutnya, Amara menatap Bian dengan heran. Tak biasanya Bian bertanya seperti itu.
"Ada." Amara mengangguk dan menoleh pada Alif yang asyik memainkan Hot Wheel-nya. Lalu, dia merendahkan suaranya saat melanjutkan, "Itu, yang kita bahas tadi pagi tentang Yuanita. Kata kamu kan kalau hukumannya diakumulasikan, si Yuanita bisa terancam hukuman penjara selama 7 tahun 6 bulan. Yang paling berat itu kan ancaman hukuman pidana atas kasus penganiayaan, aku mikirnya takut si Yuanita pas keluar dari penjara, dia malah lebih dendam sama aku."
Bian tersenyum kaku. "Sayang, selain itu ada yang mau kamu bicarain lagi nggak?"
Alis Amara semakin berkerut, bingung dengan tingkah suaminya yang sedikit aneh. Dia terdiam sejenak dan menatap Bian dengan serius.
"Oh, ada ...," kata Amara setelah berpikir keras. "Aku kesel sama kamu karena lebih milih makan sama temen dan mantan pacar kamu. Padahal aku udah susah payah buatin udang tempura buat kamu. Sekarang pasti dingin dan kamu nggak suka makanan dingin."
Bian memasang wajah serba salah. "Sayangku, Istriku ... selain itu, ada lagi nggak yang mau kamu—"
"Kamu ini sebenarnya mau ngomong apaan sih?" desak Amara jengkel. "Nggak usah jadi kayak TTS gitu deh, aku lagi males mikir."
Melihat keseriusan di wajah Amara yang sedikit jengkel, Bian memutuskan untuk menelan kembali segelintir ucapan yang terkumpul dalam benaknya tentang kehamilan Amara. Mungkin Amara memang belum berencana memberitahunya, dan Bian siap menunggu kejutan itu.
Hanya saja, entah mengapa wajah Bian berubah murung melihat sikap Amara yang justru terlihat tak bahagia.
"Yaudah, nanti aja bahasanya," kata Bian yang kemudian berbalik untuk keluar kamar.
"Dasar punjabi," desis Amara sambil melirik tajam dan membuat Bian menoleh dengan heran
"Apaan?" tanya Bian dengan alis terangkat.
"Pundungan jiga babi," kata Amara dengan suara mencicit pelan.
Bian melangkah mendekati Amara sambil menyipitkan mata dengan berbahaya. "Coba ulangi."
Amara tersenyum kaku, ngeri dengan tatapan Bian yang tampak siap melahapnya bulat-bulat. "Nggak sengaja, keceplosan."
"Tiga ronde nanti malem," kata Bian galak. "Mulutnya kurang ajar, wajib dihukum!"
__ADS_1