Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 60


__ADS_3

"Kamu tunggu dulu di sini bentar sama si Teteh, ya?" bujuk Bian pada Amara dengan lembut sekaligus cemas karena Alif tak kunjung ditemukan.


"Kamu mau nyari ke mana lagi? Orang Teh Mirna bilang Dika udah nyari ke semua temen-temen yang biasa main sama Alif," komentar Amara, tak kalah khawatir— rasa lelah rasanya menguap begitu saja. Berganti menjadi khawatir karena Amara tahu benar seberapa berartinya Alif bagi Bian. "Mending lapor polisi aja, deh. Biar mereka yang—"


"Lama prosesnya, Sayang," Bian menjelaskan. "Nggak semudah itu juga buat lapor. Lagian si Alif belum dua puluh empat jam kan nggak ketemu, kita nggak bisa bilang kalau dia ilang. Aku mau nyoba ke sekolahan lagi, mau nyoba tanya-tanya rekaman CCTV yang pihak sekolah pasang di sekitar penyeberangan. Mirna bilang dia nggak inget ke CCTV."


"Tapi kamunya jangan lama-lama," kata Amara sambil memegang tangan Bian yang bersiap berangkat. "Aku pengen langsung pulang, pengen istirahat."


Bian mengamati gurat-gurat kelelahan yang terpancar di mata Amara. Lalu mencondongkan tubuh dan mengecup pipi Amara, sementara tangannya meremas jemari wanita itu.


"Kasian Istriku. Sabar sebentar, ya?" kata Bian penuh perhatian. "Biandra biar dijaga sama Mirna aja. Kalau udah dapet hasilnya aku langsung jemput kamu. Kalau kamu di villa sendirian, ntar malah nggak ada yang pegang Biandra. Jadi, istirahat aja dulu di sini sambil nunggu aku."


Amara menoleh ke jendela depan, mengamati Mirna menggendong Biandra di teras rumahnya. Akhirnya dia mengangguk ketika Bian sekali lagi mendaratkan kecupan di dahi.


Namun, ketika pria itu akan beranjak dari sofa, Bian baru teringat sesuatu dan langsung mengambil ponsel dari saku sambil berkata, "Boleh tukeran dulu hp- nya bentaran nggak, Ra? Takutnya nggak ketemu wali kelas Alif, biar langsung bisa hubungi kepala sekolah buat minta izin periksa CCTV- nya."


"Tapi abis itu tukeran lagi, siapa tau Tiara telpon kamu lagi," Amara mencicit dengan senyum kaku saat menukar ponsel mereka.


"Iya, Sayang." Bian mengembuskan napas dan tersenyum kecil, tahu bahwa istrinya terlalu waspada dan masih diselimuti kecemburuan.


Amara mengamati Bian yang berjalan keluar, bercakap-cakap singkat dengan Mirna di teras. Lalu, pria itu langsung pergi mengendarai motor sang kakak dan meninggalkan mobilnya di pelataran rumah, mungkin untuk mempersingkat waktu— mengingat waktu sudah menunjukkan hampir pukul tiga sore, dan Amara tahu kondisi lalu lintas cukup macet.


Ketika deru motor yang ditunggangi Bian menjuh dari pelataran, Amara baru terpikirkan sesuatu tentang kemungkinan ke mana Alif pergi— atau lebih tepatnya siapa yang membawa Alif pergi.


Jadi, sewaktu Mirna berjalan masuk sambil menggumamkan sesuatu pada Biandra yang berada di pangkuan, Amara langsung berkata, "Teh, mungkin nggak kalau si Alif dijemput sama mamanya?"


"Yunita maksudnya?"


Amara mengangguk, tak yakin dengan dugaannya sendiri.


"Ah, perasaan nggak mungkin deh kalau di jemput si Alif dari sekolahan. Biasanya kan dia langsung datang kalau mau ketemu si Alif." Dahi Mirna tampak berkerut sewaktu dia duduk di samping Amara.


"Tapi masalahnya semenjak Alif tinggal sama kita, si Om bener-bener ketat larang Yunita nemuin Alif," Amara menjelaskan dengan serius, lalu mendapati Mirna tampak terkejut.


"Jadi udah sebulan Yunita nggak ketemu sama Alif?" Mirna memastikan.


"Iya, kan waktu itu si Alif sakit gara-gara dibawa begadang sama Yunita sambil main PS katanya."


"Uh, kamu kenapa nggak bilang dari tadi? Bentaran coba, biar aku chat si Yunita." Mirna menyerahkan Biandra pada Amara, lalu beranjak berdiri dari sofa dan mengambil ponsel di kamarnya.


Tak lama kemudian, dia kembali sambil bergumam, "Ditelpon nggak dijawab-jawab."


"Tapi nomornya aktif 'kan?"


Mirna mengangguk. "Udah di- WhatsApp, kekirim kok. Nunggu dia jawab." Dia meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali mengambil Biandra. "Udah, kamu tiduran aja. Capek banget keliatannya."


Amara baru saja akan menyahut ketika ponsel Mirna berdenting notifikasi chat. Mirna langsung meraihnya dan membaca chat balasan Yunita sambil menepuk-nepuk pantat Biandra di pangkuannya.


"Oh, beneran ada sama dia," keluh Mirna, sedikit kesal karena Yunita tak meminta izin atau mengabarinya hingga semua orang menjadi khawatir. "Mau dibawa nginep dulu katanya semingguan."

__ADS_1


"Aduh, si Alif lagi UKK lho, Teh," komentar Amara gelisah. "Waktu terakhir nginep kan si Alif pulangnya sakit, itu juga yang bikin si Om nggak ngizinin Yunita ketemu Alif—"


"Bentar, kita telpon," pungkas Mirna sambil menghubungi Yunita.


Amara tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi Mirna melirik Amara sementara mendengarkan Yunita berbicara di seberang panggilan. Yang Amara bisa simpulkan, tampaknya kemungkinan Yunita mempertanyakan keberadaan Bian di kediaman Mirna.


Mirna juga memberitahu bahwa hanya ada Amara di sana, lalu kemudian tiba-tiba Mirna menyerahkan ponsel itu pada Amara sambil berkata, "Yunita pengin bicara sama kamu katanya."


"Aku?" Amara berkerut, merasa tak yakin ada yang akan mereka bahas.


Kendati demikian, Amara tetap meraih ponsel Mirna dan menempelkan di telinga. "Ya, kamu mau ngomong sama aku?"


"Oh, ya!" Suara Yunita awalnya terdengar biasa, tetapi dengan cepat langsung berubah marah dan memaki Amara, "Lu kan yang ngehasud Bian supaya nggak ngizinin aku ketemu Alif?! Jangan macem-macem lu sama gue, L*nte!"


"Hati-hati kalau ngomong!" Amara menahan diri untuk tidak marah, meski sebenarnya dia ingin sekali marah. Jadi, Amara hanya mengatupkan gigi sementara dia menjawab dengan penuh penekanan, "Bian orang yang punya prinsip, dia nggak akan ke hasud cuma gara-gara saya."


Dia mengakui memang berbicara pada Bian agar membatasi pertemuan Yunita dengan Alif. Namun, semua keputusan dari awal memang sudah dibuat Bian.


"Alah, nggak usah banyak alesan, anj*ng!" geram Yunita dari seberang panggilan, intonasi suaranya semakin meninggi— seolah-olah menjadikan Amara tempat pelampiasan kekesalannya pada Bian. "Lu pikir gue nggak tau kalau kalian nikah sewaktu Bian masih jadi suami gue? Denger, nih, yah, wanita perebut suami orang. Zabl*y murahan! Udah lu ngerebut suami gue, ngerebut semua harta-harta gue, sekarang lu mau ngerebut Alif dari gue? Jangan mikir kalau cewek murahan kayak lu bisa hidup enak dan nyaman dengan merebut semua yang gue miliki—"


Yunita tak memberi Amara kesempatan untuk menimpali, dia terus memaki Amara dengan kasar, "Liat pembalasan gue! Gue rebut semua apa yang lu ambil dari gue! Jangan mimpi lu dapetin Bian sepenuhnya dan seutuhnya. Dasar lont* perebut laki orang! Gue santet lu, anj*ng!"


Darah Amara mendidih ketika panggilan terputus sebelah pihak setelah Yunita puas memakinya. Tidak, bukan ancaman terakhir Yunita yang membuat Amara takut.


Melainkan hinaan yang menyebutkan dirinya sebagai perebut suami orang!


Amara tak banyak berkata-kata saat meletakkan ponsel Mirna. Dia langsung menyambar kerudung dan memakai asal, diliputi rasa sakit dan kemarahan.


___


Yunita mengempaskan tubuh dengan kesal di sofa seusai memaki Amara— meski hanya melalui ponsel.


Meski dia sedikit puas karena bisa melampiaskan kekesalannya, tetapi tetap saja Yunita merasakan hal itu belum cukup.


Jika saja dia memang bisa pergi untuk mengirimkan santet bagi Amara— seperti yang pernah dia lakukan terhadap bapak mertuanya, mungkin saat ini Yunita tak perlu buang-buang energi melampiaskan kejengkelannya karena tak bisa mendapatkan Bian kembali.


Alif yang sejak tadi mendengar bagaimana Yunita meraung-raung di telepon, dia hanya meletakkan stik PS dan menatap Yunita dengan heran. Memang, dia tak aneh melihat mamanya marah-marah jika sedang membicarakan Bian.


Untuk itulah Alif hanya bisa bermain PlayStation sebagai upaya mengalihkan diri dari mendengarkan umpatan yang sering dilontarkan Yunita.


Hanya saja, sebelumnya Alif mendengar ucapan Yunita yang mempertanyakan keberadaan Bian pada orang di seberang panggilan. Namun, ketika mendengar nama bundanya disebut-sebut, tanpa sadar Alif berhenti menggerakan jemarinya pada stik yang dia pegang.


Keberadaan Yunita yang duduk di sampingnya sambil menikmati segelas kopi dan mengabiskan berbatang-batang rokok, hal itu membuat Alif mau tak mau mendengar apa yang dikatakan Yunita di telepon.


Jadi, ketika Yunita melemparkan ponselnya dengan kesal hingga wajahnya terlihat memerah, Alif refleks memandang mamanya dengan penuh tanda tanya.


"Apa liat-liat?" bentak Yunita galak, hal yang sudah biasa Alif dengar ketika mereka hanya berdua saja. "Kamu denger 'kan apa yang mama omongin?"


Mata Alif bergerak-gerak bingung, tak mampu menjawab pertanyaan Yunita.

__ADS_1


Seolah-olah amarahnya belum meluap habis, Yunita bahkan memelototi Alif sambil menambahkan dengan nada tinggi, "Liat tuh, orang yang kamu sebut-sebut bunda! Berenti manggil dia bunda. Dia bukan bunda kamu. Belum aja kamu nanti direbus tuh sama ibu tiri kamu yang nggak bener itu!"


"Bunda nggak galak, Ma," kata Alif dengan takut. "Bunda baik, waktu Alif sakit juga Bunda yang gendong Alif ke kamar mandi pas mau muntah. Bunda juga yang nemenin Alif belajar kalau malem-malem."


Mata Yunita terbelalak, hampir saja keluar saat mendengar jawaban Alif. Amarahnya semakin mendidih, menyadari bahwa Amara bahkan sudah hampir merampas satu-satunya kesempatan untuk dia kembali bersama Bian.


"Alah, kamu bisa-bisanya belain wanita kurang ajar itu, Alif?!" Yunita berdiri sambil menunjuk-nunjuk Alif dengan geram. "Nih, dengerin ... Kalau bukan gara-gara wanita murahan itu, Papa kamu nggak mungkin mukulin Mama. Papa kamu nggak mungkin ceraiin Mama. Ngapain kamu belain orang yang udah ngerebut Papa dari Mama? Belum aja nanti kamu ditendang sama wanita itu. Inget, nggak ada ibu tiri yang baik sama anak tirinya. Dia cuma cinta sama Papanya aja. Dia cuma pura-pura baik kalau di depan Papa kamu—"


"Ma, kalau Papa nggak ada, Bunda juga nggak galak sama Alif," Alif sedikit gemetar takut, tetapi tetap mengatakan apa yang dia dapatkan dari Amara. "Waktu Papa pergi ngontrol villa, Bunda tetep baik kok sama—"


"Sekarang aja dia baik! Nanti lama-lama keluar taringnya. Dari awal dia wanita nggak bener, bisa-bisanya Papa kamu kegoda sama cewek kayak dia!" Yunita meraung, tak terima dengan apa yang dikatakan Alif tentang Amara.


Ingin sekali rasanya dia mencekik Alif saat ini juga, jika saja tak ingat bahwa Alif terlalu berarti bagi Bian— dan satu-satunya kemungkinan hal yang pasti akan Bian perjuangkan agar anak itu kembali.


Seolah tak cukup melihat Alif hampir menangis ketakutan, Yunita kembali menunjuk-nunjuk kepala Alif dengan kesal, "Mikir, Vin, mikir ... Yang urus kamu dari bayi itu Mama. Bukan si Amara! Kamu nggak boleh belain dia! Inget, kalau anak si anj*ng itu udah gede, kamu pasti ditendang jauh-jauh sama cewek itu! Emangnya kamu mau Papa kamu diambil Amara sama anaknya? Hah?!"


Alif tak bisa membuka mulut, tetapi dia menunduk sambil menggelengkan kepala, sementara air mata terus bercucuran membasahi pipinya. Alif tak tahu siapa yang harus dia dengar, atau siapa yang mesti dia patuhi.


Satu tahun lalu, fakta bahwa dia bukan anak mamanya sudah cukup membuat Alif kehilangan separuh keceriaan. Bukan hal mudah bagi Alif untuk beradaptasi dengan ibu kandungnya sendiri, bahkan hingga saat ini pun dia tak pernah merasakan kedekatan dengan Mirna.


Entah mengapa, tetapi ibu kandungnya itu cenderung lebih memerhatikan kedua kakaknya. Sekarang, setelah Alif baru saja tinggal satu bulan bersama bundanya, dia justru harus mendengar bahwa Amara lah orang yang membuat papa mamanya terpisah.


Alif menangis sesenggukan, lalu kembali duduk dan meraih stik PS— berusaha memberikan penghiburan bagi diri sendiri.


Kendati demikian, tetap saja Alif tersedu-sedu pilu. Semuanya terlalu samar bagi Alif untuk dijadikan panutan, kecuali papanya. Alif tak tahu bagaimana dia harus mengatakan pada mamanya, bahwa dia sekarang ingin pulang.


Sementara jauh dari Alif yang menjadi sasaran amukan Yunita, Bian baru saja tiba di sekolahan ketika ponselnya terus berdering dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Mirna.


Bian menelpon balik, kemudian Mirna memberitahu bahwa Alif berada di kediaman Yunita. Ketika Bian mengatakan akan menjemput anak itu, dia terkejut saat Mirna mengatakan bahwa Amara pergi dari kediamannya setelah bertengkar ditelepon dengan Yunita.


Hal pertama yang menjadi kekhawatiran Bian adalah, hati Amara pasti terluka jika wanita itu pergi dalam keadaan menangis seperti yang dikatakan Mirna.


Lalu, muncul pertanyaan yang diliputi ketakutan, ke mana istrinya pergi? Apakah Amara akan pergi ke rumah orang tuanya atau ke villa mereka?


Tanpa banyak berpikir lagi, Bian langsung menancap gas dan mengemudikan motor ke kediaman mereka. Sebelum masuk gerbang yang dibuka penjaga villa, Bian mempertanyakan apakah Amara pulang ke sana atau tidak.


Ketika sang penjaga villa mengatakan bahwa Amara dan Biandra baru saja tiba, barulah Bian buru-buru memarkirkan motor dan masuk villa dengan langkah seribu.


Saat menaiki anak tangga dua undakan sekaligus, dia mendengar Amara menjerit-jerit dari kamar yang pintunya tak ditutup.


Sudah dapat dipastikan bahwa wanita itu pasti marah, terutama ketika mengingat emosionalnya yang pasti masih belum normal— meningat wanita itu mengalami postpartum anxiety.


Padahal, belum lama ini Amara baru benar-benar bisa tidur tanpa obat anti depresan. Sekarang, mendengar bagaimana wanita itu menangis meraung-raung, tentu saja Bian luar biasa panik— khawatir terjadi sesuatu pada Amara ataupun Biandra, Terutama ketika mengingat Biandra hampir dalam bahaya saat Amara di bawah tekanan.


Di kamar itu, Amara baru bisa meluapkan seluruh emosinya setelah dimaki habis-habisan oleh Yunita. Rasanya begitu sesak saat dia sama sekali tak bisa membela diri atas tudingan sadis yang dilayangkan mantan istri Bian padanya.


Dia memang menangis sewaktu pulang dari kediaman Mirna, tetapi itu pun karena air matanya meluncur begitu saja. Sekarang, setelah tak ada siapa pun di sekitarnya, barulah Amara bisa menumpahkan air matanya sebegitu deras— meluapkan gemuruh yang membuat napasnya terasa pendek.


Hal yang membuat Amara luar biasa kesal adalah, Yunita langsung mengakhiri panggilan begitu saja.

__ADS_1


Manusia pengecut!


Padahal, bukan satu atau dua kali Yunita datang berkunjung ke villa saat ingin menemui Alif, dan jelas tak diizinkan oleh Bian. Amara tak henti berpikir, jika dirinya memang bersalah, kenapa Yunita tak pernah berani menegurnya di depan Bian? Kenapa wanita itu baru bisa berkata habis-habisan sewaktu Bian tak ada?


__ADS_2